Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kidung Rahasia di Kadilangu
Arjuna Wijaya melangkah memasuki gapura kayu jati di wilayah Kadilangu, Demak. Suasana di sini terasa sangat tenang, namun penuh dengan energi spiritual yang sangat halus, sehalus serat kain hijau yang kini melingkar di kepala Arjuna.
.
"Assalamualaikum ya Kanjeng Sunan Kalijaga... kulo sowan mriki, nyuwun pitedah kersane saget dadi menungso sing mupangati," bisik Arjuna dengan suara yang sangat rendah.
(Assalamualaikum wahai Kanjeng Sunan Kalijaga... saya berkunjung ke sini, mohon petunjuk supaya bisa jadi manusia yang bermanfaat.)
.
Langkah kaki Arjuna tidak menimbulkan suara sedikit pun, seolah-olah ia sedang berjalan di atas hamparan kapas. Saat ia mendekati area inti makam, ia melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk sambil memainkan sebuah seruling bambu tua. Anehnya, meskipun pria itu meniup seruling, tidak ada suara musik yang keluar, melainkan hanya hembusan angin yang membawa aroma bunga melati.
.
Arjuna berhenti dan duduk bersila di depan pria tersebut dengan adab yang sangat takzim. Ia menyadari bahwa di tanah para wali, keanehan adalah sebuah bahasa rahasia.
.
"Sing kok goleki iku dudu suoro, Arjuna. Sing kok goleki iku sejatine meneng," ucap pria itu sambil meletakkan serulingnya dan menatap tajam ke arah mata Arjuna.
(Yang kamu cari itu bukan suara, Arjuna. Yang kamu cari itu sejatinya adalah diam.)
.
Arjuna menunduk. "Ngapunten Mbah, nopo niku tegese kulo kedah mendel?" tanya Arjuna dengan penuh ketulusan.
(Mohon maaf Mbah, apakah itu artinya saya harus diam?)
.
Pria itu tersenyum tipis. "Mendel lambemu, nanging atimu mulyo. Ojo kakehan pamer karomah sing wis kok tampani ing Tuban. Karomah iku mung bungkus, isine iku asma Allah sing manggon ing jero dadamu."
(Diam lisanmu, tapi hatimu mulia. Jangan terlalu banyak pamer karomah yang sudah kamu terima di Tuban. Karomah itu cuma bungkus, isinya itu nama Allah yang tinggal di dalam dadamu.)
.
Seketika, Arjuna merasa seperti disambar petir batin. Ia menyadari bahwa dalam perjalanannya dari Tuban, ada sedikit rasa bangga yang muncul saat ia menolong petani dan menyembuhkan orang kesurupan. Ia langsung bersujud syukur atas teguran tersebut.
.
"Matur nuwun, Gusti... sampun dipun elingke saking jurang sombong," gumam Arjuna di atas ubin kayu makam.
(Terima kasih, Tuhan... sudah diingatkan dari jurang kesombongan.)
.
Saat ia bangun dari sujudnya, pria berseruling itu sudah menghilang. Di tempat pria itu duduk tadi, tertinggal sebuah cermin kecil yang terbuat dari perunggu tua. Saat Arjuna bercermin, ia tidak melihat wajahnya sendiri, melainkan ia melihat pemandangan Pondok Al-Hikam yang penuh dengan santri yang sedang mendoakannya.
.
Arjuna menyadari bahwa perjalanannya kini sudah hampir mencapai titik puncak. Ia harus segera bersiap untuk kembali ke dunia nyata, membawa semua ilmu dan karomah ini untuk menyelamatkan warisan Romo Wijaya dengan cara yang diridhoi Tuhan.
.
Macan putih itu terlihat merunduk di balik bayangan gapura, menjaga sang calon wali yang sedang menyerap ilmu "diam" di Kadilangu.
Arjuna Wijaya masih menggenggam cermin perunggu tua itu dengan tangan yang gemetar. Di dalam pantulan cermin, ia melihat wajah aslinya yang dulu—seorang pemuda sombong yang hanya mengandalkan harta ayahnya. Namun perlahan, bayangan itu pudar dan berganti dengan sosok Arjuna yang sekarang; berdebu, lelah, namun matanya memancarkan kedamaian yang tak ternilai harganya.
.
"Sejatine musuh sing paling abot iku dudu setan ing njaba, nanging awake dhewe sing ngrasa wis dadi wong pinter," gumam Arjuna sambil memasukkan cermin itu ke dalam tas bututnya.
(Sejatinya musuh yang paling berat itu bukan setan di luar, tapi diri sendiri yang merasa sudah jadi orang pintar.)
.
Saat ia melangkah menuju serambi makam, Arjuna melihat seorang anak kecil yang sedang menangis tersedu-sedu di dekat kolam wudhu. Anak itu kehilangan uang sakunya yang hanya beberapa keping perak untuk membeli obat ibunya yang sedang sakit keras di rumah.
.
Arjuna mendekat, hatinya yang sudah tersentuh ilmu "diam" Sunan Kalijaga merasa sangat iba. Ia merogoh saku bajunya, namun ia ingat bahwa ia sendiri tidak membawa uang sepeser pun sejak meninggalkan Sidoarjo.
.
"Nang, ojo nangis. Gusti Allah iku Sugih, Gusti Allah iku Welas," ucap Arjuna sambil mengusap kepala anak tersebut.
(Nak, jangan menangis. Allah itu Kaya, Allah itu Pengasih.)
.
Arjuna kemudian mengambil sebuah batu kerikil biasa dari bawah kakinya. Ia menggenggam batu itu erat-erat sambil membacakan Sholawat Nariyah dan sedikit doa dari kitab Al-Hikam. Ia teringat pesan pria berseruling tadi: karomah bukan untuk pamer, tapi untuk menolong sesama.
.
Seketika, saat Arjuna membuka telapak tangannya, batu kerikil itu berubah menjadi kepingan emas murni yang sangat berkilau. Cahayanya begitu tenang, tidak menyilaukan mata namun menghangatkan hati.
.
"Iki gowoen bali, Nang. Dolen kanggo tuku obat ibumu. Nanging elingo, ojo cerito karo sopo-sopo yen kowe nemu emas iki soko wong gembel koyo aku," bisik Arjuna sambil memberikan emas itu ke tangan anak yang gemetar ketakutan sekaligus bahagia.
(Ini bawalah pulang, Nak. Juallah untuk beli obat ibumu. Tapi ingat, jangan cerita pada siapa pun kalau kamu dapat emas ini dari orang gembel sepertiku.)
.
Anak itu langsung bersujud syukur dan hendak mencium kaki Arjuna, namun Arjuna dengan cepat menghilang di balik pilar masjid yang besar. Ia tidak ingin pujian, ia hanya ingin hatinya tetap bersih dari rasa "aku".
.
Di dimensi gaib, macan putih itu mengaum pelan, seolah memberikan apresiasi atas kebijakan tuanya yang kini sudah mulai mengerti hakikat memberi tanpa harus terlihat. Macan itu kini tidak lagi nampak menyeramkan, melainkan nampak bersinar seperti perak yang suci.
.
Tiba-tiba, langit Kadilangu yang tadi tenang berubah menjadi mendung pekat. Petir menyambar-nyambar di atas kubah makam, namun anehnya tidak ada suara guntur yang terdengar. Ini adalah isyarat bahwa ujian terakhir dari tanah Demak akan segera datang menguji keteguhan batin sang pewaris Al-Hikam.
.
"Kulo sampun siap, Gusti. Menawi niki dalane, kulo pasrah," tegas Arjuna sambil menatap langit yang mulai bergejolak.
(Saya sudah siap, Tuhan. Jika ini jalannya, saya pasrah.)
.
.Langit di atas Kadilangu semakin menghitam, namun anehnya tidak ada setetes pun air hujan yang jatuh. Angin kencang mulai bertiup, membawa debu dan daun-daun kering yang berputar mengelilingi tubuh Arjuna Wijaya. Di tengah pusaran angin itu, tiba-tiba muncul sosok bayangan yang sangat mirip dengan dirinya sendiri saat masih menjadi pengusaha angkuh di Jakarta.
.
"Arjuna... deloken awakmu saiki. Gembel, kucel, ora duwe dhuwit, lan mung mlaku rono-rene koyo wong edan," ejek bayangan hitam itu dengan suara yang sangat menyakitkan hati.
(Arjuna... lihat dirimu sekarang. Gembel, kusam, tidak punya uang, dan hanya jalan ke sana kemari seperti orang gila.)
.
Arjuna tetap duduk bersila, memejamkan mata dan terus memutar tasbih kayu cendananya. Ia tidak membalas ucapan itu dengan lisan, ia hanya fokus pada dzikir sirri di dalam jantungnya. "Allah... Allah... Allah..."
.
"Kowe iso dadi sugih maneh, Arjuna. Kowe iso dadi bos maneh yen kowe gelem ninggalake dalan wali iki. Baliyo menyang Sidoarjo, jupuk kabeh bandamu!" bisik bayangan itu tepat di telinganya, mencoba membangkitkan nafsu keserakahan yang dulu sangat kuat.
(Kamu bisa jadi kaya lagi, Arjuna. Kamu bisa jadi bos lagi kalau kamu mau meninggalkan jalan wali ini. Kembalilah ke Sidoarjo, ambil semua hartamu!)
.
Arjuna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang. "Bondo dunya iku mung titipan sing bakal dadi ampas. Sing tak goleki iku ridhone Gusti, dudu mulyone menungso," jawab Arjuna dengan suara yang sangat mantap.
(Harta dunia itu hanya titipan yang akan jadi ampas. Yang saya cari itu ridhonya Tuhan, bukan kemuliaan manusia.)
.
Seketika, bayangan hitam itu menjerit dan hancur berkeping-keping menjadi asap yang tertiup angin. Begitu bayangan itu hilang, langit Kadilangu kembali menjadi cerah dengan bulan purnama yang bersinar sangat terang. Sebuah cahaya hijau turun dari langit dan masuk ke dalam saku baju Arjuna, menyatu dengan butiran mutiara yang ia dapatkan di Sunan Giri.
.
Arjuna membuka matanya. Di hadapannya kini berdiri macan putih pelindungnya yang sedang merunduk sangat rendah. Macan itu tidak lagi nampak buas, melainkan nampak sangat tenang dan bercahaya, tanda bahwa nafsu di dalam diri Arjuna sudah berhasil ditaklukkan.
.
"Matur nuwun, Gusti... sampun maringi pepadhang ing dalan peteng," ucap Arjuna sambil bersujud lama di atas tanah Kadilangu.
(Terima kasih, Tuhan... sudah memberi penerang di jalan gelap.)
.
Tiba-tiba, seorang santri tua mendekati Arjuna dan memberikan sebuah surat yang sudah menguning. "Gus Arjuna, niki wonten titipan saking Mbah Kyai Ahmad Mustofa. Panjenengan dipun utus kundur dumateng Sidoarjo saiki," ucap santri itu dengan sangat sopan.
(Gus Arjuna, ini ada titipan dari Mbah Kyai Ahmad Mustofa. Anda diutus pulang ke Sidoarjo sekarang.)
.
Arjuna menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia tahu, perjalanan rihlahnya di tanah para wali sudah cukup untuk sementara ini. Kini saatnya ia menghadapi dunia nyata, menghadapi para musuh yang mencoba menghancurkan Pondok Al-Hikam dengan senjata spiritual yang baru saja ia dapatkan.
.
"Bismillah... kulo pamit, Mbah Sunan. Mugi barokah niki mboten nate pedot," gumam Arjuna sambil melangkah keluar dari gerbang Kadilangu menuju jalan raya utama, siap untuk kembali sebagai Sang Penjaga Sarung yang sesungguhnya.
(Bismillah... saya pamit, Mbah Sunan. Semoga berkah ini tidak pernah putus.)
.