NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi Pijat+ Bonus

Zidan baru saja menutup pintu kamar dan meletakkan kunci motornya di atas meja rias saat ia melihat Shakira sudah menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Gadis itu masih mengenakan kemeja kuliahnya, wajahnya terbenam di bantal, dan suara keluhannya terdengar sangat nelangsa.

"Aduh, Mas... pijitin ya. Pegel banget ini pinggang aku, rasanya kayak mau lepas beneran," rintih Shakira tanpa mengangkat wajahnya.

Zidan terkekeh pelan. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang tepat di samping pinggul istrinya. Ia bisa melihat bagaimana garis punggung Shakira tampak kaku. Ia teringat pesan singkatnya tadi siang tentang balsem otot, dan sepertinya dugaannya benar—ia memang sudah bertindak sedikit terlalu "bersemangat" selama beberapa hari terakhir.

"Iya, iya, Nyonya Zidan. Sabar ya, ini tangannya lagi dipanasin dulu biar nggak kaget," ujar Zidan lembut. Ia mulai menggulung lengan kaos hitamnya sampai ke siku, menampakkan otot lengan bawahnya yang kokoh.

"Makanya... Mas itu kalau... ahh, pelan-pelan!" Shakira memekik kecil saat tangan Zidan baru saja menyentuh area pinggang bawahnya.

"Sori, sori. Ini baru pegang doang, Ra. Kaku banget ya?" Zidan mulai melakukan tekanan-tekanan kecil dengan jempolnya di sisi tulang belakang Shakira. "Tadi di kampus gimana? Bisa duduk tenang nggak ngerjain revisinya?"

"Nggak bisa! Gara-gara Mas, aku jadi bahan ledekan Nina seharian. Dia tahu gara-gara aku ngeringis pas mau peregangan di gazebo," gerutu Shakira, suaranya teredam bantal tapi nada kesalnya masih sangat jelas.

Zidan tertawa rendah, suara baritonnya mengisi kamar yang tenang itu. "Nina emang punya antena ya kalau soal ginian. Tapi ya gimana, Ra? Kamu sendiri yang mancing-mancing kemarin pake acara bilang 'pelajaran dari Nina'. Aku kan sebagai suami yang baik harus kasih respon maksimal."

"Respon maksimal nggak harus bikin aku jalannya kayak pinguin begini, Mas Karatan!" balas Shakira, ia sedikit menolehkan wajahnya ke samping agar bisa bernapas lebih bebas. "Aduh... nah, di situ, Mas. Tekan dikit lagi."

Zidan mengikuti instruksi istrinya. Jemarinya yang biasanya kasar karena berurusan dengan logam dan mesin, kini bergerak dengan sangat telaten dan penuh perasaan di atas kulit lembut Shakira. Ia memberikan tekanan yang pas, mengurai urat-urat yang tegang akibat aktivitas intens mereka semalam dan tadi pagi.

"Enak?" tanya Zidan pelan.

"Mendingan... enak banget. Mas belajar pijit di mana sih? Pinter banget nyari titik yang sakit," gumam Shakira, matanya mulai terpejam menikmati sentuhan suaminya.

"Di bengkel, Ra. Kadang kalau abis bongkar mesin gede, punggung aku atau punggung Bobby suka pegel. Ya kita gantian pijit-pijitan ala kadarnya. Tapi khusus buat kamu, aku pake teknik spesial," Zidan mencondongkan tubuhnya, berbisik di dekat telinga Shakira. "Teknik 'Pijat Sayang Istri'."

Shakira mendengus, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Bisa aja alasannya. Mas... turun dikit ke arah pinggul, di situ yang paling linu."

Zidan menuruti keinginan itu. Tangannya bergerak turun, memberikan pijatan melingkar yang lebih mantap. Keheningan sempat menyelimuti kamar mereka selama beberapa saat, hanya terdengar suara napas Shakira yang mulai teratur dan AC yang menderu halus.

"Mas," panggil Shakira lirih.

"Hm?"

"Makasih ya. Udah mau sabar sama aku. Udah mau pijitin aku juga walaupun kamu sendiri pasti capek abis dari bengkel."

Zidan menghentikan gerakannya sejenak. Ia mengelus kepala Shakira dengan sayang sebelum kembali memijat. "Ra, denger ya. Capek di bengkel itu ilang seketika pas aku liat kamu nunggu di depan kampus. Pijitin kamu itu bukan beban buat aku, tapi bonus. Aku malah seneng bisa ngerawat kamu kayak gini."

Shakira terdiam, hatinya menghangat. Ia merasa sangat beruntung. Di balik sikap Zidan yang tengil dan mulutnya yang sering tidak berfilter, pria ini memiliki cara yang sangat luar biasa untuk menunjukkan kasih sayangnya.

"Tapi Mas..." Shakira tiba-tiba teringat sesuatu dan sedikit mengangkat kepalanya.

"Kenapa?"

"Malem ini... libur dulu ya? Aku beneran nggak kuat kalau 'syukuran' lagi," ucap Shakira dengan wajah memelas yang terlihat sangat menggemaskan di mata Zidan.

Zidan tertawa lepas, ia menarik hidung Shakira gemas. "Hahaha! Iya, Sayang. Malam ini libur. Mas Zidan bakal jadi bantal guling yang baik aja. Kita cuma pelukan sampe pagi, janji."

"Bener ya? Nggak ada 'sarapan' besok pagi juga?" tagih Shakira curiga.

Zidan menyeringai nakal, ia menepuk pelan pinggang Shakira sebagai tanda pijatannya selesai. "Nah, kalau soal sarapan besok pagi... itu tergantung gimana cuacanya besok. Kalau mendung dan dingin, ya jangan salahin mesin kalau tiba-tiba minta dipanasin."

"ZIDAN! Tuh kan, nggak bisa dipegang omongannya!" Shakira mencoba berbalik untuk memukul Zidan, namun rasa linu di pinggangnya membuatnya kembali meringis dan terjatuh ke dada Zidan yang sudah siap menangkapnya.

Zidan memeluk Shakira erat, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. "Udah, diem. Tidur ya? Aku temenin di sini. Besok aku janji bakal lebih pelan-pelan kalau mau 'pemanasan'."

"Nggak ada pemanasan!"

"Iya, iya. Tidur, Nyonya Karatan," Zidan mengecup kening Shakira lama, lalu mematikan lampu nakas.

Malam itu, tidak ada gairah yang membara, hanya ada kehangatan dari dua orang yang saling menjaga. Shakira tertidur lelap dalam pelukan Zidan, merasa pinggangnya jauh lebih nyaman, dan hatinya jauh lebih tenang karena tahu ia berada di tangan yang tepat.

***

Pagi itu, sinar matahari masuk menembus jendela kamar dengan lembut, menciptakan suasana hangat yang sangat pas untuk memulai hari. Shakira sudah rapi dengan blouse santai dan celana jins, rambutnya ia ikat kuda dengan rapi. Di depannya, Zidan baru saja selesai mengenakan kaos hitam favoritnya, tangannya masih sibuk merapikan jam tangan di pergelangan tangannya yang kokoh.

Shakira mendekat, tangannya sedikit ragu namun matanya berbinar penuh harap. Ia tahu jadwal Zidan hari ini cukup padat di bengkel, tapi janji "Bestie Time" dengan Nina sudah ia susun sejak seminggu lalu.

"Mas..." panggil Shakira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.

Zidan menoleh, alisnya terangkat sebelah. Ia sangat hafal nada suara itu. "Hm? Ada maunya ya? Bau-baunya mau minta izin nih."

Shakira nyengir, ia maju satu langkah dan memainkan kancing jaket Zidan yang tersampir di bahu suaminya. "Mas... aku hari ini ada janji sama Nina. Kita mau ke salon, mau girls time seharian. Soalnya jarang-jarang kita punya waktu berdua kayak gini sebelum kita lulus dan sibuk masing-masing. Boleh ya, Mas?"

Zidan terdiam sejenak, menatap wajah istrinya yang tampak sangat memohon. Ia sebenarnya ingin mengajak Shakira makan siang di luar, tapi melihat binar di mata Shakira, ia tak tega menolak. "Seharian banget? Sampai jam berapa?"

"Mungkin sampai sore, Mas. Mau creambath, manikur, sekalian curhat-curhat cantik. Boleh kan, Suamiku yang paling ganteng sedunia?" rayu Shakira lagi.

Zidan mendengus geli, ia mencubit hidung Shakira gemas. "Iya, iya. Boleh. Tapi ada syaratnya."

"Apa? Jangan bilang aku harus bawa pulang martabak lagi?"

"Bukan," Zidan menggeleng, senyum miringnya muncul. "Syaratnya, aku yang antar. Aku nggak mau kamu naik ojek panas-panas, nanti sampai salon malah keringetan lagi. Aku antar sampai depan pintu salonnya, oke?"

"Yey! Makasih suami aku!" teriak Shakira kegirangan.

Tanpa sadar karena saking senangnya, Shakira berjinjit dan mengecup pipi Zidan dengan sangat cepat. Cup!

Zidan terpaku. Gerakan tangannya yang tadi sedang merapikan jaket langsung terhenti. Ia bisa merasakan sisa kehangatan bibir Shakira di pipi kirinya. Detik berikutnya, rona merah menjalar dari leher hingga ke telinga mekanik tangguh itu. Zidan yang biasanya jago menggoda, kini justru menjadi pihak yang salah tingkah.

"E-eh... iya. Udah, buruan siap-siap. Jangan lama, nanti Nina nungguin," ujar Zidan gugup. Ia memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk mencari kunci motor di atas meja rias, padahal kuncinya sudah ada di genggamannya sejak tadi.

Shakira tertawa geli melihat reaksi suaminya. "Mas, kok pipinya merah? Lucu banget sih kalau lagi salting gitu."

"Apaan sih! Nggak merah! Ini karena panas aja kamarnya, AC-nya kurang dingin," elak Zidan cepat sambil berjalan mendahului Shakira keluar kamar. "Ayo cepet! Keburu macet!"

Sepanjang perjalanan menuju salon langganan mereka di pusat kota, Zidan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Shakira memeluk pinggang suaminya erat, sesekali menyandarkan kepalanya di punggung Zidan, menikmati angin pagi yang segar.

Begitu sampai di depan sebuah salon bernuansa pink pastel yang cukup mewah, Nina sudah berdiri di sana sambil melambai-lambai dengan semangat.

"Wih! Dijemput pangeran bengkel!" seru Nina saat motor Zidan berhenti tepat di depannya.

Zidan turun sebentar untuk membantu Shakira melepas helm. "Jagain bini gue ya, Nin. Jangan sampe dia diculik sama stylish salonnya."

"Beres, Dan! Gue balikin dalam kondisi makin cantik dan makin wangi, biar lo makin betah di rumah," goda Nina sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Shakira.

Shakira menyenggol lengan Nina gemas. Ia kemudian beralih menatap Zidan yang masih berdiri di samping motornya. "Mas, kamu langsung ke bengkel?"

"Iya, ini langsung berangkat. Bobby udah nanyain terus soal mesin mobil yang kemarin," jawab Zidan. Ia mengusap kepala Shakira lembut. "Kalau udah selesai, telepon ya. Jangan pulang sendiri, biar aku jemput."

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya," ujar Shakira manis.

"Oh iya, satu lagi," Zidan menahan langkah Shakira yang hendak masuk. Ia sedikit menunduk, berbisik di telinga istrinya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Bonus pipi tadi... nanti malam aku minta versi yang lebih lama ya? Kan seharian ini aku udah kasih izin kamu main."

Wajah Shakira ganti yang memerah padam. "Zidan! Ada Nina!"

Zidan tertawa puas, ia kembali naik ke atas motornya dan memakai helm. "Dadah, Sayang! Selamat bersenang-senang!"

Motor Zidan melesat pergi, meninggalkan Shakira yang masih berdiri mematung sambil memegangi pipinya yang panas. Nina mendekat, merangkul bahu sahabatnya itu dengan penuh rasa penasaran.

"Dia ngomong apa sih, Ra? Muka lo sampe kayak udang rebus gitu."

"Nggak! Bukan apa-apa. Ayo masuk!" ajak Shakira cepat-cepat menarik tangan Nina masuk ke dalam salon.

Di dalam salon, suasana sangat nyaman. Wangi aromaterapi lavender menenangkan saraf-saraf mereka yang tegang karena skripsi. Saat mereka sedang duduk berdampingan sambil menikmati pijatan di kepala saat creambath, Nina mulai membuka sesi curhat.

"Gila ya, Ra. Gue nggak nyangka si Zidan yang dulu cuek banget sama cewek, sekarang bisa sebucin itu sama lo. Tadi pas dia anter, tatapan matanya itu loh... kayak nggak mau lepas," ujar Nina sambil memejamkan mata.

Shakira tersenyum kecil, ia menatap bayangan dirinya di cermin yang sedang dipijat kepalanya. "Iya, Nin. Aku juga nggak nyangka. Dia emang mulutnya karatan, suka banget godain, tapi perhatiannya... tulus banget."

"Bersyukur lo, dapet mekanik yang punya hati selembut sutra," Nina terkekeh. "Tapi emang ya, setelah lo 'buka pintu' buat dia, auranya beda banget. Lo kelihatan lebih bahagia, dia juga kelihatan lebih semangat cari duit."

"Masa sih?"

"Iya! Lo liat aja tadi, disuruh anter aja mau. Padahal gue tau dia paling nggak suka ke area sini karena macet parah jam segini," tambah Nina. "Tadi dia minta apa sebagai imbalan?"

Shakira teringat bisikan Zidan soal "bonus pipi" tadi. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan senyum yang ingin pecah. "Enggak minta apa-apa kok. Cuma disuruh jangan pulang sendirian aja."

"Halah, bohong lo! Muka lo nggak bisa nipu, Shakira!" Nina tertawa puas, membuat beberapa orang di salon menoleh ke arah mereka.

Seharian itu, mereka benar-benar menghabiskan waktu dengan maksimal. Dari perawatan rambut, kuku, hingga perawatan wajah. Mereka bercerita tentang rencana setelah lulus, tentang ketakutan menghadapi dunia kerja, hingga impian-impian masa depan.

Namun bagi Shakira, di balik semua kesenangan girls time itu, ada satu hal yang terus ia pikirkan: wajah Zidan yang salah tingkah tadi pagi. Ia menyadari bahwa kejutan-kejutan kecil seperti ciuman di pipi ternyata memberikan dampak yang sangat besar bagi hubungan mereka.

Saat matahari mulai condong ke barat, Shakira mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada suaminya.

Shakira:

Mas, aku udah selesai. Capek tapi seneng banget!

Kamu udah beres di bengkel?

Aku tunggu ya, 'Mas Ganteng'.

Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk.

Mas Zidan 🛠️:

Udah beres dari tadi, ini lagi nunggu di parkiran depan.

Cepat keluar, aku udah kangen wangi baru kamu.

Inget janji bonusnya ya, Sayang.

Shakira tertawa geli, ia segera membereskan tasnya. "Nin, gue duluan ya! 'Pangeran' udah di depan."

"Cih, dasar pengantin baru! Sana gih, selamat malam mingguan!" sahut Nina sambil melambai.

Shakira keluar dari salon dengan perasaan ringan. Di sana, Zidan sudah menunggunya, masih dengan kaos hitam yang sama namun dengan senyum yang jauh lebih cerah dari matahari sore. Hari itu, girls time memang menyenangkan, tapi pulang ke pelukan Zidan adalah hadiah terbaik yang selalu ia nantikan.

1
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!