Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Begitu pintu lift pribadinya terbuka, Bagas disambut oleh pemandangan yang tidak asing. Di sofa kulit ruang tamunya yang luas, sudah ada adiknya, Revan, sedang duduk santai dengan laptop di pangkuan dan secangkir kopi di meja.
“Dari mana, Kak? Tumben pulang cepat"
" ngapain kamu di sini?” suara Bagas terdengar berat.
“Nunggu lo, lah. Mama nyuruh gue ke sini. Katanya, sejak mama pulang dari rumah sakit lo nggak pulang ke rumah, nggak nelpon juga. Mama khawatir banget.”
Bagas menghela napas pelan, berjalan ke meja bar dan menuangkan air mineral ke dalam gelas." aku sibuk kerja.”
“Kerja?” Revan menyipitkan matanya curiga. “Atau lo lagi sibuk urusan lain?”
Bagas menatapnya tajam, tapi tidak menjawab.
Revan menatapnya lama, lalu mengembuskan napas, menyerah. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi meja bar. “Mama sakit, Gas. Udah dua hari ini drop. Katanya tekanan darahnya naik karena kepikiran lo terus.”
Bagas berhenti memutar gelas di tangannya. Matanya melembut sedikit, tapi wajahnya tetap datar. “Mama sakit lagi?” tanyanya pelan.
Revan mengangguk. “Iya. Tapi lo tahu Mama, kan? Selalu nyembunyiin rasa sakitnya. Tapi kali ini beda. Dia terus nanyain lo, bilang pengen ketemu langsung.”
Bagas terdiam mengingat perkataan mamanya tempo lalu yang menyuruhnya untuk menikah.
Bagas menaruh gelasnya di meja bar dengan sedikit hentakan.
“Oke,” kata Bagas, nadanya final. Ia meraih kunci mobilnya lagi. “Aku akan pulang sekarang.”
Revan terkejut. “Sekarang? Ini sudah mau malam, Kak. Kenapa nggak besok pagi saja?”
“Tidak,” jawab Bagas tegas. “Aku tidak mau Mama semakin cemas. Katanya dia drop, kan? Aku harus lihat keadaannya langsung.”
Revan tersenyum tipis, lega melihat kakaknya yang keras kepala akhirnya menunjukkan perhatian. “Ya sudah. Ayo, gue ikut. Biar gue yang nyetir, lo pasti capek.”
“Tidak perlu,” tolak Bagas. “Aku mau sendiri. Kau bisa tinggal di sini. Besok baru kita ketemu lagi.”
Revan tahu Bagas butuh waktu sendiri untuk menghadapi orang tua mereka, terutama ibunya. “Baiklah. Hati-hati di jalan, Kak. Dan jangan bikin Mama makin naik darah, ya.”
Bagas hanya mengangguk singkat, mengambil kunci, dan segera melangkah menuju lift pribadinya tanpa menoleh lagi.
Malam itu, sekitar pukul delapan, mobil Bagas memasuki gerbang rumah besar keluarganya. Rumah yang megah itu terasa sunyi. Begitu masuk, Bagas disambut oleh Bi Surti, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk keluarganya.
“Aden Bagas! Ya ampun, akhirnya pulang juga, Den!” seru Bi Surti, matanya terlihat lega.
“Mama di mana, Bi?” tanya Bagas langsung, nadanya cepat.
“Di kamar, Den. Setelah minum obat sore tadi, katanya pusing lagi. Den Revan sudah telepon kalau Aden mau pulang?”
“Sudah, Bi. Biar saya yang ke sana.”
Bagas berjalan cepat menuju kamar utama. Ia mengetuk pelan pintu kayu yang besar itu.
"Ma, ini Bagas,” panggilnya.
Suara lemah terdengar dari dalam. “Masuk, Nak.”
Bagas membuka pintu dan masuk. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur. Ia melihat ibunya, Nyonya Widya, terbaring di tempat tidur, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Bagas!” sapa Nyonya Widya, matanya langsung berbinar lega. Ia mengulurkan tangan yang segera digenggam Bagas.
“Mama,” Bagas berjalan mendekat, mengambil kursi dan duduk di sisi ranjang.
“Maaf, Ma. Aku sibuk sekali. Aku dengar dari Revan Mama sakit lagi. Kenapa tidak bilang dari kemarin?” katanya, suaranya berat tapi mengandung penyesalan yang nyata.
“Mama nggak mau kamu khawatir. Lagipula cuma kecapekan sedikit. Sekarang Mama sudah jauh lebih baik, kok.”
Bagas menghela napas, tapi tetap duduk di kursi di sebelah ibunya. Ia memandang wajah wanita itu lama-lama, seolah baru menyadari betapa banyak yang ia lewatkan.
“Ma…” panggilnya pelan. “Jangan terlalu banyak kerja juga. Aku bisa urus semuanya. Kalau Mama butuh sesuatu—”
Bu Widya langsung menggeleng lembut. “Mama cuma butuh kamu sesekali pulang, Nak. Revan juga sekarang sudah mulai sibuk. Mama cuma punya kalian berdua. Rumah ini terlalu sepi kalau kalian terus sibuk.”
Bagas terdiam. Kata-kata itu seperti menamparnya lembut tapi dalam.
Lalu, tanpa menatap Bagas secara langsung, Bu Ratna berkata dengan nada yang hati-hati, “Bagas, Mama mau nanya sesuatu. Tentang… permintaan Mama waktu itu.”
Bagas menegakkan tubuhnya, menatap ibunya dengan mata tajam tapi juga penuh kebingungan. “Permintaan yang mana, Ma?”
Bu Ratna menarik napas pelan, senyum kecil muncul tapi tak sampai ke matanya. “Yang soal pernikahan itu, Nak. Mama cuma ingin tahu… apa kamu sudah pikirkan lagi?”
“Ma…” suara Bagas rendah. “Aku belum siap.”
“Belum siap? Sampai kapan, Gas?” suara Bu Ratna sedikit gemetar, tapi lembut. “Kamu sudah tiga puluh dua tahun. Mama tahu kamu kerja keras untuk perusahaan, untuk warisan Papa… tapi kerja bukan segalanya. Mama cuma ingin kamu punya seseorang yang bisa jagain kamu kalau Mama nggak ada nanti.”
Bagas menatap lantai, tidak berani menatap wajah ibunya. Kata-kata itu terlalu menusuk. Ia ingin menjawab, ingin beralasan bahwa ia baik-baik saja, tapi bayangan wajah Kyra tiba-tiba melintas di pikirannya—dan juga wajah kecil Aldian, dengan tawa yang polos dan hangat.
Bu Ratna memperhatikan perubahan ekspresinya, lalu tersenyum samar. “Mama tahu, kamu pasti punya seseorang di hati kamu, ya?”
Bagas mendongak, sedikit kaget. “Nggak, Ma. Aku—”
“Tapi mata kamu bilang lain,” potong ibunya lembut. “Setiap kali Mama lihat kamu, ada sesuatu yang berubah. Mungkin kamu belum sadar, tapi Mama tahu kamu mulai buka hati.”
Bagas menarik napas panjang. Ia ingin menyangkal, tapi sulit. Terlalu banyak tanda yang membenarkan ucapan ibunya.
“Aku… nggak tahu, Ma,” katanya akhirnya, pelan. “Aku cuma belum yakin.”
“Kalau kamu belum yakin, jangan buru-buru. Tapi kalau suatu hari nanti kamu yakin… Mama cuma mau kamu jangan sia-siakan orang itu.”
Bagas diam. Pandangannya menerawang.
Bu Ratna tersenyum lembut lagi. “Kamu tahu, Gas? Kadang Tuhan punya cara aneh buat ngasih kebahagiaan. Bisa dari hal kecil, atau dari orang yang nggak pernah kamu sangka.”
Bagas menatap ibunya lama. Ucapan itu terasa seperti pesan tersembunyi.
“Ma…” suaranya pelan, “kalau orang itu punya masa lalu yang belum selesai… apa aku tetap harus mendekatinya?”
Bu Ratna menatap mata putranya dengan bijak. “Kalau kamu yakin sama perasaan kamu, masa lalu bukan alasan untuk pergi, Nak. Justru mungkin kamu dikasih kesempatan buat jadi bagian dari penyembuhannya.”
Bagas tak bisa berkata-kata.