NovelToon NovelToon
Resep Cinta Om Dokter

Resep Cinta Om Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:48.2k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).

Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.

====

"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."

"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"

------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love

Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Bertemu Cahaya (1)

 

Bab 6

 

 “Ram,” panggil Edward. Baru saja visit pasien di area vip, mendapati orang yang dia kenal

“Beuh, dari mana dok?”

“VIP. Sibuk kayaknya?”

“Baru beres operasi  langsung 2 sesi,  mau ngopi dulu.” berjalan sambil berbincang karena satu arah. Menuju poli rawat jalan melewati arah ke kantin.

“Kenal dekat dengan Andin?”

“Nggak dok, biasa aja. Yang dekat mah Lisa. Gimana, adiknya sakit apa dia?”

“Anemia kronis.”

Rama mengangguk. “Lisa bilang mereka bukan orang sembarangan dok, kelas atas.”

“Hah, maksudnya?”

“Apa sih istilahnya si Lisa, gue lupa. Nanti gue tanyain deh. kenapa tanya masalah Andin, naksir dok,” tuduh Rama tanpa basa basi.

“Ngaco. Andin bukannya udah nikah, kamu yang bilang.”

“Ya mana tahu naksir adiknya.”

Edward diam saja, masih terlalu dini kalau dia disebut naksir, suka atau jatuh cinta. Jujur interaksi dengan Cahaya memang berkesan, tidak sengaja memeluk gadis itu dan …. Rama tergelak. “Kalau diam berarti bener dong.”

“Heran, kenapa kamu Sama Anji bisa kompak ya.”

“Kompak gimana, dok?”

“Nggak jelas.” Edward berlalu meninggalkan Rama yang akan berbelok menuju kantin.

“Eh, dok. Yaelah malah kabur. Cantik ya orangnya, bikin nggak fokus. Fix, lagi jatuh cinta,” teriak Rama agar Edward mendengarnya.

Drt drt

Pesan masuk dari perawat poli rawat jalan, Edward membalas sebentar lagi dia ke sana.

“Kalau memang ada campur tangan Tuhan, kami pasti bertemu lagi. Tidak harus menunggu bulan depan,” batin Edward. Mampir ke café untuk membeli capucino kesukaannya. Mendorong pintu kaca itu, suhu dingin langsung menyapu wajahnya pun dengan alunan musik terdengar begitu mendayu. 

“Selamat pagi, selamat datang.”

Edward terpaku saat ia disapa oleh seseorang. Merasa sudah gila karena wajah yang tadi sempat ia pikirkan ada di hadapannya.

“Silahkan, dok,” ujar Aya sambil tersenyum. Menghormati Edward dengan jas profesinya. “Mau di sini atau ….”

“Cahaya? Kamu benar Cahaya?” Edward menatap dari kepala sampai kaki, mungkin saja ia berhalusinasi karena sempat memikirkan gadis itu sampai diejek Rama. 

“Iya, aku Cahaya. Silahkan dok.” Aya mempersilahkan Edward menempati meja kosong dan mencatat pesanan pria itu.

“Ditunggu ya dok.”

Pandangannya masih mengamati gerak Aya menuju meja order menyerahkan pesanan dan menghampiri meja yang baru saja terisi oleh pengunjung lainnya. Saat pandangan mereka hampir bertemu, ia menunduk dan pura-pura sibuk dengan ponsel.

Tidak sampai lima menit, pesanannya sudah siap. Edward menuju kasir.

“Terima kasih dok, selamat menikmati,” ujar Aya sepaket dengan wajah full senyum membuat jantung Edward malah kebat kebit.

“Hm. Jaga kesehatanmu,” ucapnya sebelum pergi. Edward sempat berhenti dan menoleh ke belakang saat sudah keluar dari café lalu menggeleng pelan mengenyahkan isi pikiran yang entah. 

***

“Itu rumahnya, pagar hijau. Pelan saja,” titah Jarwo pada supir agar melaju pelan. Sudah tiba di Jakarta dan Wira memberikan alamat dimana Andin dan Aya tinggal.

Adit menatap hunian itu, tampak sepi. Pintu depan dan pintu pagar tampak rapat. Tidak ada tanda-tanda Aya ada di rumah.

“Berhenti, biar aku turun.”

“Jangan, dia tidak ada di rumah,” sahut Jarwo. “Jalan, pak. Kita ke rumah sakit.”

“Rumah sakit? Cahaya sakit?”

“Orangku sudah selidiki, Cahaya bekerja di café rumah sakit tempat Andin bekerja.”

“Kerja di café? Sudah gil4 gadis itu. Ia bisa hidup mewah, malah milih kabur dan kerja di café. Menjadi istriku pun hidupnya masih terjamin, apa penyakitnya mulai menyerang otak sampai tidak bisa berpikir dan membedakan mana yang baik dan buruk,” cetus Adit sambil mendengus.

Bukan pertama kali menjejakan kakinya di ibu kota, Adit kerap bolak balik ibu kota dan kembali ke wilayah pulau jawa tempat tinggalnya karena urusan bisnis. Tidak jarang ia bersama rekan bisnis dan sahabatnya menikmati hiburan dunia malam. Keluar masuk club pun pernah ia lakukan.

Menjadi bagian dari keluarga Janitra semakin mengepakan area terbangnya, yakin Adit. Pun dengan kondisi usaha keluarga Waskita saat ini sedang terpuruk, memperistri Aya menjadi solusi paling efektif.

Mengikuti langkah Jarwo tiba di café yang berada di area rumah sakit.

“Disana, mau saya atau jenengan yang masuk?”

Adit inisiatif dia yang akan menemui Aya, tapi datangnya terlambat.

“Cahaya belum lama pulang. Paling masih di koridor,” ujar salah satu pelayan café.

Meninggalkan café dan menatap sekeliling mencari keberadaan Cahaya.

“Kenapa? Diusir?”

“Sudah pergi, katanya barusan keluar. Kamu lihat?”

Jarwo ikut menatap sekeliling lalu menunjuk arah menuju lobby utama. Kedua pria itu berjalan di sepanjang koridor dan tidak sia-sia, Adit sempat terdiam memandang seorang gadis berdiri sambil fokus dengan ponsel.

“Cahaya,” ucap Adit pelan karena tidak yakin.

Nyatanya gadis itu menoleh.

“Cahaya,” panggil Adit lagi, tidak percaya kalau gadis itu benar Cahaya. Kabur dari desa belum genap dua bulan, tapi penampilan calon istrinya itu sangat berbeda. Tidak salah, gadis itu memang Cahaya. Terlihat dari pergerakan yang tampak terkejut lalu menghindar.

“Cahaya, tunggu!”

Adit mengejar langkah Aya yang berbelok ke arah IGD lalu parkiran mobil, sempat terkecoh dan menabrak pengunjung rumah sakit lainnya.

“Hati-hati mas, ini rumah sakit bukan lapangan. Ngapain lari-lari.”

“Maaf, buru-buru.”

Akhirnya kehilangan jejak Aya. Jarwo menyusul dan keduanya menatap sekeliling. Area parkiran mobil. Tidak ada sosok Aya di sana. Ada beberapa mobil yang lewat untuk keluar  dan beberapa orang hilir mudik.

"Aku ke sana kamu ke sana," Jarwo membagi  area pencarian.

“Shittt,” ump4t Adit. 

1
Siti Nur Rohmah
Anji sengklek,,tmbh rama pasti ruame🤣🤣
Kas Mi
yg ngebet malah si anji🤭😄
Nur Wakidah
kan kan mesti Bang Anji seneng poll klo masalah rusuh2 gegeran gini🤣🤣🤣 malah disoraki , 🤭🤭🤭
lhah2 langsung ijab Sah Pak Dudeeee😂😂😂
Elvia Rusdi
mau nya s duda ituu pak wiraa....
stnk
kompooooorrrr...😄😄😄😄
Shee_👚
nah kan cutinya jadi sekalian cuti nikah plus honeymoon 🤭🤭
Shee_👚
masih aja narsis🤣🤣🤣
tapi bagus juga harus sombong di depan orang sombong 🤭
Shee_👚
bodo amat, sudi amat ngelayani lagi egois begitu. buang aja bu diah ganti sama yang baru
Shee_👚
semoga aja sah hari ini juga ya, biar label duda di ganti sama label suami🤭
stnk
janji ndasmu....
Shee_👚
cie si vampire bisa gombal juga🤣🤣🤣
Shee_👚
bener greget ya nji, hajar aja nunggu Edward mah kelamaan 😂
stnk
🤣🤣🤣🤣...tullll..
Shee_👚
lah terbaik kali, situ yang gak pantes buat aya🤪
Shee_👚
anji bukannya sibuk bantuin ini sibuk mendokumentasikan, tar habis ini di share di group terkutuk🤣🤣🤣
Shee_👚
bawa pak, yang jauh sekalian biar bebas dunia ini dari sampah😂
Shee_👚
pria sejati g mungkin melakukan hal tercela dengan menggunakan trik murahan😤
Shee_👚
hajat🤣🤣🤣🤣
duh dah kaya mau demo aja🤭
Shee_👚
si wiro emang sableng, anak Ko mau di nikahin sama pria baji ngan😤
Shee_👚
bahaya kalau Gita ikutan juga, yang ada itu group berubah namanya jadi istri terkutuk 🤣🤣🤣✌️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!