Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Penghinaan di Depan Pintu
BAB 19: Penghinaan di Depan Pintu
Hujan deras di luar mulai mereda menjadi rintik-rintik kecil, namun badai di dalam hati Luna justru terasa semakin mengamuk. Mobil sedan silver milik Dika perlahan berbelok memasuki gang sempit dan berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar besi karat yang suram.
Di dalam kabin mobil yang hangat, Luna duduk menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat pada kaca jendela. Kemeja katun dan rok hitamnya masih terasa lembap, membuat tubuhnya tak berhenti bergetar halus akibat kedinginan dan demam yang mulai menyerang. Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak dan merah setelah terkuras habis di makam sang ayah.
Dika mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke samping dengan tatapan yang dipenuhi rasa khawatir. "Mbak Luna, kita sudah sampai di depan rumah Anda. Apakah Anda kuat untuk berjalan sendiri? Biar saya bantu payungi sampai ke dalam."
Luna menoleh lambat, lalu memaksakan sebuah senyuman kecil yang sangat hambar. "Tidak apa-apa, Pak Dika. Saya sudah banyak merepotkan Anda hari ini. Terima kasih banyak karena sudah mengantar saya pulang."
"Jangan sungkan, Mbak Luna. Di kantor kita adalah rekan kerja, dan di luar itu, saya tulus ingin membantu Anda," jawab Dika lembut.
Dika bergegas turun dari mobil, membuka payung hitamnya, lalu berjalan memutari kap mobil untuk membukakan pintu di sisi Luna. Dengan sigap, Dika menuntun tubuh Luna yang lemas agar tidak tergelincir di atas tanah becek depan rumah.
Namun, baru saja langkah kaki mereka menyentuh lantai teras, pintu rumah kayu itu mendadak terbuka secara kasar dari dalam.
Brak!
Siska melangkah keluar dengan wajah yang masam dan penuh amarah, disusul oleh Bu Rahma yang berjalan di belakangnya sambil berkacak pinggang. Sejak pagi, Siska sudah uring-uringan karena mendapat kabar dari temannya di kantor kalau Luna tidak masuk kerja. Rencana mereka untuk memata-matai Devano lewat parfum melati kemarin terancam berantakan.
Begitu mata Siska menangkap sosok Luna yang pulang dengan tubuh basah kuyup bersama seorang pria asing yang merangkul pundaknya, dada Siska seketika bergemuruh. Siska melangkah maju, lalu berteriak tanpa memedulikan keberadaan Dika yang berdiri di sana.
"Oh! Bagus ya! Jam segini baru pulang, bolos kerja, dan sekarang malah pulang berduaan sama laki-laki?!" bentak Siska, suaranya melengking tinggi hingga membuat beberapa tetangga sekitar menoleh dari balik jendela rumah mereka.
Luna tersentak, wajahnya yang sudah pucat kini semakin pias. "Kak Siska... ini Pak Dika, Manajer Keuangan di kantor..."
"Saya tidak peduli dia manajer atau apa!" potong Siska dengan kejam. Dia menunjuk wajah Luna dengan jarinya yang dihiasi kuteks merah menyala. "Kamu ini benar-benar cewek gatel ya, Luna! Di rumah berlagak sok suci, menangis menolak kerja, tapi di luar ternyata kelayapan pacaran sampai basah-basahan begini! Kamu tidak mikir apa bagaimana nasib karirmu di perusahaan Mas Devano?!"
Dika yang mendengar makian kasar itu seketika terbelalak kaget. Dia tidak menyangka bahwa keluarga Luna sendiri akan menyambut kepulangan anak mereka yang sedang sakit dengan caci maki yang serendah itu. Sebagai seorang pria berpendidikan, darah Dika mendidih melihat Luna diperlakukan seperti itu di depan matanya.
Dika langsung melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Luna untuk melindungi gadis itu dari amukan Siska. "Maaf, Ibu, Mbak... tolong jaga ucapan Anda. Saya tidak memiliki hubungan khusus seperti yang Anda tuduhkan dengan Mbak Luna. Saya tidak sengaja bertemu dengan Mbak Luna di pemakaman umum. Kondisinya tadi sangat mengenaskan, pingsan dan kedinginan di bawah hujan deras. Sebagai sesama rekan kerja, saya hanya berniat mengantarkannya pulang dengan selamat."
Bu Rahma, yang sejak tadi mengamati dari belakang, kini ikut maju ke depan. Wanita paruh baya itu menatap Dika dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat sinis dan merendahkan. Di mata Bu Rahma, pria di hadapannya ini hanyalah seorang manajer biasa yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan melimpah milik mantan menantunya, Devano.
"Oh, jadi kamu manajer keuangan di sana?" Bu Rahma mendengus kasar, suaranya terdengar sangat ketus. "Dengar ya, Anak Muda. Urusan Luna di kantor itu sangat penting bagi keluarga kami. Jadi, tolong jangan mengganggu dia dengan urusan pacaran yang tidak jelas seperti ini!"
Bu Rahma beralih menatap Luna dengan mata yang mendelik tajam, mengabaikan fakta bahwa bibir anak tirinya itu sudah membiru karena demam.
"Luna! Masuk ke dalam rumah sekarang! Berani-beraninya kamu membuat kekacauan di hari kerjamu!" usir Bu Rahma ketus. Dia kemudian kembali menatap Dika dengan keangkuhan yang murni. "Pak Manajer, saya beri tahu Anda ya. Tolong jauhi Luna. Biarkan Luna fokus bekerja dulu di sana untuk mengurus urusan penting perusahaan. Masalah pacaran itu belakangan saja! Kami tidak butuh laki-laki yang cuma modal payung untuk mendekati anak kami!"
Hantaman kalimat-kalimat dari Bu Rahma dan Siska membuat harga diri Dika seperti diinjak-injak di teras rumah tersebut. Namun, rasa dongkol Dika kalah besar oleh rasa iba dan marahnya melihat bagaimana Luna hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Luna meremas kain rok hitamnya yang basah, air matanya menetes satu per satu ke atas lantai teras, berbaur dengan sisa air hujan yang meluluri tubuhnya. Luna merasa dunianya benar-benar runtuh; rasa malunya di depan Dika kini sudah berada di tingkat yang paling maksimal.
"Ibu, saya minta maaf jika kedatangan saya menyinggung Anda. Tapi Mbak Luna saat ini sedang sakit keras, dia butuh istirahat, bukan makian," tegas Dika dengan sisa-sisa kesabarannya yang menipis, sebelum akhirnya menatap Luna dengan pandangan penuh sesal. "Mbak Luna... saya permisi pulang dulu. Tolong jaga kesehatan Anda."
Luna hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani mendongak menatap mata Dika. Setelah Dika berbalik dan berjalan menuju mobilnya dengan perasaan dongkol yang membara, Siska langsung menarik kasar lengan Luna, menyeret tubuh ringkih adiknya itu masuk ke dalam rumah dan membanting pintu depan dengan sangat keras.
Di seberang jalan, di dalam mobil MPV mewah berwarna hitam yang terparkir di bawah keremangan pohon, sepasang mata elang milik Devano menyaksikan seluruh drama itu dari balik kaca jendela yang gelap.
Sejak keluar dari area pemakaman, Devano memang memerintahkan sopirnya untuk membuntuti mobil sedan silver milik Dika hingga sampai ke gang sempit ini. Pria bertubuh tegap setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu duduk bersandar dengan angkuh, kemeja hitam formalnya melekat pas di dada bidangnya yang kini bergerak naik turun dengan ritme yang cepat akibat amarah yang tertahan.
Dari posisinya, Devano memang tidak bisa mendengar dengan jelas kata demi kata yang diucapkan oleh Siska dan Bu Rahma di teras rumah. Namun, dari bahasa tubuh mereka—di mana Siska berteriak marah, Bu Rahma menunjuk-nunjuk wajah Dika, dan Dika yang tampak membela Luna dengan gigih—Devano menarik kesimpulannya sendiri.
Krak.
Devano mengepalkan tangannya begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam. Rahang perseginya mengetat sempurna, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat di dalam kabin mobil yang sunyi.
Di dalam benak Devano yang dipenuhi oleh kabut dendam masa lalu, cap "perempuan murahan" kini semakin tertanam kuat dan mengakar di hatinya untuk Luna.
"Benar-benar luar biasa," desis Devano di dalam hati dengan sangat kejam dan sinis. "Kemarin dia bertingkah seperti wanita paling tersiksa di dalam ruanganku, menolak sentuhanku seolah-olah dia memiliki harga diri yang tinggi. Tapi di luar... dia justru membiarkan dirinya diperebutkan oleh pria lain. Lihat bagaimana dia membawa selingkuhannya ke rumah, membiarkan ibunya dan Siska memarahi Dika karena mengacaukan rencana mereka untuk memeras hartaku melalui posisi kerjanya."
Devano menganggap tangisan Luna di teras rumah tadi hanyalah bagian dari sandiwara air mata buaya untuk mendapatkan simpati dari Dika, persis seperti taktik manipulasi yang sering digunakan Siska dulu saat berselingkuh di belakangnya. Rasa muak dan benci di dalam dada sang CEO kini berada di puncaknya. Dia merasa bodoh karena sempat merasakan denyutan perih di hatinya saat melihat Luna menggigil di pemakaman tadi.
Namun, meskipun akal sehatnya terus mengutuk Luna sebagai wanita jalang yang licik, ada satu sudut di lubuk hati Devano yang bergejolak hebat. Ada rasa tidak rela yang teramat sangat, sebuah ego teritorial yang terluka karena melihat wanita yang telah menyerahkan kesuciannya di atas ranjang hotel bersamanya, kini justru dituntun dan dilindungi oleh pria lain. Devano membenci kenyataan bahwa dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pintu rumah kayu yang kini telah tertutup rapat itu.
"Tuan Devano... apakah kita akan kembali ke kantor pusat sekarang?" tanya sopir pribadi dari kursi kemudi dengan suara yang sangat pelan, takut memicu amukan sang majikan yang auranya sudah sewarna dengan iblis malam itu.
Devano melepaskan cengkeraman tangannya di celana bahan hitamnya. Dia memperbaiki letak jasnya, lalu menatap lurus ke arah rumah kayu itu dengan sorot mata elang yang paling dingin dan mematikan.
"Kembali ke kantor," perintah Devano dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan ancaman terselubung. "Dan pastikan besok pagi, seluruh jadwal rapat luar saya dibatalkan. Saya ingin berada di kantor sepanjang hari... untuk menyambut kedatangan asisten pribadi saya yang paling setia."