NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Munculnya Serikat Bulan Darah

Hari demi hari, perkembangan kemajuan Ajian Surya Brahma yang diturunkan oleh Resi Sapu Jagat semakin membuat Pangeran Mapanji Wijaya menjadi sosok ksatria yang perkasa. Dalam hitungan sepekan saja, dia sudah menguasai Ajian Surya Brahma dengan sempurna.

BLLAAAAAAAMMMMM!!!

Batu sebesar gajah meledak dan hancur berkeping-keping begitu terkena hantaman Ajian Surya Brahma yang dilepaskan oleh Pangeran Mapanji Wijaya. Sang pangeran Medang menghela nafas panjang sementara Resi Sapu Jagat tersenyum puas.

"Bagus Nakmas Pangeran, kini ajian itu sudah sempurna kau kuasai.

Kiranya tak ada lagi yang bisa ku ajarkan pada mu. Berbekal dua ilmu yang ku berikan ditambah dengan ilmu yang kau kuasai sebelumnya, kau bukan lagi sekedar pendekar tetapi pendekar pilih tanding Tapi ingat, jangan jumawa dan tetaplah rendah hati kepada sesama manusia ", petuah Resi Sapu Jagat yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya menghormat pada nya.

" Murid akan mendengarkan nasehat Guru.. "

"Ah sudah hampir satu purnama kau tinggal disini, sudah waktunya kau melanjutkan perjalanan mu ke Kalingga.

Kelak jika sampai disana, aku minta kau menemui seseorang yang bisa memberi mu sesuatu yang berharga. Namanya Begawan Indranata dari Pertapaan Weleri. Bilang pada nya, Resi Sapu Jagat memintanya untuk membangkitkan kekuatan tersembunyi dalam dirimu. Asal kau memintanya dengan benar, orang tua itu pasti akan melakukannya dengan baik ", lanjut Resi Sapu Jagat kemudian.

" Sebentar lagi tengah malam, sebaiknya kita kembali ke Padepokan Gunung Kemukus agar kau bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Ayo kita pulang... "

Setelah berkata demikian, Resi Sapu Jagat melesat ke angkasa dan berlari diatas pucuk pucuk pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu. Pangeran Mapanji Wijaya segera menyusulnya dan keduanya pun segera menuju ke arah Padepokan Gunung Kemukus.

Suara kokok ayam jantan bersahutan mengiringi langit timur yang mulai merona merah. Kelelawar yang semalaman mencari makan, terburu-buru pulang ke sarangnya. Embun pagi mulai berkumpul di ujung daun, bersiap jatuh ke bumi.

Pagi hari itu Pangeran Mapanji Wijaya menggeliat bangun dari tidurnya. Lelah semalam berlatih dengan sang guru lenyap bersama tidurnya yang nyenyak. Badannya kembali segar dan ia bergegas melangkah ke arah pintu kamar.

Krriiiiiiieeeetttttttt!!!

Belum sempat Pangeran Mapanji Wijaya menjangkau gagang pintu, sudah ada orang yang membuka pintu itu dari luar.

"Selamat pagi Gusti Pangeran... ", ucap dua perempuan cantik dengan penuh hormat. Mereka adalah Rara Lembayung dan Subadra yang datang untuk membangunkan sang pangeran.

Sudah sepekan ini dua perempuan cantik itu bersaing untuk melayani lelaki pujaan hati mereka. Rara Lembayung memang putri Dewi Kembang Sore yang dijodohkan sesuai syarat yang diberikan oleh sang pimpinan Padepokan Gunung Kemukus.

"Kalian berdua kok sudah sampai disini?", tanya Pangeran Mapanji Wijaya usai menguap lebar.

" Tentu saja Gusti Pangeran, aku ditugaskan oleh Biyung untuk melayani semua kebutuhan mu", jawab Rara Lembayung segera.

"Itu hanya alasan mu untuk dekat dengan Gusti Pangeran saja.

Kalau aku kesini memang sudah tugas ku sejak di Istana Watugaluh. Jadi mari Gusti Pangeran hamba bantu lepas pakaian nya", tawar Subadra sembari bergerak ke samping kiri Pangeran Mapanji Wijaya. Rara Lembayung tak mau kalah dan bergerak ke samping kanan dan segera menempel di lengan sang pangeran.

Pagi ini menjadi pagi yang paling merepotkan bagi Pangeran Mapanji Wijaya.

Setelah berganti pakaian, Pangeran Mapanji Wijaya bergegas menemui Dewi Kembang Sore. Ditemani oleh para pengikutnya seperti Ludaka, Warak, Subadra, Nararya Candrawulan, Ratri juga Tumenggung Rengga dan Juru Mandhasiya, Pangeran Mapanji Wijaya diterima Dewi Kembang Sore di aula utama Padepokan Gunung Kemukus.

"Hormat kami Dewi Kembang Sore.. ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Dewi Kembang Sore tersenyum.

" Jangan banyak adat. Aku ini adalah ibu mertua mu, jadi jangan panggil aku seperti itu.

Duduklah Pangeran... ", mendengar jawaban Dewi Kembang Sore, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya segera duduk bersila dengan rapi.

" Ada apa kalian ramai-ramai kesini? Apa ada sesuatu yang perlu dibicarakan? ", tanya Dewi Kembang Sore kemudian.

" Kedatangan ku kemari adalah ingat berterimakasih atas kebaikan ibu mertua yang sudah menyelamatkan nyawa ku dan para pengikut ku. Sekalian juga kami ingin berpamitan pada ibu mertua karena harus melanjutkan perjalanan ke Kalingga.. ", ujar Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Dewi Kembang Sore menghela nafas panjang.

" Sebenarnya aku enggan merelakan kau pergi dari sini. Aku berharap kau nantinya akan menjadi penerus Padepokan Gunung Kemukus ini tetapi itu jelas tidak mungkin.

Aku titipkan putri ku Rara Lembayung pada mu, Nakmas Pangeran. Jika suatu saat nanti kau dalam kesulitan, ingatlah untuk mengabari ku. Aku pasti akan sekuat tenaga membantu mu", pesan Dewi Kembang Sore sambil tersenyum.

"Terimakasih atas kebaikannya, ibu mertua. Hari ini juga kami mohon pamit, semoga dilain kesempatan kita bisa berjumpa lagi", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sembari menghormat pada Dewi Kembang Sore.

Setelah merapikan barang bawaan, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya bertolak meninggalkan Padepokan Gunung Kemukus. Resi Sapu Jagat tidak mengantarkan mereka melainkan menitipkan sebuah surat lewat Rara Kuning yang ikut mengantarkan mereka hingga gapura Padepokan Gunung Kemukus.

Dengan pengawalan kurang dari 50 orang prajurit, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya menyusuri jalan yang melintasi sisi utara Sungai Bengawan Wulayu. Melewati puluhan perkampungan penduduk, menjelang senja mereka tiba di tapal batas Wanua Tuntang yang berada di tepi Rawa Pening. Karena tak mungkin melanjutkan perjalanan, Tumenggung Rengga pun menghentikan rombongan dan mendekati kereta kuda.

"Sepertinya kita harus bermalam di perkampungan ini, Gusti Pangeran.. "

Hemmmmmmmmm...

"Kau atur saja, Paman Tumenggung... Semakin cepat semakin baik, badan ku lelah butuh waktu untuk istirahat", jawab Pangeran Mapanji Wijaya sembari meliuk-liuk menggerakkan tubuhnya yang kaku.

" Sendiko dawuh Gusti Pangeran... ", Tumenggung Rengga pun segera memutar kuda tunggangan nya. Di temani Warak, Tumenggung Rengga memasuki wilayah perkampungan ini.

Dua orang warga yang kebetulan berpapasan dengan Tumenggung Rengga dan Warak, langsung tunggang langgang melarikan diri.

"Ada apa dengan warga kampung ini? Kenapa sepertinya mereka ketakutan pada orang asing? ", gumam Tumenggung Rengga.

" Pasti ada yang tidak beres, Gusti Tumenggung. Sebaiknya kita segera mencari rumah lurah disini..", Tumenggung Rengga mengangguk setuju dengan omongan Warak. Keduanya menjalankan kuda tunggangan nya dengan perlahan.

Tetapi belum genap 100 tombak dari tempat mereka semula, serombongan orang bersenjata langsung menghadang di depan.

"Kalian pasti mata-mata yang dikirim untuk memata-matai kampung kami.

Kalian semua, kepung mereka!! ", perintah seorang lelaki paruh baya yang sepertinya merupakan pimpinan dari orang-orang itu.

" Tunggu!

Kalian jangan salah paham. Kami ini baru saja sampai disini, bukan mata-mata siapapun yang kalian maksudkan", jawab Tumenggung Rengga segera.

"Ahh itu hanya dusta!

Kawan kawan, serang mereka! Jangan sampai lolos...!!! "

Mendengar apa yang dikatakan oleh pemimpinnya, sepuluh orang yang mengepung langsung menerjang ke arah Tumenggung Rengga dan Warak. Tak punya pilihan lain, dua orang perwira Medang itu langsung melompat turun dari kuda tunggangan masing-masing dan melawan.

Pertarungan antara mereka pun segera terjadi.

Pllaaaakkk pllaaaakkk dhhaaaaaaaaaass!!!

Aaaaaaauuuuugggghhhh...!

Dua orang pengepung langsung tersungkur ke tanah setelah pukulan dan tendangan Tumenggung Rengga menghajar tubuh mereka. Warak pun juga melakukan hal yang sama. Kendati tak sampai membunuh mereka, sepuluh orang yang merupakan penjaga kampung itu sudah terkapar tak berdaya.

Gigi lelaki paruh baya itu gemerutuk menahan marah melihat anak buahnya dijatuhkan dengan mudah. Dia langsung mencabut kerisnya dan bersiap untuk maju.

Saat itulah Tumenggung Rengga mengacungkan sebuah lencana perak bergambar burung garuda yang menjadi lambang perwira prajurit Kotaraja Watugaluh. Lelaki paruh baya itu langsung berhenti dan melihat lencana perak itu dengan seksama.

"K-kalian orang Kotaraja Watugaluh? ", tanya lelaki paruh baya itu segera.

" Tentu saja. Ini adalah Tumenggung Rengga, kepala pengawal Pangeran Mapanji Wijaya. Sedangkan aku adalah abdi dalem Gusti Pangeran. Masih berani menantang kami berkelahi? ", tantang Warak yang membuat lelaki paruh baya itu pucat seketika.

Segera lelaki paruh baya itu berlutut sambil menyembah pada Tumenggung Rengga dan Warak.

" Mohon ampun Gusti Tumenggung, Gusti Perwira..

Hamba terpaksa melakukan hal ini. Hamba hanya ingin melindungi kampung kami dari serbuan orang orang jahat yang sering meresahkan penduduk ", ucap lelaki paruh baya yang tak lain adalah Ki Jagabaya Panut, kepala keamanan Wanua Tuntang sambil menghormat.

" Orang jahat? Apa maksud mu, katakan sejelas-jelasnya. Kalau tidak kau akan mendapatkan hukuman karena berani menghadang prajurit Kotaraja Watugaluh .. "

Mendengar apa yang dikatakan oleh Tumenggung Rengga, Ki Jagabaya Panut menghela nafas panjang sebelum berkata,

"Kampung kami juga kampung sekitar sini sering disatroni oleh sekelompok orang berbaju merah. Mereka sering merampok penduduk dengan dalih mengumpulkan dana untuk membangun kekuatan melawan pemerintah Kerajaan Medang.

Mereka menyebut dirinya sebagai Serikat Bulan Darah... "

1
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!