"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Gila
Adrian berdiri di depan wastafel kecil yang keraknya sudah mulai menguning. Ia menyalakan keran, meraup air, dan menggosok wajahnya dengan kasar.
Namun, alih-alih bersih, wajahnya justru semakin berantakan. Warna merah lipstik itu melebar, menciptakan noda kemerahan di pipi putihnya yang kini mirip noda darah korban pembunuhan.
"Sialan! Terbuat dari apa benda-benda ini?!" raungnya frustrasi.
Ia menggosok lagi, kali ini lebih keras sampai kulitnya terasa perih. Nihil. Bedak itu seolah sudah menyatu dengan pori-porinya, sementara kuncir rambut warna-warni di kepalanya bergoyang-goyang mengejek setiap kali ia bergerak.
"WILLY! Jangan cuma berdiri di sana seperti patung! Lakukan sesuatu!" teriak Adrian tanpa menoleh.
Willy yang berdiri di ambang pintu kamar mandi hanya bisa meringis ngeri. "Maaf, Bos... tapi seumur hidup saya, saya cuma pakai bedak bayi setelah mandi. Saya benar-benar tidak tahu-menahu soal anatomi kosmetik wanita."
Adrian berbalik, menatap asistennya dengan tatapan yang bisa membunuh seekor beruang. "Aku menyuruhmu mencari solusi, bukan mendengarkan riwayat perawatan kulitmu! Cari cara untuk menghilangkan benda terkutuk ini dari wajahku!"
"B-baik, Bos!" Willy langsung terbirit-birit pergi.
Adrian kembali ke cermin lemari hias, mengumpat pelan. "Elena... pasti dia. Dia sengaja membiarkan anak-anak itu mengerjaiku. Wanita itu benar-benar ingin menguji kesabaranku," gerutunya sambil membayangkan Elena sedang tertawa di luar sana.
Tak lama kemudian, Willy datang kembali dengan napas tersengal. Di tangannya, ia menjinjing sebuah ember plastik berisi cairan berwarna cokelat pekat dan kental.
"Bos! Saya dapat solusinya!"
Adrian melirik ember itu, lalu matanya membelalak. Bau tanah basah langsung menyeruak memenuhi ruangan.
"Willy... itu apa?"
"Lumpur dari got di belakang, Bos! Saya pernah baca kalau lumpur bisa menyerap racun dan kotoran. Siapa tahu make-up ini juga terserap—"
"WILLY! AKU MAU MENGHILANGKAN MAKE-UP, BUKAN NAJIS MUGHALLAZAH!" raung Adrian hingga suaranya bergema ke seluruh rumah. "Buang lumpur itu sekarang juga sebelum aku memecatmu!"
Panik, Willy segera menaruh ember itu dan berlari menuju kamar Elena. Ia berpikir logis kali ini. Kalau mau menghapus alat tempur wanita, pasti senjatanya ada di meja rias wanita tersebut.
Willy baru saja hendak menyentuh sebuah botol di atas meja kayu kecil milik Elena ketika sebuah suara dingin menusuk punggungnya.
"Sedang apa kau di kamarku?"
Willy tersentak, hampir saja menjatuhkan botol itu. Ia berbalik dan menemukan Elena sudah berdiri di sana dengan melipat tangan. Di sampingnya, dua malaikat kecil yang sebenarnya adalah pelaku kriminal, berdiri dengan wajah tanpa dosa.
"N-non Elena! Saya... saya bukan mau mencuri!" Willy mengangkat kedua tangannya dengan panik. "Ini si Bos... make-up di wajahnya tidak bisa hilang. Dia sudah hampir gila di wastafel."
"Make-up?" Elena menaikkan sebelah alisnya.
Ia langsung melirik ke arah si kembar. Menyadari radar sang ibu sedang mengarah ke mereka, Arsen dan Arshy segera melakukan manuver pengalihan.
Arshy tiba-tiba menarik kepala Arsen ke bawah. "Abang, diam ya... Achi cali kutunya. Ada kutu becal di cini!"
Jemari mungilnya bergerak lincah mengacak-acak rambut kakaknya.
Arsen hanya diam menerima perlakuan adiknya dengan wajah sedatar tembok, pura-pura sangat fokus pada misi mencari kutu tersebut demi tidak dimarahi.
Elena menghela napas panjang. Tanpa perlu bertanya, ia sudah tahu siapa dalang di balik transformasi Adrian menjadi ondel-ondel. Ia berjalan menuju meja riasnya, mengambil sebuah botol berisi cairan bening-berminyak dan beberapa helai kapas.
"Itu Cleansing Oil, Willy. Air saja tidak akan mempan untuk kosmetik waterproof," ucap Elena tenang.
Ia berjalan melewati Willy, menuju wastafel dapur di mana Adrian masih sibuk menyiksa kulit wajahnya sendiri.
Adrian menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia sudah siap untuk meledak lagi, namun kata-katanya tertelan kembali saat melihat Elena berdiri di sana, memegang sebotol cairan dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kasihan dan ingin tertawa.
"Diam," perintah Elena singkat.
Adrian yang biasanya memerintah ribuan karyawan, entah kenapa, tiba-tiba terbungkam dan menurut begitu saja saat tangan Elena mulai menuangkan cairan itu ke kapas.
"Jangan sentuh aku!" desis Adrian, meskipun ia tetap berdiri mematung di depan wastafel. "Aku bisa melakukannya sendiri. Berikan benda itu padaku."
Elena tidak memedulikan protes itu. Ia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Adrian bisa menghirup aroma lembut sampo dari rambut Elena, aroma yang sangat berbeda dengan bau karat wastafel di sekitar mereka.
"Diamlah, Tuan Adrian. Semakin kau menggosoknya dengan air, wajahmu akan semakin lecet," ucap Elena. Tangannya yang dingin dengan lembut memegang rahang tegas Adrian, memaksanya untuk menunduk agar sejajar dengan wajahnya.
Adrian tersentak. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke tulang belakangnya. Ia ingin menepis tangan Elena, ingin menegaskan bahwa ia adalah pria yang memegang kendali. Namun, saat matanya bertemu dengan sepasang netra bening Elena yang tampak sangat fokus, lidahnya mendadak kelu.
"Kau sengaja, kan? Kau membiarkan anak-anakmu merusak wajahku agar kau bisa menertawakanku," gumam Adrian, suaranya kini merendah, kehilangan nada angkuhnya.
Elena menuangkan cleansing oil ke kapas, lalu mulai mengusap dahi Adrian dengan gerakan perlahan.
"Kalau aku ingin menertawakanmu, aku akan memotretmu dan mengirimnya ke majalah bisnis. Sekarang, tutup matamu."
"Aku tidak mau—"
"Tutup. Matamu. Tuan Adrian."
Seperti sihir, pria yang biasanya membuat para direktur gemetar itu kini perlahan memejamkan matanya dan Elena mulai membersihkan area kelopak mata Adrian yang tercoret pensil alis hitam pekat. Jarak mereka begitu dekat hingga napas hangat Adrian terasa di dahi Elena.
Elena terdiam sejenak sambil mengusap pipi Adrian dengan gerakan yang perlahan berubah menjadi lembut, hampir seperti belaian.
Sementara itu, di bibir pintu dapur, tiga pasang mata mengintip.
Willy melongo, mulutnya terbuka lebar menyaksikan pemandangan langka di depannya. Di kantor, Adrian adalah raja hutan yang siap menerkam siapa saja yang salah menaruh koma dalam laporan. Namun sekarang? Bosnya itu diam tak berkutik, pasrah wajahnya diusap-usap seperti hamster kecil yang sedang dimandikan.
"Luar biasa..." bisik Willy nyaris tak terdengar. "Bos benar-benar kehilangan taringnya."
Di sampingnya, Arshy berbisik dengan nada bangga. "Tuh, kan! Bunda hebat bica jinakkin Paman Bayi Lakcaca."
Arsen yang tetap memasang wajah datar namun matanya menajam, melipat tangan di dada. "Aku bilang juga apa. Paman itu lemah. Tidak ada apa-apanya di depan Bunda."
Di wastafel, Adrian perlahan membuka matanya saat merasa usapan Elena berhenti. Ia mendapati Elena sedang menatap bibirnya yang masih merah karena lipstik.
"Masih ada sedikit di sini," bisik Elena.
Jempol Elena yang terlapisi kapas tipis itu menekan lembut sudut bibir Adrian. Sentuhan itu terasa terlalu intim untuk dua orang yang seharusnya saling membenci. Adrian menatap Elena dalam-dalam, matanya menggelap. Ada gejolak aneh di dadanya, rasa tidak rela jika momen ini berakhir.
"Elena," panggil Adrian berat.
"Apa?"
"Lain kali... singkirkan kotak make-up itu dari tangan anak-anakmu. Atau aku yang akan menyingkirkannya dari hidupmu."
Elena menarik tangannya, ekspresinya kembali datar.
"Jangan salahkan make-up-nya, salahkan dirimu yang tidur seperti orang mati sampai tidak sadar dikerjai bocah, Tuan Galak," ucap Elena lalu berbalik menyembunyikan rona tipis di pipinya, sementara Adrian tetap berdiri di sana sambil menyentuh bibirnya sendiri yang telah dibersihkan. Namun rasa hangat dari jemari Elena masih tertinggal di sana.
'Dia.. Lumayan juga.'
— 🌹
chi...dari tanah sengketa🤣🤣