Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KEKAGUMAN DAN CEMBURU
Setelah debu pertarungan meredup dan sosok Xie Wu berhasil kabur dengan terluka parah, suasana di Aula Seribu Tahun berubah total menjadi heboh dan mencekam.
Semua pendekar, tetua, dan pemimpin sekte yang tadinya duduk dengan wajah sombong dan angkuh kini berdiri dari tempat duduk mereka. Mulut mereka ternganga, mata mereka membelalak lebar tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Tidak ada lagi ejekan, tidak ada lagi pandangan sinis yang meremehkan. Yang tersisa di ruangan itu hanyalah rasa hormat yang mendalam, kekaguman yang luar biasa, dan sedikit rasa takut yang bercampur menjadi satu.
"Itu... Itu benar-benar manusia?" bisik seorang pendekar tua dengan suara bergetar. "Menahan serangan Pedang Iblis hanya dengan jarum-jarum kecil... Itu bukan lagi level manusia. Itu level Dewa!"
"Seribu Jarum Emas... Ternyata legenda itu nyata. Dia benar-benar hebat..." gumam yang lain.
Mo Fei yang masih berdiri di tengah aula hanya tersenyum santai sambil mengibaskan bajunya yang sedikit berdebu. Ia lalu berjalan santai mendekati Lian Er yang sudah menunggu dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar-binar penuh kebanggaan.
"Nah, beres kan?" ucap Mo Fei santai. "Sekarang kita bisa lanjut makan siang. Tadi kan belum selesai, sayang banget kalau dingin."
"Kau ini ya!" seru Lian Er sambil memukul pelan lengan bajunya, tapi pipinya memerah hangat. "Tadi bahaya banget lho! Aku sampai jantung mau copot liatnya! Tapi..."
Ia mendongak menatap wajah Mo Fei dengan tatapan lembut.
"Tapi... keren sekali tadi. Aku bangga sekali punya teman sekuat dan sehebat kau, Mo Fei."
Namun, kehangatan di antara mereka tidak berlangsung lama.
HEMM!
Tiba-tiba sebuah aura dingin dan tajam menyapa mereka berdua! Suhu di sekitar mereka seakan turun drastis dalam sekejap.
Di sebuah sudut taman yang teduh dan indah, berdiri sosok wanita yang sangat cantik namun wajahnya terlihat masam dan dingin. Dia adalah Bai Yue, si Pendekar Kipas Perak.
Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap tajam ke arah mereka berdua, terutama ke tangan Lian Er yang sedang memeluk erat lengan baju Mo Fei.
"Hei Bocah Aneh!" seru Bai Yue dengan suara ketus dan sedikit mendengus. "Kau tadi itu cuma beruntung lho! Xie Wu kan cuma bawahan biasa, dia kan belum main serius! Jangan sombong dulu ya belum tentu kau menang kalau lawan aku!"
Mo Fei melihat tingkahnya yang lucu itu hanya bisa terkekeh pelan. Ia sangat mengerti bahwa wanita di depannya ini sebenarnya bukan marah, tapi hanya gengsi dan mungkin sedikit... cemburu.
"Wah Nona Cantik," jawab Mo Fei dengan nada menggoda. "Kalau iri atau khawatir sama aku bilang saja dong. Nanti sakit lho dipendam terus. Hehe."
"Si... Siapa yang khawatir! Mimpi kau!" Bai Yue langsung memalingkan wajahnya agar pipinya yang memerah tidak terlihat oleh mereka berdua. "Aku cuma... cuma kesal melihat orang kuat malah buang waktu main-main sama anak kecil yang tidak tahu apa-apa!"
Tapi kata-kata itu langsung memancing emosi Lian Er!
Gadis itu langsung maju selangkah, berdiri lebih dekat ke samping Mo Fei dan menatap menantang ke arah Bai Yue dengan wajah penuh posesif.
"Hei! Jangan sembarangan ngomong! Mo Fei itu bukan main-main! Dia itu pelindungku! Dan kami berdua sangat bahagia! Urus saja dirimu sendiri, Nona Kipas Es!" seru Lian Er lantang.
"Hah? Pelindung? Anak manja sepertimu hanya akan jadi beban baginya!" bantah Bai Yue tak mau kalah, matanya menyala penuh semangat juang. "Dia itu pendekar hebat yang seharusnya berkelana mencari lawan tangguh dan mengasah kemampuan, bukan jadi pengasuh anak manja!"
"Kau yang bilang beban?! Awas aku lawan kau sekarang juga kalau macam-macam!"
"Silakan! Aku takut apa sama kau?!"
Mereka berdua pun mulai adu mulut dengan sengitnya. Saling cemburu, saling ejek, dan saling tunjuk. Suasana jadi panas dan lucu sekaligus.
Mo Fei yang berdiri di tengah-tengah di antara dua wanita cantik itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum canggung dan pasrah.
"Waduh... panas sekali ya cuacanya hari ini. Lebih baik aku cari minum dulu deh..." bisiknya pelan.
Di tengah keributan dan adu mulut itu, saat Lian Er sedang sibuk membalas kata-kata Bai Yue dengan semangat, tiba-tiba Bai Yue bergerak sangat cepat!
Dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, ia menyelipkan sebuah gulungan kertas kecil yang dilipat rapi ke telapak tangan Mo Fei.
Bai Yue lalu mundur kembali ke posisi semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menatap Mo Fei dengan tatapan yang berubah menjadi sangat serius dan lembut sekaligus, memberikan kode agar Mo Fei membacanya nanti.
Mo Fei mengangguk tipis mengerti, lalu menyembunyikan kertas itu di dalam tangannya.
"Hmph! Pokoknya hati-hati kau!" seru Bai Yue lagi pura-pura marah lalu berbalik badan pergi dengan angkuh. "Jangan sampai mati bodoh ya!"
Setelah Bai Yue pergi dan jaraknya cukup jauh, Mo Fei perlahan membuka gulungan kertas kecil itu di telapak tangannya.
Tulisan di sana halus dan rapi:
'Dengar ya... Orang yang mengirim Xie Wu itu bukan orang main-main. Dia dari Istana Kematian, organisasi paling gelap dan kejam. Mereka sangat menginginkan matamu dan ilmu jarummu untuk tujuan jahat. Aku akan awasi kau dari jauh... karena aku tidak mau melihatmu mati. Hati-hati.'
Mo Fei menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh, lalu tersenyum tipis dan hangat.
"Wanita... memang makhluk paling rumit di dunia. Tapi... terima kasih ya peringatannya, Bai Yue," bisiknya pelan penuh rasa terima kasih.
Ia lalu menoleh kembali ke arah Lian Er yang masih mendengus kesal karena tadi dibilang anak kecil.
"Yuk Putri, kita pergi dari sini," ajak Mo Fei lembut. "Sebentar lagi badai besar yang sesungguhnya akan datang. Dan kita harus benar-benar siap menghadapinya."