Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN BATU ES DAN API
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit The Sky Lounge memantulkan cahaya keemasan yang mewah, namun bagi Kania, atmosfer restoran bintang lima ini terasa lebih mencekam daripada ruang sidang skripsi yang paling ditakuti di kampusnya. Ia berkali-kali membetulkan letak blus berbahan sutra berwarna nude yang dipaksakan Ibunya untuk ia pakai. Jika bukan karena ancaman kartu kreditnya akan "disita negara" alias oleh mamanya sendiri, Kania lebih memilih mendekam di kamar, mengenakan daster kesayangannya sambil makan seblak level sepuluh dan menonton maraton drakor.
"Ingat Kania, jaga sikap. Jangan memalukan Mama di depan keluarga dr. Devan," bisik suara Mamanya yang masih terngiang jelas di telinga, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang sejak mereka berangkat dari rumah.
Kania menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak keruan. Ia sudah menyiapkan rencana cadangan di kepalanya. Ia akan menjadi sosok yang paling menyebalkan, paling berisik, dan paling tidak tahu aturan agar dokter itu sendiri yang mundur dari perjodohan konyol ini. Siapa juga pria waras di usia tiga puluh tahun yang mau menikah dengan mahasiswi berantakan yang bahkan sering lupa menaruh kunci motor sendiri?
"Gue bakal bikin dia nyesel udah setuju dateng ke sini," gumam Kania pelan sambil mengaduk-aduk strawberry mojito -nya dengan kasar.
Tepat saat itu, pintu kaca besar di ujung restoran terbuka.
Seorang pria berjalan masuk dengan langkah yang sangat tegap, menciptakan aura dominasi yang seketika membuat riuh rendah suara di restoran itu seolah meredup. Ia mengenakan kemeja biru navy yang sangat pas di tubuhnya, dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang berkilau mahal di bawah lampu. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung yang sempurna, dan yang paling mencolok: sepasang mata tajam yang dingin seolah-olah ia bisa melakukan bedah saraf hanya dengan menatap orang.
Kania terpaku. Sedotan di mulutnya terlepas begitu saja, menciptakan bunyi plup kecil yang memalukan.
“Buset... ini dokter atau aktor Hollywood yang lagi nyasar?” batin Kania menjerit. Sosok di depannya benar-benar jauh dari bayangan "om-om buncit dan botak" yang sempat ia narasikan di kepalanya.
Pria itu berhenti tepat di depan meja Kania. Ia tidak tersenyum. Tidak ada binar ramah di matanya. Hanya ada kekakuan yang sangat sempurna, seolah ia adalah patung marmer yang mendadak hidup.
"Kania?" suaranya rendah dan berat, memberikan getaran yang aneh di ulu hati Kania.
"Eh—iya! Anu... Dokter Devan, ya?" Kania berdiri dengan tergesa-gesa, dan sesuai dengan reputasinya sebagai gadis paling ceroboh se-fakultas, lututnya membentur pinggiran meja kayu jati itu dengan keras. Brak! Gelas mojito-nya bergoyang hebat, cairannya sedikit memercik ke atas meja.
Devan memperhatikan gerakan ceroboh gadis di depannya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Tidak ada raut khawatir atau bahkan geli. Ia hanya menarik kursi di hadapan Kania dan duduk dengan gerakan yang sangat efisien, seolah setiap detik dalam hidupnya telah dihitung dengan kalkulator.
"Maaf saya terlambat lima menit. Ada pasien pasca-operasi yang butuh perhatian mendadak," ucap Devan dingin, tanpa basa-basi pembuka seperti "apa kabar" atau "senang bertemu kamu."
"O-oh, nggak apa-apa kok, Dok! Santai aja. Aku juga baru dateng... maksudnya, baru setengah jam yang lalu sih, tapi nggak masalah! Aku kan biasa nungguin dosen pembimbing yang suka menghilang ditelan bumi, jadi nunggu lima menit mah kecil!" Kania mulai merancau, penyakit cerewetnya kambuh setiap kali ia merasa gugup atau terintimidasi.
Devan menatap Kania lurus-lurus. Tatapannya begitu intens hingga Kania merasa sedang di-rontgen seluruh jiwanya. "Saya hanya pesan espresso. Satu. Tanpa gula," ucap Devan kepada pelayan yang datang, bahkan tanpa melirik buku menu yang disodorkan.
"Hah? Kopi doang? Ini kan jam makan malam, Dok, bukan jam ronda di pos kamling," celetuk Kania tanpa filter. "Nanti kalau Dokter pingsan karena kurang gizi gimana? Terus yang operasi pasien siapa? Masa suster?"
Satu alis Devan terangkat sedikit. Sangat tipis, tapi itu adalah reaksi emosional terbesar yang ia tunjukkan sejak masuk ke ruangan. "Saya sudah makan di rumah sakit. Kita langsung ke intinya saja, Kania."
Devan memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan jemarinya di atas meja. "Saya ke sini karena menghargai permintaan orang tua saya. Dan saya yakin, gadis berusia dua puluh tahun seperti kamu pasti punya banyak hal yang lebih menarik untuk dilakukan daripada duduk dengan pria yang sepuluh tahun lebih tua darimu. Benar?"
Kania tertegun. Kalimat itu terdengar seperti pengusiran halus yang dibungkus dengan logika medis. "Maksud Dokter, aku terlalu bocah buat Dokter?"
"Maksud saya, perbedaan kita bukan hanya angka," jawab Devan dengan nada datar yang menyebalkan. "Dunia kamu itu kampus, teman-teman, dan bersenang-senang. Dunia saya itu rumah sakit, nyawa, dan keheningan. Kita tidak akan nyambung dalam percakapan lebih dari sepuluh menit."
Harga diri Kania yang tadinya setinggi langit mendadak tersenggol. Padahal tadi ia berniat ingin membuat pria ini menjauh, tapi mendengar dirinya diremehkan secara intelektual dan mental seperti ini, jiwa pemberontaknya bangkit.
Kania menaruh kedua tangannya di meja, mencondongkan wajah ke arah Devan hingga mereka hanya berjarak beberapa senti. Bau parfum Devan campuran aroma sandalwood dan sedikit aroma antiseptik yang khas menyeruak masuk ke indra penciumannya.
"Dokter boleh pinter bedah saraf, tapi kayaknya Dokter nggak pinter baca orang," ujar Kania dengan senyum menantang. "Emang bener dunia kita beda. Tapi bukannya dalam hukum fisika, kutub yang beda itu malah saling tarik-menarik? Lagian, kalau dunia Dokter terlalu hening, bukannya Dokter butuh orang kayak aku biar dunianya nggak kayak kuburan?"
Untuk pertama kalinya, Devan terdiam. Mata birunya yang tajam menatap lekat ke dalam mata cokelat Kania yang penuh dengan kilat amarah sekaligus tekad.
"Tiga puluh menit sudah lewat," ucap Devan sambil berdiri tiba-tiba, mengabaikan pernyataan berani Kania. Ia meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar espresso yang bahkan belum ia habiskan. "Senang bertemu kamu, Kania. Semoga kamu menemukan pria yang... seumuran."
Devan berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kania yang masih terpaku di kursinya dengan mulut setengah terbuka.
Kania bersandar di kursi, matanya masih mengikuti punggung tegap Devan yang menjauh di antara kerumunan tamu restoran. Rasa kesal, kagum, dan tantangan bercampur menjadi satu di dadanya. Ia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, membuka aplikasi chat, dan mengetik pesan ke grup sahabatnya dengan kecepatan cahaya.
Kania: Guys, kabari nyokap gue. Gue terima perjodohannya.
Bianca: HAH?! Tadi katanya mau bikin dia ilfeel??
Kania: Gak jadi. Gue ditarik kata-kata gue. Gue pengen lihat dokter batu es itu berlutut minta nomor telepon gue suatu hari nanti. Perang dimulai!
Kania tersenyum licik. Ia tidak tahu bahwa menghadapi Devan bukan sekadar perang mulut, tapi awal dari sebuah operasi jantung yang akan mengubah seluruh hidupnya.