Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Suasana rumah utama terasa mencekam, seolah udara pun enggan berhembus. Aku, Kinanti, berdiri di depan pintu besar kamarku. Setelah itu, Arkan dan Alana duduk di ruang tamu yang kini terasa seperti medan perang.
Tanganku yang tadi memegang erat gagang pintu mulai gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan kekosongan yang nyeri di dada.
Aku merosot jatuh ke lantai, menyandarkan punggung pada pintu kayu yang kokoh itu. Di luar sana, di ruang tamu yang dulu menjadi saksi kebahagiaan kami, aku bisa mendengar samar-samar suara Alana yang melengking, disusul suara Arkan yang meredam.
Mereka sedang berdiskusi tentang bagaimana cara menghadapi Aku.
Aku memejamkan mata, membiarkan ingatan masa lalu membanjiri kepalaku. Tujuh tahun lalu, saat aku dan Alana masih sekolah.
Dulu, aku menganggap Dia adalah malaikat. Dia selalu memberikan pakaian bekasnya yang masih bagus, buku-buku sekolahnya, bahkan sering mengajakku makan malam bersama di meja panjang keluarganya yang megah.
"Apa yang punya gue, itu punya lu juga, Kin," ucapnya dulu dengan senyum tulus.
Betapa naifnya aku. Aku tidak pernah menyadari bahwa berbagi bagi Alana bukanlah tentang persaudaraan, melainkan tentang kepemilikan.
Dia memberikan barang-barangnya agar dia bisa merasa superior, agar dia bisa selalu menuntut loyalitas tanpa batas dariku. Dan aku, dengan bodohnya, menelan semua kebaikan itu sebagai hutang budi yang harus kubayar seumur hidup.
Kini, hutang itu telah dilunasi dengan cara yang paling brutal, dia merampas suamiku, rumahku, dan martabatku sebagai seorang istri.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Kinanti, buka pintunya. Kita harus bicara," suara Arkan terdengar parau dari balik pintu.
Aku tidak bergeming. Aku bangkit berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Di sana, aku melihat sosok wanita yang berbeda. Wajah yang dulu selalu terlihat lembut, kini tampak lebih tegas dengan sorot mata yang dingin.
"Bicara apa lagi, Arkan? Bukankah semuanya sudah jelas?" jawabku, suaraku cukup keras agar dia mendengar.
"Alana sedang hamil, Kin! Kamu tidak bisa membiarkannya tinggal di paviliun itu!" teriak Arkan, frustrasi.
Aku tertawa tanpa suara. Bukankah itu tempat yang menurut Alana cukup layak untuk kami dulu?
"Kalau dia tidak suka, dia bisa pergi. Oh, atau kamu mau menemaninya di sana? Silakan. Kamar utama ini akan tetap menjadi milikku," balasku.
Tidak ada jawaban setelah itu. Arkan pergi, mungkin menuju ke paviliun untuk menenangkan Alana yang pasti sedang mengamuk.
Aku berjalan ke arah jendela, menatap paviliun yang terlihat samar di balik kegelapan malam. Di sana, lampu paviliun menyala redup.
Aku bisa membayangkan Alana yang sedang sibuk mengemasi barang-barangnya dengan marah, memaki-maki keberuntungannya, dan merencanakan cara untuk merebut kembali kendali.
Dia tidak akan berhenti. Aku tahu persis sifat Alana. Semakin sulit sesuatu didapatkan, semakin dia terobsesi untuk memilikinya.
Malam itu, aku menghabiskan waktu dengan merancang rencana. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang.
Aku akan membuat Alana merasa seperti orang asing di rumah ini, dan aku akan membuat Arkan menyadari bahwa pria yang dia anggap paling beruntung karena memiliki dua istri, justru telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih canggung dari sebelumnya. Alana sudah tidak ada di paviliun, dia sudah ada kembali di rumahku.
Aku sengaja memerintahkan Pak Diman untuk mematikan layanan laundry khusus yang selama ini mereka nikmati, dan menghentikan pesanan makanan dari katering mahal yang biasa Alana nikmati setiap hari.
"Kinanti! Kenapa sarapan pagi ini cuma ada bubur kacang hijau?" teriak Alana dari lantai bawah, suaranya melengking.
Aku menuruni tangga dengan tenang, mengenakan setelan kantor yang rapi dan elegan.
"Oh, itu menu yang disarankan dokter untuk ibu hamil, Alana. Nutrisinya cukup bagus. Dan karena anggaran rumah tangga sudah aku pangkas, mulai sekarang kita akan makan masakan rumah sendiri. Tidak ada lagi pesanan katering mewah."
Alana melotot. Wajahnya yang pucat karena marah terlihat sangat kontras dengan riasan wajah yang mulai luntur. "Kamu balas dendam, ya?!"
"Aku? Tidak," kataku sambil menyeduh kopi. "Aku hanya sedang mengelola keuangan keluarga agar tetap sehat. Bukankah istri yang baik harus mengurus keuangan suaminya?"
Arkan yang sedang duduk di meja makan tampak serba salah. Dia menatap bubur di depannya dengan ragu, lalu menatapku. "Kin, tidak perlu sampai begini."
"Ini perlu, Arkan. Kamu harus belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Kamu memilih untuk berbagi hidup dengan dua orang, maka bersiaplah untuk berbagi fasilitas yang terbatas. Kamu dulu arsitek hebat yang bisa mengatur anggaran proyek besar, aku yakin kamu bisa beradaptasi dengan anggaran rumah tangga yang sekarang."
Aku tersenyum manis padanya, lalu berjalan melewati mereka menuju pintu keluar.
"Selamat bekerja, Sayang. Oh, dan Alana... kalau kamu merasa kurang nyaman, kamu tahu di mana pintu keluarnya. Aku tidak akan menahanmu."
~~
Di kantor, aku bekerja dengan fokus yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Jika Alana ingin bermain kotor dengan masa depan anak yang dia kandung, maka aku akan bermain dengan kenyataan. Aku yakin, anak konglomerat manja seperti dia pasti memiliki banyak celah dalam pengelolaan hartanya sendiri.
Siang harinya, Rendi, teman dekatku meneleponku.
"*Kinanti, apa benar rumor yang beredar? Ada yang bilang Alana sekarang tinggal di rumahmu sebagai istri kedua* ?" tanya Rendi dengan nada ragu.
"Rumor itu benar, Ren," jawabku tenang.
"*Gila... aku tidak menyangka Arkan seberani itu. Dan aku lebih tidak menyangka kamu mau menerimanya*."
"Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang orang lain, Ren. Tapi, aku ingin memintamu satu hal. Sebagai kolega bisnis, bisakah kamu membantuku melihat data proyek yang dikelola Arkan akhir-akhir ini? Ada sesuatu yang ingin kupastikan."
Rendi terdiam sejenak. "*Untuk apa* ?"
"Hanya ingin memastikan bahwa uang perusahaan tidak digunakan untuk membiayai kebutuhan pribadi yang tidak perlu," jawabku ambigu.
"*Oke, Kin. Aku mengerti. Aku akan mengirimkan datanya lewat email pribadi*."
Aku menutup telepon dengan senyum puas. Perang ini tidak akan dimenangkan dengan teriakan atau lemparan vas bunga, tapi dengan ketenangan.
Aku sudah meletakkan kartu as-ku di atas meja, dan sekarang, aku hanya perlu menunggu mereka melakukan kesalahan satu persatu.
...----------------...
**To Be Continue** ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.