“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otoritas Sang Penguasa di Sangkar Samudra
Pukul 02:45 Dini Hari – Di Dalam Jet Pribadi Virelion.
Deru mesin jet pribadi Virelion Global membelah langit malam yang pekat, meninggalkan hiruk-pikuk Pelabuhan Tua Jakarta yang baru saja menjadi saksi pertempuran berdarah. Di dalam kabin jet yang didominasi kulit hitam dan kayu mahoni, suasana terasa sangat sunyi, namun dipenuhi ketegangan yang kasat mata.
Ceisya duduk di kursi captain’s chair yang luas, mencoba mengatur napasnya. Wajahnya masih sedikit kotor karena debu, dan jilbab hitamnya agak berantakan. Ia melirik ke samping, di mana Kaelthas duduk dengan kaki bersilang, menatap jendela yang hanya menampakkan kegelapan. Luka memar di rahang Kaelthas justru menambah kesan maskulin yang berbahaya pada wajahnya yang biasanya sempurna.
"Kael, jangan diam saja. Tatapanmu itu lebih serem daripada pisau Axton tadi," celetuk Ceisya, mencoba mencairkan suasana dengan gaya tengilnya.
Kaelthas perlahan menoleh. Tatapannya sangat dalam, seolah ingin menembus langsung ke jiwa Ceisya. Ia meletakkan gelas kristalnya, lalu berdiri dan berjalan mendekat. Ia membungkuk, menaruh kedua tangannya di sandaran kursi Ceisya, mengurung gadis itu sepenuhnya.
"Kau pikir ini lucu, Ceisyra?" suara Kaelthas rendah, bergetar karena emosi yang ia tahan sejak tadi. "Kau membawa dua orang konyol itu ke medan perang. Kau hampir membuat jantungku berhenti saat melihatmu melompat dari motor itu. Kau tahu apa yang akan kulakukan jika satu peluru saja mengenai jilbabmu?"
Ceisya menepis tangan Kaelthas pelan, meski jantungnya berdegup kencang. "Kael, mereka itu sahabatku. Rara sama Bimo itu tulus. Buktinya mereka berani datang meski cuma bawa toa sama cilok. Harusnya kamu bersyukur aku punya teman yang setia, bukan malah dicemburui."
Kaelthas menyeringai gelap. Ia mencengkeram dagu Ceisya, memaksa gadis itu menatap matanya yang berkilat posesif. "Aku tidak butuh mereka untuk menjagamu. Aku adalah otoritas tunggal atas keselamatanmu. Dan karena kau terbukti tidak bisa diam di bawah pengawasanku di kota, maka aku akan membawamu ke tempat di mana kau tidak akan punya celah untuk kabur atau meretas apa pun."
"Kael, jangan bilang kamu beneran mau memenjarakan aku?"
"Bukan penjara, Sayang," bisik Kaelthas di telinga Ceisya, hembusan napasnya membuat Ceisya merinding. "Tapi sebuah dunia yang hanya berisi aku dan kau. Sebuah sangkar yang begitu indah hingga kau akan lupa bagaimana cara memandang pria lain."
Pukul 08:30 Pagi – Pulau Privasi "Virelion’s Sanctuary".
Matahari baru saja naik saat helikopter yang menjemput mereka mendarat di sebuah pulau pribadi di tengah Samudra Hindia. Pemandangannya luar biasa—air laut berwarna gradasi turquoise yang jernih, pasir putih yang halus, dan sebuah vila ultra-modern yang berdiri megah di atas tebing batu karang.
Namun, bagi Ceisya, pemandangan itu terasa seperti jebakan. Guntur sudah menunggu di depan pintu vila dengan sebuah kotak logam berisi semua perangkat elektronik.
"Tuan, semua pemancar sinyal publik sudah dinonaktifkan. Jaringan satelit hanya dibuka untuk keperluan keamanan Tuan secara khusus. Tidak ada akses internet untuk perangkat lain selama tiga puluh hari ke depan," lapor Guntur.
Ceisya melotot, ia langsung menghadap Kaelthas.
"Kael! Kamu beneran memutus internet?! Aku mahasiswi TI! Hidupku itu di server! Terus gimana aku kabari Rara sama Bimo?!"
Kaelthas merangkul pinggang Ceisya dengan paksa, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. "Duo sableng itu sudah aku beri tiket liburan ke Thailand dan kompensasi uang yang cukup untuk membeli pabrik cilok. Mereka tidak akan mencarimu. Selama sebulan ini, satu-satunya 'server' yang harus kau perhatikan adalah aku. Pahami setiap aturanku, dan tunduklah pada keinginanku."
Ceisya mendengus keras. "Posesif tingkat dewa! Kamu tahu nggak, di pesantren dulu aku diajarin kalau berlebihan itu nggak baik?"
"Untukmu, aku tidak mengenal batas, Ceisyra," jawab Kaelthas dingin namun penuh gairah.
Pukul 14:00 Siang – Di Dalam Vila.
Vila itu sangat luas, didominasi kaca-kaca besar yang menghadap laut. Kaelthas tidak membiarkan Ceisya jauh darinya. Bahkan saat Ceisya ingin mengeksplorasi dapur, Kaelthas duduk di meja bar sambil mengawasi setiap gerakannya.
Kaelthas sudah melepas kemeja kerjanya, hanya mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot tubuhnya yang sempurna. Ia berjalan mendekati Ceisya yang sedang memandangi laut dari balik kaca.
"Masih marah?" tanya Kaelthas rendah.
Ceisya menoleh, bibirnya mengerucut tengil.
"Menurutmu? Bayangin, orang yang biasa pegang keyboard sekarang cuma bisa pegang spatula karena nggak ada sinyal."
Kaelthas terkekeh, suara tawa yang sangat maskulin. Ia memutar tubuh Ceisya agar menghadapnya, lalu menyudutkan gadis itu ke dinding kaca. "Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini? Bukan cuma soal keamanan. Tapi karena aku ingin menghapus bayangan Axton dari pikiranmu. Aku ingin kau tahu siapa pria yang benar-benar memilikimu."
Kaelthas mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Dulu, aku setuju tunanganku ditukar dengan Clarisse karena aku menganggap Ceisyra yang asli adalah sampah yang tidak berguna. Aku ingin menghancurkan keluargamu melalui Clarisse. Tapi kemudian..." Kaelthas mengusap pipi Ceisya dengan ibu jarinya. "...aku melihat jiwa yang berbeda di balik hijab ini. Aku melihat wanita yang tengil, cerdas, dan tidak takut padaku. Saat itu, rencana balas dendamku hancur. Yang ada hanyalah rasa lapar untuk memilikimu."
Ceisya tertegun. Ia menatap mata Kaelthas yang kini dipenuhi hasrat yang sangat pekat. "Jadi... kamu mencintaiku karena aku berubah?"
"Aku mencintaimu karena kau adalah satu-satunya orang yang berani masuk ke duniaku yang gelap dan malah membuat lelucon di sana," bisik Kaelthas.
Kaelthas langsung membungkam bibir Ceisya dengan ciuman yang sangat intens. Kali ini, tidak ada gangguan suara sirine atau ledakan. Hanya ada suara deburan ombak dan detak jantung mereka yang saling beradu. Ciuman Kaelthas terasa sangat dominan, penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut. Ia mengangkat tubuh Ceisya dengan mudah, membawanya menuju tempat tidur raksasa di tengah ruangan.
"Kael... ini masih siang..." rintih Ceisya di sela ciumannya.
"Aku tidak peduli. Di pulau ini, waktu adalah milikku. Dan kau adalah objek tunggal dari seluruh hasratku," jawab Kaelthas parau.
Udara di dalam kamar utama itu terasa sangat kontras dengan hembusan angin laut di luar. Pendingin ruangan yang sejuk tidak mampu meredam suhu yang kian memanas di antara dua insan yang baru saja sah menjadi suami istri itu.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Kaelthas mulai membuka kaosnya, lalu melemparkannya ke lantai begitu saja, memperlihatkan tubuhnya yang atletis, dada bidang yang kokoh, dan perut sixpack yang terpahat sempurna—hasil dari latihan militer bertahun-tahun.
Ceisya menelan ludah secara refleks. Meskipun ia sering melihat aktor tampan di televisi, melihat langsung aset suaminya dalam jarak sedekat ini membuat nyali tengilnya menciut seketika.
"Kael... kamu mau apa?" bisik Ceisya pelan.
"Mengambil hakku yang tertunda karena kekacauan di pelabuhan tadi malam," jawab Kaelthas dengan suara bariton yang berat dan serak.
Ia merangkak naik ke atas ranjang, gerakannya tenang namun pasti seperti seekor predator yang sedang mendekati mangsa berharganya. Kaelthas mengunci tubuh Ceisya di bawah kungkungannya.
Tangan besarnya yang hangat perlahan mengusap leher jenjang Ceisya, lalu jemarinya dengan lembut namun posesif mulai membuka jilbab yang dikenakan istrinya, membiarkan rambut indah Ceisya tergerai untuk pertama kalinya di hadapan Kaelthas.
"Kau sangat cantik, bidadariku. Dan kau hanya boleh terlihat seperti ini di depanku," bisik Kaelthas.
Kaelthas membenamkan wajahnya di leher jenjang Ceisya, menghirup aroma tubuh istrinya yang seperti perpaduan antara bunga melati dan vanila. Ia mulai menciumi leher itu dengan intens, memberikan tanda-tanda merah yang mencolok—sebuah klaim kepemilikan yang absolut agar dunia tahu siapa pemilik wanita ini.
Tangannya yang kokoh perlahan bergerak ke arah kancing pakaian Ceisya, membukanya dengan sangat telaten seolah sedang membuka kado paling berharga di dunia. Setiap sentuhan kulit Kaelthas membuat Ceisya meremang. Hasrat yang meluap dari Kaelthas begitu nyata, membuat Ceisya akhirnya luluh dan melingkarkan lengannya di leher kokoh suaminya.
"Aku akan sangat lembut padamu malam ini, Ceisyra. Aku ingin kau merasakan betapa gilanya aku menginginkanmu," gumam Kaelthas di sela ciumannya yang berpindah ke bibir Ceisya—sebuah ciuman yang sangat dalam, gila, dan penuh gairah kepemilikan.
Kaelthas mencium bibir Ceisya dengan sangat lembut, namun berkali-kali membuat napas Ceisya tersengal-sengal. Melihat napaa Ceisya tersengal-sengal Kaelthas melepaskan ciumannya. Beralih, menciumi kembali leher jenjang Ceisya, tangannya memberikan sentuhan di dua squishy milik Ceisya.
Jleb.. "Mmmm." Kaelthas membungkam bibir Ceisya kembali di saat membenamkan Kaelthas mininya.
Selama beberapa jam, waktu seolah berhenti di kamar itu. Kaelthas benar-benar mendominasi setiap inci raga Ceisya, memastikan istrinya itu merasa benar-benar dicintai namun juga benar-benar terikat padanya.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca