NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Interogasi Di Meja Kantin

Kantin SMA 1 Nusa Bangsa pada jam istirahat pertama tidak pernah berubah, tetap menjadi pusat gravitasi segala jenis kebisingan. Namun bagi Cinta, suasana hari ini terasa dua kali lipat lebih berisik. Bukan karena volume suara murid-murid yang bertambah, melainkan karena tatapan menyelidik dari seorang Sarah yang duduk tepat di hadapannya.

Di depan mereka, dua mangkuk mi goreng dan segelas es jeruk yang mulai mengembun seolah terabaikan. Sarah tidak menyentuh makanannya. Ia justru menopang dagu dengan kedua tangan, matanya menyipit, menatap Cinta seolah sahabatnya itu adalah soal kalkulus yang paling rumit di dunia.

"Apa?" tanya Cinta akhirnya, merasa risih karena terus diperhatikan. Ia mengaduk mi gorengnya dengan gerakan yang dibuat sedatar mungkin.

Sarah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan dramatis. "Cin, jujur padaku. Apa yang terjadi di antara kamu dan Si Murid Misterius itu?"

Cinta mengerutkan kening, pura-pura tidak mengerti. "Siapa? Rian maksudmu?"

"Ya iyalah, siapa lagi!" sahut Sarah bersemangat.

"Tadi pagi aku lihat kalian mengobrol. Dan bukan cuma mengobrol biasa, Cinta. Kamu tersenyum! Senyum yang beneran senyum, bukan senyum sopan yang biasa kamu kasih ke guru-guru."

Cinta mendengus, mencoba menyembunyikan rasa hangat yang tiba-tiba menjalar ke pipinya. "Dia cuma menunjukkan sketsa pantai. Ternyata dia punya bakat menggambar. Aku hanya mengapresiasi karyanya sebagai teman sebangku yang baik."

"Apresiasi, ya? Sejak kapan seorang Cinta yang sangat menjunjung tinggi jadwal belajar dan efisiensi waktu, mau meluangkan waktu buat apresiasi coretan di buku tulis pas jam pelajaran mau mulai?" Sarah menaikkan satu alisnya, nada suaranya mulai berubah jadi menggoda.

"Padahal pas hari pertama, kamu bilang apa? Dia adalah masalah yang harus dihindari, dia tidak sopan, dia bakal mengacaukan ketenangan. Tapi sekarang? Kalian malah terlihat seperti dua orang yang punya rahasia sendiri."

Cinta menghentikan gerakan garpunya. Ia teringat percakapan mereka di pinggir pantai sore itu. Tentang alasan di balik sikap pemberontaknya, dan tentang bagaimana cowok itu melihat dunia. Ada bagian dari dirinya yang ingin berbagi cerita itu dengan Sarah, tapi ia tahu Rian adalah orang yang sangat menjaga privasinya.

"Aku cuma menyadari kalau label yang aku kasih ke dia kemarin itu terlalu cepat. Dia tidak seburuk kelihatannya, Sar. Di balik gaya berandalnya itu, dia sebenarnya punya prinsip. Dia pindah ke sini karena alasan yang cukup wajar sebenarnya," jawab Cinta hati-hati.

Mata Sarah membelalak. "Wajar? Wah, ini makin menarik! Jangan bilang kamu sudah mulai jatuh hati sama sosok bad boy yang sebenarnya berhati emas?"

"Sar, jangan mulai, ya!" Cinta memperingatkan, tapi suaranya tidak terdengar tegas.

"Cie... Cinta sudah mulai membela Rian," goda Sarah sambil tertawa kecil. Ia mulai menusuk bakso di mangkuknya namun matanya tetap tertuju pada Cinta.

"Dengar ya, Cin. Seisi kelas itu sudah mulai berbisik. Apalagi pas kuis Fisika kemarin. Kalian berdua dapat nilai seratus. Satu si Ratu Peringkat, satu lagi si Murid Baru yang kerjanya cuma melihat jendela. Itu kombinasi yang terlalu pas buat jadi bahan gosip."

"Kami hanya kebetulan punya nilai yang sama," bantah Cinta.

"Kebetulan? Di dunia ini tidak ada yang kebetulan bagi seorang penulis novel sepertimu, kan?"

Sarah menyenggol lengan Cinta dengan bahunya. "Akui saja, ada percikan-percikan aneh kan kalau kalian duduk berdekatan? Kayak ada magnet yang bikin kamu tidak bisa berhenti melirik dia?"

Cinta memutar bola matanya, namun jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Ia mencoba mengingat-ingat setiap interaksinya dengan Rian. Aroma parfum kayu yang selalu tertinggal, tatapan matanya yang tajam tapi menyimpan luka, dan caranya memutar pulpen dengan lincah. Semuanya mulai terasa terlalu familiar baginya.

"Dia itu cuma teman sebangku, Sarah. Dan jujur saja, dia masih sangat menyebalkan. Dia masih tidak mau memakai dasi dengan benar dan hobinya masih mengejekku suka mengatur," ujar Cinta, mencoba mencari poin negatif untuk menyeimbangkan perasaannya sendiri.

"Justru itu seninya!" Sarah memotong dengan antusias. "Hubungan benci menjadi cinta itu yang paling disukai pembaca novelmu, kan? Dari yang awalnya benci setengah mati, terus jadi peduli, terus mulai deg-degan kalau tidak sengaja bersentuhan tangan pas mau ambil pulpen..."

"Sarah!" Cinta memotong dengan wajah yang kini benar-benar merah padam.

"Berhenti membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Ini dunia nyata, bukan salah satu draf ceritaku."

"Tapi dunia nyata kadang lebih gila dari fiksi, Cinta," balas Sarah dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap jahil.

"Lihat dirimu sekarang. Kamu yang biasanya selalu bicara tentang jadwal belajar, sekarang malah bicara tentang prinsip dan bakat seorang Rian. Itu perubahan besar. Dan aku sebagai sahabatmu, bisa mencium bau-bau asmara yang mulai tumbuh di antara tumpukan buku Fisika kalian."

Cinta terdiam sejenak. Ia melihat ke arah kerumunan murid di kantin, mencari-cari sosok jaket denim yang kini mulai sering ia cari secara tidak sadar. "Aku cuma merasa dia butuh teman, Sar. Dia sendirian di sini. Dan setelah tahu ceritanya, aku merasa bersalah karena sudah sempat menganggapnya sampah masyarakat."

"Halah, alasan klasiknya begitu. Aku cuma mau jadi teman. Terus nanti lama-lama jadi aku cuma mau jadi orang yang selalu ada buat dia," Sarah terus menggoda, kali ini sambil membuat simbol hati dengan jari tangannya.

"Cinta dan Rian... Rian dan Cinta... Kedengarannya serasi juga. Si Jenius yang Disiplin dan Si Jenius yang Pemberontak."

Cinta mencoba mengabaikan godaan Sarah dengan menyuap mi gorengnya dalam porsi besar, berharap hal itu bisa membungkam mulut sahabatnya. Namun Sarah belum selesai.

"Bayangkan saja, nanti pas kelulusan, kalian jadi pasangan paling fenomenal di SMA 1 Nusa Bangsa. Kamu jadi lulusan terbaik, dan dia berdiri di sampingmu, akhirnya memakai dasi dengan benar hanya karena kamu yang memintanya. Duh, romantis banget!"

"Kamu terlalu banyak baca komik romansa," gumam Cinta di sela kunyahannya.

"Tapi jujur ya, Cin," Sarah merendahkan suaranya. "Aku senang lihat kamu begini. Kamu jadi terlihat lebih hidup. Tidak cuma fokus sama angka dan peringkat. Rian kayaknya berhasil meretakkan tembok kaku yang kamu bangun selama ini."

Kalimat itu membuat Cinta tertegun. Meretakkan tembok. Itu kata yang sama yang ia pikirkan. Apakah benar Rian adalah retakan yang ia butuhkan untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda?

Tiba-tiba, suasana kantin yang tadinya riuh mendadak sedikit mereda. Di pintu masuk kantin, Rian muncul. Ia tidak bergabung dengan antrean makanan. Ia hanya berjalan menuju mesin penjual minuman otomatis, memasukkan koin, dan mengambil sekaleng kopi hitam.

Langkah Rian terhenti saat matanya tidak sengaja menangkap keberadaan Cinta di pojok kantin. Untuk beberapa detik, mereka saling tatap melintasi keramaian. Rian tidak tersenyum, tapi ia mengangkat kaleng kopinya sedikit ke arah Cinta. Seperti sebuah gestur salam yang sangat singkat namun bermakna sebelum ia berbalik dan keluar dari kantin.

"Tuh, lihat! Lihat!" Sarah hampir saja melompat dari kursinya.

"Dia kasih salam ke kamu! Rian yang misterius itu baru saja menyapa seseorang di depan umum! Dan orang itu adalah KAMU!"

Cinta menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan senyum yang keras kepala ingin muncul di bibirnya. "Itu cuma salam biasa, Sarah. Sopan santun."

"Sopan santun kepalamu! Itu namanya kode, Cinta! Kode keras!" Sarah tertawa terbahak-bahak, merasa menang karena telah berhasil membuktikan teorinya.

"Cie... ada yang baper nih. Ada yang bakalan susah tidur nih nanti malam."

Cinta hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa mulai hari ini, ia tidak hanya harus berurusan dengan misteri Rian, tapi juga dengan godaan tiada henti dari Sarah.

"Sudahlah, ayo cepat habiskan makananmu. Bel masuk sebentar lagi berbunyi," ucap Cinta, berusaha kembali ke mode sekretaris teladan, meski pikirannya sudah melayang mengikuti sosok yang baru saja pergi membawa kaleng kopi itu.

"Iya, iya, Ibu Peringkat Satu yang lagi jatuh cinta," sahut Sarah santai, yang langsung dihadiahi lemparan tisu dari Cinta.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!