NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Satu Rahasia Berdenyut

Cakra langsung mendekat karena khawatir pada sang bos. Ia yakin pilihan bosnya menikahi Selena adalah kesalahan besar.

"Pak, nyonya sepertinya perlu pelajaran etika."

Cakra terdiam sesaat, menunggu reaksi bosnya. Ia sudah menyiapkan daftar instruksi etika dan protokol keluarga Hermawan yang harus dipelajari Selena. Namun, Biru justru mengangkat tangan, menghentikan kalimat Cakra sebelum asistennya itu sempat melanjutkan.

"Tidak perlu," potong Biru. Suaranya masih berat, namun ada nada kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. "Biarkan dia dengan segala 'kekacauannya'. Itu justru yang kita butuhkan agar kakek percaya bahwa aku benar-benar jatuh cinta secara impulsif pada seorang wanita yang tidak terduga."

"Tapi Pak, Nona Selena benar-benar liar. Dia bahkan tidak takut pada Anda," keluh Cakra pelan.

Biru tersenyum tipis kemudian melanjutkan langkahnya, tak ingin menjawab kekhawatiran Cakra karena dadanya kini berdebar bukan karena penyakit jantungnya tapi karena sesuatu yang lain pada wanita yang tampak berantakan namun sangat menggemaskan itu.

*

Selena menghentakkan kakinya ke lantai marmer, suara pluk-pluk dari sandal rumah berbulunya meredam kekesalannya yang meluap. Ia menatap pintu lift yang sudah tertutup rapat dengan pandangan menghujat.

"Dingin sekali! Apa dia makan es batu setiap sarapan?" gerutunya sambil meraih potongan roti panggang yang tadi ditolak Biru. Ia menggigitnya dengan penuh penekanan, seolah-olah roti itu adalah harga diri Biru yang keras kepala.

Ia berjalan menuju jendela besar, menatap mobil mewah Biru yang mulai meluncur keluar dari gerbang utama. Sosok pria itu benar-benar definisi dari kata kaku. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi, hanya instruksi dan tatapan yang seolah-olah bisa membekukan air mendidih.

"Dasar! Suami dingin! Untungnya dia kaya kalau tidak, aku tak akan mau jadi istrinya!" Selena mencebikkan bibirnya, lalu perlahan senyum miring muncul di wajahnya.

"Setidaknya kalau aku harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, aku terjebak di dalam penthouse seharga puluhan miliar, bukan di kontrakan sempit dengan juragan tanah."

Selena menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar aneh di dadanya yang muncul sejak tatapan Biru tadi. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri: ini hanya kontrak. Biru Hermawan adalah subjek riset yang bagus untuk karakter CEO di novelnya, bukan pria yang harus ia buatkan sarapan setiap pagi.

Ia kembali melirik piring yang kosong di tempat duduk Biru. Ada sisa aroma kopi hitam pekat yang tertinggal.

"Dia pikir dia robot yang tidak butuh makan? Heh, lihat saja nanti," gumam Selena sambil mengikat kembali rambut kriwil-nya dengan lebih kencang. "Aku akan menulis karakter pria yang jauh lebih menyebalkan darimu di bab selanjutnya, Biru Hermawan. Dan dia... akan bertekuk lutut pada istrinya."

Selena meraih laptopnya, menyeret langkah kembali ke 'wilayahnya' di sayap kanan. Meskipun rumah ini terasa sunyi dan dingin, setidaknya kini ia punya satu hal yang tidak dimiliki penulis lain: inspirasi nyata dari seorang suami yang lebih dingin dari kutub utara.

Sore harinya...

Selena sedang asyik mengetik di balkon kamarnya saat suara mobil terdengar kembali. Ia melirik jam. Masih terlalu sore untuk jam pulang seorang CEO.

Ia melihat Biru turun dari mobil, namun kali ini gerakannya tidak secepat tadi pagi. Pria itu tampak berhenti sejenak, memegangi pintu mobil dengan tangan yang sedikit gemetar sebelum akhirnya Cakra datang menghampiri dan membisikkan sesuatu.

Dari kejauhan, Selena menyipitkan mata. Ada yang aneh. Apakah si 'Robot Dingin' itu akhirnya kelelahan karena terlalu banyak bekerja? Ataukah ada rahasia lain yang tidak Biru tuliskan dalam kontrak pernikahan mereka?

Selena menghela napas, mencoba mencairkan kekakuan itu dengan langkah ringan menuruni tangga. Ia sudah berganti pakaian—setidaknya sekarang ia memakai kardigan rajut yang sopan, meski rambut ikalnya tetap membangkang.

"Sudah pulang? Tumben sekali jam segini," sapa Selena dengan nada yang diusahakan seceria mungkin, mencoba memecah keheningan lobi yang terasa mencekam.

Namun, langkahnya terhenti tiga meter dari tempat Biru dan Cakra berdiri.

Biru mendongak, matanya yang tajam tampak lebih gelap dari biasanya, sementara Cakra berdiri dengan posisi protektif di samping tuannya. Tidak ada sapaan balik. Tidak ada senyum tipis sekalipun. Yang ada hanya dua pasang mata yang menatapnya seolah-olah Selena adalah penyusup yang mengganggu rapat rahasia negara.

Aura di sekitar mereka sangat berat—berbahaya, penuh rahasia, dan sangat tertutup. Biru hanya memberikan anggukan kecil yang sangat kaku, hampir tidak terlihat, sebelum berpaling kembali pada Cakra dan berbisik rendah.

"Jangan di sini, Cakra. Ke ruang kerja," suara Biru terdengar seperti gesekan logam, dingin dan tanpa kompromi.

Selena merasa seolah-olah baru saja menabrak dinding kaca yang tak kasat mata. Ia mencebikkan bibir, rasa tersinggung mulai mencubit hatinya lagi. Oke, pesan diterima. Aku dianggap tidak ada, batinnya kesal.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Selena melipir, berbelok tajam menuju balkon besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Ia duduk di kursi gantung rotan, memeluk bantal, dan membuka laptopnya dengan hentakan kasar.

"Dasar dua pria es! Satunya robot, satunya lagi bayangannya," gerutu Selena sambil menatap layar kosong.

Ia memejamkan mata, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Dalam kegelapan matanya yang terpejam, Selena mulai merajai dunianya sendiri. Ia mulai berimajinasi.

Di dalam kepalanya, karakter pria yang ia ciptakan—seorang penguasa yang sombong mirip Biru—sedang berlutut di bawah hujan, memohon ampun pada sang wanita karena telah mengabaikannya. Selena membayangkan pria itu kehilangan seluruh kekakuannya, matanya merah karena menahan tangis, dan suaranya bergetar hebat.

Jari-jari Selena mulai menari di atas keyboard.

"Kau pikir kau bisa mengurungku dalam istana es ini dan berharap aku tidak merasakan apa pun?" tulis Selena dengan penuh perasaan, menuangkan kekesalannya pada Biru ke dalam dialog tokoh utamanya.

Tanpa ia sadari, di balik pintu kaca balkon yang tertutup rapat, Biru berdiri di dalam ruang gelap, menatap punggung Selena yang tampak kecil namun tegar di bawah siraman cahaya jingga. Ia menempelkan tangan kirinya ke dada, meremas kemejanya saat rasa nyeri itu kembali datang.

Biru ingin sekali menyapa, atau setidaknya meminta maaf karena sikapnya yang kasar. Namun, ia tahu, membiarkan Selena tetap berada di luar "dindingnya" adalah satu-satunya cara agar wanita itu tidak ikut hancur saat dunianya kelak runtuh.

Dua rahasia kini berdenyut di bawah satu atap; satu tertulis dalam naskah fiksi, dan satu lagi tertanam di dalam detak jantung yang mulai melemah.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!