Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
Bagian awal ucapan pria itu terdengar sangat sopan dan penuh permintaan maaf. Namun, semakin didengar, semakin terasa kemunafikan dan kelicikan yang tersembunyi di balik nada suaranya.
Siapa sebenarnya pria ini?
Jelas sekali ia mengenal Arlo… bahkan mengenal keluarganya dengan sangat baik.
Ditambah lagi, dari cara berpakaian dan auranya, pria itu jelas bukan orang biasa. Ia memiliki aura khas anak konglomerat yang sejak kecil hidup di puncak kemewahan.
Begitu mendengar kata tunangan, tubuh Arlo menegang sesaat.
Jari-jarinya yang menggenggam tas berisi red wine mengeras hingga urat di punggung tangannya tampak jelas. Bibir tipisnya mengatup rapat sebelum akhirnya ia berkata dengan suara rendah,
“Itu bukan urusanmu.”
Tatapan matanya langsung berubah dingin.
“Aku sedang ada urusan hari ini. Kami pergi dulu.”
Setelah mengatakan itu, Arlo melirik Zoya, memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya, lalu melangkah pergi tanpa mempedulikan pria tersebut sedikit pun.
Zoya hanya bisa mengikuti di belakang dengan bingung, seperti anak ayam kecil yang secara naluriah mengikuti induknya.
Awalnya, ia mengira latar belakang Arlo hanyalah dosen universitas biasa.
Namun siapa sangka… keluarga pria itu tampaknya sama sekali tidak sederhana.
Dan sekarang… muncul lagi kata tunangan.
Tubuh Zoya perlahan menegang.
Pikirannya mulai kacau.
Apakah pengejarannya akan berakhir sampai di sini?
Ia memang tipe orang yang berani mengejar apa yang diinginkannya. Selama pria yang ia sukai belum secara langsung mengatakan bahwa ia mencintai orang lain, Zoya tidak akan menyerah.
Namun bagaimana jika pria yang ia kejar dengan susah payah ternyata sudah memiliki tunangan?
Memikirkan hal itu saja membuat hati Zoya terasa sesak.
Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang… masa harus berakhir semiris ini? keluhnya dalam hati.
Diam-diam, ia menatap Arlo dengan perasaan rumit.
Yang lebih membuatnya bingung adalah… bagaimana cara menanyakannya?
Apakah ia harus langsung bertanya:
“Profesor, apakah Anda benar-benar punya tunangan?”
Namun jika ia bertanya seperti itu, bukankah itu terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadi dosennya?
Bagaimanapun, hubungan mereka saat ini di mata orang lain tetap hanya sebatas guru dan murid.
Keduanya terus terdiam sampai masuk ke dalam mobil.
Selama menyetir, Arlo diam-diam beberapa kali mengamati ekspresi Zoya melalui kaca spion tengah.
Melihat gadis itu terus diam dengan bibir terkatup rapat, Arlo mengira Zoya merasa tidak nyaman karena disalahpahami sebagai pacarnya.
Akhirnya, ia membuka suara lebih dulu.
“Dia memang seperti itu,” katanya pelan. “Jangan takut. Dia tidak bermaksud...” Arlo bingung mau ngomong apa, ia melirik Zoya dengan penyesalan.
Zoya segera menggeleng kecil.
“Tidak apa-apa…” jawabnya sambil memaksakan senyum tipis. “Lagipula kita memang bukan seperti yang dia pikirkan. Jadi saya tidak akan memasukkannya ke hati.”
Mendengar jawaban itu, Arlo mengatupkan bibirnya dan kembali diam.
Namun di dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa Zoya sebenarnya merasa tidak nyaman.
Bagaimanapun juga, siapa pun pasti akan merasa canggung jika disalahpahami seperti tadi.
Dalam pandangan Arlo, Zoya hanya berniat baik mengajaknya makan sebagai ucapan terima kasih karena selama ini ia membantunya belajar.
Mereka akhirnya tiba di apartemen Zoya.
Begitu masuk, Zoya langsung pergi ke dapur untuk memasak, sementara Arlo duduk di ruang tamu sambil menatap lembar soal yang tadi diberikan gadis itu.
Tatapannya memang tertuju pada kertas tersebut, tetapi pikirannya sama sekali tidak fokus.
Di satu sisi, ia sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan soal itu kepada Zoya nanti. Namun disisi lain, pikirannya terus kembali pada ucapan pria tadi.
Arlo memijat pelipisnya perlahan.
Ia memang belum merasa dirinya mencintai Zoya.
Namun jika karena dirinya Zoya sampai terseret masalah…
Ia pasti akan merasa sangat bersalah.
Karena masalah tersebut, Arlo sama sekali kehilangan suasana hati untuk memikirkan soal yang diberikan Zoya. Ia meletakkan lembar catatan itu di meja, lalu diam-diam mencuri pandang ke arah Zoya yang sedang sibuk di dapur.
Zoya adalah pecinta kuliner sejati, jadi tentu saja ia tidak hanya memasak steak. Di meja dapur sudah tersaji salad segar, sup krim jagung, dan biskuit renyah buatan sendiri.
Melihat Arlo beberapa kali melirik ke arahnya, Zoya mengira pria itu sudah lapar.
Ia menoleh sambil tersenyum kecil.
“Tunggu beberapa menit lagi, sebentar lagi selesai.”
Arlo mengatupkan bibir tipisnya yang kemerahan.
Melihat wajah kecil Zoya yang sedikit memerah karena sibuk memasak, rasa bersalah di dalam hatinya justru semakin dalam.
Tak bisa dimungkiri, Zoya memang berbeda dibanding orang lain di matanya.
Namun Arlo yakin perasaan itu bukan cinta.
Sejak kecil ia sudah memiliki pertunangan, sehingga ia bahkan tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan wanita mana pun… apalagi memulai kisah romantis dengan Zoya.
Tetapi sekarang, hanya karena ia pulang mengambil sebotol red wine dan tanpa sengaja terlihat bersama Zoya oleh Tuan Muda Winarto, semuanya berubah menjadi kacau.
Bagaimana jika pria itu mulai menyebarkan rumor?
Walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa, faktanya mereka memang terlihat keluar bersama dari apartemennya.
Dan yang paling merepotkan, Arlo tidak mungkin menjelaskan hubungan dirinya dengan Zoya kepada Tuan Muda Winarto.
Siapa yang akan percaya jika ia mengatakan mereka tidak memiliki hubungan apa-apa?
Kesalahan terbesar justru ada pada dirinya sendiri.
Jika sejak awal ia menyuruh Zoya menunggu di mobil, mungkin situasi ini tidak akan terjadi.
Sebaliknya, jika ia mencoba menjelaskan sekarang, keadaan justru akan terlihat semakin mencurigakan… seolah ia sedang panik menyembunyikan seorang selingkuhan.
Memikirkan semua itu membuat hati Arlo dipenuhi rasa bersalah.
Bahkan makanan lezat di hadapannya terasa hambar di mulut.
Ia meminum sup krim jagung perlahan sambil melamun. Sesekali, pandangannya diam-diam jatuh ke arah Zoya.
Melihat butiran keringat kecil di dahi gadis itu akibat memasak, rasa bersalah Arlo semakin menjadi-jadi.
Zoya dengan tulus memasakkan semua makanan ini untuknya…
Sementara dirinya malah tanpa sadar menyeret gadis itu ke dalam masalah.
Benar-benar seperti membalas kebaikan dengan racun.
Setelah terdiam cukup lama, Arlo akhirnya membuka suara untuk mencoba memastikan keadaan.
“Bagaimana syutingmu?” tanyanya pelan.
Zoya sedikit terkejut karena Arlo jarang bertanya soal pekerjaannya.
Tangannya yang memegang sendok berhenti sesaat sebelum ia menjawab,
“Lumayan lancar. Mungkin sekitar dua bulan lagi baru selesai.”
Sebenarnya, sebagian besar adegan inti sudah hampir selesai. Namun karena hasil close-up Zoya sebelumnya sangat memuaskan, Rahengga memutuskan untuk menambah lebih banyak pengambilan gambar untuknya. Karena itu, Zoya harus tinggal lebih lama di lokasi syuting.
Saat melihat mata Zoya berbinar ketika membahas syuting, dada Arlo terasa semakin sesak.
Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara rendah,
“Zoya… pria yang tadi itu adalah saingan bisnis keluargaku.”
Zoya langsung mengangkat kepala menatapnya.
“Sepertinya dia salah paham tentang hubungan kita,” lanjut Arlo. “Tapi tenang saja, aku akan mengurusnya.”
Ia berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan dengan sedikit ragu,
“Dan soal tunangan…”