Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Doni tampak murung di dalam ruang kerjanya. Map anggaran pemasaran terbuka di atas meja dengan beberapa catatan kecil yang ia buat sendiri. Keningnya berkerut sejak tadi pagi. Sesekali ia mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja sambil memandangi angka-angka yang menurutnya terlalu kecil untuk sebuah kampanye iklan besar.
Di depan meja, Santi berdiri sambil membawa tablet dan beberapa berkas tambahan. Ia juga tampak tidak jauh lebih tenang dibanding atasannya.
“Pak Doni, saya sudah hitung ulang tiga kali,” ucap Santi hati-hati. “Kalau kita tetap pakai konsep iklan televisi dengan artis terkenal, anggaran ini tidak akan cukup.”
Doni menghela napas panjang.
“Saya juga tahu,” jawabnya pelan. “Bahkan untuk bayar satu influencer papan atas saja mungkin langsung habis setengah dana.”
Santi duduk perlahan di kursi depan meja kerja Doni. Ia membuka beberapa data biaya promosi yang tadi sudah ia kumpulkan.
“Kalau kita pakai model baru yang belum terkenal?”
“Risikonya besar,” jawab Doni cepat. “Produk baru butuh perhatian. Kalau wajahnya tidak menarik perhatian pasar, iklannya lewat begitu saja.”
Ruangan kembali hening.
Doni memijat pelipisnya pelan. Ia sebenarnya cukup kesal karena anggaran pemasaran tahun ini dipotong cukup besar. Namun keadaan perusahaan memang sedang fokus melakukan ekspansi pabrik baru. Semua divisi harus berhemat.
Santi memperhatikan atasannya beberapa detik. Lalu tiba-tiba muncul ide aneh di kepalanya.
“Kalau… pakai Bapak saja bagaimana?”
Doni langsung mengangkat kepala.
“Saya?”
Santi mengangguk cepat.
“Iya. Maksud saya… Bapak itu tinggi, wajah juga menarik, pembawaannya bagus. Kalau cuma untuk iklan minuman buah, menurut saya cocok sekali.”
Doni tertawa kecil.
“Kamu terlalu melebih-lebihkan.”
“Saya serius.”
“Santi.”
“Benar, Pak.”
Doni menyandarkan tubuh ke kursi sambil tersenyum tipis. Ia tidak menyangka asistennya benar-benar mengusulkan hal seperti itu.
“Jadi sekarang direktur pemasaran harus merangkap jadi model iklan?” tanyanya.
“Lumayan menghemat anggaran,” jawab Santi tanpa rasa bersalah.
Doni geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Dunia kerja memang kadang aneh. Orang kuliah bisnis bertahun-tahun, berakhir memakai wajah sendiri demi menutupi kekurangan dana perusahaan. Kapitalisme benar-benar kreatif saat sedang miskin.
Namun beberapa detik kemudian Doni justru berpikir serius.
“Kalau dipikir-pikir…” gumamnya.
Mata Santi langsung berbinar.
“Bapak mau coba?”
Doni mengangkat bahu santai.
“Tidak ada salahnya mencoba hal baru.”
Santi hampir melonjak dari kursinya.
“Serius, Pak?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Santi, kalau kamu tanya sekali lagi mungkin saya batal.”
Santi langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa.
“Maaf, Pak.”
Doni tersenyum tipis melihat asistennya begitu antusias.
“Panggil tim kreatif. Kita rapat sekarang.”
Beberapa menit kemudian ruang rapat divisi pemasaran mulai ramai. Tim kreatif masuk sambil membawa laptop dan catatan konsep. Namun semuanya tampak bingung ketika Santi berdiri di depan layar presentasi dengan senyum lebar seperti orang baru menang undian.
“Ada kabar bagus,” ucapnya penuh semangat.
Salah satu staf langsung menatap heran.
“Anggaran ditambah?”
“Tidak.”
“Kalau begitu apa bagusnya?”
Santi menunjuk ke arah Doni yang duduk tenang di ujung meja.
“Model iklan kita sudah dapat.”
“Siapa?”
“Pak Doni.”
Ruangan langsung hening selama beberapa detik.
Lalu beberapa orang saling menatap sebelum akhirnya terdengar suara tawa tertahan.
“Bu Santi bercanda ya?”
“Saya serius,” jawab Santi.
Salah satu staf perempuan langsung menepuk meja pelan.
“Saya sebenarnya sudah kepikiran dari lama.”
Yang lain langsung mengangguk setuju.
“Jujur saja Pak Doni lebih cocok jadi model daripada direktur.”
“Pembawaannya juga mahal.”
“Kalau difoto pasti bagus.”
Doni memandang mereka datar.
“Kalian ini sedang rapat pemasaran atau fan club?”
Semua langsung tertawa.
Namun semakin lama suasana rapat justru makin bersemangat. Tim kreatif mulai mengeluarkan berbagai ide konsep iklan. Ada yang mengusulkan tema olahraga, ada yang ingin konsep elegan, bahkan ada yang bercanda ingin membuat Doni tampil seperti aktor drama romantis.
“Jangan berlebihan,” ujar Doni sambil memijat dahinya.
“Tapi wajah Bapak mendukung, Pak,” jawab salah satu staf polos.
“Fokus ke produknya.”
“Iya, Pak. Tapi kalau produknya kalah menarik dari modelnya bagaimana?”
Ruangan kembali dipenuhi tawa.
Doni hanya bisa menghela napas pasrah. Kadang memiliki bawahan terlalu nyaman memang berbahaya. Mereka jadi tidak takut menggoda atasan sendiri.
Akhirnya konsep dipilih. Iklan akan menampilkan Doni sebagai pria sibuk yang tetap segar dan energik setelah meminum minuman buah produksi perusahaan mereka.
Sederhana, murah, dan efektif.
Sore harinya Doni langsung menuju studio.
Begitu masuk ke area syuting, beberapa kru tampak berdiri menyambutnya dengan bingung. Mereka kira Doni datang untuk mengecek proses produksi sebagai direktur pemasaran.
Sutradara bahkan langsung menghampiri sambil tersenyum sopan.
“Selamat sore Pak Doni. Bapak mau lihat persiapan syuting?”
Belum sempat Doni menjawab, Bu Risma dari tim kreatif datang sambil membawa clipboard.
“Pak Doni bukan melihat syuting,” katanya santai. “Dia modelnya.”
Sutradara tertawa keras.
“Haha, bagus juga bercandanya.”
Namun Bu Risma tetap memasang wajah serius.
“Saya tidak bercanda.”
Sutradara perlahan berhenti tertawa.
“Sebentar… serius?”
“Iya.”
Sutradara menatap Doni dari ujung kepala sampai kaki.
Doni hanya mengangkat bahu santai.
“Saya juga baru tahu hidup saya akan berakhir seperti ini.”
Beberapa kru mulai tertawa kecil.
“Baiklah,” kata sutradara sambil tersenyum lebar. “Kalau begitu mari kita lihat kemampuan akting direktur pemasaran.”
Doni segera dibawa ke ruang ganti.
Tim wardrobe langsung memilihkan pakaian kasual yang membuatnya terlihat segar dan modern. Kemeja putih sederhana dipadukan dengan jaket tipis dan celana gelap membuat penampilannya terlihat sangat cocok untuk iklan produk minuman.
Salah satu penata rias bahkan sampai berdecak kagum.
“Pak Doni wajahnya bagus sekali untuk kamera.”
Doni tersenyum kecil.
“Kalimat itu terdengar lebih menakutkan daripada pujian.”
Santi yang ikut menemani hanya tertawa geli melihat atasannya mulai pasrah diperlakukan seperti artis.
Tak lama kemudian proses syuting dimulai.
Adegan pertama cukup sederhana. Doni berjalan keluar dari gedung kantor dengan ekspresi lelah setelah bekerja seharian. Lalu ia meminum minuman buah dan wajahnya berubah segar.
Sutradara memperhatikan monitor dengan serius.
“Action!”
Doni mulai berjalan sesuai arahan.
Gerakannya tenang dan natural. Bahkan ekspresinya terlihat sangat meyakinkan.
Setelah adegan selesai, kru langsung saling pandang.
“Bagus juga…”
“Natural banget.”
“Tidak kaku sama sekali.”
Sutradara sampai mengangguk puas.
“Pak Doni pernah ikut modeling?”
“Tidak pernah.”
“Kalau begitu bakat terpendam.”
Doni hanya tersenyum tipis.
“Terima kasih. Saya sendiri masih bingung kenapa hidup saya berubah jadi begini.”
Adegan demi adegan berjalan lancar.
Bahkan ketika harus mengucapkan dialog promosi, Doni mampu membawakannya dengan tenang dan karismatik.
“Kesegaran alami untuk menemani harimu.”
Suaranya terdengar dalam dan nyaman didengar.
Beberapa kru perempuan diam-diam saling berbisik sambil menahan senyum.
Santi yang melihat itu langsung berdehem keras.
“Fokus kerja.”
Mereka langsung pura-pura sibuk.
Namun Bu Risma justru tertawa kecil.
“Jujur saja, Pak Doni terlalu cocok.”
Doni mengangkat alis.
“Cocok jadi model?”
“Cocok bikin divisi lain iri.”
Syuting terus berjalan hingga malam.
Saat adegan terakhir selesai, seluruh kru spontan bertepuk tangan kecil.
Sutradara berjalan mendekati Doni sambil tersenyum puas.
“Saya serius, Pak. Kalau suatu hari bosan jadi direktur, dunia iklan masih membuka pintu.”
“Terima kasih,” jawab Doni. “Tapi saya rasa cukup sekali ini saja.”
“Kenapa?”
“Saya mulai curiga tim saya sengaja memanfaatkan wajah saya untuk menghemat anggaran.”
Semua langsung tertawa.
Setelah proses syuting selesai, editor langsung mulai menyusun video kasar untuk diperlihatkan kepada tim pemasaran.
Beberapa jam kemudian mereka berkumpul di ruang editing.
Video diputar.
Begitu layar menampilkan Doni berjalan dengan tatapan tajam dan senyum tipis sambil memegang minuman buah, ruangan langsung ramai.
“Wah…”
“Keren banget.”
“Ini iklan minuman atau drama romantis?”
Bahkan editor sampai tertawa sambil menunjuk layar.
“Jujur saja Bu Risma, penonton nanti mungkin lupa sama produknya.”
Bu Risma mengangguk setuju.
“Kayaknya orang malah lebih tertarik beli Pak Doni.”
Doni memandang mereka datar.
“Saya ada di sini, kalian tahu itu kan?”
Namun semua justru makin tertawa.
Santi lalu tiba-tiba mendapat ide iseng.
“Bagaimana kalau sekalian kita masukkan akun media sosial Pak Doni di akhir video?”
Doni langsung menoleh cepat.
“Tidak perlu.”
“Lumayan untuk promosi tambahan.”
“Tidak.”
“Kalau akun Bapak ramai, nanti bisa sekalian dipakai promosi produk perusahaan.”
Tim kreatif langsung mendukung ide itu.
“Benar juga.”
“Sekarang promosi digital penting.”
“Direktur pemasaran yang populer pasti menguntungkan.”
Doni memijat dahinya lagi.
Kadang ia merasa timnya terlalu kreatif untuk keselamatan mental dirinya sendiri.
Namun akhirnya setelah dibujuk cukup lama, Doni menyerah.
“Baiklah,” katanya pasrah. “Tapi jangan berlebihan.”
Santi langsung tersenyum puas.
Editor pun menambahkan akun media sosial Doni di bagian akhir video dengan gaya sederhana namun menarik.
Ketika hasil akhir selesai diputar, semua tampak puas melihatnya.
Iklan itu terlihat modern, segar, dan surprisingly mahal untuk ukuran anggaran minim.
Sutradara bahkan sampai tertawa sambil menepuk pundak Doni.
“Pak, lain kali kalau budget kecil lagi, saya tahu harus panggil siapa.”
Doni menghela napas panjang sambil melihat layar besar di depannya.
“Luar biasa,” gumamnya. “Awalnya saya cuma ingin menyelamatkan anggaran pemasaran. Sekarang saya malah dijadikan aset visual perusahaan.”
Santi tersenyum lebar.
“Setidaknya hasilnya bagus, Pak.”
Doni menatap video dirinya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
Mungkin memang benar.
Kadang solusi paling efektif muncul dari ide paling aneh. Manusia memang makhluk unik. Bisa-bisanya divisi pemasaran menyelesaikan masalah keuangan dengan menjual ketampanan direktur sendiri secara legal dan profesional.