Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Kediaman Leluhur
Episode 4
Gerimis mulai turun membasahi genteng-genteng hitam Kediaman Keluarga Gu, menciptakan suara rintik yang menyamarkan langkah kaki hantu yang sedang melompati atap-atap bangunan. Di bawah sana, koridor-koridor yang dulu terang benderang dengan lampion-lampion emas kini tampak lebih suram. Penjaga-penjaga berseragam baru, dengan lambang Keluarga Mu yang tersemat di dada mereka, mondar-mandir dengan angkuh, seolah-olah mereka adalah pemilik sah dari tempat bersejarah ini.
Gu Sheng berhenti di atas sebuah menara pengintai yang tinggi. Ia berjongkok, menatap ke arah halaman belakang yang terisolasi, wilayah yang dulu adalah tempat tinggal pribadinya, namun kini telah diubah menjadi area terlarang.
Di sana, di tengah halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih hingga ke titik puncak.
Sesosok gadis kecil dengan pakaian pelayan yang robek-robek sedang diikat di sebuah tiang kayu. Rambut peraknya yang indah, yang dulu selalu disisir rapi oleh Gu Sheng, kini tampak kusam dan berlumuran debu. Gadis itu menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat menahan dinginnya hujan dan rasa sakit dari luka cambukan yang terlihat di lengan dan kakinya yang putih.
Itu adalah Qing Er.
Di depan Qing Er, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian mewah berwarna ungu. Pria itu memegang sebuah cambuk kulit yang ujungnya dilapisi duri besi kecil. Dialah Gu Lie, paman jauh Gu Sheng yang dikenal pengecut, namun sekarang tampak begitu berkuasa setelah mengkhianati pemimpin keluarga yang asli.
"Ayo, gadis kecil... jangan keras kepala," suara Gu Lie terdengar serak dan menjijikkan. "Serahkan kunci ruang rahasia pengobatan ayahmu yang lama, atau serahkan energi Yin-mu padaku malam ini. Jika kau menjadi budak tungku-ku, setidaknya kau masih bisa bernapas sedikit lebih lama."
Qing Er mengangkat kepalanya perlahan. Meskipun wajahnya pucat dan penuh dengan lebam, matanya yang berwarna abu-abu jernih tetap memancarkan cahaya keteguhan yang luar biasa.
"Tuan Muda... Tuan Muda Gu Sheng... tidak akan pernah... memaafkanmu..." bisiknya dengan suara serak.
PLAK!
Cambuk Gu Lie menghantam bahu Qing Er, merobek kulitnya dan memercikkan darah segar ke tanah.
"Hahaha! Gu Sheng?!" Gu Lie tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding-dinding sunyi. "Sampah itu sudah lama menjadi kotoran di dasar Tebing Keputusasaan! Bahkan anjing liar pun tidak mau memakan bangkainya yang cacat! Berhentilah bermimpi, Qing Er. Di dunia ini, tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu."
Di atas menara, mata Gu Sheng benar-benar berubah menjadi merah darah yang menyala. Niat membunuh yang begitu pekat mulai memancar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar menara seolah-olah membeku.
“Bantai mereka, bocah...” suara Kaisar Iblis membisikkan kegelapan di telinganya. “Gunakan kemarahanmu sebagai bahan bakar Dantian-mu. Biarkan mereka tahu bahwa iblis yang paling mengerikan adalah dia yang pernah mereka khianati.”
Gu Sheng berdiri tegak. Ia tidak lagi mencoba menyembunyikan kehadirannya. Dengan satu gerakan tangan, ia merobek kain pembungkus Penebas Dosa. Pedang hitam raksasa itu kini terekspos sepenuhnya, memancarkan aura berat yang menekan.
Ia melompat turun dari ketinggian sepuluh meter.
BOOM!
Hantaman tubuh Gu Sheng ke tanah menciptakan gelombang kejut yang dahsyat. Lantai batu di halaman belakang hancur berkeping-keping, debu dan asap membumbung tinggi, menutupi pandangan semua orang di sana.
"Siapa?! Siapa yang berani mengacau di kediaman Keluarga Gu?!" teriak Gu Lie sambil melompat mundur ketakutan, cambuk di tangannya gemetar.
Beberapa penjaga tingkat Qi Refinement awal segera mengepung pusat debu tersebut dengan pedang terhunus. "Keluar, bajingan! Tunjukkan wajahmu!"
Saat debu perlahan menipis, sosok tinggi dengan jubah compang-camping dan pedang raksasa di punggungnya mulai terlihat. Setiap langkah kaki yang diambil sosok itu terdengar seperti detak jantung kematian yang bergema di tanah.
Qing Er, yang tadinya hampir pingsan, tiba-tiba merasakan sebuah getaran yang sangat familiar di dalam jiwanya. Ia mengangkat wajahnya, menatap sosok itu melalui tetesan air hujan yang mengaburkan pandangannya.
"Tuan... Muda...?" bisiknya, hampir tidak percaya.
Gu Sheng berhenti tepat di depan para penjaga. Ia mengangkat kepalanya, membiarkan cahaya lampion yang redup menyinari wajahnya yang dingin.
"Gu Lie," suara Gu Sheng terdengar seperti guntur yang rendah. "Kau bilang... tidak ada yang akan datang menyelamatkannya?"
Gu Lie membelalak. Wajahnya yang semula angkuh kini berubah menjadi seputih kertas. Ia mengenali wajah itu. Ia mengenali tatapan itu. Meskipun ada aura kegelapan yang menyelimutinya, itu tetaplah Gu Sheng.
"Kau... tidak! Tidak mungkin! Kau sudah mati! Dantian-mu hancur! Tulang Dewamu dicuri!" Gu Lie berteriak histeris, langkahnya mundur hingga ia menabrak tiang tempat Qing Er diikat. "Kau pasti hantu! Penjaga! Bunuh hantu ini! Cepat bunuh dia!"
Empat penjaga tingkat Qi Refinement tingkat dua menerjang ke arah Gu Sheng secara bersamaan. Mereka adalah praktisi yang jauh lebih kuat dari penjaga gerbang tadi. Pedang mereka bersinar dengan Qi biru, mengarah ke titik-titik vital Gu Sheng.
Gu Sheng tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengulurkan kedua tangannya ke samping.
Wush!
Gas hitam pekat meledak dari telapak tangannya, membentuk dua tangan bayangan raksasa yang langsung mencengkeram leher dua penjaga terdepan di udara.
"AAAGHHH!"
Jeritan mereka hanya berlangsung sesaat. Di depan mata Gu Lie yang ketakutan, tubuh kedua penjaga itu mulai mengerut secara terlihat. Energi Qi mereka, darah mereka, esensi kehidupan mereka semuanya dihisap habis oleh Gu Sheng dalam sekejap mata.
Dua penjaga lainnya mencoba menebas punggung Gu Sheng, namun pedang mereka hanya mengeluarkan suara ting yang nyaring saat menyentuh kulit Gu Sheng, seolah-olah mereka sedang menebas gunung besi yang tak tergoyahkan.
Gu Sheng berbalik dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata manusia. Ia meraih kepala kedua penjaga itu dan menghantamkan mereka satu sama lain dengan kekuatan yang mampu menghancurkan batu besar.
KRAK!
Batok kepala mereka pecah secara bersamaan. Sebelum mayat mereka menyentuh tanah, Gu Sheng sudah menghisap seluruh energi mereka hingga kering.
Gu Sheng menarik napas dalam. Ia merasakan Dantian Penelan Langit-nya berputar semakin cepat. Energi Qi di dalam tubuhnya mulai melonjak, mendorong kultivasinya ke arah tingkat yang lebih tinggi.
Qi Refinement - Tingkat Kedua.
Hanya dalam beberapa menit sejak ia masuk ke kota, ia sudah naik dua tingkat. Ini adalah perkembangan yang murni didorong oleh pembantaian.
Gu Sheng kini berdiri tepat di depan Gu Lie yang gemetar hebat di bawah guyuran hujan. Bau pesing menyengat keluar dari celana pria paruh baya itu ia benar-benar terkencing karena ketakutan yang murni.
"Gu Sheng... Sheng-er... kita adalah keluarga... aku hanya dipaksa oleh Keluarga Mu..." Gu Lie memohon dengan suara serak, mencoba merangkak maju untuk memeluk kaki Gu Sheng. "Tolong... paman akan membantumu merebut kembali keluarga ini... paman punya informasi..."
Gu Sheng menatap paman jauhnya dengan tatapan jijik yang amat sangat. Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia berjalan melewati Gu Lie menuju Qing Er.
Dengan satu tarikan lembut namun kuat, rantai besi yang mengikat tangan Qing Er hancur menjadi serpihan kecil. Gu Sheng menangkap tubuh gadis itu saat ia jatuh lemas karena tidak lagi memiliki penopang.
"Qing Er, maaf aku terlambat," bisik Gu Sheng. Suaranya yang semula dingin berubah menjadi lembut hanya saat berbicara dengan gadis ini.
Qing Er menatap wajah tuannya, air mata mengalir deras di pipinya yang memar. "Tuan Muda... Anda benar-benar kembali... saya tahu... saya tahu Anda tidak akan meninggalkan Qing Er..."
Gu Sheng melepaskan jubah luarnya yang compang-camping namun masih cukup hangat untuk menyelimuti tubuh kecil Qing Er yang menggigil. Ia mendudukkan gadis itu dengan hati-hati di sebuah kursi batu yang ada di dekat sana.
"Tunggu di sini sebentar. Ada sampah yang harus aku bersihkan terlebih dahulu," ucap Gu Sheng.
Ia berbalik menghadap Gu Lie yang sedang mencoba melarikan diri menuju pintu keluar halaman.
"Melarikan diri?" Gu Sheng mendengus dingin.
Ia meraih gagang Penebas Dosa di punggungnya. Dengan satu gerakan yang terlihat lambat namun penuh dengan berat yang luar biasa, ia mengayunkan pedang raksasa itu ke arah pintu gerbang kayu yang tebal.
BUM!
Pintu gerbang yang terbuat dari kayu ek berlapis besi itu hancur berantakan menjadi debu kayu. Bukan hanya itu, tekanan angin dari ayunan pedang tersebut membuat Gu Lie terlempar kembali ke tengah halaman, jatuh tersungkur di genangan darah para penjaganya.
Gu Sheng berjalan mendekat, pedang Penebas Dosa terseret di tanah, menciptakan suara gesekan logam yang memicu kengerian murni.
"Paman Lie, kau tadi bilang ingin menggunakan energi Yin Qing Er sebagai budak tungku, bukan?" Gu Sheng bertanya sambil mengangkat pedang besarnya, ujung pedang yang tumpul menunjuk tepat ke selangkangan Gu Lie.
"Tidak! Tidak! Aku hanya bercanda! Aku bersumpah!" Gu Lie berteriak histeris, air mata dan hujan bercampur di wajahnya yang lemas.
"Bercanda?" Mata Gu Sheng berkilat merah. "Sayangnya, Dantian-ku tidak suka bercanda. Dia sangat lapar, dan Qi tingkat ketiga milikmu sepertinya cukup enak sebagai makanan penutup malam ini."
"JANGAN...JANGAN BAKA..."
Gu Sheng tidak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia menginjak dada Gu Lie hingga tulang rusuknya retak, lalu menempelkan telapak tangannya ke perut pria itu, tepat di atas Dantian-nya.
SRUUUUUUUUUUUUUT!
Suara hisapan itu terdengar seperti angin puyuh yang mengerikan di tengah malam. Gu Lie mengejang hebat. Matanya membelalak lebar hingga urat-urat matanya pecah. Ia bisa merasakan seluruh esensi kehidupannya ditarik keluar secara paksa melalui lubang hitam di dalam tubuh Gu Sheng.
Penderitaan itu berlangsung selama satu menit penuh Gu Sheng sengaja memperlambat prosesnya agar paman pengkhianat ini merasakan setiap detik kematiannya.
Saat Gu Sheng melepaskan tangannya, yang tersisa dari Gu Lie hanyalah seonggok kulit dan tulang yang kering kerontang. Sosok yang tadinya gemuk dan mewah itu kini tak lebih dari kayu bakar yang membusuk di tengah hujan.
Gu Sheng berdiri tegak, merasakan energi di dalam tubuhnya yang meluap-luap.
Krak!
Sekali lagi, penghalang kultivasinya pecah dengan mudah.
Qi Refinement - Tingkat Ketiga.
Ia menoleh ke arah Qing Er yang menatapnya dengan campuran rasa takut dan kekaguman. Gu Sheng tahu, perubahannya mungkin menakutkan bagi gadis itu, namun ia harus melakukan ini. Di dunia yang kejam ini, hanya iblis yang bisa melindungi apa yang berharga baginya.
"Ayo pergi, Qing Er. Tempat ini sudah terlalu bau," ucap Gu Sheng.
Ia mengangkat tubuh Qing Er dengan gaya menggendong pengantin. Meskipun di punggungnya ada pedang seberat ribuan kuintal, ia menggendong gadis itu seolah-olah ia tidak memiliki beban sama sekali.
Namun, saat ia hendak melompat ke arah atap, sebuah suara dingin yang sangat ia kenali menggema dari arah aula utama kediaman Gu.
"Berhenti di sana, sampah."
Gu Sheng berhenti. Ia menoleh perlahan. Di sana, di bawah payung sutra yang dipegang oleh seorang pelayan, berdiri seorang wanita cantik dengan gaun putih yang suci, namun matanya memancarkan rasa jijik yang tak terhingga.
Mu Ruoxue.
Dan di sampingnya, berdiri Lin Tian yang menatap Gu Sheng dengan senyum sinis yang mematikan.
"Sepertinya keberuntunganmu benar-benar besar, Gu Sheng. Jatuh ke Tebing Keputusasaan tapi tidak mati?" Lin Tian melangkah maju, aura pedangnya mulai memancar. "Tapi sayang, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dengan kembali ke sini. Malam ini, aku akan memastikan bahkan abu tubuhmu pun tidak akan tersisa."
Gu Sheng menatap kedua orang yang paling ia benci di dunia ini. Alih-alih marah, ia justru tersenyum, senyum yang sangat mengerikan yang membuat Mu Ruoxue sedikit bergidik.
"Lin Tian, Ruoxue... Terlalu cepat untuk bertemu dengan kalian," bisik Gu Sheng. "Tapi tidak apa-apa. Karena malam ini, aku akan menunjukkan kepada kalian... apa yang terjadi ketika seekor semut yang kalian injak kembali sebagai Iblis yang akan menelan seluruh langit kalian."
Pertemuan yang menentukan telah terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan. Hujan di Kota Azure semakin deras, seolah-olah ingin membasuh dosa-dosa yang akan segera tumpah di atas tanah Keluarga Gu.