NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Karena mereka berlagak begitu, untuk apa dirinya memaksakan.

Namun, dalam situasi tertentu, dia tetap menyapa dengan sopan.

Yah, meski sering diabaikan dan dibenci.

Kali ini, Clara tak lagi ada niatan untuk berkata apa-apa lagi.

Dia memilih diam dan berjalan melewati pria itu.

Hanya saja, suara Dani kemudian menghentikannya. "Wah, wah, ternyata kamu juga suka dengan dunia balap mobil?" ucap Dani dengan nada dingin.

Clara dengan cepat menangkap makna di balik kata-kata itu. Pria itu mencurigai dirinya diam-diam mengikuti Edward kemari.

"Apa yang mau kamu katakan?" ujar Clara dengan nada dingin sembari menoleh ke belakang.

Dani tentu saja tak terpengaruh meski Clara mengetahui maksud dari ucapannya barusan. "Yah, aku cuma merasa, orang sepertimu bukan tipe yang suka dengan dunia balap seperti ini. Makanya aku merasa aneh," ucap Dani.

"Orang sepertiku?" Clara menatap tajam mata Dani, lalu lanjut berkata, " Pak Dani yang terhormat. Emang kita kenal dekat? Apa Anda benar-benar mengenalku? Kalau memang seperti itu, apa bisa Anda jelaskan seperti apa diriku sebenarnya?"

Di mata Dani, Clara tampak pendiam, lembut, bahkan sedikit pemalu. Namun menurutnya, itu hanyalah penampilan luar Clara saja, sebenarnya dia sangat licik. Jika tidak, Clara tidak mungkin akan melakukan hal kotor seperti itu untuk mendapatkan Edward.

Tapi setelah melakukan itu, Clara malah berpura-pura tidak bersalah dan tetap menolak mengakui jika semua itu adalah rencana liciknya.

Dani hanya menatap Clara tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Dia terlalu malas untuk menilai wanita itu.

Lebih tepatnya tidak sudi menilainya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari cara bicara Clara kali ini.

Seolah dia tak lagi ingin bersembunyi di balik topeng itu lagi.

Hanya saja, tidak tersirat seperti itu sepenuhnya.

Tatapan dingin Clara kepadanya sangat tajam dan gamblang, tapi juga menyiratkan sebuah ironi. Seakan-akan sedang mengejeknya, bagaimana dirinya merasa berhak menilai wanita itu tanpa benar-benar mengetahui kebenarannya.

Clara tidak peduli dengan apa yang Dani pikirkan tentangnya. Dia mengalihkan pandangannya dan memilih untuk pergi.

Sinta menyewa sebuah rumah untuk Dustin di sekitar sekolah.

Clara mengantarnya pulang ke sana. Malam itu, waktu sudah menunjukkan tepat pukul sebelas.

Dustin yang masih dalam masa pertumbuhan pun merasa lapar, meski sudah makan malam sebelumnya.

"Kak, di sana ada tempat makan yang enak. Aku traktir Kakak makan, ya." ucap Dustin.

Clara sendiri masih belum makan malam. Dia juga ingin makan yang hangat-hangat untuk mengisi perutnya, jadi dia lantas menyetujuinya.

Baru saja dia duduk, perutnya langsung keroncongan.

Dustin tertegun sejenak, lalu tersadar dan berkata, "Kakak... belum makan malam?"

"Ya."

Dustin pun merasa bersalah, lantas lanjut berkata, "Kak, maaf ya, ini salahku."

"Nggak apa-apa, Dustin. Tadi belum lapar juga kok," hibur Clara.

Dustin menatap Clara dalam diam.

Senyum lembut yang terpancar di wajah wanita itu membuatnya merasa tidak enak hati.

Dia benar-benar merasa kakak iparnya ini adalah orang yang baik.

Sayangnya, Edward tidak menyukainya. Haiss...

........

Jarum jam hampir menyentuh angka satu dini hari saat Edward tiba di rumah selepas merayakan kemenangan Vanessa bersama yang lainnya.

"Selarut ini baru pulang, Pak Edward?" ucap pelayan saat melihat kedatangan Edward yang tengah menggendong Elsa.

Edward hanya menjawabnya dengan bergumam.

Kemudian dia melangkah ke kamar putrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur.

Selesai mengurus putrinya, dia beranjak ke kamarnya. Sesampainya di kamar, dia nyalakan lampu dan menyadari tak ada Clara di sana. "

Malam ini dia nggak pulang? "tanyanya pada pelayan.

"Bu Clara? Tidak, Pak."

Edward terdiam, tampak keterkejutan melintas di wajahnya.

Belakangan ini, Clara jarang sekali pulang ke rumah Begitu sering menginap di luar, ini jarang terjadi sebelumnya.

Apa sesuatu terjadi pada Keluarga Hermosa?

Keesokan paginya.

Bermain bersama Vanessa beberapa hari ini membuat Elsa gembira.

Saat terbangun di pagi hari, kepuasan yang membalut senyum manis terpancar di wajahnya. Dalam suasana hati yang seperti itu, dia teringat akan ibunya. Dia berlari dengan gembira ke kamar tidur utama sambil menggendong boneka kesayangannya.

"Mama, mama!" panggilnya.

Pintu kamar tidur utama memang terbuka, tapi tak ada seorang pun di sana.

Senyuman di wajahnya memudar. Tepat pada saat ini, Edward keluar dari kamar baju setelah berganti pakaian.

"Ayah, mama di mana?" tanyanya buru-buru.

Edward tampak merapikan dasinya, lalu berkata dengan nada datar, "Dia nggak ada di rumah."

"Nggak di rumah? Kenapa?"

"Tanyakan saja langsung padanya."

"Baiklah."

Elsa mengambil ponselnya segera menghubungi Clara.

Sementara itu, Clara baru saja selesai jogging. Saat melihat nama putrinya di layar ponsel, dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat berbicara, suara Elsa terdengar di ujung telepon. "Mama! Mama di mana?" tanya Elsa.

Clara tak menjawabnya. "Ada apa Elsa? Kenapa cari Mama?" tanyanya balik.

Tidak ada yang tahu di mana dia tinggal sekarang, selain Raisa.

Saat ini, dia sangat menikmati kesendiriannya tanpa ingin diganggu.

Oleh sebab itu, sampai detik ini dia tidak berencana untuk memberi tahu Elsa tentang tempat tinggalnya sekarang.

Elsa mengaktifkan mode pengeras suara, lalu berbaring di ranjang besar tempat Edward dan Clara tidur.

"Aku kangen Mama, aku mau Mama yang antar aku ke sekolah hari ini," ucapnya sedikit manja.

"Jarak Mama cukup jauh dari rumah sekarang, Elsa. Mama nggak bisa antar kamu sekarang, lain kali saja, ya," jawab Clara.

"Ya sudah kalau gitu." Elsa sedikit kecewa mendengarnya. "Berarti besok pagi, Mama harus antar aku ke sekolah, oke?" pintanya dengan pasti.

Clara ragu sejenak, dia tak langsung menjawabnya.

Dia tidak ingin kembali ke rumah itu lagi.

"Mama?" Melihat ibunya tidak menjawab, dia pun merasa aneh.

Elsa sejak awal mengaktifkan mode pengeras suara. Percakapan mereka tentu juga terdengar oleh Edward.

Edward menangkap keraguan pada diri Clara.

Pria itu pun sedikit terkejut.

Bagaimanapun, meski Keluarga Hermosa mengalami banyak masalah, Clara tetap akan memprioritaskan putrinya. Kalau melihat wataknya, tentu Clara akan langsung mengiyakan keinginan putrinya itu tanpa pikir panjang.

"En... gimana kalau ayah saja yang antar?" ucap Clara memberi saran.

Elsa benar-benar rindu pada Clara.

Permintaannya tidak dikabulkan membuat Elsa kecewa. Matanya memerah dan sembab, lalu berkata, " Nggak mau. Aku mau Mama yang antar. Selain kemarin, Mama sudah lama nggak antar aku ke sekolah juga."

Saat melihat putrinya masih bersikeras memintanya, Clara lantas berkata, "Baiklah, Mama ngerti, besok Mama antar kamu ke sekolah."

Dia menyetujuinya bukan karena rasa sayang pada Elsa

Melainkan karena merasa bertanggung jawab karena sudah melahirkannya.

Raut wajah Elsa kembali memancarkan senyuman saat mendengar jawaban ibunya.

Edward memakai arloji di tangannya.

Elsa terlihat masih ingin berbicara lebih lama dengan ibunya. Pria itu pun mengingatkan, berkata, "Kalau masih nggak tutun sarapan, nanti kamu terlambat ke sekolah."

Elsa terkejut lalu berkata, "Aaaa... aku masih belum mandi. Mama, aku mandi dulu ya, udahan dulu ngobrolnya."

Elsa langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Clara.

Clara meletakkan ponselnya. Selesai sarapan, dia pun pergi ke Anggasta Group.

......

Pagi itu, rapat penting telah dijadwalkan.

Edward juga akan hadir dalam rapat itu.

Sesampainya di ruang rapat, Clara dan yang lainnya pun duduk menunggu kedatangan Edward. Sepuluh menit kemudian, barulah Edward muncul menampakkan batang hidungnya.

Hilda menarik napas panjang saat kemunculan Edward di ruangan. Kedua matanya berbinar, tak mampu mengalihkan pandangan dari sosok pria itu.

Tak lama kemudian, rapat pun dimulai, barulah Hilda tersadar dari lamunannya. Dia menarik lengan baju Clara, lalu berkata, "Pak Edward ganteng banget!"

menampakkan batang hidungnya.

Hilda menarik napas panjang saat kemunculan Edward di ruangan.

Kedua matanya berbinar, tak mampu mengalihkan pandangan dari sosok pria itu.

Tak lama kemudian, rapat pun dimulai, barulah Hilda tersadar dari lamunannya. Dia menarik lengan baju Clara, lalu berkata, "Pak Edward ganteng banget!"

Clara hanya melirik sekilas saat Edward masuk ke dalam ruangan.

Mendengar ucapan Hilda, Clara hanya bergumam tanpa menengadahkan kepalanya.

Hilda tentu sangat terkejut ketika melihat Clara tidak tertarik pada Edward. Namun, dia langsung teringat kalau Clara sudah menikah dan punya anak. Dia pun merasa wajar.

Selama rapat berlangsung, jantungnya berdebar kencang. Pandangannya terus melayang ke arah Edward. Dia sama sekali tidak memperhatikan isi rapat.

Sementara itu, Clara tetap fokus pada laptopnya, mengetikkan catatan-catatan penting yang dibahas dalam rapat.

Rapat akhirnya selesai. Edward keluar lebih dulu, barulah diikuti dengan yang lain.

Hilda masih merasakan jantungnya berdebar untuk beberapa saat. Dia baru tersadar setelah Farel mendekat dan mengambil salinan catatan rapat barusan.

Farel membolak-balik halaman catatan Clara lalu berkata, "Bagus, terima kasih atas kerja kerasnya."

"Ini memang tugasku," jawabnya.

Farel pun pergi. Hilda baru menyadari kalau dirinya sama sekali tidak menyimak isi rapat hari ini. Dia buru-buru meminta Clara mengirim salinan catatan rapat hari ini. Namun, baru sebentar membacanya, dia mulai merasa pusing, lalu berkata, "Bu Clara pernah belajar arsitektur sebelumnya?"

"Nggak," jawabnya singkat.

"Tapi kenapa Bu Clara bisa paham banyak istilah teknis dalam industri ini?" lanjut Hilda.

"Aku mempelajarinya sendiri dari buku, tapi hanya sebatas dasarnya saja."

Anggasta Group memiliki investasi di berbagai sektor. Demi melakukan pekerjaannya dengan baik, Clara telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari pengetahuan dari berbagai bidang.

"Hah? Kalau buku tentang medis, apa Bu Clara juga sudah membacanya?" Hilda kembali bertanya.

"Ya."

Hilda dibuat terdiam.

Dia baru mengenal Clara selama dua hari, tapi menyadari kalau Clara benar -benar kompeten. Pantas saja di usia yang terbilang masih muda, Clara sudah bisa menjadi kepala di divisi sekretariat.

"Apa Bu Clara bisa kirim daftar buku yang Ibu baca sebelumnya? Kalau ada waktu, aku juga mau belajar," timpal Hilda.

"Oke, nanti kukirimkan."

Siang harinya, Clara mengirimkan daftar buku pilihannya yang menurutnya akan berguna dan mudah dimengerti untuk Hilda.

Hilda melihat daftar panjang lima puluh buku yang Clara kirim, dia sangat tercengang.

Tepat pukul tiga sore, Edward menerima tamu penting. Farel meminta Clara untuk menyiapkan beberapa cangkir kopi yang nantinya akan diantarnya sendiri ke ruangan Edward.

Saat itulah Hilda mengetahui kalau kopi untuk Edward ternyata buatan tangan Clara.

Hanya saja ...

Saat kopi sudah siap, Farel melarang Clara mengantarkannya. Farel sendiri justru yang membawanya ke ruangan Edward. Dia mengira ini karena Edward mau menghindari bawahan yang pakai alasan ini untuk mendekatinya.

"Apa Bu Clara nggak pernah antarin kopi langsung ke Pak Edward?" tanyaHilda penasaran.

"Tentu pernah. Kalau Farel dan yang lainnya sibuk, aku sendiri yang mengantarkannya."

Hilda yang gemar minum kopi tak pernah tertarik belajar cara membuatnya.

Begitu mendengar ucapan Clara, tiba-tiba saja matanya berbinar, lalu berkata, "Apa Bu Clara bisa ajarin aku bagaimana cara membuat kopi yang pas untuk Pak Edward?"

Meskipun kesempatan itu kecil, dia tetap ingin mencobanya.

Clara menangkap maksud di balik permintaan Hilda dari sorot matanya.

"Boleh saja," jawab Clara tanpa ragu.

Clara sudah tidak peduli lagi pada Edward. Jadi, untuk apa mempertahankan keahlian membuat kopinya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!