Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
"Ian," panggil Natalie, sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Nata." Fabian berdiri dari duduknya sambil mengusap pipinya.
Fabian menatap bingung Natalie yang masih mengenakan pakaian rumah sakit. Raut wajahnya yang semula sedih, berubah menjadi tatapan yang penuh kekhawatiran.
"Nata, Lo kenapa? Lo sakit? Atau, ada yang luka?" panik Fabian sambil membolak-balik tubuh Natalie, membuat sang empu sedikit meringis di buatnya.
"Gue nggak apa-apa. Cuma luka kecil doang," ucap Natalie santai.
Fabian hanya diam, sedikit tak percaya dengan ucapan Natalie. Ia tahu, sahabatnya itu berusaha menutupi sesuatu darinya agar tidak kepikiran. Tapi, sebagai seorang sahabat kita harus saling support bukan?
"Kalau Lo nggak baik-baik saja, atau ada masalah Lo bisa cerita ke gue. Inget, gue sahabat Lo. Kita udah sahabatan dari kecil," ucap Fabian yang di hanya di balas dengan senyuman.
"Sini duduk," lanjut Fabian sambil menepuk sebelahnya.
Natalie duduk di Fabian, menyandarkan punggungnya ke pohon di belakangnya.
"Lo lagi ada masalah, ya?" tanya Natalie pada Fabian, matanya asyik melihat taman yang begitu indah pagi ini.
"Gue, nggak apa-apa kok."
"Cerita aja, gue di sini. Gue akan selalu dengerin cerita Lo," ujar Natalie.
Fabian memandang ke arah langit, mengambil napas dalam. "Orang tua gue, bertengkar lagi."
"Lagi?" tanya Natalie, dahinya mengernyit heran.
Dalam benaknya berpikir, sejak kapan kedua orang tua Fabian bertengkar. Selama ini ia lihat keduanya baik-baik saja. Bahkan terbilang cukup harmonis. Dan sekarang?
"Hmm. Sejak tiga bulan yang lalu—"
Fabian menceritakan semua yang sudah terjadi dengan keluarganya belakangan ini pada Natalie. Semua itu karena ia percaya, bahwa sahabatnya itu mengerti dengan apa yang terjadi dengannya. Setiap kali ia bercerita kepada Natalie, ia merasa aman dan nyaman. Begitu pula sebaliknya. Seperti saat ini.
Sepanjang cerita, Natalie mendengarkan dengan seksama. Ia tak menyela ataupun bertanya, hanya cukup mendengarkan. Karena ia tahu, Fabian hanya butuh di dengar, bukan di sidang. Ia membawa kepala Fabian untuk menyandar ke pundaknya. Mengusap rambut pria itu dengan lembut.
"Gue bingung. Gue capek, pendam semua ini. Gue harus apa?"
"Gue ngerti …."
"Mungkin Lo pikir gue cengeng kan, karena nangis kayak gini," ujar Fabian di sela-sela tangisnya.
"Hey, siapa bilang Lo cengeng?" Natalie menangkup pipi Fabian, menatap matanya dalam-dalam.
"Nangis bukan berarti cengeng. Itu adalah tumpahan emosi yang selama ini Lo pendam. Kalau Lo emang capek, nangis aja nggak apa-apa. Selagi Lo merasa lega setelah mengeluarkan segala emosi yang Lo pendam, dari pada Lo sendiri yang akan sakit. Nangis itu wajar. Buktinya gue juga pernah nangis."
"Thanks ya Nata, Lo selalu ada di saat gue lagi terpuruk."
"Kita kan sahabat. Apapun itu selain gue masih ada di sini, Lo bebas cerita apapun yang Lo rasain ke gue," ucap Natalie dengan senyum tulus.
"Boleh peluk?" tanya Fabian.
Natalie membuka lengannya lebar-lebar, membuat Fabian menghamburkan pelukannya. Di sela-sela pelukan, Natalie merasakan rasa nyeri itu kembali. Kali ini lebih sakit dari pada tadi. Ia mencengkram erat kerah baju Fabian, menahan rasa sakit di perutnya.
Fabian yang sadar akan cengkeraman itu, melepas pelukan mereka. Ia melihat wajah Natalie yang menahan rasa sakit.
"Nata, darah!" ucap Fabian.
Natalie melihat ke arah perutnya dan benar saja, darah merembes keluar bajunya. Wajahnya kembali pucat. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Ayo kita ke rumah sakit." Fabian memapah Natalie.
Ia membawa Natalie untuk ke rumah sakit terdekat. Setelah perjalanan yang cukup menegangkan, Natalie akhirnya segera di tangani. Fabian menunggu dengan harap-harap cemas di depan ruangan, ia mondar-mandir sambil menggigit jarinya.
Drrtt … Drrtt …
"Nathan," lirihnya.
Fabian bimbang ingin mengangkatnya atau tidak. Setelah bergelut dengn pikirannya sendiri, akhirnya ia mengangkat panggilan itu.
"Lo ke mana aja sih, nggak di angkat-angkat. Heran gue."
"Ada apa?"
"Buset dah, santai dong ngomongnya."
"Ck yaudah, ada apa Lo nelpon?"
"Nggak sekolah, Lo? Udah jam berapa ini? Lo nggak liat jam atau gimana?"
Astaga, cerewet sekali sahabatnya ini, pikir Fabian.
"Gue di rumah sakit."
"Ngapain Lo di sana? Sakit? Atau jangan-jangan, cari dokter yang bohai untuk Lo jadiin pacar. Aduh, jangan lah bro. Masih banyak cewek lain yang lebih cantiik di sekolah kita. Masa iya, Lo mau macarin tante-tante?"
"Apasih …, siapa juga coba yang mau macarin tante-tante. Gue ada di rumah sakit itu nemenin Natalie," ucap Fabian jengah.
"WHAT!! NATALIE? ADA AA DENGAN PACAR UNYU-UNYU GUE SATU ITU!? DIA NGGAK KENAPA-NAPA KAN?"
Fabian menjauhkan teleponnya dari telinganya. Sungguh, kenapa sahabatnya harus teriak-teriak kayak gitu, sih. Budek ia lama-lama kalau kayak gini terus. Kayaknya ia harus ke dokter THT bentar lagi.
" Gue nggak tau kenapa. Tadi perutnya keluar darah, mangkanya gue bawa di ke rumah sakit."
" Yaampun. Sharelok gue sekarang, gamau tau gue mau ke sana!"
"Iy—"
Belum sempat ia menjawab Nathan sudah mematikan telponnya sepihak. Benar-benar nggak ada akhlak sahabatnya yang satu itu. Ia segera kirim alamat rumah sakit ini, agar Nathan nggak tantrum di sana.
"Ini kenapa dokter lama amat, sih," ucapnya gusar.
Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Fabian bisa melihat, Nathan yang berlari ke arahnya. Bajunya yang keluar sana-sini. Rambutnya yang acak-acakan. Tasnya yang ia seret di belakangnya. Sungguh, penampilannya kayak gembel. Fabian menggelengkan kepalanya dibuatnya.
"Gimana keadaan Nata?"
Baru membuka mulutnya, dokter keluar dari ruangan UGD. Mereka berdua menghampiri dokter tersebut.
"Gimana dok, keadaan sahabat kita?" tanya Fabian.
"Pasien baik-baik saja. Darah yang keluar itu berasal dari jahitannya yang terbuka. Dan rasa nyeri yang di rasakannya berasal dari jahitannya itu," ucap dokter Rani, iya dokter yang mengoperasi Natalie dan kembarannya semalam.
"Operasi/operasi?" tanya Fabian dan Nathan kompak.
"Iya. Semalam pasien habis melakukan operasi donor ginjal. Ia mendonorkan sebelah ginjalnya untuk kembarannya itu. Bahkan kedua orang tuanya sendiri yang menyetujui tindakan operasi itu," jelas dokter Rani.
Nathan dan Fabian syok mendengar penjelasan dokter Rani.
"Apa, Natalie sudah bisa di jenguk dok?"
"Boleh, bentar lagi saat pasien sudah di pindahkan."
Fabian dan Nathan hanya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu saya permisi dulu, ya. Oh iya, ini titipan dari orang tuanya Natalie. tolong berikan padanya ya," ucap dokter Rani sebelum benar-benar pergi.
Nathan dan Fabian sama-sama memandang heran ke arah Tote bag yang dokter Rani berikan kepada mereka. Kenapa tidak di serahkan langsung ke Natalie? Bukankah seharusnya mereka ada di sini juga menemani saudara kembar Natalie? Mereka berdua hanya bisa bertanya-tanya dalam hati tanpa bisa mengutarakan pada siapapun.
.
.
.