NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

***

Pemandangan di kamar itu sungguh tidak biasa. Bagas duduk bersila dengan kemeja dinas yang kerahnya sudah agak miring, di depannya ada peta desa dan dokumen hukum, sementara di pangkuannya duduk Arka yang sedang asyik memainkan pulpen ayahnya. Gilang duduk di sudut ranjang, mewarnai buku gambar sambil sesekali mengobrol dengan Mamahnya.

"Jadi begini Pak, warga Dusun Dua tetap menuntut..." Pak Sekdes mulai memaparkan masalah.

Bagas mendengarkan dengan serius, jemarinya menari di atas keyboard laptop, namun telinganya tetap waspada pada setiap rintihan kecil yang mungkin keluar dari mulut Laras.

"Tunggu sebentar, Pak Sekdes," Bagas menyela. Ia berdiri, mengambil segelas air hangat dan obat penguat rahim, lalu membantu Laras minum dengan sangat telaten. Ia mengusap dahi Laras yang berkeringat sebelum kembali duduk di lantai.

Laras memperhatikan suaminya dari atas ranjang. Ia melihat bagaimana Bagas berdiskusi dengan tegas tentang batas tanah, memberikan solusi yang cerdas kepada Pak Sekdes, namun di saat yang sama ia juga sangat sigap menangkap Arka yang hampir terjatuh atau sekadar memperbaiki posisi bantal Laras.

"Mas... apa nggak apa-apa Mas begini? Apa Mas nggak malu di depan Pak Sekdes?" tanya Laras saat Pak Sekdes sedang menelepon pihak kabupaten.

Bagas menoleh, tersenyum tipis. "Malu buat apa, Ras? Mas justru malu kalau Mas cuma bisa jadi pemimpin di luar, tapi gagal jadi suami di dalam rumah. Biar mereka tahu, kalau Kepala Desa mereka itu manusia juga, punya istri yang harus dijaga."

Siang hari yang panas membuat suasana makin menantang. Arka mulai rewel karena lapar, sementara diskusi soal sengketa tanah makin memanas melalui panggilan video.

"Bapak! Acka mau maem!" rengek Arka sambil menarik-narik kerah baju dinas Bagas.

Bagas tetap tenang. Sambil tetap menatap layar laptop yang sedang terhubung dengan pejabat kabupaten, tangan kirinya meraih mangkuk bubur yang sudah disiapkan di meja kecil.

"Iya, Bapak suapi ya. Aaa... pinter," ucap Bagas lembut tanpa kehilangan wibawa bicaranya di depan kamera. "Mohon maaf Pak Kabag, kami tetap pada kesepakatan awal bahwa batas tanah di Dusun Dua harus sesuai dengan sertifikat tahun 80... ya, betul sekali."

Laras meneteskan air mata melihat pemandangan itu. Bukan air mata kesedihan, melainkan rasa haru yang tak terbendung. Selama ini ia merasa Bagas adalah sosok yang jauh, sosok yang hanya menuntut kepatuhan. Namun hari ini, Bagas membuktikan bahwa dia adalah pelindung yang sesungguhnya.

"Mas... Laras bangga sama Mas," bisik Laras pelan saat rapat akhirnya selesai.

Pak Sekdes pun berpamitan dengan tatapan kagum. "Saya permisi dulu, Pak Kades. Bu Kades, cepat sembuh ya. Beruntung sekali punya suami seperti Pak Kades."

Setelah rumah kembali sepi, Bagas merebahkan tubuhnya yang sangat letih di lantai, tepat di samping ranjang Laras. Punggungnya pegal luar biasa, kepalanya pening karena harus membagi fokus antara masalah desa dan urusan rumah tangga.

Laras menjulurkan tangannya dari ranjang, mengusap kepala Bagas. "Pasti capek banget ya, Mas? Maafin Laras ya, Mas harus repot begini."

Bagas meraih tangan Laras, mencium punggung tangannya lama. "Mas nggak repot, Ras. Mas cuma baru mulai belajar. Mas baru sadar, perjuangan kamu di rumah ini selama lima tahun jauh lebih heroik daripada urusan politik manapun. Mas ingin kamu merasa aman, Ras. Mas ingin kamu tahu, kalau kamu nggak sendirian lagi menghadapi beban ini."

"Laras sekarang merasa aman, Mas. Sangat aman," jawab Laras tulus.

Malam itu, di kamar yang sederhana itu, Bagas membuktikan bahwa jabatan hanyalah atribut, namun tanggung jawab terhadap keluarga adalah inti dari harga diri seorang pria. Di antara tumpukan map dinas dan botol susu anak, sebuah cinta yang sempat retak kini sedang direkatkan kembali dengan perjuangan dan ketulusan yang nyata.

****

Bersambung..

Mohon maaf apabila agak kurang yaa, jalan ceritanya, xixixi...

1
arniya
bagus kak cerita nya
Heresnanaa_: maaciw kak stay tune ya kak🙏😍
total 1 replies
Paradina
mantap kak, lanjutkan dan tetap semangat
Heresnanaa_: terimakasih banyak kak,
happy reading yaa 😍
total 1 replies
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!