Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Atasan
Di pagi hari dengan matahari yang begitu terik, seperti biasa suasana kota Jakarta terlihat ramai dengan penduduknya, aktivitas di pagi hari ini adalah awal mulanya orang-orang memulai aktivitas dari sekolah bekerja dan lain sebagainya.
Sama dengan Ayana yang baru saja keluar dari rumahnya terlihat buru-buru dengan penampilan modis, tampil rapi dalam balutan rok panjang berpotongan lurus yang jatuh anggun hingga mata kaki. Ia mengenakan atasan yang simpel namun elegan, dipadukan dengan pashmina yang dililit dengan gaya modern jatuh lembut di salah satu sisi bahunya.
Ujung kainnya tertata rapi, memberi kesan profesional sekaligus feminin. Warna hijabnya selaras dengan busananya, tidak mencolok, tetapi cukup mencuri perhatian dengan kesan bersih dan berkelas. Tas kerja tersampir di bahunya, ditambah seperti biasa sudah pasti berkas-berkas akan dia pegang serat-eratnya.
Di balik penampilannya yang modis, terpancar aura ketegasan dan kemandirian. Langkahnya ringan, namun terarah, seolah ia sudah terbiasa dengan situasi jalan raya yang mulai macet denan bunyi klakson cukup berisik menjadi makanannya setiap hari.
Akhirnya Ayana memasuki hal yang lebih menantang lagi, KRL. Transportasi yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk memulai aktivitas mereka menuju tempat pekerjaan. Sama halnya dengan Ayana harus berada di tengah kerumunan tersebut dengan tangannya memegangi pegangan agar tidak terjatuh.
Jika sudah jam seperti ini jangan harap bisa mendapatkan tempat duduk memiliki transportasi saja menuju kantor sudah hal yang paling tepat asal tidak terlambat.
Ayana harus bersabar dengan desakan orang-orang, tangannya sebelah lagi tetap memeluk berkas-berkas yang menjadi jaminan pekerjaannya. Hingga beberapa menit akhirnya KRL berhenti tepat di terminal, desakan kembali terjadi orang-orang buru-buru ingin keluar seperti adanya sesuatu di depan sana yang ingin mereka raih.
Brukk.
Ayana kaget saat salah satu wanita memegang minuman kopi yang dimasukkan ke dalam cup harus tertumpah pada bajunya.
"Maaf," ucap wanita tersebut sekilas meminta maaf dan kemudian pergi.
"Astagfirullah....." lirih Ayana menghela nafas.
Masih schok dengan pakaiannya yang kotor,
Ayana tidak punya banyak waktu untuk meratapi keadaannya. Ayana menyusul keluar dari KRL untuk buru-buru pergi ke kantor.
Setibanya di kantor, Ayana masih berusaha untuk membersihkan pakaiannya menggunakan tangannya ala kadarnya.
"Ayana!" Diva meninggalnya ketika Ayana ingin duduk di kursinya.
"Kenapa pakaian kamu?" tanya Diva.
"Biasalah, pekerjaan orang-orang tidak bertanggung jawab," jawabnya.
"Ya ampun, kasihan sekali temanku ini," Diva geleng-geleng kepala terlihat memberikan simpatik .
Suara langkah kaki terdengar begitu memburu membuat pandangan mereka melihat para karyawan dengan buru-buru menduduki tempat kerja masing-masing.
Diva melakukan hal yang sama dan sudah pasti karena kedatangan pimpinan mereka Emir. Ayana bersiap berdiri dengan menundukkan kepala disaat atasannya itu melangkah ingin memasuki ruang kerjanya.
Langkah itu seketika berhenti. Ayana merasakan hal itu dan perlahan mengangkat kepalanya.
"Keruangan saya!" tegas Emir.
"Ba-baik. Pak," jawab Ayana dengan menundukkan kepala.
Ayana menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, kemudian memasuki ruang atasannya itu dan sudah pasti membawa agenda hitam sebagai pengingat jadwal atasannya dari pagi sampai pulang.
Ayana memasuki ruangan Emir dengan melihat bagaimana Emir membuka jasnya dan meletakkan pada kursi.
"Kamu sudah menyiapkan materi untuk meeting hari ini?" tanya Emir.
"Sudah. Pak," jawabnya.
"Jam berapa meeting nya?" tanya Emir berdiri dari tepat di hadapannya.
Ayana terlihat gugup dengan mengangkat kepala perlahan. Emir akan merasa dihargai jika dia menjawab hanya melihat pada lantai.
"Hmmm, tuan Charles, tuan William dan tuan Axel menginformasikan meeting nya dilaksanakan di Hotel Himalaya sebelum jam makan siang," jawabnya.
"Kamu majukan meeting nya, karena sebelum makan siang saya harus ke rumah sakit!" titah Emir mengubah agenda yang sudah dipersiapkan Ayana.
"Baik pak," jawab Ayana memang tidak pernah keluar kata tidak dan protes mengapa apapun itu penolakan yang diperintahkan oleh Emir kepadanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Ayana.
"Hmmmm!" Emir menjawab dengan deheman.
****
Ayana dan Emir saat ini sama-sama keluar dari perusahaan dengan Ayana terus memeluk dokumen penting untuk atasannya itu memulai meeting bersama dengan klien.
Langkah Emir terhenti dan hampir saja membuat Ayana menabrak atasannya itu.
"Kamu akan ikut meeting bersama saya dengan pakaian seperti ini?" tanya Emir.
Pria itu sejak tadi tidak berkomentar dengan pakaian yang kotor.
"Maaf pak, tadi tidak sengaja terkena kotoran minuman dari orang lain, saya sudah mencoba untuk membersihkan dengan ala kadarnya," ucap Ayana dengan terbata-bata.
"Kamu mengalami insiden itu sudah hampir 4 jam yang lalu dan selama 4 jam itu kamu tidak punya pikiran untuk membeli pakaian yang baru untuk kamu kenakan? Apa kamu akan bertahan dengan pakaian seperti itu, Kamu sudah tahu akan pergi bersama saya, apa kamu ingin membuat anakan kamu malu?" tanya Emir sedikit meninggikan nada suaranya karena kesal dengan ketidak kedisiplinan pegawainya.
"Maaf pak!" Ayana hanya menunduk malu.
"Saya tunggu 15 menit di mobil, kamu kembali dengan pakaian yang baru dan layak!" tegas Emir masih memberi kesempatan.
"Rumah saya memakan waktu lebih dari 20 menit, tidak mungkin sampai hanya 15 menit saja," jawab Ayana.
"Saya tidak menyuruh kamu untuk pulang ke rumah mengganti pakaian dan bahkan 3 menit dari perusahaan ini terdapat Mall, kalau bisa membeli pakaian baru di sana!" tegas Emir.
Ayana memilih untuk diam dan menunduk tidak menjawab lagi.
"Tidak punya uang untuk membelinya?" tebak Emir dengan mengerutkan dahi.
Ayana mengangguk pelan, memang membeli pakaian yang baru hanya membuang uang dan jika memang itu solusinya dia sejak tadi sudah melakukannya.
"Hahhhhhh!" Emir menghela nafas terlihat frustasi dengan berkacak pinggang.
"Masuk!" titah Emir.
Ayana mengangguk akhirnya masuk ke dalam mobil, seperti biasa dia akan duduk di depan bersama dengan sopir dan Emir duduk di belakang. Supir mendapatkan perintah dari Emir untuk menuju lokasi mereka.
Ternyata mobil itu tidak berhenti secara langsung ke tempat meeting, melainkan pada salah satu Mall dengan Anaya dan Emir sudah berada di salah satu tokoh pakaian.
Ayana hanya diam saja dengan Emir yang terlihat mencari pakaian untuknya sampai akhirnya menemukan atasan yang sepertinya cocok untuk Ayana.
"Gantilah!" tegas Emir.
Ayana menganggukan kepala dengan membawa atasan tersebut ke dalam ruang ganti dan tidak lama akhirnya Ayana Kembali keluar. Atasan tersebut sangat cantik dan cocok dengan rok yang dia pakai sebelumnya.
Emir tidak banyak bicara kemudian langsung dibayar barang yang dia beli.
"Paka Emir mentraktirku," batinnya sedikit merasa sungkan tetapi tidak mungkin menolak.
Setelah memastikan sekretarisnya itu sudah layak untuk bertemu dengan klien, akhirnya mereka berada di salah satu hotel dengan pertemuan di dalam karaoke.
Terlihat Emir mulai membahas pekerjaan dengan obrolan santai, sementara Ayana duduk di sebelahnya sudah pasti sangat dibutuhkan karena semua pekerjaan Emir berhubungan dengan Ayana.
Di tengah pembicaraan bisnis dengan 3 laki-laki tersebut, tiba-tiba saja 3 orang wanita memasuki tempat tempat itu.
Ke tiga wanita itu mencuri perhatian Ayana karena penampilannya yang seksi dan bahkan langsung mendekati tiga pria tersebut dengan 3 pria itu merangkul pasangan mereka masing-masing.
Ayana mencoba untuk setenag mungkin dan fokus pada pekerjaannya begitu juga dengan Emir terlihat tidak nyaman dengan situasi seperti itu.
Bersambung...