NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bersihkan tubuh

Rex, yang baru saja berhasil melumpuhkan semua musuhnya, tertegun mendapati seorang wanita tak dikenal berusaha melarikan diri dengan mobilnya. Debu beterbangan di sekitar mobilnya yang terparkir miring, menambah kesan panik.

"Sial!" umpat Rex geram, merasakan amarahnya mendidih. Tanpa pikir panjang, ia berlari secepat kilat menuju mobilnya, jantungnya berdebar kencang. Aroma mesiu masih tercium di udara, bercampur dengan bau karet ban yang terbakar.

Ia melihat wanita itu sudah berada di dalam mobil, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat berusaha keras menyalakan mesin yang tampak susah untuk menyala. Suara mesin yang tersendat-sendat semakin membuat Rex geram. Ia bisa merasakan adrenalin memompa dalam dirinya.

Dengan emosi yang meluap-luap, Rex mengepalkan tangan kanannya. Otot-ototnya menegang saat ia menghantamkan tinjunya ke kaca mobil. Kaca itu retak dengan suara keras, seperti jeritan yang memekakkan telinga. Ia harus menghentikan wanita itu sebelum ia lolos, sebelum semua yang telah ia capai hancur berantakan.

PYARR! Kaca mobil itu pecah berkeping-keping, suara pecahan kaca menggema di keheningan malam. Tanpa ragu, Rex membuka pintu mobil, mencoba meraih wanita itu sebelum ia bisa melarikan diri.

Namun, wanita itu bergerak lebih cepat dari yang ia duga. Ia melompat keluar dari mobil, kakinya menginjak tanah dengan kasar, dan berlari sekuat tenaga menuju hutan yang gelap dan lebat di belakang rumah.

Bayangan pepohonan menelan sosoknya, namun Rex tidak tinggal diam. Amarahnya membara, ia mengejar wanita itu, tekadnya sekuat baja.

Rex terus mengejar wanita itu, yang berlari dengan kecepatan dan keputusasaan yang sama. Ranting-ranting pohon mencambuk wajah mereka, akar-akar menjerat kaki mereka, namun mereka terus berlari. Akhirnya, Rex berhasil meraih lengannya. Sentuhan itu seperti sengatan listrik, menghentikan wanita itu seketika.

"Aaaak... Lepaskan aku! Tidak... tidak!" teriak Maple histeris saat ia tertangkap. Suaranya memecah kesunyian hutan, penuh ketakutan dan keputusasaan.

Ia mencoba memukul dan menendang Rex, tubuhnya bergetar hebat. Rex kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah, tubuhnya menimpa Maple.

Keduanya terbaring di tanah, dedaunan kering menempel di rambut mereka. Mata mereka bertemu, saling bertatapan dengan wajah yang sangat dekat. Jantung mereka berdebar kencang, menciptakan keheningan yang intens di tengah hutan yang sunyi.

Napas mereka yang tidak beraturan saling beradu, hangat dan menggoda. Di bawah sinar bulan yang redup, mereka terperangkap dalam momen yang aneh dan tak terduga.

Rex terdiam sejenak, terpaku pada mata indah wanita yang telah ia culik ini. Mata itu berkilat penuh ketakutan, namun di baliknya, ia melihat keberanian yang membara.

Ada sesuatu yang aneh bergejolak dalam dirinya saat menatap wajah dan mata gadis itu. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah ketertarikan yang tak bisa ia jelaskan.

Maple, dalam keadaan terdesak, mencoba meraba-raba tanah di sekitarnya, mencari apa pun yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya berpacu mencari jalan keluar.

Tangannya menyentuh sebuah batu yang cukup besar, permukaannya kasar dan dingin di telapak tangannya. Tanpa ragu, ia mengangkat batu itu dan mengayunkannya sekuat tenaga, membidik kepala pria yang berada di atasnya.

BUGHH!

"AAAK!" jerit Rex kesakitan. Suara itu menggema di hutan, penuh amarah dan kejutan.

Darah segar mengalir deras dari kepalanya, mewarnai tanah di sekitarnya dengan warna merah yang pekat. Rex memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri akibat pukulan batu dari wanita itu. Pandangannya berkunang-kunang, namun ia berusaha tetap sadar.

Maple memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Rex dan berusaha melarikan diri. Kakinya gemetar saat ia mencoba berdiri, namun ia tidak menyerah. 

Rex yang masih belum sepenuhnya kehilangan kesadaran, dengan sigap menangkap kaki wanita itu. Dengan sekali sentakan, ia menarik kaki Maple dan memukul tengkuk leher wanita itu dengan keras.

Seketika, Maple kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan ke tanah. Tubuhnya terkulai lemas, seperti boneka yang kehilangan tali pengendalinya.

Rex terengah-engah, memegangi kepalanya yang berdarah. Di tengah rasa sakit dan kebingungannya, ia menatap wanita yang terbaring tak berdaya di hadapannya.

*

*

*

*

*

Pagi yang cerah menyapa Maple. Sinar mentari pagi menembus kaca mobil yang berdebu dan menyilaukan wajahnya yang masih terlelap.

Perlahan, Maple membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya. Ia merasakan sakit yang menusuk di tengkuknya dan berusaha mengenali tempat di mana ia berada.

Maple tersentak bangun, jantungnya berdegup kencang. Ia mendapati dirinya berada di dalam mobil yang terasa pengap, tangan kirinya terborgol dan terikat pada pegangan pintu mobil.

"Sial!" umpat Maple frustrasi. Ia mencoba menarik dan melepaskan borgol itu, rantai besi berderit saat ia meronta, namun usahanya sia-sia. Borgol itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat, membuatnya perih.

Telinganya menangkap suara air mengalir, gemericik yang menenangkan di tengah kepanikannya.

Maple menoleh ke arah sumber suara dan menyadari bahwa ia berada di tengah hutan, dekat dengan sungai yang mengalir deras.

Pepohonan menjulang tinggi di sekelilingnya, menciptakan suasana yang sunyi dan mencekam.

Ia mencoba mengamati sekeliling, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan atau seseorang yang bisa menolongnya.

Namun, pandangannya terpaku pada sesosok pria yang sedang membersihkan diri di sungai. Pria itu bertelanjang dada, otot-ototnya terlihat jelas di bawah siraman air sungai yang berkilauan. Maple terkejut menyadari siapa pria itu—Rex, penculiknya.

Maple terpukau oleh pemandangan di hadapannya. Tubuh pria yang menculiknya begitu atletis dan berotot terpapar sinar matahari pagi, memancarkan aura yang begitu seksi dan menggoda.

Air menetes dari rambutnya yang basah, membentuk garis-garis yang indah di tubuhnya. Pikirannya sempat berkelana ke arah yang nakal saat melihat lekuk tubuh pria itu, sebelum ia tersadar akan situasinya yang berbahaya.

Ia mencoba mengamati wajah Rex dengan lebih seksama. Saat ia bergerak mencari posisi yang tepat untuk melihat wajah pria itu dengan jelas, tubuhnya tiba-tiba membeku.

Wajah Rex, menurut Maple, sangat tampan. Matanya tajam dan penuh misteri, alisnya tebal dan tegas, hidungnya mancung sempurna, dan rahangnya kokoh membentuk garis yang menawan. Bibirnya tipis, namun terlihat sensual. Semua itu membuat Maple kehilangan kata-kata, terpesona sekaligus takut.

Rex berjalan mendekat ke arah mobil tempat Maple berada. Terlihat jelas luka di kepalanya, bekas pukulan batu yang ia berikan semalam, mengingatkan Maple akan kejadian semalam. Pria ini adalah orang yang berusaha membunuhnya, dan menculiknya.

Seketika, rasa takut menguasai Maple. Ia kembali berusaha melepaskan borgol di tangannya, meskipun ia tahu itu hampir mustahil.

Pria tampan itu pasti akan membunuhnya sekarang, itulah yang ada di benak Maple. Ia menelan ludah dengan susah payah, mencoba menenangkan diri di tengah kepanikan yang melandanya.

KREEK...

Pintu mobil terbuka, suara engsel berkarat itu memecah kesunyian pagi. Secara refleks, tubuh Maple mencoba menjauh dari Rex, instingnya berteriak untuk menyelamatkan diri.

Pria itu meraih borgol di tangannya dan membukanya dengan cepat. Seketika, Maple berusaha melarikan diri, memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun, namun Rex dengan cepat menangkapnya agar tak bisa kabur. Tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan Maple, menghentikan gerakannya.

"Lepaskan aku! Jangan bunuh aku!" teriak Maple histeris, air mata mulai membasahi pipinya. Ia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Rex, namun pria itu terlalu kuat.

"Tenanglah!" bentak Rex, suaranya menggelegar di hutan, berusaha menenangkan wanita itu. Ia bisa merasakan tubuh Maple bergetar hebat di bawah sentuhannya.

"Jika kau tidak ingin aku bunuh, kau harus mengikuti perintahku," ucap Rex lagi setelah Maple memandangnya dengan tatapan ketakutan dan mulai sedikit tenang.

"Sekarang, bersihkan dirimu. Jangan berpikir kau bisa kabur dariku," ucap Rex dengan tatapan tajam, memperingatkan Maple agar tidak mencoba melarikan diri.

Ia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Maple, namun matanya tetap mengawasinya dengan waspada. "Bersihkan tubuhmu di sekitar sungai ini. Jangan mencoba untuk kabur. Aku akan mengawasimu."

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!