Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PECAHNYA CERMIN PERAK
Bau karbol yang tajam menyengat indra penciuman Clarissa saat kesadarannya perlahan kembali. Langit-langit putih yang datar dan lampu neon yang berkedip redup menjadi pemandangan pertama yang ia tangkap. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun terasa berat dan terikat. Saat menoleh, ia melihat selang infus menusuk punggung tangannya yang kini tampak transparan, memperlihatkan urat-urat biru yang rapuh.
"Lo bangun?"
Suara itu serak dan dalam. Clarissa menoleh ke samping. Bastian duduk di kursi besi di samping ranjangnya. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan kemeja putih yang ia kenakan tadi siang kini penuh dengan noda darah yang sudah mengering dan berubah warna menjadi cokelat gelap.
Clarissa mencoba duduk, namun rasa nyeri di tulang belakangnya membuatnya mengerang. "Bas... kenapa gue di sini? Gue mau pulang."
"Pulang ke mana, Clar?" Bastian berdiri, suaranya bergetar antara marah dan sedih. "Dokter bilang kondisi lo kritis. Sel darah putih lo... itu nggak masuk akal. Kenapa lo diam saja selama ini? Kenapa lo sembunyikan ini dari gue? Dari Papa?"
Clarissa membuang muka, menatap jendela yang memperlihatkan rintik hujan di luar. "Papa nggak peduli, Bas. Dia cuma peduli sama saham dan meeting-nya. Dan lo... lo bahkan nggak bisa lihat wajah gue tanpa rasa jijik. Buat apa gue kasih tahu kalian? Supaya kalian punya alasan baru buat benci gue?"
"Gue nggak pernah mau lo mati, Clar!" Bastian berteriak, suaranya pecah di ruangan yang sunyi itu. Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Gue jahat, gue tahu. Gue nyalahin lo atas kematian Mama karena gue nggak tahu harus nyalahin siapa lagi atas rasa sakit gue. Tapi bukan ini yang gue mau. Bukan kayak gini."
Clarissa terdiam. Ini adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia melihat Bastian menangis untuknya. Selama ini, mereka adalah dua orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama, dipisahkan oleh dendam yang tak kasat mata.
Pintu kamar rawat terbuka dengan kasar. Pak Gunawan masuk dengan napas terengah, masih mengenakan setelan jas mahalnya. Ia baru saja mendarat dari Singapura setelah mendapat telepon darurat dari Bastian.
"Apa-apaan ini? Kenapa sekretaris Papa bilang kamu masuk ICU?" Pak Gunawan menatap Clarissa, namun matanya tidak menunjukkan kehangatan, melainkan kebingungan yang bercampur dengan rasa tidak nyaman.
"Clarissa kena leukemia, Pa. Stadium lanjut," Bastian yang menjawab, suaranya dingin menembus pertahanan ayahnya.
Pak Gunawan terdiam. Ia mendekati ranjang, menatap putrinya seolah melihat orang asing. "Kenapa bisa? Kamu selalu foya-foya, beli barang bermerek, dandan berlebihan... Papa pikir kamu sehat-sehat saja. Kenapa kamu nggak pernah bilang?"
Clarissa tersenyum pahit, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Papa pernah tanya? Setiap kali Clarissa mau bicara, Papa bilang Papa sibuk. Papa bilang kalau butuh uang minta ke asisten. Uang nggak bisa beli sumsum tulang belakang yang baru, Pa."
Pak Gunawan mundur selangkah, wajahnya memucat. Untuk pertama kalinya, pria perkasa itu tampak kecil. Ia mencari alasan, mencari pembenaran, namun yang ia temukan hanyalah memori tentang dirinya yang selalu berpaling setiap kali Clarissa mencoba mendekat.
Keesokan harinya, berita tentang Clarissa yang pingsan dan bersimbah darah di kampus telah menyebar seperti api di atas jerami kering. Di luar pintu kamar rawatnya, beberapa anggota The Diamonds datang membawa bunga, namun mereka tampak canggung. Mereka tidak tahu cara menghadapi Clarissa yang tidak lagi memakai "mahkota"-nya.
Namun, ada satu tamu yang tidak pernah Clarissa duga akan muncul. Adrian.
Ia berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah buku catatan. Ia melihat Clarissa yang terbaring lemah tanpa riasan, tanpa gincu merah, dan tanpa keangkuhan.
"Bastian kasih tahu gue lo di sini," kata Adrian pelan. Ia duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Bastian.
"Mau apa? Mau lihat karma gue?" Clarissa mencoba ketus, namun suaranya terlalu lemah untuk memberikan efek intimidasi.
Adrian menggeleng. Ia meletakkan buku catatan itu di meja. "Ini catatan statistik Maya yang lo rusak kemarin. Gue sudah bantu dia salin ulang. Dia... dia titip pesan, katanya dia maafkan lo dan berharap lo cepat sembuh."
Clarissa memejamkan mata, merasa sangat malu. "Dia baik banget. Harusnya dia benci gue. Gue jahat sama dia."
"Lo nggak jahat, Clar. Lo cuma kesepian," Adrian menatapnya dengan tatapan yang kini bukan lagi kebencian, melainkan empati. "Bastian cerita semuanya. Tentang Mama kalian, tentang gimana keluarga lo memperlakukan lo. Gue minta maaf karena gue juga ikut menghakimi lo tanpa tahu beban yang lo bawa."
"Jangan kasihani gue, Adrian. Gue benci dikasihani," bisik Clarissa, air mata mulai mengalir di sudut matanya.
"Gue nggak kasihani lo. Gue cuma pengen lo tahu kalau lo nggak harus jadi 'jahat' buat dapet perhatian. Lo berharga apa adanya."
Malam kembali menjemput. Saat Adrian dan ayahnya sudah pulang, tinggal Clarissa dan Bastian di dalam ruangan itu. Clarissa merasakan demamnya kembali naik. Tubuhnya menggigil hebat meski sudah diselimuti dua lapis kain tebal.
"Bas..." panggil Clarissa pelan.
Bastian yang sedang tertidur di sofa segera bangun dan mendekat. "Kenapa? Ada yang sakit?"
"Gue takut," Clarissa meraih tangan Bastian, menggenggamnya erat. "Gue takut kalau besok gue nggak bangun lagi, lo masih bakal ingat gue sebagai adek lo yang jahat."
Bastian mencium kening adiknya, air matanya menetes mengenai pipi Clarissa. "Nggak, Clar. Lo adalah adek kembaran gue. Separuh jiwa gue. Gue janji, kita bakal lewati ini. Gue bakal cari donor terbaik. Papa bakal keluarin semua uangnya. Kita bakal sembuhin lo."
Clarissa tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa perlu memakai make-up tebal atau bersikap centil untuk merasa aman. Di dalam ruangan rumah sakit yang dingin itu, di sela-sela rasa sakit yang menghujam, Clarissa akhirnya merasa memiliki sebuah keluarga.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Clarissa tahu. Waktunya tidak banyak. Sel-sel dalam tubuhnya sedang merencanakan perpisahan. Dan kini, ia hanya berharap malam tidak menjemputnya terlalu cepat, sebelum ia sempat meminta maaf pada semua orang yang pernah ia lukai.