Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Kenangan dan Kenyataan
Sisa malam itu berjalan dalam keheningan yang berat. Heesung nyaris tak bersuara, pikirannya masih tertinggal di tatapan terakhir Jung Sooah—tatapan yang penuh pesan, seolah waktu tak pernah berlalu dan perpisahan dulu hanyalah mimpi buruk sesaat. Di sisi lain, Hyeri tetap bersikap tenang di depan umum, tersenyum, menyapa tamu, dan memainkan peran sebagai istri idaman dengan sempurna. Namun, setiap kali ia menatap Heesung, hatinya terasa diremas sakit melihat betapa besar dampak kehadiran wanita itu bagi pria yang kini menjadi pasangan kontraknya.
Saat mobil meninggalkan lokasi acara, suasana di dalam kabin terasa dingin meski pemanas ruangan menyala. Heesung menyetir dengan pandangan lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Kau mau bicara?” tanya Hyeri pelan, memecah keheningan. Suaranya lembut, namun ada nada ketegaran yang tersembunyi di sana.
Heesung menghela napas panjang, tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. “Aku… aku tak menyangka akan bertemu dia malam ini. Aku pikir dia sudah pindah ke luar negeri, atau setidaknya… sudah melupakan semuanya.”
“Tapi ternyata tidak,” sambung Hyeri pelan. “Dia ada di sana. Dan kau… masih merasakan hal yang sama padanya, bukan?”
Pertanyaan itu tergantung di udara, tajam dan jujur. Heesung tak langsung menjawab. Ia memarkirkan mobil di halaman kediaman mereka—rumah besar yang hanya berisi dua orang yang terikat perjanjian, namun hatinya masing-masing berada di tempat berbeda. Ia mematikan mesin, lalu bersandar di kursi pengemudi, menatap kosong ke arah depan.
“Sooah… dia adalah segalanya bagiku dulu,” akui Heesung pelan, suaranya bergetar sedikit. “Saat aku masih menjadi trainee yang tak punya apa-apa, saat semua orang meragukanku, dia satu-satunya yang percaya. Kami berjanji akan bersama selamanya. Tapi… saat kontrakku ditandatangani, saat karierku mulai naik, agensi melarang kami berhubungan. Mereka bilang hubungan asmara akan merusak citraku sebagai idola. Aku terpaksa melepaskannya… demi mimpiku. Dan sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya, apakah keputusanku itu benar atau justru kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Hyeri mendengarkan dalam diam, menahan rasa perih yang menjalar di dadanya. Ia tahu cerita itu, ia sudah mendengarnya berkali-kali dari orang lain, tapi mendengarnya langsung dari mulut Heesung rasanya jauh lebih menyakitkan. Ia hanyalah pengisi kekosongan, pelindung citra, dan istri dalam kertas saja.
“Lalu sekarang?” tanya Hyeri, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Dia kembali. Apa yang akan kau lakukan, Heesung? Apa kau akan mengingkari perjanjian kita demi dia?”
Heesung menoleh, menatap Hyeri dengan pandangan yang penuh keraguan dan rasa bersalah. “Aku tidak tahu. Di satu sisi, rasanya semua kenangan itu kembali hidup. Rasanya aku ingin berlari padanya, memperbaiki semua kesalahan masa lalu. Tapi di sisi lain… ada kau. Kau ada di sini, menemaniku, menerima semua syarat gila ini, dan tak pernah mengeluh meski aku seringkali bersikap dingin atau menjauh. Aku bingung, Hyeri. Sungguh.”
Hyeri tersenyum pahit. Ia membuka pintu mobil dan turun, angin malam Seoul yang dingin menyapa wajahnya. “Kau tak perlu bingung. Ingat saja alasan kita menikah. Aku butuh perlindungan dan status, kau butuh topeng untuk menyembunyikan isi hatimu. Selama perjanjian ini belum berakhir, aku akan tetap menjadi istri yang kau butuhkan di depan umum. Tapi di dalam hati… itu hakmu sendiri. Aku tak bisa melarangmu merindukan masa lalu.”
Malam itu, keduanya masuk ke dalam rumah dalam diam, menuju kamar masing-masing. Dinding tebal di antara kamar tidur mereka terasa seperti tembok yang memisahkan dua dunia yang berbeda.
Keesokan harinya, kabar pertemuan mereka di pesta kemarin sudah tersebar di media. Foto-foto Heesung dan Hyeri terlihat serasi dan bahagia memenuhi berita hiburan, namun ada satu foto lain yang diambil dari sudut pandang lain: foto saat Heesung dan Jung Sooah berbicara, dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh arti. Komentar-komentar mulai bermunculan, ada yang curiga, ada yang menebak-nebak hubungan masa lalu mereka, dan rumor mulai berkembang biak dengan cepat.
Di ruang latihan agensi, Heesung duduk diam di sudut ruangan, memegang ponselnya. Pesan masuk muncul dari nomor yang sangat dikenalnya—nomor yang pernah ia simpan dengan nama “Cintaku”, namun sudah lama ia hapus dari daftar kontaknya.
“Heesung, bisakah kita bertemu? Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan. Hal-hal yang belum selesai di antara kita.” — Dari: Jung Sooah
Jantung Heesung berdebar kencang. Ia menatap pesan itu lama sekali, jemarinya bergetar di atas layar ponsel. Di satu sisi, ia tahu ia seharusnya menolak. Ia sudah menikah, meski hanya kontrak. Ia punya tanggung jawab, punya citra yang harus dijaga, dan ada Hyeri yang ada di sisinya. Tapi di sisi lain, rindu yang tertahan bertahun-tahun itu mendesak untuk dikeluarkan.
Tanpa sadar, jarinya bergerak mengetik balasan: “Di mana? Dan kapan?”
Siang itu juga, Heesung menyelinap keluar dari agensi tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk Hyeri. Ia menuju sebuah kafe tenang di pinggir kota, tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat masih berpacaran. Saat ia masuk, ia melihat Sooah sudah duduk di meja sudut, memandang keluar jendela dengan senyum tipis di bibirnya.
Saat Sooah berbalik dan menatapnya, dunia Heesung seolah runtuh kembali. Wajah wanita itu masih sama persis seperti di ingatannya—cantik, lembut, dan memiliki kekuatan untuk merobohkan semua pertahanan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
“Kau datang,” ucap Sooah lembut, berdiri dan menyambutnya.
“Aku datang,” jawab Heesung pelan, duduk di hadapan wanita itu. “Kenapa kau kembali, Sooah? Kenapa sekarang?”
Sooah tersenyum sedih, menatap tangan Heesung yang tergeletak di atas meja—tangan yang kini tak lagi bebas digenggamnya. “Aku pergi karena aku ingin melupakanmu, Heesung. Aku pikir jika aku pergi jauh, aku bisa berhenti mencintaimu. Tapi ternyata, semakin jauh aku pergi, semakin aku sadar bahwa hatiku tertinggal bersamamu. Saat aku mendengar kau menikah… aku hancur. Tapi saat aku melihatmu kemarin… aku tahu, perasaanmu padaku belum hilang. Kau masih mencintaiku, sama seperti aku masih mencintaimu.”
Kata-kata itu menusuk tepat ke jantung Heesung. Ia tak bisa menyangkalnya. “Aku sudah menikah, Sooah. Dengan Hyeri. Ini bukan sekadar berita atau pementasan.”
“Tapi itu pernikahan kontrak, bukan?” potong Sooah dengan pandangan tajam namun lembut. “Aku sudah mencari tahu semuanya. Kau menikah demi karier, demi citra, bukan demi cinta. Hubungan itu tak punya hati, Heesung. Sama seperti hubungan kita dulu, tapi bedanya… kita punya cinta yang nyata.”
Heesung terdiam. Ia tak menyangka Sooah tahu hal itu. Rasa bersalah mulai merayap masuk. Ia ingat wajah Hyeri, kesabaran Hyeri, dan perhatian Hyeri yang diam-diam mulai membuatnya nyaman. Tapi di hadapan Sooah, semua itu terasa kabur.
“Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Sooah. Dia ada di sini karena perjanjian, dan aku berjanji akan menjaganya,” kata Heesung berusaha tegas, meski suaranya tak terlalu meyakinkan.
Sooah mengulurkan tangannya perlahan, menyentuh punggung tangan Heesung di atas meja. Sentuhan itu begitu akrab, begitu hangat, dan begitu sulit ditolak.
“Kau tidak perlu meninggalkannya sekarang. Tapi ingatlah satu hal, Heesung,” bisik Sooah, matanya menatap lekat-lekat ke dalam mata pria itu. “Waktu terus berjalan, tapi cinta kita berhenti di waktu yang sama. Aku ada di sini sekarang. Dan aku tidak akan pergi lagi sampai kau kembali padaku.”
Sementara itu, di rumah, Hyeri menerima pesan dari manajer agensi yang bertanya mengapa Heesung tidak ada di jadwal latihan dan tak bisa dihubungi. Hati Hyeri serasa diremas. Ia tahu persis ke mana pria itu pergi dan dengan siapa.
Hyeri berdiri di dekat jendela besar kamar mereka, menatap ke langit yang mulai gelap. Ia meremas kain gaunnya sendiri. Pertempuran ini ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Heesung mungkin ada di sampingnya secara hukum dan status, tapi hatinya sedang berjuang keras untuk lari kembali ke pelukan masa lalu.
“Kalau kau memilih dia, Heesung…” bisik Hyeri pada dirinya sendiri, air mata mulai menggenang namun tak jatuh. “…maka biarlah aku yang mundur. Tapi sampai saat itu tiba, aku akan tetap berdiri di sini, menjadi istri yang kau butuhkan, meski hatiku hancur pelan-pelan.”
Malam itu, Heesung pulang terlambat. Ia masuk ke rumah dengan langkah berat, wajahnya tampak kacau dan penuh konflik. Di ruang tengah, lampu masih menyala redup, dan Hyeri duduk menunggunya, dengan secangkir teh hangat di meja.
Mata mereka bertemu. Dan di detik itu, keduanya sama-sama tahu: garis pemisah antara pernikahan kontrak dan cinta yang sesungguhnya semakin menipis, dan keputusan besar harus segera diambil—sebelum salah satu dari mereka terluka lebih dalam lagi.