Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecolongan
"Kita akan ke tempat yang Bos Besar perintahkan."
"Oh," sahutnya.
Mendengar ucapan supir itu Rayya sedikit menghilangkan kewaspadaannya. Mungkin memang begitu cara kerja para Mafia, karena Rayya hanya pernah tahu melalui tontonan tentang bagaimana para Mafia bekerja, sangat banyak misteri dan rahasia.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di mana Marsel berada yang baru saja keluar dari ruang rapat. Ya, sekarang Ia sedang berada di kantor dan langsung kembali ke ruangannya dan di sambut oleh Alex, sedangkan sekretaris yang mengikuti dirinya dari ruang rapat juga tetap mengikuti langkah dingin itu.
"Bos," sapa Alex setelah melihat jam tangannya.
Marsel yang melihat tingkah Alex mengisyaratkan pada sekretaris nya untuk pergi dari sana tanpa melihat wanita itu.
Sekretaris Marsel adalah perempuan yang berusia tiga puluhan ke atas. Wanita yang super akut dalam bekerja itu belum juga menikah di usia nya yang sudah cukup tua, atau sebagian orang menyebutnya perawan tua jika sudah mencapai umur segitu.
"Asisten Alex, berkasnya," kata Mitha menyerahkan tumpukan kertas yang tersusun dalam map pada Alex. Perawan tua itu memperbaiki letak kacamatanya sesaat setelah melirik singkat pada Asisten dari Tuannya itu, dan segera pergi dari sana tanpa menoleh sedikit pun.
"Alex...."
Suara dingin Marsel membuat Alex tersadar dari pandangannya yang memperhatikan kepergian Mitha.
"Iya, Bos!"
Pria itu segera membuka pintu ruangan Marsel lalu mereka masuk ke dalam.
Marsel duduk di kursinya dan memperhatikan sekitar.
"Di mana Rayyaku?" tanyanya. Mungkinkah ini yang membuat Alex agak gelisah.
"Itu dia Bos, Nona Rayya belum muncul sampai sekarang," kata Alex dan mendengar itu Marsel langsung berdiri dengan cepat.
"Lalu kenapa tidak langsung memberitahu ku?!" marahnya atas keteledoran Alex.
"Maaf Bos, tapi tadi Bos bilang tidak boleh di ganggu dan setelah Nona Rayya datang, Nona akan menunggu anda di sini," jelas Alex.
"Sial!"
Marsel memukul meja dan dengan cepat meninggalkan ruangan itu.
"Kita kecolongan," kata Marsel di sela tangan nya yang bergerak cepat membuka pintu.
Bagaimana bisa Rayya berada di tangan musuh, selama mengenal wanita itu Marsel sudah berusaha menyembunyikan keberadaan Rayya.
Ya, itulah mengapa di hari pernikahan mereka hanya ada orang-orang Marsel, tidak ada undangan yang tersebar sehingga Marsel kira Rayya nya untuk beberapa saat ini pasti belum bisa di akses oleh musuh manapun.
Untung nya Marsel sudah pasang pelacak jika saja hal ini terjadi pada Rayya. Di luar sana banyak yang mengincar dirinya, baik itu karena kekuasaan atau pun hal serius berupa dendam yang mungkin telah mendarah daging.
_______________________
Sekarang mobil yang membawa Rayya akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang tidak di pakai lagi, kawasan itu juga terlihat sangat jauh dari keramaian.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Rayya menatap keadaan sekitar dari balik kaca mobil.
Supir yang bertugas membawa Rayya tidak menjawab dan hanya keluar lalu membuka pintu untuk Rayya. Ada seseorang datang dari bangunan terbengkalai itu mendekati mereka. Tampaknya orang yang sama seperti supir itu, mereka satu komplotan.
"Ulurkan kedua tangan mu," kata supir dan Rayya masih enggan menuruti permintaan mereka. Apalagi tampaknya Rayya akan diborgol, karena komplotan tersebut mengeluarkan benda yang biasa di gunakan oleh polisi itu.
"Jangan membangkang. Cepat berikan tangan mu!"
Pistol langsung tertuju pada Rayya karena wanita itu tidak mau bekerja sama. Tapi sepertinya mereka salah orang, karena Rayya tidak takut mati dan tidak takut sama sekali saat pistol sudah berada tepat di kepala nya.
"Saya tidak takut," kata Rayya.
Komplotan penjahat itu kembali mengeluarkan sesuatu dan berupa sebuah gambar. Yang membuat mata Rayya melotot.
"Apa mau kalian? Aku tidak punya masalah sedikit pun dengan orang seperti kalian," kata Rayya tidak mengerti mengapa Ia jadi seperti buronan. Seingat nya Rayya tidak memiliki konflik dengan siapapun, kecuali Marsel dan keluarganya.
Apa mungkin ini semua perbuatan pria itu? Karena Rayya sudah mempermainkan Lily dan Mona hari ini.
Begitu pikir Rayya karena tidak ada orang lain yang bermasalah dengan nya.
"Kami akan menghabisi semua yang ada dalam gambar ini jika anda tidak mau menurut," ancam mereka membuat Rayya hanya bisa patuh dan mau diborgol.
Itu adalah foto keluarga nya, tidak mungkin Rayya tega mereka sampai kenapa-napa.
Akhirnya Rayya keluar dari mobil dengan keadaan tangan terborgol.
"Jalan cepat!"
Kakinya ditendang saat langkah Rayya terlihat pelan. Rayya sampai hampir terjatuh jika saja pijakan kakinya tidak bertumpu dengan baik.
"Carla?!"
Rayya terkejut saat melihat ada Carla di sana bersama dua orang pria yang tidak Rayya kenal sama sekali, mungkin salah satunya adalah bawahan karena Carla dan salah seorang lainnya duduk di kursi dan satunya lagi berdiri di samping pria tersebut.
"Yakin dia orang nya?"
Carla tidak menghiraukan keterkejutan Rayya, Ia justru terdengar berbicara dengan pria itu.
"Benar, Bos. Dia adalah orang yang anda cari, Istri Marsel," kata Carla. Sedangkan Rayya bingung kenapa dia ada di sana dan dengan keadaan terborgol pula.
"Carla, sebenarnya ini ada apa? Kenapa aku diborgol begini? Siapa mereka? Apa lagi yang kau rencana padaku?"
Rayya mencerca Carla dengan banyak pertanyaan.
'Aku bahkan sempat salah sangka pada Marsel, namun sepertinya ini tidak ada kaitannya dengan pria itu' batin Rayya.
Tapi setelah itu Rayya tersadar, untuk apa Ia merasa bersalah pada Marsel.
"Rayya, ini sangat mepet. Tante tidak punya cara lain, hanya bisa menyerahkan mu pada mereka. Tante pergi dulu."
Tanpa rasa bersalah hanya penjelasan singkat itu yang Rayya dapat dari Carla.
"Tunggu! Maksud mu apa? Carla!"
Rayya masih ingin kejelasan tapi Carla langsung pergi begitu saja tanpa peduli dengan pertanyaan Rayya.
"Ternyata kamu memang sangat cantik."
Pria yang tadi duduk di samping Carla menyahut dan berdiri mendekati Rayya yang masih menuntut kepergian Carla begitu saja. Apa maksudnya wanita itu berkata seperti tadi.
"Siapa anda? Kenapa saya di perlakukan begini?" tanya Rayya namun rupanya pria itu hanya tertawa melihat rasa penasaran Rayya, tapi Ia suka karena wanita cantik itu tampak tidak merasa takut.
"Tidak penting siapa aku, tapi mulai sekarang kamu sudah jadi milikku."
Rayya pusing, kenapa orang-orang suka sekali mengklaim dirinya sebagai milik mereka.
________________
"Kita menemukan lokasi nya, Bos. Di gedung terbengkalai dan cukup jauh dari sini," kata Alex cepat dengan mata fokus pada titik lokasi keberadaan Rayya.
"Butuh waktu berapa lama?" tanya Marsel dingin tapi dadanya bergemuruh. Takut Rayya kenapa-napa.
"Sekitar delapan jam_"
Alex agak ragu mengatakan nya, waktu selama itu pasti Marsel tidak akan tenang.
"Kita lewat udara, aku tidak mau tau. Rayya harus secepatnya di selamatkan!" tegas Marsel dengan tangan mengepal.
'Tunggu aku sayang' batinnya gelisah.