NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

***

Waktu bergulir seperti aliran sungai di Desa Sukamaju, membawa Laras pada babak akhir kehamilannya. Kini, usia kandungannya telah menginjak delapan bulan. Perutnya tidak lagi sekadar membuncit; ia tampak begitu besar dan tinggi, menekan diafragma hingga membuat Laras seringkali harus berjuang hanya untuk menarik napas dalam.

Sore itu, udara desa terasa lebih tenang. Laras duduk selonjoran di atas karpet ruang tengah, punggungnya disangga oleh tumpukan bantal agar ia tidak terlalu sesak. Di depannya, Gilang dan Arka sudah siap dengan mata berbinar. Laras memegang buku sketsa lamanya buku yang dulu penuh dengan mimpi-mimpi desain gaun, namun kini beberapa halaman kosongnya ia gunakan untuk menggambar hewan-hewan demi mengajari putra-putranya.

"Nah, sekarang coba lihat ini. Ini hewan apa? Lehernya panjang sekali, sampai bisa makan daun di atas pohon," puji Laras sambil menunjuk gambar jerapah yang ia buat dengan pensil.

"Gajapah!" teriak Arka dengan cadelnya yang khas. Tangannya yang mungil mencoba meraih kertas itu. "Mah, gajapah makan permen?"

Laras tertawa kecil, meski tawanya membuat ia sedikit terengah. "Bukan gajapah, Sayang, tapi Jerapah. Makannya daun, bukan permen. Kalau yang ini, coba Gilang tebak?"

Laras membalik halaman, memperlihatkan gambar singa dengan rambut tebal di kepalanya.

"Itu Raja Hutan, Mah! Singa!" jawab Gilang mantap.

"Aummm! Macan galak, Mah! Galak!" timpal Arka sambil mencoret-coret pinggiran gambar singa itu dengan krayon cokelat. Ia menirukan suara singa dengan wajah yang dibuat seseram mungkin, namun malah terlihat sangat menggemaskan.

"Iya, singanya hebat ya? Tapi biarpun galak, singa juga sayang sama anaknya, kayak Mamah sayang Gilang sama Arka," ucap Laras lembut. Ia mengusap rambut Arka, lalu sesaat ia harus berhenti bicara. Wajahnya meringis, satu tangannya refleks mencengkeram pinggiran sofa.

"Mamah? Adek bayi nakal lagi?" tanya Gilang yang sudah mulai mengerti jika ibunya kesakitan.

"Enggak, Sayang... cuma adik bayinya lagi olahraga di dalam. Kuat sekali nendangnya," bisik Laras sambil mengelus puncak perutnya yang menegang keras.

Tak lama kemudian, suara deru motor terdengar berhenti di halaman rumah. Pintu depan terbuka, dan Bagas melangkah masuk. Ia melepaskan kacamata hitamnya, wajahnya yang biasanya kaku karena urusan balai desa seketika melunak melihat pemandangan di ruang tengah.

Bagas meletakkan tasnya dan langsung menghampiri mereka. Ia melihat Laras yang berkali-kali mengubah posisi duduknya dengan raut wajah tidak nyaman.

"Kenapa, Ras? Perutnya kram lagi ya?" tanya Bagas dengan nada khawatir yang tulus. Ia berlutut di samping istrinya.

"Enggak, Mas. Cuma bayinya aktif sekali sore ini. Sepertinya dia tahu kalau kakak-kakaknya lagi belajar," sahut Laras sambil tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.

Bagas tidak segera berdiri. Ia justru duduk di karpet bersama anak-anak. "Sini, biar Bapak tanya sama Adiknya."

Bagas mendekatkan wajahnya ke perut besar Laras. Ia menempelkan telapak tangannya yang lebar ke permukaan daster Laras, mencari di mana letak gerakan sang janin.

"Halo, Dek? Ini Bapak. Kamu lagi apa di dalam? Jangan nakal ya sama Mamah, Mamahnya sudah capek itu."

Melihat apa yang dilakukan ayahnya, Gilang dan Arka langsung merapat. Mereka ikut menempelkan telapak tangan kecil mereka ke perut Laras.

"Adek... ini Mamas Giyang. Nanti kalau sudah keluar, kita main bola ya? Mas Gilang punya mobil-mobilan banyak," bisik Gilang tepat di depan perut ibunya.

"Adek... maem... maem peyem sama Acka," celoteh Arka tak mau kalah. Ia bahkan mencoba mencium perut buncit itu dengan gemas.

Dugh!

Tiba-tiba, sebuah tendangan keras terasa tepat di bawah tangan Bagas dan wajah Arka. Perut Laras tampak menonjol ke satu sisi seiring gerakan sang bayi di dalam.

"Wah! Dia nendang! Mas, Gilang! Dia nendang!" seru Bagas kaget sekaligus girang. Matanya membelalak tak percaya.

"Iya! Kakinya kena tangan Gilang, Pak!" Gilang tertawa kegirangan, melompat-lompat kecil.

Laras hanya bisa tertegun. Ia mengusap rambut kedua putranya dan juga rambut suaminya yang masih menempel di perutnya. Air mata haru nyaris menetes di sudut matanya. Ini adalah momen yang sangat langka. Biasanya, Bagas terlalu sibuk dengan urusan desa atau terlalu fokus pada keinginannya sendiri sebagai kepala keluarga. Melihat Bagas begitu lembut dan bercengkrama dengan calon anak mereka adalah pemandangan yang sangat indah bagi Laras.

"Mas... dia merespons suara kalian," lirih Laras.

Bagas mendongak, menatap Laras dengan pandangan hangat. "Ras, menurutmu ini laki-laki lagi bukan? Tendangannya kuat sekali. Kalau laki-laki, nanti kita ajari dia naik motor besar, biar gagah seperti kakak-kakaknya."

"Apa saja, Mas. Yang penting sehat dan selamat," jawab Laras pelan.

"Kalau perempuan juga nggak apa-apa, Pak! Nanti Mas Gilang jagain. Mas Gilang nggak kasih orang nakal dekat-dekat," timpal Gilang dengan gaya pahlawan.

"Acka... kasih boneka," tambah Arka sambil memeluk kaki ibunya.

Bagas tertawa, ia kembali mengelus perut Laras. "Nanti kalau Adik lahir, kita makan besar ya? Kita syukuran yang ramai. Bapak mau Adiknya nanti jadi orang hebat. Harus pintar sekolahnya, jangan kayak Bapak yang cuma di desa saja."

Laras terenyuh mendengar ucapan Bagas. Meskipun ada sedikit rasa sesak karena bayi yang terus menendang akibat stimulasi suara di luar, Laras merasa beban di pundaknya seolah terangkat sejenak. Kebahagiaan melihat suami dan anak-anaknya menyayangi janin di rahimnya menjadi obat penawar bagi segala rasa sakit dan letih yang ia pikul setiap hari.

"Terima kasih ya, Mas... sudah meluangkan waktu buat Adik," bisik Laras.

Bagas mengecup kening Laras lama. "Aku yang terima kasih, Ras. Kamu sudah kuat menjaga mereka semua. Sudah, sekarang kamu istirahat ya? Biar anak-anak Bapak yang urus sebentar. Kamu jangan bangun-bangun dulu."

Laras mengangguk, ia menyandarkan kepalanya ke bantal, memperhatikan Bagas yang mulai mengajak anak-anak melanjutkan permainan menebak hewan. Di dalam hatinya, Laras berdoa agar kedamaian ini bertahan lama, agar rasa cinta ini bisa mengalahkan rasa lelahnya yang tak berujung.

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!