NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Romantis yang Diganggu Kuntilanak Italia

Setelah pengkhianatan Don Lorenzo terungkap dan brankas bawah tanah klan Vittorio diamankan, suasana di mansion berangsur pulih. Kaivan merasa memiliki utang budi yang sangat besar—atau mungkin sesuatu yang lebih dari itu—kepada Gendis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang kaku, Sang Raja Hitam Sisilia itu memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat "normal": merencanakan makan malam romantis.

​Kaivan memesan atap (rooftop) sebuah restoran privat di pusat Palermo yang menghadap langsung ke arah pelabuhan dan katedral kuno. Tidak ada pengawal yang terlihat (meskipun Marco dan tim penembak jitu bersembunyi di gedung seberang dengan teleskop), tidak ada pembicaraan soal bisnis, dan yang paling penting, tidak ada senjata di atas meja.

​"Kak, beneran saya harus pakai baju ini? Ini mah kalau di Jakarta harganya bisa buat beli motor satu," bisik Gendis sambil membenahi gaun sutra berwarna merah marun yang membalut tubuh kecilnya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang cantik.

​Kaivan, yang tampak sangat memukau dengan setelan tuksedo tanpa dasi, tersenyum tipis. "Kau pantas mendapatkannya, Gendis. Anggap saja ini kompensasi atas semua 'pekerjaan lembur' gaib yang kau lakukan."

​"Ya tapi saya grogi, Kak. Biasanya saya makan bakso di pinggir jalan sambil dengerin curhatan hantu tukang ojek. Sekarang disuruh makan pakai sendok garpu banyak banget begini, yang mana dulu yang dipakai?"

​"Ikuti saja gerakanku," sahut Kaivan lembut, menarik kursi untuk Gendis dengan gerakan elegan.

​Makan malam dimulai dengan sangat sempurna. Alunan musik biola dari pemain musik privat di sudut balkon menciptakan suasana syahdu. Angin malam Sisilia yang hangat membawa aroma garam laut dan melati. Kaivan menatap Gendis dengan intensitas yang berbeda malam ini—bukan sebagai bos yang memerintah, tapi sebagai pria yang sedang jatuh cinta.

​"Gendis," panggil Kaivan sambil menyesap wine merahnya. "Setelah semua ini selesai... maksudku, setelah posisi klan stabil, apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin pulang ke Indonesia?"

​Gendis terdiam, memainkan ujung garpunya. "Hm... jujur ya Kak, awalnya saya pengen banget pulang. Kangen seblak, kangen temen-temen hantu di komplek yang lebih ramah. Tapi..." ia menatap mata abu-abu Kaivan, "...kalau saya pulang, siapa yang jagain Kakak dari hantu-hantu baper di sini? Siapa yang ngingetin Kakak kalau Kakak itu manusia, bukan robot?"

​Kaivan meraih tangan Gendis di atas meja, menggenggamnya erat. "Aku tidak akan membiarkanmu pulang jika itu artinya aku harus kembali ke kegelapan, Gendis."

​Suasana mendadak menjadi sangat romantis. Wajah mereka perlahan mendekat, cahaya lilin memantul di mata mereka yang saling mengunci. Namun, tepat saat hidung mereka nyaris bersentuhan...

​SREEEEEEET!

​Suara lengkingan tajam membelah keheningan malam. Gelas kristal di meja bergetar hebat hingga isinya tumpah.

​"Aduh! Astaga!" Gendis melonjak kaget, nyaris terjungkal dari kursinya.

​Kaivan secara refleks berdiri dan menoleh ke arah kegelapan di ujung balkon. "Siapa di sana?!"

​Gendis memejamkan mata sejenak, lalu mendesah frustrasi. "Kak... lupain soal romantis-romantisan. Kita kedatangan tamu tak diundang. Dan penampilannya... ya ampun, ini mah Kuntilanak versi Italia, Kak! Kuntilanak d’Italia!"

​Di atas pagar balkon, sesosok wanita dengan gaun putih yang sudah compang-camping dan kotor oleh lumpur tampak melayang. Rambutnya hitam legam, sangat panjang hingga menyentuh lantai, menutupi wajahnya yang pucat pasi. Bedanya dengan kuntilanak Indonesia, hantu ini mengenakan kerudung renda khas pengantin Sisilia kuno yang sudah sobek-sobek.

​"Kenapa dia harus muncul sekarang?!" geram Kaivan, tangannya secara otomatis meraba pinggangnya, namun ia ingat ia tidak membawa senjata malam ini.

​"Dia bukan mau bunuh kita, Kak," ucap Gendis sambil berdiri dan berkacak pinggang di depan hantu itu. "Woi, Mbak Kunti Italia! Signora! Bisa nggak sih datengnya nanti aja? Orang lagi mau first kiss juga, ganggu aja!"

​Hantu wanita itu mengeluarkan suara tangisan yang menyayat hati. “Mio sposo... dove sei mio sposo?” (Pengantinku... di mana pengantinku?)

​"Dia nanya suaminya, Kak," lapor Gendis. "Kayaknya dia pengantin yang mati dibunuh pas hari pernikahan di gedung ini ratusan tahun lalu. Dia ngerasa energi cinta Kakak tadi mirip sama suaminya, jadinya dia baper dan mau ikut nimbrung."

​Kaivan memijat pelipisnya. "Katakan padanya aku bukan suaminya. Dan katakan padanya untuk pergi ke cahaya atau ke manapun selain balkon ini."

​Gendis mendekati hantu itu, meski hawa dingin mulai menyelimuti area restoran. "Denger ya, Mbak. Cowok ini punya saya—eh, maksudnya dia udah ada yang punya. Suami Mbak itu udah nggak ada, udah jadi debu. Mbak mendingan cari hantu pelayan di bawah, tadi saya liat ada yang ganteng pakai kumis bapack-bapack."

​Hantu itu tiba-tiba berteriak marah. Angin kencang bertiup kencang, menjatuhkan botol wine seharga ribuan Euro hingga pecah berkeping-keping.

​"Wah, ngajak ribut ya!" Gendis meraba tas pestanya yang mungil. Ia mengeluarkan sesuatu yang membuat Kaivan melongo: potongan sapu lidi mini yang diikat pita merah. "Maaf ya Kak, saya selalu bawa cadangan buat keadaan darurat."

​"Gendis, jangan di sini! Ini restoran bintang lima!" seru Kaivan.

​"Bintang lima nggak berlaku buat setan yang nggak tahu tata krama, Kak!" Gendis mulai mengayunkan lidi mininya. "Mbak Kunti! Pergi nggak?! Kalau nggak pergi, saya bacain doa makan nih! Biar Mbak tahu rasa!"

​Gendis mulai merapalkan mantra dengan cepat, dicampur dengan omelan bahasa Jawa. "Wis, wis, muliho! Ojo ganggu wong pacaran! Mbok kiro golek pacar ki gampang po piye neng kene? Muliho neng kuburanmu kono!"

​Hantu pengantin itu mencoba menerjang Gendis, namun setiap kali dia mendekat, aura pelindung dari sapu lidi Gendis memercikkan cahaya kebiruan yang membuatnya terpental. Kaivan menyaksikan adegan itu dengan perasaan campur aduk—antara ingin tertawa, ngeri, dan kagum pada keberanian gadisnya.

​"Gendis, hati-hati!" Kaivan menarik Gendis ke belakangnya saat hantu itu mengeluarkan kuku panjangnya.

​"Kak, pinjem garpunya!" seru Gendis.

​Kaivan memberikan garpu perak dari meja. Gendis menggosokkan garpu itu ke lidinya, lalu melemparkannya ke arah bayangan putih tersebut.

​PYAAR!

​Garpu itu menembus bayangan tersebut dan menancap di dinding kayu. Hantu wanita itu menjerit untuk terakhir kalinya, lalu perlahan memudar menjadi partikel cahaya yang menghilang ditelan angin malam.

​Suasana kembali sunyi. Musik biola yang sempat terhenti kini terdengar ragu-ragu dari pojok ruangan. Pemain biolanya tampak gemetar, mengira itu hanyalah angin kencang yang aneh.

​Gendis mengembuskan napas lega, merapikan rambutnya yang berantakan. "Duh... capek juga ngusir kuntilanak pakai bahasa Jawa tapi setannya orang Italia. Nggak nyambung culture-nya, Kak."

​Kaivan menatap meja makan mereka yang kini berantakan. Lilin-lilin padam, makanan mendingin, dan suasana romantis sudah hilang terbawa angin bersama hantu pengantin tadi. Ia tertawa pelan, lalu tertawa semakin keras hingga bahunya terguncang.

​"Kenapa Kak? Kakak stres ya gara-gara liat kuntilanak?" tanya Gendis khawatir.

​Kaivan menggeleng, ia mendekati Gendis dan memegang kedua tangannya. "Tidak. Aku hanya baru sadar bahwa hidup bersamamu tidak akan pernah memiliki momen yang membosankan. Bahkan makan malam romantis pun berubah menjadi film horor aksi."

​Gendis mencibir. "Ya maaf, Kak. Harusnya tadi saya biarin aja Kakak dicium sama Mbak Kunti itu."

​Kaivan menarik Gendis ke dalam pelukannya. "Aku hanya ingin dicium oleh satu-satunya gadis yang berani memarahi hantu pengantin dengan sapu lidi."

​Kaivan menunduk, dan kali ini tidak ada gangguan. Di bawah langit Palermo yang bertabur bintang, di tengah sisa-sisa kekacauan gaib, Kaivan mencium Gendis dengan lembut. Ciuman yang menandakan bahwa Sang Raja Hitam telah sepenuhnya menyerah pada pesona sang Gadis Indigo.

​"Kak..." bisik Gendis setelah mereka melepaskan pelukan.

​"Ya?"

​"Kakek buyut Don Alessandro baru aja muncul di atas lampu jalan itu. Dia ngasih jempol, tapi katanya... teknik ciuman Kakak kurang lama."

​Kaivan memejamkan mata, berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat pada arwah nenek moyangnya sendiri. "Katakan padanya, Gendis... bahwa jika dia tidak menghilang dalam tiga detik, aku akan menyewa pendeta dari seluruh Italia untuk mengusirnya ke kutub utara."

​Gendis tertawa terbahak-bahak, suaranya yang riang memenuhi malam yang indah itu.

​Makan malam romantis itu mungkin gagal secara prosedur, tapi sangat sukses secara emosional. Kaivan Vittorio akhirnya menyadari bahwa ia tidak butuh kesempurnaan. Ia hanya butuh Gendis, dengan segala kegilaannya, indigo-nya, dan sapu lidinya, untuk membuat hidupnya yang dingin menjadi hangat kembali.

​"Kak, laper..." keluh Gendis tiba-tiba sambil memegangi perutnya. "Makanannya udah dingin, nggak enak."

​Kaivan tersenyum, merangkul bahu Gendis. "Ayo. Kita cari tempat makan seblak yang kau ceritakan itu. Aku akan menyuruh anak buahku mencari bahannya, meskipun harus menculiknya dari Indonesia malam ini juga."

​"Beneran? Asyik! Kak Kaivan emang pacar Mafia terbaik sedunia!"

​Dan begitulah, sang Raja Mafia dan Gadis Indigo itu berjalan meninggalkan gedung mewah tersebut, menuju petualangan baru yang pastinya akan melibatkan lebih banyak hantu, lebih banyak bumbu pedas, dan cinta yang semakin mendalam di setiap babaknya.

1
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Farida 18: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!