NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Update:
Senin-Jum'at - 2 Bab
Sabtu-Minggu - 3 Bab

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: SINYAL PEMUTUS

Langit Singapura malam itu tertutup awan mendung, seolah alam pun tahu bahwa badai yang lebih besar sedang berkecamuk di dalam kabel-kabel serat optik di bawah tanah. Di ruang kendali utama Linden-Prawira Tower, suasana berubah menjadi zona perang. Lampu ruangan diredupkan, hanya menyisakan cahaya biru dan merah dari puluhan monitor yang memantau aliran data global.

​"Bos, serangan dimulai!" seru Elena. Jari-jemarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi di atas papan ketik. "Bukan serangan DDoS biasa. Ini adalah Zero-Day Exploit. Seseorang menggunakan celah keamanan pada protokol satelit yang bahkan belum pernah dipublikasikan."

​Nata berdiri di belakang Elena, matanya terpaku pada peta aliran data yang mulai menunjukkan titik-titik hitam—titik di mana koneksi logistik mulai terputus. "Jonathan Vance. Dia tidak membuang waktu. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa 'perisai' Amerika, sistemku hanyalah rumah kartu yang mudah roboh."

​"Mereka menyerang gerbang pembayaran di Port Klang dan Singapura secara bersamaan," tambah Yuda melalui sambungan video terenkripsi dari Jakarta. "Sistem kliring kita mengalami freeze. Jika kita tidak memulihkannya dalam sepuluh menit, ratusan kapal kargo akan kehilangan sinkronisasi data navigasi dan asuransi mereka."

​Nata mengepalkan tangan. Ini adalah serangan "pencabutan nyawa". Jika Aquatic Nexus gagal sekarang, kepercayaan para raksasa dari Arab dan China yang baru saja mulai tumbuh akan hancur seketika.

​"Elena, aktifkan 'Protokol Labirin'," perintah Nata dengan nada yang sangat tenang, meski adrenalinnya sedang memuncak.

​"Bos, jika kita aktifkan itu sekarang, kita akan memutus seluruh akses publik ke server kita. Kita akan menjadi buta selama beberapa menit!" Elena memperingatkan.

​"Lakukan saja. Biarkan mereka mengira mereka berhasil menghancurkan server utama. Kita akan memindahkan jalur komunikasi ke frekuensi radio gelombang pendek yang kita pasang di menara-menara BTS milik Prawira Global di seluruh nusantara. Gunakan jalur itu sebagai tulang punggung darurat," instruksi Nata.

​Strategi Nata adalah menghilang dari radar internet publik. Saat para peretas dari Blackstone Sovereign Group di Amerika merasa telah berhasil melumpuhkan server target, Nata justru memindahkan seluruh "otak" sistemnya ke jaringan privat yang tidak terhubung dengan infrastruktur global yang biasa mereka serang.

​Layar monitor sempat menjadi gelap total. Detik-detik berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Tiba-tiba, satu per satu titik hijau mulai menyala kembali.

​"Kita kembali online, Bos! Tapi melalui jalur gerilya," Elena mengembuskan napas lega. "Mereka masih menyerang 'bangkai' server lama kita, sementara transaksi asli sudah mulai mengalir melalui jalur baru."

​Namun, serangan tidak berhenti di sana. Jonathan Vance bukan hanya seorang pebisnis; ia memiliki akses ke intelijen tingkat tinggi.

​"Bos, ada serangan baru," suara Elena kembali tegang. "Bukan ke sistem, tapi ke reputasi digital. Ribuan akun bot mulai menyebarkan berita palsu bahwa Linden-Prawira telah diretas dan data kartu kredit jutaan nasabah bocor. Harga saham kita di pasar gelap digital merosot tajam. Investor mulai panik."

​Nata berjalan menuju jendela, menatap gedung-gedung pencakar langit Singapura. Ia tahu, di salah satu hotel mewah tak jauh dari sana, Jonathan Vance sedang memegang segelas wiski sambil tersenyum melihat kekacauan ini.

​"Dia ingin memicu bank run," gumam Nata. "Dia ingin orang-orang menarik uang mereka dari bank kita karena takut."

​"Apa langkah kita, Bos?" tanya Elena.

​"Kita tidak akan membantah berita itu lewat siaran pers. Itu terlalu lambat," jawab Nata. "Gunakan akses kita ke sistem satelit Al-Qasr dari Arab. Kirimkan pesan langsung ke setiap ponsel nasabah kita—bukan lewat SMS, tapi lewat enkripsi pop-up yang terintegrasi dengan sistem keamanan mereka. Tunjukkan saldo mereka yang tetap aman dan berikan bonus dividen instan sebesar 0,5% bagi mereka yang tidak melakukan penarikan dalam 24 jam ke depan."

​"Kita akan membakar uang untuk menjaga kepercayaan?" tanya Yuda dari layar monitor.

​"Itu bukan membakar uang, Yuda. Itu adalah biaya promosi di tengah perang. Saat mereka melihat saldo mereka justru bertambah saat dikabarkan 'tumbang', mereka tidak akan pernah lagi mempercayai berita negatif tentang kita."

​Pertempuran siber itu berlangsung selama enam jam penuh. Elena dan tim IT di Jakarta bekerja tanpa henti menepis jutaan serangan yang datang dari berbagai penjuru dunia. Menjelang subuh, intensitas serangan mulai menurun. Jonathan Vance menyadari bahwa setiap peluru digital yang ia tembakkan hanya membuat "perisai" Nata menjadi lebih kuat dan adaptif.

​Ponsel Nata bergetar. Sebuah nomor dari Amerika Serikat.

​"Kamu memiliki tim yang sangat hebat, Nata," suara Jonathan Vance terdengar di ujung telepon, tidak ada lagi nada meremehkan, hanya kekecewaan yang tertutup rasa hormat yang dingin.

​"Saya hanya memiliki orang-orang yang tahu apa artinya kehilangan segalanya, Tuan Vance," jawab Nata. "Serangan Anda barusan baru saja memvalidasi sistem saya. Sekarang, seluruh dunia tahu bahwa Aquatic Nexus tidak bisa dihancurkan, bahkan oleh tim siber terbaik Anda."

​"Jangan senang dulu. Kamu baru saja memenangkan satu malam. Tapi kamu sudah membuat musuh di tingkat negara. Kita lihat seberapa kuat paspor diplomatikmu saat Departemen Keuangan kami memasukkan namamu ke dalam daftar sanksi," ancam Vance sebelum memutus panggilan.

​Nata meletakkan ponselnya dan duduk di kursi kerjanya yang besar. Tubuhnya terasa remuk, namun pikirannya tetap tajam.

​"Elena, berapa kerugian kita malam ini?"

​"Secara operasional, kita kehilangan sekitar dua belas juta dolar karena pembakaran dividen tadi. Tapi, Bos... basis nasabah kita justru naik 15% dalam semalam. Banyak orang yang justru mendaftar karena melihat ketangguhan sistem kita di tengah berita peretasan," Elena tersenyum bangga.

​Nata mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah jendela. Matahari mulai terbit, memberikan garis emas di cakrawala Singapura. Namun, Nata tahu bahwa ancaman Vance tentang sanksi Departemen Keuangan Amerika bukan sekadar gertakan. Jika ia dimasukkan ke dalam daftar sanksi, ia tidak akan bisa melakukan transaksi dalam dolar AS—nadi utama perdagangan dunia.

​"Yuda," panggil Nata. "Siapkan tahap kedua dari 'Operasi Kedaulatan'. Kita akan mulai melakukan kliring perdagangan menggunakan mata uang digital kita sendiri yang dijaminkan dengan komoditas fisik—emas dan minyak. Kita akan membuat dolar tidak lagi relevan di Selat Malaka."

​Elena terbelalak. "Bos, itu berarti Anda benar-benar menyatakan perang terhadap sistem finansial Barat secara keseluruhan."

​Nata berdiri, mengenakan kembali jasnya yang sempat ia sampirkan. "Mereka yang memulai perang ini, Elena. Aku hanya memastikan bahwa kitalah yang akan menulis perjanjian damainya nanti."

​Di kejauhan, Nata melihat mobil-mobil otoritas Singapura mulai berpatroli kembali. Tuan Lim pasti akan segera datang dengan ribuan pertanyaan baru. Namun bagi Nata, pagi ini bukan lagi soal bertahan hidup. Ini adalah soal bagaimana ia akan membentuk dunia baru, di mana seorang yatim piatu dari Jakarta bisa membuat para penguasa di Washington dan Beijing merasa gelisah.

​"Bersiaplah," bisik Nata pada bayangannya di kaca. "Garis takdir ini baru saja menjadi jalan tol menuju puncak dunia."

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!