NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel di Arena Gelap

Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela kamar yang sangat luas. Cahaya keemasan itu menyentuh wajah damai Ziva, membangunkannya dari tidur panjangnya.

Perlahan, Ziva membuka matanya. Ia duduk di tepi ranjang yang empuk, lalu berjalan menghampiri jendela kaca besar yang menghadap ke taman belakang. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang segar dan bersih. Berbeda dengan udara di markas organisasinya yang selalu berbau logam, mesiu, dan ketegangan, udara di sini terasa begitu menenangkan.

"Hmm... tenang juga ya hidup jadi 'orang biasa'," gumam Ziva pelan dengan senyum tipis. Ia mencoba menikmati momen damai ini selagi bisa.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.

Brak!

Pintu kamar terbuka lebar tanpa permisi sama sekali. Seorang pria dengan rambut agak berantakan dan wajah masih mengantuk masuk dengan langkah santai, bahkan terlalu santai. Itu adalah Zio, saudara kembarnya.

Tanpa berkata apa-apa, Zio langsung mendaratkan tubuhnya ke atas kasur empuk milik Ziva. Ia memeluk bantal dan berguling-guling dengan bebasnya seolah itu adalah kamarnya sendiri.

"Woy, Ziva! Kasurmu empuk banget sih! Bisa pinjam nggak buat tidur siang?" seru Zio dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, tapi matanya berbinar ceria.

Ziva hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kakak kembarnya ini. Sifat mereka benar-benar seperti langit dan bumi. Ziva dikenal dingin, tenang, misterius, dan berwibawa. Sedangkan Zio? Sangat ceria, humoris, dan sedikit kekanak-kanakan. Tapi entah kenapa, kehadiran Zio membuat Ziva merasa lebih ringan.

"Ada apa pagi-pagi sudah berisik?" tanya Ziva sambil melipat tangannya di dada.

Zio langsung melompat bangun dari tempat tidur, matanya berbinar penuh semangat. "Ayo ikut aku! Aku mau ajak kamu main ke tempat rahasia aku. Pasti seru deh!"

"Main apa?"

"Nanti juga tahu! Ayo cepat ganti baju, pakai yang santai tapi nyaman buat gerak!" ajak Zio tidak sabar.

 

Beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar dari rumah mewah itu menuju garasi. Zio memilih sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap miliknya.

"Naik ini, biar kencang!" kata Zio sambil melempar kunci ke udara dan menangkapnya kembali.

Perjalanan terasa singkat karena Zio mengemudikan mobilnya dengan lincah. Akhirnya, mereka sampai di sebuah gedung besar yang ternyata adalah pusat kebugaran dan arena tinju pribadi milik keluarga Sterling. Tempat itu modern, bersih, dan penuh dengan peralatan canggih.

Saat Ziva dan Zio berjalan berdampingan memasuki area tersebut, seketika semua perhatian orang-orang di sana tertuju pada mereka.

Wajah Zio yang tampan dan karismatik, dipadukan dengan kecantikan Ziva yang elegan namun memiliki tatapan tajam, membuat mereka terlihat sangat sempurna. Banyak yang berbisik-bisik, mengira mereka adalah pasangan kekasih yang sangat serasi.

"Wah, lihat tuh... cocok banget ya."

"Ganteng dan cantik, auranya kuat banget."

Zio mendengarnya dan hanya tersenyum lebar sambil mengedipkan mata ke arah orang-orang yang melihat, sementara Ziva tetap berjalan tenang seolah tidak peduli, meski pipinya sedikit merona. Mereka duduk di area pinggir ring, bersantai menikmati suasana.

Namun, seperti pepatah mengatakan, ketenangan selalu diikuti badai.

Suasana riang itu tiba-tiba mencekam ketika sekelompok pria bertubuh kekar dan bertato masuk dengan langkah membabi buta. Mereka adalah preman lokal yang sering membuat onar di area itu, dan sepertinya mereka mengenali Zio sebagai anak orang kaya.

"Heh, bocah kaya! Lo si Zio kan?" teriak salah satu pria tinggi besar dengan wajah garang. "Kita denger lo jago tinju? Yuk lawan gue! Kalau lo nggak berani, berarti lo cuma pengecut yang cuma bisa numpang harta orang tua!"

Zio menghela napas panjang, wajahnya yang ceria kini berubah datar. "Saya lagi nggak mau ribut. Silakan kalian pergi sebelum saya marah," jawab Zio santai namun tegas. Ia tidak ingin meladeni orang-orang yang jelas-jelas mencari masalah.

Tapi kelompok itu tidak mau tahu. Mereka malah semakin berani.

"Cih, sok berani lo! Atau jangan-jangan lo takut sama si cantik di sebelah lo itu? Nanti dia nangis liat lo babak belur?" ejek pria itu sambil tertawa jahat, lalu ia menunjuk wajah Ziva, "Atau... serahin cewek itu sama kita, biar kita gak macem-macem!"

Mendengar ancaman dan ucapan kotor itu, Zio yang biasanya baik hati kini matanya memancarkan amarah. Tapi sebelum ia sempat bertindak, anak buah pribadi yang selama ini menjaga Zio langsung maju untuk melindungi.

"Jangan macam-macam!" teriak pengawal.

Namun, jumlah musuh terlalu banyak, sepuluh berbanding satu. Mereka mengeroyok anak buah Zio dengan brutal.

"Bang Zio, mereka terlalu banyak! Kami kewalahan!" teriak salah satu pengawal sambil menahan pukulan.

Zio melihat anak buahnya babak belur. Dengan kesal, ia melepas jaketnya dan melemparnya ke samping. "Dasar sampah masyarakat! Kalian memaksaku!"

Zio melompat masuk ke dalam area pertarungan. Awalnya ia cukup tangkas, melayangkan pukulan dan tendangan yang cukup keras. Tapi lawan mainnya kali ini adalah petarung jalanan yang kejam dan tidak punya aturan. Mereka bermain curang, menggunakan pisau lipat dan serangan kotor.

Perlahan tapi pasti, posisi Zio mulai terdesak.

Bugh! Bugh!

Pukulan keras menghantam wajah dan perut Zio. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Badannya memar, dan ia mulai terhuyung-huyung.

"Zio!" teriak Ziva dari pinggir ring.

Jantung Ziva berdegup kencang. Ia bingung. Ini adalah pertama kalinya ia melihat saudara kandungnya sendiri disakiti. Di dunia nya, jika ada yang berani menyakiti orang dekatnya, ia tidak akan ragu memerintahkan untuk memusnahkan musuhnya sampai ke akar-akarnya.

Tapi... di sini dia adalah Ziva, putri manja keluarga Sterling. Dia tidak boleh bertarung. Dia tidak boleh menunjukkan kekuatan aslinya. Jika dia bertindak sekarang, rahasianya bisa terbongkar.

"Tahan... Zio pasti bisa," bisik Ziva pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan diri, tapi tangannya terkepal kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan.

Di dalam ring, Zio sudah terlempar ke lantai. Musuh utamanya menginjak dada Zio dengan kuat, siap memberikan pukulan mematikan yang bisa melukai kepalanya parah.

"Sudah selesai perma—"

Belum selesai kalimat itu terucap, suasana seketika berubah.

Suhu udara di sekitar mereka seketika turun drastis. Semua orang merasakan aura mengerikan yang begitu pekat, menekan dada hingga sulit bernapas.

Semua mata tertuju pada satu titik.

Ziva.

Gadis yang tadi terlihat tenang dan elegan, kini berdiri tegak. Matanya yang biasanya berwarna cokelat lembut, kini berubah menjadi sedingin es. Tatapan itu bukan tatapan seorang gadis biasa, melainkan tatapan seorang pembunuh yang haus darah.

Rasa bingung di hati Ziva lenyap seketika, digantikan oleh kemarahan yang meledak-ledak.

Bagaimana mereka berani menyakiti saudaranya?

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!