Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Beberapa hari kemudian.
Liora kembali menjalankan rutinitasnya seperti biasa.
Ia berdiri di samping ranjang, memeriksa kondisi Nathan dengan teliti.
“Luka Anda mulai membaik, tapi jangan sampai terkena air dulu,” ucapnya tenang.
Nathan yang sedang merapikan kemejanya hanya mengangguk pelan.
“Aku akan keluar dari rumah sakit hari ini. Terima kasih atas perawatanmu.”
Liora sedikit mengernyit.
“Dokter sudah berpesan Anda harus tetap dirawat sampai luka benar-benar kering.”
Nathan tersenyum tipis—senyum yang jarang terlihat.
“Aku akan lebih berhati-hati. Lagi pula… nanti akan ada yang mengawasiku.”
Nada suaranya ringan, namun tatapannya justru tertuju pada Liora. Seolah-olah… yang ia maksud adalah gadis itu.
Liora tidak menanggapi.
Ia hanya menunduk sedikit.
“Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Ia berbalik dan melangkah keluar.
Liora akhirnya keluar, meski perasaan aneh kembali muncul di dalam dadanya.
Di luar
Marcus sudah menunggu.
“Tuan, perintah Anda sudah saya sampaikan kepada direktur rumah sakit,” ujarnya.
Nathan berdiri di dekat jendela, memandang ke luar dengan ekspresi datar.
“Donasikan sejumlah dana,” ucapnya tenang. “Perbaiki fasilitas kamar mereka. Buat tempat ini lebih layak untuk beristirahat.”
Marcus mengangguk.
“Dan juga,” lanjut Nathan, “tingkatkan kualitas makanan pasien dan tenaga medis di sini.”
Marcus sempat terdiam sesaat.
Perintah seperti ini… tidak biasa.
Namun ia tetap menunduk hormat.
“Baik, Tuan.”
Ia tidak bertanya.
Tapi dalam hati Marcus memahami.
“Semua ini… demi Nona Calista,” batinnya." sudah lama aku tidak melihat tuan tersenyum. Sejak bertemu kembali dengan nona Calista, suasana hati tuan langsung berubah."
Liora kembali ke ruang administrasi.
Tumpukan berkas sudah menunggunya seperti biasa. Tangannya mulai bergerak, menulis dan memeriksa data pasien.
Namun pikirannya… tidak di sana.
Ucapan Nathan terus terngiang.
"Akan ada yang mengawasiku…"
Liora mengernyit pelan.
“Siapa yang dia maksud…?” gumamnya lirih..“Apakah istrinya… atau seseorang dari keluarganya?”
Pena di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap kosong ke arah berkas di depannya.
“Kenapa aku harus memikirkan dia?” batinnya kesal..“Lagi pula… itu bukan urusanku.”
Ia menarik napas dalam, lalu kembali menunduk.
Berusaha fokus.
“Liora!” seru seorang perawat dari ujung koridor.
Liora menoleh, “Kak Shen, ada apa?”
“Dokter Chu ingin bertemu denganmu,” jawabnya singkat.
“Baik.”
Tanpa banyak tanya, Liora langsung berjalan menuju ruang dokter.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Liora membuka pintu dan melangkah masuk.
“Kak Chu!” sapanya.
Dokter Chu tersenyum tipis.
“Liora, duduklah.”
Liora duduk di kursi depan meja, sedikit bingung.
“Apakah ada yang ingin disampaikan?”
Dokter Chu menatapnya sejenak sebelum bertanya, “Tuan Han sudah pulang?”
“Iya,” jawab Liora. “Kenapa?”
Dokter Chu menarik napas pelan.
“Direktur meminta aku menyampaikan sesuatu padamu. Kau mendapat tugas baru… dengan gaji yang jauh lebih tinggi.”
Liora mengernyit.
“Tugas baru? Apa yang bisa aku lakukan?”
“Merawat seseorang yang terluka… dan memastikan kau selalu berada di sampingnya.”
Liora semakin bingung.
“Siapa yang terluka? Dan… bukankah itu memang tugasku? Kenapa harus diberi gaji khusus?”
Dokter Chu tersenyum kecil, lalu menggeleng.
“Tidak sesederhana itu, Liora. Kali ini bukan hanya merawat luka.”
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Kau harus menjadi perawat pribadi. Selalu berada di sisinya. Mengawasinya. Karena dia adalah orang penting… dan punya banyak musuh.”
Liora terdiam.
“Jadi kapan pun dia terluka, kau harus segera menanganinya,” lanjut Dokter Chu. “Itulah sebabnya dia membutuhkan seseorang yang mengerti medis… dan bisa dipercaya.”
Liora menggigit bibir pelan.
“Kenapa tidak mencari dokter saja?” tanyanya. “Aku bukan dokter. Kalau harus operasi besar, aku tidak bisa.”
Jawaban Dokter Chu singkat.
“Karena… dia memilihmu.”
Suasana mendadak hening.
Alis Liora berkerut.
“Siapa dia?”
Dokter Chu menatapnya lurus.
“Nathan Han.”
“Ha…?”
Liora membeku.
“Kenapa harus aku?” tanya Liora, suaranya pelan namun jelas.
Dokter Chu menatapnya sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya.
“Kau juga tahu siapa Nathan Han,” ujarnya tenang. “Dia bukan orang biasa. Selain berpengaruh… dia juga baru saja menyuntikkan dana besar untuk rumah sakit ini.”
Liora terdiam.
“Dan satu-satunya permintaannya,” lanjut Dokter Chu, “adalah… kau menjadi perawat pribadinya.”
Jantung Liora berdetak lebih cepat.
“Permintaan itu tidak bisa ditolak begitu saja.”
Dokter Chu menatapnya lebih dalam.
“Soal gaji…” ia tersenyum tipis, “dia tidak akan mengecewakanmu. Bahkan ada bonus tahunan. Kesempatan seperti ini… tidak semua orang bisa mendapatkannya, Liora.”
“Kalau aku menerima… berarti aku harus selalu berada di dekatnya…”
Liora mengangkat wajahnya perlahan. “Kalau aku menolak…?” tanyanya lirih.
“Rumah sakit ini… banyak bergantung pada dana tersebut,” jawab Dokter Chu.
“Biasanya kalau bonus tahunan, hanya diberikan pada pegawai tetap… bukan untuk pekerjaan sementara seperti merawat luka," ujar Liora.
Dokter Chu tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu.
“Liora, kemampuan yang kau miliki sudah lebih dari cukup untuk menangani kondisi Tuan Han,” ujarnya tenang.
“Dan… orang seperti beliau...banyak yang berharap bisa berada di sisinya.”
Ia menatap Liora lebih dalam.
“Aku yakin, kalau kau menerima ini… kau akan berhasil.”
Liora terdiam sejenak.
Namun pertanyaan lain segera muncul.
“Apakah itu berarti… aku harus menjadi perawatnya dalam jangka panjang?” tanyanya ragu.
“Mungkin saja,” ucap Dokter Chu..“Karena dia adalah orang penting. Keamanan dan kesehatannya tidak bisa diserahkan pada sembarang orang.”
Dokter Chu melanjutkan..
“Bahkan untuk makanan dan minuman… kau harus memeriksanya sendiri.”
Liora terkejut.
“Semua yang akan dikonsumsi olehnya harus melalui pemeriksaanmu terlebih dahulu,” tambahnya. “Setelah melewati tanganmu… barulah dianggap aman.”
"Walau dia adalah tokoh penting, tapi justru itu yang membuatku semakin khawatir," ucap Liora.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???