Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Hari pengumuman nilai ujian tiba. Sekolah menjadi sangat riuh dan ramai. Hampir seluruh siswa berkerumun di depan papan pengumuman; ada yang bersorak kegirangan, ada juga yang mengeluh kecewa.
Berbeda dengan yang lain, Xin Yi justru memilih tempat yang jauh dari keramaian. Ia duduk santai di bangku dekat gudang belakang, tempat yang biasa ia kunjungi untuk makan siang dengan tenang.
Di tangannya terdapat kotak bekal yang ia buka perlahan, menikmati makanannya dengan tenang seolah-olah tidak ada hal penting yang terjadi di sekolah hari ini.
Di sisi lain, Liu Yang, Zhang Yui, dan Ming Juan baru saja selesai bermain bola basket. Tubuh mereka berkeringat dan napas mereka masih terengah-engah.
Melihat gerbang utama dan area papan pengumuman yang penuh sesak, mereka memutuskan untuk mengambil jalan kecil yang lebih sepi agar bisa langsung ke ruang ganti atau beristirahat.
"Ah, paling menyebalkan melihat orang-orang berkerumun seperti semut," gerutu Ming Juan sambil mengelap keringat di wajahnya.
"Iya, lewati gedung lain saja yang lebih cepat," sahut Zhang Yui.
Namun, siapa sangka saat mereka berbelok menuju area belakang gudang, langkah mereka seketika terhenti.
Di sana, duduk sendirian di bawah sinar matahari yang teduh, adalah Xin Yi.
Mata ketiga pemuda itu sedikit membelalak. Mereka terdiam sejenak, menatap sosok gadis itu dari kejauhan.
Banyak yang berubah dari gadis itu.
Wajahnya yang dulu terlihat agak gelap karena sering berjemur kini tampak jauh lebih cerah dan putih bersih. Matanya yang bulat tampak lebih hidup, dan cara dia duduk serta makan terlihat sangat anggun dan berkelas, berbeda dengan kesan sederhana yang mungkin dulu terlihat oleh orang lain.
Ia terlihat seperti bunga yang baru saja mekar, cantik namun tetap memancarkan aura tenang dan menjaga jarak.
"Eh... itu kan gadis yang pernah kita lihat kemarin?" bisik Zhang Yui pelan, tidak berani berteriak.
"Benar... Namanya Xin Yi kan?" lanjut Ming Juan. "Wah, dia semakin cantik sejak sembuh dari sakit kemarin? Aura dia benar-benar berbeda."
Liu Yang tidak menjawab. Ia hanya menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Gadis itu... benar-benar berbeda.
Tiba-tiba ponsel di saku seragam Xin Yi bergetar dan berbunyi nyaring. Gadis itu menghentikan kegiatan makannya, mengambil ponsel itu, dan melihat nama yang tertera di layar: Kakak.
Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan alat itu di telinga.
"Halo?"
"Oi, Xin Yi!" suara Xin Yuning terdengar sangat antusias dan sedikit tegang dari seberang.
"Bagaimana? Nilainya sudah keluar kan? Jangan sedih atau kecewa ya kalau nilainya tidak terlalu tinggi atau cukup saja! Kakak tetap bangga padamu!"
Mendengar omongan kakaknya yang khawatir berlebihan itu, sudut bibir Xin Yi perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang sangat langka.
Tanpa langsung menjawab soal nilai, ia justru berkata dengan nada tenang namun manja yang mulai terbiasa keluar dari mulutnya.
"Kakak, aku mau makan stroberi segar yang besar-besar nanti saat pulang. Yang manis saja."
"......"
Di seberang sana, Xin Yuning terdiam sebentar, lalu langsung tertawa riang.
"Oke! Oke! Bisa! Nanti Kakak membelinya. Untukmu yang paling mahal dan paling manis di kota! Tunggu aja ya!"
Sejak hubungan dalam keluarga ini membaik dan insiden pingsan itu berlalu, ikatan antara Xin Yi dan Xin Yuning benar-benar berubah drastis. Mereka tidak lagi terasa seperti kakak dan adik tiri yang canggung, melainkan persis seperti saudara kandung yang tumbuh bersama sejak kecil.
Xin Yuning menjadi sangat protektif dan gemar memanjakan. Apapun yang Xin Yi mau, selama tidak berbahaya, pasti akan dikabulkan.
Di ruang rapat perusahaan keluarga Quan.
Setelah menutup telepon, Xin Yuning menyimpan ponselnya kembali dengan wajah yang masih tersenyum lebar.
Melihat perubahan ekspresi temannya yang tadi serius kini jadi santai, Quan Yubin yang duduk di sebelahnya langsung bertanya pelan.
"Bagaimana kondisi Xin Yi? Dia baik-baik saja?" Tanya itu keluar dengan nada yang sangat hati-hati.
Quan Yubin masih sangat ingat betul kejadian malam itu. Saat ia menyampaikan kabar, dan melihat sendiri bagaimana seluruh keluarga Xin dibuat panik dan sangat khawatir saat menemukan gadis itu tergeletak tidak sadarkan diri di lantai kamar.
Pengalaman itu masih membekas, membuatnya pun ikut khawatir akan kesehatan mental dan fisik Xin Yi.
Xin Yuning menghela napas panjang lalu menjawab temannya dengan wajah penuh keyakinan.
"Tenang saja, dia baik-baik saja. Bahkan sekarang dia sudah sangat aktif dan ceria seperti biasa. Tapi jujur saja... sejak kejadian itu, aku dan orang tua benar-benar tidak bisa lengah sedikitpun. Mata kami seolah-olah selalu tertuju padanya, takut ada hal buruk yang terjadi lagi," ujarnya jujur.
Mereka memang menjadi sangat protektif, namun itu semua demi menjaga kesejahteraan gadis itu dan membuat hati mereka lebih tenang.
Sore harinya, saat pulang sekolah, area papan pengumuman sudah tidak seramai tadi pagi. Hanya tersisa beberapa siswa yang masih melihat-lihat hasil ujian.
Xin Yi berjalan mendekat dengan langkah santai. Ia tidak heboh, hanya berdiri di sana dan menelusuri nama-nama yang tertulis satu per satu.
Awalnya ia mencari dari urutan paling bawah, tidak menemukannya. Lalu naik ke urutan tengah, masih belum ada. Alisnya sedikit berkerut, berpikir apa mungkin dirinya tertinggal jauh?
Namun saat matanya beralih ke bagian paling atas papan tulis, tempat nama-nama juara umum terpampang, gadis itu terdiam.
Di sana tertulis jelas dengan tinta hitam tebal:
1. Liu Yang - Kelas 12-A : 750 Poin
2. Xin Yi - Kelas 12-B : 740 Poin
Mata bulat itu sedikit membelalak.
Hanya terpaut sepuluh poin dari juara pertama! Dan juara pertama itu ternyata adalah pemuda yang pernah ia temui di taman, Liu Yang.
Xin Yi tidak berteriak atau melompat kegirangan. Ia hanya mengambil ponselnya, mengarahkan kamera ke papan pengumuman itu, dan menjepretnya dengan jelas.
Segera setelah itu, ia mengirimkan gambar tersebut lewat pesan ke kontak "Kakak", lengkap dengan pesan teks:
"Kakak lihat ini. Saudara adikmu sangat pintar kan?"
Di seberang sana, Xin Yuning yang sedang duduk bersama Quan Yubin langsung menerima notifikasi itu. Saat melihat foto dan tulisan adiknya, pria itu langsung tertawa lebar dan penuh bangga.
"Lihat! Itu adikku! Pintar kan?! Tentu saja, dia punya aku sebagai kakaknya!" serunya bangga pada Quan Yubin.
Kabar membanggakan itu secepat kilat menyebar ke seluruh penjuru rumah keluarga Xin.
Mulai dari Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, hingga Xin Yuning, semua orang merasa sangat bangga dan bahagia. Tanpa perlu diinstruksikan, mereka langsung sibuk mempersiapkan sebuah perayaan kecil yang hangat dan meriah.
Jadi, saat mobil Xin Yi berhenti di halaman rumah dan gadis itu melangkah turun, ia terkejut setengah mati.
Biasanya jam segini rumah masih sepi, Ayah dan Ibu belum pulang dari kantor, dan Kakaknya mungkin masih di luar. Tapi hari ini... semua lampu rumah menyala terang, dan seluruh anggota keluarga sudah berdiri berjajar di teras menunggunya dengan senyum lebar.
"Selamat datang!" seru Kakek Xin dengan suara yang bergema.
Xin Yi hanya bisa berdiri mematung di sana, matanya berkedip-kedip tidak mengerti apa yang terjadi.
Baru kemudian ia sadar, ternyata nilai ujiannya sudah sampai ke telinga mereka semua.
Di dalam keluarga Xin, memang sudah dikenal bahwa setiap anggota keluarga terlahir dengan kecerdasan yang luar biasa. Mereka mengira Xin Yi mungkin hanya anak biasa karena tumbuh di desa, tapi ternyata... bakat luar biasa itu ternyata juga mengalir kuat di darah gadis itu!
Mereka semua duduk melingkar di meja makan yang sudah dihiasi kue dan makanan lezat.
Huo Feilin berdiri dengan anggun, membawa sebuah kotak beludru berwarna merah yang cantik. Ia mendekati Xin Yi dan menyerahkannya dengan senyum hangat yang jarang terlihat.
"Ini hadiah dari Ibu. Karena Yi Yi sudah belajar dengan sangat rajin dan membuat kita semua bangga," ucapnya lembut.
Xin Yi membukanya dan mendapati sebuah jam tangan cantik dengan permata yang berkilau, sangat elegan dan cocok untuknya.
Setelah itu, satu per satu mereka memberikan hadiah:
- Kakek memberikan sebuah buku antik langka yang sangat berharga.
- Nenek memberikan syal sutra yang sangat lembut.
- Ayah memberikan kartu belanja dengan nilai yang cukup besar.
- Dan Xin Yuning... tentu saja membawa sekotak besar stroberi segar terbesar dan termahal yang bisa dibeli!
"Terima kasih..." ucap Xin Yi pelan, hatinya terasa sangat hangat dan penuh.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar diterima, dihargai, dan dicintai sepenuhnya oleh keluarga barunya ini.
Masa liburan tiba, dan Xin Yi benar-benar menikmati waktunya dengan santai. Kadang ia diam di rumah membaca buku, kadang ia "dipaksa" ikut keluar oleh Xin Yuning untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan santai.
Hari ini cuaca terasa sangat dingin, menandakan musim dingin benar-benar telah tiba. Xin Yi tampil dengan gaya yang berbeda.
Ia mengenakan jaket tebal berwarna putih susu dipadukan dengan celana jeans dan sepatu bot kulit yang membuat penampilannya terlihat lebih dewasa dan menarik.
Rambut panjangnya yang dulu sampai ke punggung kini sudah dipotong sedikit lebih pendek agar lebih ringan dan mudah diatur. Wajahnya yang putih bersih semakin terlihat jelas dan cantik di bawah topi beanie yang ia pakai.
Di tangannya, ia menggenggam tanghulu—tusukan buah yang dilapisi gula beku yang manis dan renyah—yang ia makan dengan santai sepanjang jalan.
"Jangan berantakan ya, nanti kita masuk ke ruangan VIP," tegur Xin Yuning sambil menarik lengan adiknya agar berjalan lebih cepat menuju restoran mewah tempat mereka akan makan.
Mereka membuka pintu ruangan pribadi itu dan masuk. Namun, langkah Xin Yi seketika terhenti di ambang pintu.
Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang yang duduk mengelilingi meja. Mereka adalah teman-teman Xin Yuning.
Mata mereka bertemu. Beberapa wajah terlihat asing, namun ada satu orang yang ia kenal.
Pria itu duduk di posisi utama, mengenakan setelan kasual namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. Wajahnya tenang tanpa ekspresi, sama seperti biasa.
Xin Yi menghentikan gerakan tangannya yang sedang membawa tanghulu ke mulut. Ia sedikit tertegun, tidak menyangka akan bertemu dengan teman kakaknya yang pendiam dan serius ini di sini.
Suasana menjadi hening sejenak saat kedua tamu baru masuk.