Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Debar di Ruang Tengah
Ruang lift eksekutif itu melesat naik dengan kecepatan tinggi menuju lantai teratas, namun udara di dalamnya terasa menyusut hingga nyaris mencekik paru-paruku.
"Ulangi, Bumi," suaraku keluar berupa bisikan parau yang bergetar. "Apa yang baru saja kau katakan?"
Bumi menatapku dengan sorot mata yang penuh kehati-hatian, seolah ia sedang memegang vas kaca yang retak dan takut membuatnya hancur berkeping-keping.
"Tadi pagi, saat saya meretas log audit keuangan Haris untuk mencari amunisi rapat, saya menemukan sebuah anomali," Bumi mengulanginya dengan nada rendah yang menenangkan, mencoba meredam syok di wajahku. "Ada aliran dana sebesar lima ratus juta rupiah dari rekening anonim yang dikelola Haris, masuk ke rekening pribadi Sarah. Tanggal transaksinya... tepat satu malam sebelum mobil Adrian mengalami kecelakaan."
Duniaku terasa seperti dihantam palu godam. Lagi.
Sarah. Sekretarisku. Wanita yang membawakanku teh chamomile setiap pagi, yang menangis memelukku saat Adrian dimakamkan, ternyata menerima uang tutup mulut atau mungkin... uang bayaran atas perannya dalam kematian suamiku.
Lututku lemas. Aku terhuyung mundur, namun sebelum punggungku menghantam dinding baja lift, lengan Bumi yang kokoh sudah lebih dulu melingkari pinggangku, menahanku dengan erat.
"Aruna, bernapaslah," perintah Bumi lembut.
Aku mencengkeram kemeja biru mudanya, meremas kain itu hingga kusut. "Dia... dia tahu, Bumi. Sarah tahu apa yang terjadi pada Adrian. Ya Tuhan, aku memelihara ular berbisa di ruanganku sendiri selama bertahun-tahun."
"Kita akan membongkarnya," bisik Bumi, tangannya mengusap punggungku perlahan, memberikan ritme yang membantuku menarik napas. "Tapi tidak sekarang. Anda tidak boleh menunjukkan kelemahan di rapat direksi ini. Biarkan Sarah mengira dia masih memegang kendali. Biarkan dia merasa aman, sementara saya menguliti semua data digitalnya dari dalam."
Aku mendongak, menatap mata cokelat gelapnya yang memancarkan keteguhan luar biasa. Di tengah pusaran pengkhianatan ini, pria yang baru kunikahi beberapa hari lalu ini adalah satu-satunya tanah pijakan yang solid.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai direksi.
Aku buru-buru melepaskan cengkeramanku pada kemeja Bumi dan merapikan blazer-ku. Aku memejamkan mata selama dua detik, memasang kembali topeng CEO yang dingin dan tak tersentuh, lalu melangkah keluar.
Rapat direksi pagi itu berjalan persis seperti yang direncanakan Bumi.
Pak Haris, yang biasanya menjadi singa paling vokal di meja bundar, kini duduk mematung dengan keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di dahinya. Bumi duduk di kursi tepat di sebelah kananku—kursi yang biasanya dibiarkan kosong—memangku tabletnya dan menatap Haris dengan senyum sopan yang mematikan.
Tanpa Lukman, dan dengan Haris yang berhasil dibungkam oleh Bumi, dewan direksi lainnya tidak berani berkutik. Pernikahanku dengan Bumi disahkan secara korporat, dan posisinya sebagai Staf Khusus Keamanan Siber diresmikan tanpa ada satu pun suara penolakan.
Saat rapat selesai dan kami kembali ke ruanganku, Sarah menyambut kami di meja depan dengan senyum manis andalannya.
"Selamat atas rapatnya yang berjalan lancar, Bu Aruna. Mas Bumi," sapa Sarah ramah.
Perutku mual melihat senyum itu. Aku ingin berteriak dan mencekiknya, menuntut penjelasan tentang kematian Adrian. Namun, aku merasakan sentuhan ringan Bumi di punggung bawahku—sebuah peringatan halus agar aku tetap pada naskah sandiwara kami.
"Terima kasih, Sarah," balasku dengan nada datar. "Tolong kosongkan jadwalku untuk sisa hari ini. Aku dan suamiku akan pulang lebih awal."
Mata Sarah sedikit melebar saat mendengar kata 'suamiku', namun ia segera mengangguk patuh.
Perjalanan pulang ke apartemen terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Setelah melewati ketegangan di kantor, sisa hari itu menyisakan ruang kosong yang harus kami isi berdua. Begitu pintu penthouse tertutup dan kami berada di area foyer, keheningan yang familiar itu kembali menyergap.
Bumi melepaskan sepatunya, lalu melepaskan jas yang sejak pagi membalut tubuhnya, menyisakan kemeja biru muda yang lengan panjangnya ia gulung hingga siku. Dia terlihat... sangat maskulin. Sesuatu di dalam perutku berdesir aneh saat menyadari bahwa pria ini, secara hukum dan agama, adalah milikku.
"Aruna," panggilnya, memecah lamunanku. "Saya akan mandi dulu, setelah itu saya akan langsung mengekstrak data dari server kantor. Jika Anda butuh sesuatu—"
"Bumi, tunggu," potongku cepat.
Dia menghentikan langkahnya, berbalik menatapku dengan alis sedikit bertaut.
Aku menarik napas panjang. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak di rumah sakit, sebuah tembok tak kasatmata yang selalu ia bangun setiap kali ia berbicara padaku.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'Anda'," ucapku tegas.
Bumi tampak bingung. "Maksud Anda?"
Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. "Kita ini suami istri. Setidaknya di depan publik dan dewan direksi, kita harus terlihat meyakinkan. Jika kau terus menggunakan bahasa formal seolah aku ini klien asuransimu, Sarah dan orang-orang di luar sana akan tahu bahwa pernikahan ini hanya sandiwara."
"Tapi, ini memang sebuah kesepakatan, bukan?" balas Bumi pelan, matanya menatap lantai marmer. "Saya hanya... tidak ingin bersikap kurang ajar dan melanggar batasan. Di kantor, Anda tetap bos saya."
"Di kantor, ya. Tapi saat pintu apartemen ini tertutup, aku bukan CEO-mu," suaraku melembut. Tanpa sadar, aku menyentuh ujung lengan kemejanya yang tergulung. Bumi sedikit tersentak, namun ia tidak menarik lengannya.
"Panggil aku Aruna. Dan gunakan kata 'kamu' dan 'aku'," pintaku, menatap lurus ke matanya. "Tolong. Aku benci merasa seperti sedang berbicara dengan robot setiap kali kita berdua di rumah."
Bumi menelan ludah. Jakunnya bergerak perlahan. Dia menatap tanganku yang bertengger di lengannya, lalu perlahan menatap wajahku. Ada semburat merah tipis yang menjalar di lehernya. Pria tangguh yang bisa meruntuhkan keberanian direktur korup ini ternyata sangat payah dan menggemaskan dalam urusan asmara.
"Baik," gumamnya, suaranya sedikit serak. "Aku... akan mencobanya... Aruna."
Mendengar namaku disebut tanpa embel-embel 'Ibu', dan mendengar kata 'aku' keluar dari bibirnya, entah mengapa membuat lututku sedikit lemas. Rasanya jauh lebih intim daripada sebuah pelukan.
"Bagus," aku tersenyum tipis, buru-buru menarik tanganku karena tiba-tiba merasa wajahku sendiri ikut memanas. "Kalau begitu, kamu mandi sana. Aku... aku akan memesan makan malam."
"K-kamu mau pesan apa?" tanya Bumi. Kentara sekali ia sedang canggung menggunakan kata ganti itu. Matanya bahkan berkedip beberapa kali lebih cepat dari biasanya.
Aku tak bisa menahan tawa kecilku. "Tidak tahu. Sesuatu yang bukan makanan anak kos. Sana mandi, kamu bau debu jalanan."
Bumi mengangguk kaku, berbalik, dan berjalan sedikit terlalu cepat menuju kamar tamunya. Aku tersenyum lebar menatap punggungnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, rumah ini terasa hidup.
Kecanggungan itu mencapai puncaknya malam harinya.
Setelah makan malam yang kupesan dari restoran Jepang favoritku, kami berdua berada di ruang keluarga.
Ini adalah momen "bersantai" pertama kami di bawah satu atap tanpa ada ancaman maut. Aku mengenakan piyama satin panjang dipadukan dengan cardigan berbahan rajut yang tebal—berusaha berpakaian sesopan mungkin.
Bumi sedang duduk bersila di atas karpet berbulu tebal di depan sofa, memangku laptopnya. Dia hanya mengenakan kaus oblong putih polos yang sedikit tipis dan celana training. Dari tempatku duduk di atas sofa, tepat di belakangnya, aku bisa melihat garis bahu dan otot punggungnya yang bergerak setiap kali ia mengetik.
Aku berpura-pura membaca majalah bisnis, padahal mataku terus mencuri pandang ke arah bahunya.
Ya Tuhan, Aruna. Kendalikan dirimu, batinku menjerit malu. Kau bertingkah seperti remaja puber yang baru pertama kali melihat laki-laki.
"Kamu belum tidur?"
Pertanyaan Bumi yang tiba-tiba membuatku terlonjak kaget. Majalah di tanganku nyaris terjatuh.
Bumi menoleh ke belakang, menatapku dengan tatapan polos. Dia sepertinya mulai membiasakan diri menggunakan kata 'kamu', meski masih terdengar sedikit ragu-ragu di ujung kalimatnya.
"B-belum. Aku belum mengantuk," jawabku terbata-bata, buru-buru menutupi sebagian wajahku dengan majalah. "Kamu... kamu sendiri sedang apa? Belum menemukan sesuatu dari data Sarah?"
Bumi menghela napas. Dia memutar tubuhnya hingga ia kini menghadapku, menyandarkan punggungnya ke meja televisi.
"Data Sarah sangat rapi. Terlalu rapi," keluh Bumi, mengacak rambutnya yang belum sepenuhnya kering. "Wanita itu tidak sebodoh Haris. Dia mengenkripsi semua percakapannya. Aku sedang mencoba menjebol sandi berlapis di folder cloud tersembunyi miliknya."
Aku menurunkan majalahku. Melihat wajahnya yang lelah, instingku bergerak melampaui logika. Aku beringsut turun dari sofa, ikut duduk bersila di atas karpet, tepat di sebelahnya.
Bumi langsung menegakkan punggungnya. Tubuhnya menegang seperti senar gitar yang ditarik maksimal. Aroma parfum chamomile-ku bertabrakan dengan aroma sabun mandinya. Jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal.
"A-ada apa, Aruna?" tanyanya gugup, matanya sengaja diturunkan agar tidak menatap bagian kerah piyamaku.
"Kamu kelelahan, Bumi. Jangan terlalu dipaksakan," ucapku lembut.
Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat tanganku dan menyingkirkan poni rambutnya yang jatuh menutupi mata lelahnya.
Bumi tersentak pelan. Napasnya tercekat. Matanya refleks mendongak menatapku, membelalak terkejut oleh sentuhan fisik yang tiba-tiba ini.
Tanganku membeku di udara, tepat di atas dahinya. Kesadaran menamparku dengan keras. Aku baru saja menyentuhnya. Di ruang keluarga yang remang-remang ini, dengan posisi sedekat ini, sentuhan itu terasa seperti percikan api di dekat genangan bensin.
"Maaf," aku segera menarik tanganku, dilanda panik. Jantungku berdentum sangat keras hingga aku takut dia bisa mendengarnya. "Aku... aku refleks. Poni-mu menutupi mata."
"T-tidak apa-apa," jawab Bumi, suaranya mendadak menjadi sangat serak, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Kami berdua terdiam, saling bertatapan dalam keheningan yang memabukkan. Aku bisa melihat warna matanya yang cokelat pekat, bulu matanya yang lentik, dan... bibirnya yang terkatup rapat. Astaga. Ada apa denganku malam ini? Kehadiran pria ini benar-benar membuat logika normalku lumer tak bersisa.
Bumi adalah orang pertama yang memutus kontak mata itu. Dia berdeham keras, membuang muka kembali ke arah layar laptopnya, meski aku bisa melihat jemarinya sedikit bergetar saat kembali menyentuh keyboard.
"A-aku butuh kopi," Bumi bergumam dengan cepat, mencoba melarikan diri dari ketegangan yang mengudara. "Biar aku buatkan untuk kita. Kamu... kamu mau kopi kan?"
Tanpa menunggu jawabanku, Bumi langsung berdiri dan setengah berlari menuju dapur, meninggalkanku yang masih duduk di karpet dengan pipi semerah tomat.
Aku menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut, mengerang frustrasi. Dasar bodoh! Kau baru saja membuatnya tidak nyaman, Aruna!
Saat aku masih merutuki kebodohanku sendiri, mataku secara tidak sengaja menangkap perubahan di layar laptop Bumi yang ditinggalkan menyala di depanku.
Sebuah baris kode hijau panjang tiba-tiba berhenti bergulir. Kotak dialog muncul di tengah layar hitam itu.
[ENCRYPTION BROKEN. ACCESS GRANTED.]
Bumi berhasil menjebol folder rahasia Sarah.
Mataku menyipit. Di dalam folder itu, hanya ada satu file. Bukan dokumen keuangan, bukan pula berkas PDF. Melainkan sebuah file audio berformat MP3, yang diberi nama: "Pertemuan_Sentul_Desember.mp3".
Bulan Desember... itu adalah bulan di mana Adrian meninggal kecelakaan di tol arah Sentul.
Dengan tangan bergetar, aku menyentuh touchpad laptop Bumi. Kuarahkan kursor ke file tersebut, lalu kutekan dua kali.
Suara statis (kresek-kresek) terdengar dari speaker laptop. Rekaman ini sepertinya diambil secara sembunyi-sembunyi menggunakan alat penyadap kecil.
Kemudian, dua suara mulai terdengar berdebat.
Suara pertama adalah suara seorang pria. Suara yang membuat darahku membeku seketika. Suara mendiang suamiku, Adrian.
"Kau gila?! Aku tidak akan pernah menandatangani penyerahan saham itu! Aruna adalah istriku, dan aku tidak akan membiarkanmu mengambil alih perusahaannya!" bentak Adrian di dalam rekaman itu.
Lalu, terdengar suara kedua. Suara seorang pria yang sangat tenang, dingin, dan penuh dengan arogansi mengerikan.
"Istrimu? Adrian, kau terlalu naif. Aruna hanya membiarkanmu hidup nyaman di istananya. Kau bukan siapa-siapa tanpa dia. Jika kau tidak menandatangani ini... aku pastikan besok pagi istrimu yang cantik itu tidak akan pernah sampai ke kantor dengan selamat. Menggunting selang rem mobilnya adalah hal yang sangat mudah."
Aku berhenti bernapas. Mulutku ternganga.
Itu bukan suara Haris. Itu bukan pula suara Lukman.
Itu adalah suara Rendra. Mantan kekasihku yang sudah lima tahun menghilang ke London.
____________________________________________
Di dalam rekaman itu, Adrian menjerit marah dan terdengar suara bantingan meja. "Jangan berani-berani menyentuh Aruna! Aku sendiri yang akan memutus rem mobilku sebelum kau menyentuhnya!"
Air mataku jatuh tak tertahankan. Adrian tidak mati karena takdir yang buruk. Dia membunuh dirinya sendiri malam itu. Dia menukar nyawanya demi melindungiku.
Terdengar suara langkah kaki Bumi kembali dari dapur membawa dua cangkir kopi. "Aruna? Ada apa?" tanyanya panik saat melihatku mematung dengan wajah bersimbah air mata di depan laptopnya. Aku mendongak menatapnya, duniaku kembali hancur berkeping-keping. Musuh sebenarnya bukan Lukman. Musuh sebenarnya adalah pria dari masa laluku, dan dia telah merenggut nyawa suami pertamaku.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘