NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Di balik Ketenangan : Pemburu dan Mangsa

Xiao Xiyun menutup mulutnya dengan satu gerakan refleks yang terlambat.

Xiao Tian melangkah satu langkah ke depan, mencoba mengalihkan situasi.

"Tidak ada apa apa. Xiyun hanya bicara sembarangan. Intinya, kawasan terdalam tebing lebih berbahaya dari yang kamu kira dan seseorang tanpa kemampuan kultivasi sepertimu sebaiknya tidak mendekat ke sana."

"Terima kasih atas peringatannya," kata Xiao Ba.

Ia berdiri dari tempatnya duduk, meregangkan tubuhnya sebentar.

"Tapi aku rasa aku akan menjelajahi ke arah sana juga pada waktunya."

"Jangan menyesal," gumam Xiao Tian.

Xiao Ba tidak menjawab lagi. Ia berbalik, berjalan ke arah yang berlawanan, meninggalkan dua orang itu berdiri dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Xiao Xiyun menarik lengan Xiao Tian begitu Xiao Ba sudah cukup jauh.

"Aku tadi hampir bilang hal yang seharusnya tidak dikatakan."

"Aku tahu," jawab Xiao Tian pelan. "Tapi tidak apa apa. Bahkan kalau dia tahu ada yang menunggu di tebing enam dan tujuh, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang tanpa kemampuan kultivasi?"

Ia menatap punggung Xiao Ba yang semakin mengecil di kejauhan.

Namun entah kenapa, keyakinan dalam kalimat yang baru saja ia ucapkan tidak terasa sekuat yang seharusnya.

Malam kedua berlalu.

Pagi hari ketiga, Xiao Ba memutuskan untuk bergerak.

Bukan ke arah kawasan yang ia sudah kenal dengan baik.

Melainkan langsung ke arah tebing enam dan tujuh.

Ia berjalan santai melalui jalur terpanjang yang ia tahu, bukan karena ia tidak menemukan jalur yang lebih pendek, melainkan karena jalur terpanjang itu melewati beberapa lokasi tambahan yang masih menyimpan Kristal Roh Laut yang belum ia ambil. Ia memanen sepanjang perjalanan, mengisi tas penyimpanannya lebih lanjut.

Menjelang siang, ia sudah berada di kawasan antara tebing lima dan tebing enam.

Di sini, medan mulai berubah. Tebing tebing menjadi lebih tinggi dan lebih curam, celah celah di antara mereka menjadi lebih sempit dan lebih berliku. Angin yang berhembus di kawasan ini memiliki karakter yang berbeda dari angin laut biasa, lebih kering, lebih tajam di kulit, seolah sudah kehilangan kelembaban setelah berputar putar di antara formasi formasi batu yang kompleks.

Binatang buas yang berkeliaran di kawasan ini juga berbeda kelas dari yang ia temui di kawasan lebih dalam. Seekor Elang Karang Api tingkat tujuh yang sarangnya ia temukan di sisi tebing enam menatapnya dari ketinggian dengan sorot mata yang mengandung kecerdasan yang tidak biasa untuk binatang buas.

Xiao Ba menatap balik.

Elang itu tidak menyerang. Ia hanya mengepakkan sayapnya sekali, seolah memberikan peringatan, lalu terbang ke arah yang berlawanan.

Xiao Ba memandangi elang itu sampai sosoknya menghilang di balik formasi tebing.

"Cerdas," gumamnya.

Ia melanjutkan berjalan.

Dan ketika ia memasuki kawasan terbuka di antara tebing enam dan tebing tujuh, empat aura yang sudah ia deteksi sejak hari pertama tiba tiba bergerak dari posisi persembunyian mereka.

Empat sosok berdiri menghadangnya dari berbagai arah.

Tiga pria dan satu wanita, semuanya berusia sekitar dua puluh tahunan, mengenakan jubah dengan warna yang tidak mencirikan keluarga mana pun secara jelas. Namun, dari cara mereka bergerak dan dari cara mereka menempatkan diri untuk memotong semua kemungkinan jalan keluar, terlihat jelas bahwa mereka bukan kultivator muda yang baru pertama kali terjun ke lapangan.

Ini profesional.

"Tuan Muda Xiao Ba dari Keluarga Xiao?" tanya yang berdiri paling depan, pria bertubuh tinggi dengan senyum yang tidak mencapai matanya. "Senang bisa menemukan Tuan Muda di tempat yang begitu sunyi."

Xiao Ba menatap keempat orang itu satu per satu dengan tatapan yang tidak terburu buru.

"Dari Keluarga Yun?" tanyanya langsung.

Senyum pria itu tidak berubah.

"Anggap saja iya."

"Alam kultivasi kalian?" Xiao Ba melirik masing masing dari mereka secara bergantian. "Pengumpulan Qi Tingkat 7 Awal. Tingkat 7 Menengah. Tingkat 7 Puncak. Dan yang paling belakang, Tingkat 8 Awal."

Keempat orang itu diam.

Mereka tidak mengharapkan target mereka langsung membaca alam kultivasi masing masing dengan begitu tepat hanya dari satu tatapan.

"Bagaimana bisa?" tanya yang wanita, tidak bisa menyembunyikan kekagetan dari suaranya.

"Tidak penting," jawab Xiao Ba.

Ia melepaskan tasnya, meletakkannya di atas batu karang di sisinya.

"Aku hanya ingin tahu seberapa serius kalian dikirim ke sini."

Pria yang berdiri paling depan mengepalkan tangannya, mengalirkan energi Qi hingga aura Pengumpulan Qi Tingkat 7 Puncaknya memancar keluar membentuk tekanan yang terasa seperti angin kencang yang tiba tiba datang dari satu arah.

"Sampah sepertimu seharusnya tidak bisa merasakan aura kami," katanya, nada suaranya berubah dari sopan pura pura menjadi langsung. "Seharusnya. Tapi tidak masalah. Hasilnya akan sama."

Xiao Ba tidak mengubah posisinya sama sekali.

"Empat lawan satu," ucapnya dengan nada yang terdengar seperti ia sedang mengomentari cuaca. "Keluarga Yun cukup menghargaiku rupanya."

Ia mengangkat tangan kanannya.

Tidak ada cahaya Qi yang memancar dari kepalan tangannya. Tidak ada aura yang ia lepaskan. Tidak ada teknik yang ia persiapkan secara mencolok.

Yang ada hanya tangan yang terangkat dengan tenang dan senyum tipis di sudut bibir seorang pemuda empat belas tahun yang membuat keempat profesional yang dikirim untuk membunuhnya merasa sesuatu yang belum pernah mereka rasakan dalam karier mereka sebagai petarung bayaran.

Ragu.

"Mulai," perintah pria paling depan.

Keempat petarung Keluarga Yun bergerak bersamaan dari empat arah yang berbeda, menutup semua kemungkinan kabur dan menyerang dari sudut sudut yang secara teori tidak bisa dihadapi oleh satu orang sendirian secara bersamaan.

Secara teori.

BOOM.

Gerakan Pertama Pukulan Naga meluncur dari kepalan Xiao Ba, namun kali ini bukan ke satu arah melainkan ia membagi energinya menjadi dua percikan terpisah yang masing masing meluncur ke arah dua petarung yang menyerang dari depan dan samping kiri.

Dua petarung dari arah itu terhempas sejauh puluhan meter tanpa sempat menyentuh Xiao Ba sama sekali.

Sisa dua petarung dari belakang dan samping kanan masih bergerak maju.

Xiao Ba memutar tubuhnya, menyambut serangan dari belakang dengan Kekuatan Fisik Tubuh Fana Puncak yang dialirkan ke siku kanannya, menghantam langsung ke tangan petarung yang melancarkan pukulan dari belakang.

KRAK.

Tulang lengan petarung ketiga patah.

Ia terpental ke samping sambil menjerit.

Petarung keempat, wanita dengan alam kultivasi Tingkat 8 Awal yang merupakan yang terkuat di antara mereka, memutar arahnya di detik terakhir, mencoba melancarkan tendangan ke sisi tubuh Xiao Ba yang terekspos setelah ia menangani petarung ketiga.

Xiao Ba membiarkan tendangan itu datang.

Lalu, tepat saat kaki wanita itu berjarak beberapa senti dari sisinya, ia menggerakkan tangan kirinya dengan gerakan yang lebih menyerupai sapuan daripada tangkisan, menangkap pergelangan kaki wanita itu dan, dalam satu gerakan yang menggunakan momentum tendangan itu sendiri, melemparkannya ke arah formasi batu karang di sisinya.

BUGH.

Wanita itu menghantam permukaan batu karang dengan punggungnya, merosot ke bawah, lalu tidak bergerak lagi.

Seluruh pertarungan berlangsung tidak lebih dari lima belas detik.

Xiao Ba berdiri di tengah area yang kini hanya berisi empat tubuh yang tergeletak di berbagai posisi, menatap sekeliling dengan ekspresi yang tidak banyak berubah dari sebelum pertarungan dimulai.

Ia mengambil tasnya kembali dari atas batu karang.

"Sampaikan ke Keluarga Yun," ucapnya kepada pria yang berdiri paling depan tadi, satu satunya yang masih cukup sadar untuk mendengar, meski tubuhnya terasa seperti baru ditabrak kapal, "bahwa Xiao Ba Keluarga Xiao menerima kunjungan mereka. Dan Xiao Ba akan membalas kunjungan itu pada waktunya."

Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan kawasan terbuka itu dengan langkah yang sama santainya seperti saat ia memasuki kawasan itu beberapa menit lalu.

Di belakangnya, angin laut berhembus menyapu kawasan antara tebing enam dan tebing tujuh, membawa debu dan serpihan kecil batu karang yang tercipta dari pertarungan singkat tadi, menghilangkan jejaknya seperti kawasan itu mencoba menyembunyikan apa yang baru saja terjadi di sini.

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!