GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kabar yang Mengguncang Istana Tanudjaya
Di dalam mobil mewah yang kembali melaju meninggalkan kawasan gedung perkantoran itu, suasana terasa jauh lebih tenang namun penuh dengan tekad yang semakin membara. Luna duduk bersandar di kursinya, menatap ke luar jendela kaca yang memantulkan bayangan gedung-gedung tinggi kota. Di dalam tas kecilnya, lencana pusaka itu tersimpan rapi dan aman, namun kini rasa berat dan beban yang menyertai benda itu telah berubah menjadi kekuatan yang kokoh di dalam dadanya.
Ia menoleh ke arah Aditya yang duduk di sampingnya, pria itu kembali dengan wajah serius, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang memikirkan langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Meskipun Aditya terlihat tenang, Luna tahu bahwa di balik ketenangan itu, pria itu telah menyusun rencana yang sangat besar, matang, dan berbahaya demi dirinya.
"Tuan..." panggil Luna pelan, memecah keheningan yang menyelimuti ruang kendaraan itu. Suaranya lembut namun penuh perhatian. "Kita sudah memiliki bukti yang kuat, kita sudah mendapatkan dukungan hukum yang sah... Apa langkah kita selanjutnya? Kapan kita akan berhadapan langsung dengan mereka? Kapan kebenaran ini akan kita ungkapkan kepada seluruh dunia?"
Aditya mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Luna, raut wajahnya yang dingin sedikit melunak, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh perhitungan. Ia meraih tangan Luna yang tergeletak di atas pangkuan gadis itu, menggenggamnya erat seolah ingin menegaskan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.
"Kesabaran adalah kunci utama, Luna," jawab Aditya dengan nada rendah namun tegas dan penuh wibawa. Ia kembali menatap jalanan di depan mereka sambil melanjutkan penjelasannya. "Kita tidak boleh bertindak terburu-buru. Sekarang bukti sudah ada di tangan, hukum sudah ada di pihak kita, tapi kita harus memilih waktu dan tempat yang paling tepat. Kita harus membiarkan mereka lengah, membiarkan mereka merasa paling berkuasa, paling aman, dan merasa bahwa tidak ada satu pun ancaman yang mampu menggoyahkan posisi mereka. Di saat itulah, di saat mereka merasa paling tinggi dan paling aman... kita akan menampar mereka dengan kebenaran yang paling telak dan menghancurkan seluruh kekuasaan mereka dalam sekejap mata."
Luna mengangguk perlahan, memahami sepenuhnya strategi cerdas yang disusun oleh pria di hadapannya ini. Aditya benar, musuh mereka bukanlah orang sembarangan. Reynold dan Julian memiliki kekuasaan, harta, koneksi, dan pengaruh yang sangat luas. Jika mereka bertindak terlalu cepat dan sembarangan, dikhawatirkan musuh akan punya waktu untuk menghancurkan bukti, memutarbalikkan fakta, atau bahkan melancarkan serangan balik yang membahayakan nyawa mereka berdua.
"Jadi... sementara waktu kita akan diam dan bersembunyi di balik layar, membiarkan mereka tidak mengetahui apa pun, sementara kita perlahan-lahan menjerat mereka dengan aturan hukum yang kuat?" tanya Luna kembali, matanya menatap lekat wajah Aditya, berusaha memahami setiap detail rencana itu.
"Benar sekali," jawab Aditya singkat dan mantap. "Mulai hari ini, tim hukum bekerja diam-diam mengurus segala administrasi, mengamankan aset-aset, dan menyusun gugatan. Pak Herman akan mengawasi setiap pergerakan mereka, mengetahui apa saja yang mereka lakukan, siapa saja yang mereka temui, dan kesalahan apa saja yang mungkin mereka buat. Dan tugasmu, Luna... hanyalah satu hal: tetap tenang, jaga keselamatan dirimu, dan percayalah sepenuhnya kepadaku. Biarkan aku yang mengurus segala sesuatu yang berat dan berbahaya ini."
Kalimat terakhir itu terucap begitu tegas dan penuh perlindungan, membuat hati Luna kembali terasa hangat dan aman. Gadis malang yang dulu sering diabaikan dan tidak dianggap oleh siapa pun, kini menjadi sosok yang paling dijaga, paling dilindungi, dan paling berharga di mata pria paling berkuasa dan ditakuti di kota ini.
Perjalanan mereka berlanjut menuju kediaman pribadi Aditya, tempat yang kini menjadi benteng pertahanan paling aman bagi Luna. Di sana, keamanan telah diperketat berkali-kali lipat. Pengawal-pengawal terlatih berjaga di setiap sudut, sistem pengawasan berjalan dua puluh empat jam, dan tidak ada satu pun orang asing yang boleh masuk tanpa izin khusus dari Aditya sendiri.
Namun, di tempat lain, di kediaman megah keluarga Tanudjaya yang dikelilingi kemewahan dan kekuasaan itu, suasana berubah drastis menjadi penuh ketegangan, kebingungan, dan amarah yang meluap-luap.
Di ruang kerja pribadinya yang luas dan mewah, Reynold Tanudjaya berjalan mondar-mandir dengan langkah yang berat dan kasar. Wajahnya yang selalu terlihat tenang, ramah, dan berwibawa kini berubah merah padam menahan kemarahan yang sulit dikendalikan. Di hadapannya, Julian duduk diam di kursi kulit yang empuk, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang selembar kertas laporan yang baru saja dikirimkan oleh orang dalam bayaran mereka.
Kertas itu berisi kabar yang begitu mengejutkan, mengerikan, dan mengguncang seluruh pondasi kekuasaan yang selama bertahun-tahun telah mereka bangun dan pertahankan dengan susah payah, serta segala cara kotor dan kejam.
"Kau bilang apa? Katakan sekali lagi!" bentak Reynold dengan suara berat dan menggelegar, matanya yang tajam menatap nyalang ke arah putranya itu. "Kau bilang... gadis itu, gadis rendahan bernama Luna itu... ternyata adalah cucu kandung Arthur? Dan dia sekarang memegang lencana pusaka keluarga? Dan dia bergerak bersama Aditya Pratama serta tim hukum terbesar di kota ini? Apakah kau sudah gila, Julian? Apakah kau yakin kabar ini benar dan bukan sekadar isapan jempol belaka?!"
Julian mengangguk lemah, tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Ia meletakkan kertas itu di atas meja besar yang berkilauan itu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini menjalar ke seluruh urat sarafnya.
"Aku sudah mengeceknya berkali-kali, Ayah... Informasi ini datang dari orang yang sangat bisa dipercaya di dalam firma hukum itu sendiri. Mereka bilang... kemarin ada pertemuan tertutup yang sangat penting. Aditya Pratama datang bersama seorang gadis muda, dan gadis itulah Luna. Di sana, dia menunjukkan bukti mutlak berupa lencana keluarga dan dokumen-dokumen warisan. Para pengacara itu terkejut luar biasa, dan mereka mengakui secara resmi bahwa Luna adalah pewaris sah dan tunggal dari seluruh harta serta kekuasaan milik Arthur Tanudjaya..." jawab Julian dengan suara parau dan nyaris tak terdengar. Ia menatap ayahnya dengan pandangan penuh kepanikan. "Ayah... kita dalam bahaya besar. Bahaya yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan. Selama ini kita mengira gadis itu tidak berdaya, tidak tahu siapa dirinya, dan hidup dalam ketidaktahuan. Tapi ternyata... dia tahu semuanya. Dan dia tidak bergerak sendirian. Dia didukung oleh Aditya Pratama. Pria itu adalah orang paling berkuasa dan paling ditakuti. Kalau dia sudah memihak ke gadis itu... kita bisa hancur seketika, Ayah. Kita bisa kehilangan segalanya..."
Reynold terdiam sejenak, napasnya terasa berat dan memburu. Ia berhenti berjalan, lalu berbalik menatap jendela besar yang menghadap ke taman luas di luar sana. Di balik kaca itu, ia melihat kemewahan, kekuasaan, dan rasa hormat yang selalu ia nikmati selama bertahun-tahun. Namun sekarang, semua itu terasa seperti debu yang bisa saja hilang ditiup angin kapan saja.
Ia tertawa kecil, namun tawaan itu terdengar begitu dingin, kejam, dan penuh ancaman yang mengerikan. Perlahan, Reynold berbalik menghadap putranya, senyum tipis namun menyeramkan terukir di bibirnya. Matanya yang tua namun masih tajam itu memancarkan kilatan ambisi dan keganasan yang belum pernah sedikit pun hilang seumur hidupnya.
"Kehilangan segalanya?" ulang Reynold pelan, namun suaranya penuh penekanan yang mengerikan. "Tidak akan pernah, Julian. Ingat kata-kataku ini... Selama aku masih bernapas di dunia ini, tidak ada seorang pun, bahkan darah daging sendiri sekalipun, yang berani mengambil apa yang sudah menjadi milikku, apa yang sudah aku kuasai, dan apa yang sudah aku nikmati selama puluhan tahun ini. Arthur sudah mati dan kalah duluan dariku, dan sekarang cucunya pun tidak akan pernah mampu mengalahkanku, tidak peduli seberapa kuat dukungan yang dia miliki."
Reynold berjalan perlahan mendekati meja kerjanya, lalu mengambil sebatang cerutu, menyalakannya dengan tenang seolah tidak ada hal berbahaya yang baru saja ia dengar. Asap putih mengepul naik ke atas, menyelimuti wajahnya yang mulai terlihat tua namun penuh kelicikan.
"Jadi, gadis itu sudah tahu kebenaran... dia punya bukti... dan dia bersekutu dengan Aditya Pratama..." gumam Reynold pelan, matanya menyipit penuh perhitungan jahat. "Itu memang masalah besar, tantangan yang sangat berat bagi kita. Tapi ingat satu hal, Julian... Selama masalah itu belum terungkap ke publik, selama belum ada keputusan hukum yang resmi, dan selama gadis itu masih bernapas di dunia ini... segalanya masih bisa diubah, segalanya masih bisa dipermainkan, dan segala hambatan masih bisa disingkirkan."
Julian menatap ayahnya dengan pandangan penuh harap sekaligus takut. Ia tahu betapa kejam dan liciknya ayahnya sendiri. Bagi Reynold, tidak ada aturan, tidak ada hukum, dan tidak ada rasa kemanusiaan yang dihormati selain kekuasaan dan keuntungannya sendiri.
"Apa yang harus kita lakukan, Ayah? Aditya Pratama sangat kuat dan berpengaruh. Kita tidak bisa berhadapan dengannya secara terang-terangan. Dan sekarang mereka sudah memegang bukti yang sah..." tanya Julian dengan nada cemas.
Reynold tersenyum makin lebar, senyum yang sangat mengerikan dan dingin. Ia meniupkan asap cerutunya perlahan ke udara.
"Kita tidak perlu berhadapan dengan Aditya Pratama, Julian. Kita tidak perlu melawannya karena kita tahu kita akan kalah jika berperang melawan kekuasaannya," jawab Reynold dengan nada rendah namun penuh kelicikan. Ia menatap tajam ke arah putranya. "Tapi ingat... kekuatan Aditya, hukum, bukti, dan segalanya itu... semuanya bertumpu pada satu titik paling lemah. Satu orang yang menjadi pusat dari semua masalah ini. Dan orang itu adalah Luna."
Jantung Julian berdebar kencang, ia mulai mengerti arah pikiran jahat ayahnya itu.
"Selama Luna masih ada, masih hidup, dan masih sehat... kekuatan mereka akan tetap ada dan mengancam kita," lanjut Reynold dengan nada yang semakin dingin dan mengancam. "Tapi jika... jika sesuatu terjadi pada gadis itu. Jika dia menghilang, mengalami kecelakaan, atau tiba-tiba tidak ada lagi di dunia ini... maka semua bukti itu tidak ada gunanya lagi, semua hak waris itu akan kembali terkatung-katung, dan Aditya Pratama tidak akan punya alasan lagi untuk campur tangan di dalam urusan keluarga kita."
Suasana ruangan itu seketika menjadi begitu mencekam dan penuh hawa kejahatan yang pekat. Rencana jahat yang jauh lebih kejam, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya kini mulai tersusun di kepala Reynold Tanudjaya. Ia tidak peduli bahwa Luna adalah cucu saudaranya sendiri, ia tidak peduli ikatan darah, dan ia tidak peduli dosa atau hukum. Baginya, nyawa satu gadis malang itu adalah harga yang sangat murah untuk dibayar demi menyelamatkan kekuasaan, harta, dan harga dirinya yang besar itu.
"Kirim pesan kepada orang-orang kita yang paling andal, yang bekerja di dalam bayang-bayang dan tidak akan pernah diketahui jejaknya," perintah Reynold dengan suara berat dan tegas. Matanya menatap tajam ke arah Julian. "Katakan pada mereka... kita punya satu target baru. Dan kali ini, tugasnya mutlak. Tidak ada kegagalan yang bisa diterima. Hancurkan segala hambatan, singkirkan siapa saja yang melindunginya, dan pastikan gadis itu tidak pernah lagi mampu berdiri dan berbicara di depan umum selamanya. Baik dengan cara halus maupun cara yang paling kasar sekalipun... asal dia lenyap dari hadapan kita."
Julian mengangguk perlahan, rasa ngeri sempat menyelinap di hatinya, namun rasa takut kehilangan harta dan kekuasaan ternyata jauh lebih besar daripada rasa kemanusiaannya. Ia tahu, perang sudah resmi dimulai. Dan kali ini, pertarungan bukan lagi sekadar soal harta atau nama baik, melainkan pertarungan nyawa yang nyata dan mematikan.
"Baik, Ayah... Akan aku laksanakan perintah ini secepatnya," jawab Julian mantap, lalu ia segera bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan itu dengan langkah tergesa-gesa. Di balik punggungnya, ia merasakan hawa dingin dan kegelapan yang menyelimuti seluruh kediaman keluarga Tanudjaya.
Di tempat yang berbeda, di kediaman Aditya yang aman dan damai, Luna sedang duduk di taman belakang rumah, menikmati udara sore yang segar dan tenang. Ia tersenyum kecil, merasa damai karena akhirnya kebenaran sudah ada di tangannya, dan keadilan tinggal menunggu waktu saja untuk terwujud.
Namun, Luna tidak tahu, di kejauhan sana, di balik kemegahan istana yang penuh kepalsuan itu, ancaman maut yang paling mengerikan dan kejam telah dikeluarkan perintahnya. Bahaya itu tidak lagi hanya berupa fitnah atau penghinaan, melainkan bahaya yang siap merenggut nyawanya kapan saja dan dari arah mana saja.
Perang besar antara kebenaran melawan kejahatan, antara keadilan melawan keserakahan, dan antara nyawa melawan maut... kini baru benar-benar saja dimulai.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷