Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Langkah Arga terhenti tepat di belokan koridor menuju ruang kesehatan SMA Nusa Bangsa. Tania, yang sejak tadi memegangi lengannya dengan raut cemas, ikut mematung saat sosok Nala berdiri menghadang jalan mereka. Wajah Nala tampak pias, namun tatapannya memancarkan ketegasan yang jarang ia tunjukkan.
"Lepaskan dia, Tania. Ini salahku, jadi biar aku yang mengurusnya," ujar Nala dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Tania tampak ragu. Ia menoleh ke arah Arga, mencari kepastian di mata cowok itu. Namun, Arga hanya diam dengan wajah datar, meski denyut di pergelangan tangan kanannya terasa semakin menyiksa. Sensasi panas dan nyeri mulai menjalar hingga ke siku akibat hantaman bola basket tadi.
"Aku tidak apa-apa. Tania bisa mengantarku," kata Arga dingin, berusaha mempertahankan benteng pertahanan yang sudah ia bangun selama berminggu-minggu.
Nala tidak bergeming. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia tidak memedulikan tatapan dingin Arga. Nala justru meraih pergelangan tangan kiri Arga yang tidak terluka, seolah memastikan cowok itu tidak akan lari ke mana-mana.
"Tania, tolong kembali ke lapangan saja. Guru olahraga pasti mencarimu untuk pendataan nilai. Aku yang akan bertanggung jawab pada Arga," ucap Nala lagi.
Tania akhirnya menghela napas panjang. Ia melepaskan pegangannya pada seragam Arga dengan gerakan pelan yang menyiratkan kekecewaan. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Arga dalam keheningan yang menyesakkan bersama Nala.
"Ikut aku, Arga," perintah Nala tanpa menunggu jawaban.
Nala menuntun Arga masuk ke dalam ruang kesehatan yang beraroma karbol dan antiseptik. Ruangan itu sepi karena sebagian besar siswa masih berada di lapangan atau kantin. Nala menarik sebuah kursi kayu dan memberi isyarat agar Arga duduk di sana, sementara ia sibuk mencari kotak pertolongan pertama di dalam lemari kaca.
Arga memperhatikan gerak-gerik Nala dari belakang. Rambut kuncir kuda gadis itu bergerak seirama dengan langkahnya. Ingatan Arga mendadak melompat ke delapan tahun yang lalu, saat Nala kecil juga pernah melakukan hal yang sama ketika lutut Arga berdarah karena jatuh dari sepeda. Saat itu, Nala menangis lebih kencang daripada Arga yang terluka. Namun sekarang, Nala tampak begitu tenang dan mandiri.
"Letakkan tanganmu di atas meja," ucap Nala sambil membawa nampan berisi alkohol, kapas, dan perban elastis.
Arga menurut meski hatinya bergejolak. Ia meletakkan lengannya yang membengkak di atas meja putih itu. Nala duduk di hadapannya, sangat dekat hingga Arga bisa mencium aroma tipis sabun mandi yang menempel pada seragam gadis itu.
"Kenapa kamu harus melakukan itu?" tanya Nala tanpa mendongak. Tangannya mulai membasahi kapas dengan alkohol.
"Melakukan apa?" tanya Arga balik, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Menghadang bola itu. Kamu tahu itu akan menyakitimu, kan?" Nala menatap mata Arga sejenak, lalu mulai mengusapkan kapas ke sekitar area yang memar.
Arga meringis kecil saat dinginnya alkohol menyentuh kulitnya yang meradang. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, menatap pepohonan yang bergoyang ditiup angin. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa tubuhnya bergerak secara insting karena ia tidak sanggup melihat Nala terluka, bahkan untuk sekadar terkena bola.
"Aku hanya sedang sial saja," jawab Arga pendek.
Nala menghentikan gerakannya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali fokus pada pergelangan tangan Arga. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dengan gerakan yang sangat lembut. Ujung jari Nala yang dingin menyentuh kulit Arga, menciptakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Arga. Tembok es yang Arga bangun selama ini terasa mulai retak di bawah sentuhan lembut itu.
"Maafkan aku," gumam Nala pelan.
Arga menoleh kembali. Ia melihat Nala yang menunduk dalam, fokus melilitkan perban elastis dengan teliti. Ada gurat penyesalan yang nyata di wajah cantik itu. Arga merasakan tenggorokannya tercekat. Segala amarah dan rasa sakit hati karena dilupakan seolah menguap begitu saja setiap kali ia berada sedekat ini dengan Nala.
"Ini bukan salahmu, Nala. Tidak perlu minta maaf," ujar Arga dengan nada yang sedikit melunak.
Nala mendongak, matanya bertemu dengan mata Arga. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Nala menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikan, sebuah tatapan yang mencari sesuatu yang hilang di balik wajah pendiam itu.
"Kenapa rasanya aku sudah pernah melihatmu melakukan ini sebelumnya?" tanya Nala dengan suara nyaris berbisik.
Jantung Arga berdegup kencang. Ia ingin berteriak bahwa mereka memang pernah melalui momen seperti ini ribuan kali di masa kecil mereka. Ia ingin mengingatkan Nala tentang janji di bawah pohon jati tua delapan tahun lalu. Namun, Arga hanya bisa mengepalkan tangan kirinya di bawah meja.
"Mungkin hanya perasaanmu saja. Semua orang akan melakukan hal yang sama kalau ada bola terbang ke arah temannya," sahut Arga, kembali bersembunyi di balik topeng ketidakpedulian.
Nala tidak menjawab. Ia menyelesaikan lilitan perbannya dan merekatkannya dengan pengait besi kecil. Setelah selesai, ia tidak langsung menjauh. Tangannya masih memegang tangan Arga, seolah enggan melepaskan koneksi fisik yang baru saja terjalin.
"Sudah selesai. Jangan banyak digerakkan dulu sampai besok," pesan Nala.
Arga menarik tangannya perlahan, merasa kehilangan kehangatan yang tadi menyelimuti kulitnya. Ia berdiri, bersiap untuk pergi sebelum pertahanannya benar-benar hancur total.
"Terima kasih," katanya singkat.
"Tunggu sebentar, Arga," seru Nala sebelum Arga sempat melangkah ke pintu.
Arga berhenti tanpa berbalik. Ia merasa sangat rapuh saat ini. Satu kata lagi dari Nala mungkin akan membuatnya menceritakan segala kebenaran yang ia simpan rapat-rapat.
"Mulai sekarang, jangan menghindar lagi. Kita ini teman sekelas, kan?" tanya Nala dari belakang.
Arga memejamkan mata sejenak. Kata teman yang diucapkan Nala terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Bagi Nala, ia hanyalah teman baru di masa sekarang. Sementara bagi Arga, Nala adalah seluruh masa lalunya yang belum selesai.
"Iya, kita teman sekelas," jawab Arga tanpa menoleh sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Nala yang masih duduk terpaku di ruang kesehatan yang kini kembali terasa dingin.