NovelToon NovelToon
FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : DILEMA

Malam semakin larut saat Leonard akhirnya sampai di mansion pribadinya. Pikirannya masih dipenuhi oleh peringatan ibunya dan pesan singkat dari Rachel. Namun, suasana sunyi di dalam rumah entah mengapa membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Biasanya, Elara akan menunggunya di depan pintu dengan pakaian mencolok dan bau parfum yang menyengat, lalu mulai mengoceh tentang harinya.

Tapi malam ini? Sepi.

Leonard melangkah melewati ruang tengah menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti saat melihat lampu ruang olahraga masih menyala. Sayup-sayup terdengar suara napas yang terengah-engah.

Karena didorong rasa penasaran, Leonard melangkah mendekat dan mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Di dalam sana, Elara sedang berada di atas treadmill. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, kaos olahraga yang ia kenakan tampak basah kuyup. Rambutnya diikat asal-asalan, dan wajahnya memerah karena kelelahan. Elara tampak sangat fokus, matanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang belum pernah Leonard lihat sebelumnya sorot mata yang penuh tekad, bukan lagi sorot mata memohon cinta yang membosankan.

Leonard terpaku. Ia memperhatikan garis wajah Elara. Meskipun masih berisi, pipi wanita itu tampak sedikit lebih tirus dibanding seminggu yang lalu.

"Satu menit lagi... ayo, El, jangan menyerah," gumam Elara pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar parau namun tegas.

Leonard tanpa sadar menelan ludah. Ada sesuatu yang aneh berdesir di dadanya. Bukan lagi rasa jijik, melainkan rasa hormat yang muncul secara tidak sadar. Selama ini ia mengira Elara hanya wanita manja yang tidak punya harga diri, tapi melihatnya berjuang sendirian di tengah malam seperti ini mulai mengubah persepsinya.

Tiba-tiba, Elara mematikan mesin treadmill dan membungkuk, memegang lututnya sambil mengatur napas. Saat ia berbalik untuk mengambil handuk, matanya tak sengaja menangkap sosok Leonard yang berdiri di kegelapan pintu.

Elara tersentak. "Tuan? Anda sudah pulang?" tanya Elara. Suaranya datar, tidak ada nada manja atau teriakan histeris seperti biasanya.

Leonard berdeham, berusaha menguasai keadaan. "Ya. Kenapa jam segini belum tidur? Kau bisa mati kelelahan kalau terus seperti ini."

Elara mengelap keringat di lehernya dengan handuk, lalu tersenyum tipis senyuman yang terlihat sangat tulus namun terasa jauh. "Saya hanya ingin memastikan target hari ini tercapai, Tuan. Maaf kalau aktivitas saya mengganggu waktu istirahat Anda."

Setelah mengatakan itu, Elara berjalan melewati Leonard begitu saja untuk kembali ke kamarnya. Bau keringat Elara tidak lagi terasa mengganggu bagi Leonard, justru aroma sabun tipis yang bercampur dengan kerja keras itu terasa... berbeda.

Leonard mematung di depan ruang olahraga. Ia baru menyadari satu hal: Elara bahkan tidak menanyakan mengapa ia pulang terlambat. Ia juga tidak memeriksa ponselnya atau bertanya apakah ia sudah makan.

"Dia benar-benar tidak menggangguku lagi," gumam Leonard pada ruang kosong.

Namun, alih-alih merasa lega seperti yang selalu ia inginkan selama ini, ada perasaan aneh yang mengganjal di hati Leonard. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang selama ini selalu ada, tepat di saat masa lalunya Rachel mencoba kembali masuk ke hidupnya.

Malam itu Leonard tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Elara yang bercucuran keringat dan pesan dari Rachel bergantian muncul di kepalanya. Namun, kelelahan akhirnya membawanya terlelap hingga sinar matahari pagi menembus celah gorden.

Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden ruang makan mansion keluarga Quizel, menciptakan garis-garis emas di atas meja kayu mahoni yang mengkilap. Leonard duduk di kursi kebesarannya, namun suasana hatinya tidak semegah ruangan itu. Di depannya, secangkir double shot espresso masih mengepulkan aroma pahit yang kuat, tapi pikirannya melayang jauh dari rasa kopi tersebut.

Matanya terus-menerus melirik ke arah kursi kosong di ujung meja tempat yang biasanya diisi oleh sosok wanita yang selalu cerewet, selalu ingin tahu, dan terkadang begitu mengganggu ketenangannya. Elara. Biasanya, jam segini wanita itu sudah sibuk memindah-mindahkan makanan ke piringnya atau sekadar mencoba mencuri perhatiannya dengan percakapan yang tidak masuk akal. Namun pagi ini, sunyi yang menyambutnya terasa aneh. Ada bagian dari dirinya yang menolak mengakui bahwa keheningan ini terasa hampa.

Hingga Arkan, asisten setianya, datang dengan berkas di tangan, sosok yang ia tunggu tidak juga muncul.

"Mira..." panggil Leonard dengan suara berat yang menggema di ruangan sunyi itu.

Mira, kepala pelayan yang sedang merapikan pantry, segera menghampiri dengan langkah cepat dan kepala menunduk hormat. "Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"

Leonard terdiam sejenak, genggamannya pada cangkir kopi mengerat. "Kemana Elara?" tanyanya, berusaha terdengar sedatar mungkin, seolah-olah itu hanya pertanyaan administratif biasa.

Mira melirik sekilas ke arah kursi kosong yang biasanya diduduki oleh Nyonya Mudanya. "Nyonya muda ada di taman belakang, Tuan. Beliau sedang berolahraga. Belakangan ini Nyonya sangat konsisten dengan diet dan jadwal latihannya. Bahkan untuk sarapan pun, beliau hanya meminta jus sayuran hijau dan protein rebus yang dimakan di area gym luar," jawab Mira jujur.

Leonard tertegun. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya sebuah kombinasi antara kekesalan karena diabaikan dan rasa penasaran yang memuncak. Dia meletakkan cangkirnya dengan denting yang sedikit keras di atas piring kecilnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berdiri dan melangkah pergi menuju mobil yang sudah disiapkan Arkan. Sepanjang jalan menuju kantor, Leonard hanya menatap keluar jendela, menyadari satu kenyataan yang menyebalkan: ia mulai memperhatikan Elara, dan Elara justru mulai menjauh darinya.

Kekesalan Leonard memuncak saat mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk gedung perusahaan Quizel Group. Di sana, berdiri seorang wanita yang seolah-olah keluar dari masa lalu yang coba ia kubur dalam-dalam. Gaun merah pendek yang memeluk tubuh idealnya dengan sempurna, rambut cokelat yang tertata rapi, dan aura penuh percaya diri.

"Rachel," gumam Leonard. Napasnya tercekat sejenak.

Ia menoleh ke arah Arkan. Tatapan matanya yang tajam dan dingin sudah cukup untuk membuat Arkan mengerti. Arkan adalah orang yang paling tahu betapa berantakannya Leonard saat hubungan mereka berakhir dulu.

"Saya paham, Tuan," ujar Arkan sigap. Ia segera turun dari mobil sebelum Rachel sempat mendekat ke arah pintu penumpang.

Arkan menghalangi langkah wanita itu dengan senyum formal yang sopan namun dingin. "Nona Rachel, benar?"

Rachel terkesiap, langkahnya terhenti. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Arkan dengan dahi berkerut. "Iya, kamu... asistennya Leo, kan? Arkan? Di mana Leo? Kenapa hanya kamu yang turun? Aku tahu dia di dalam mobil itu."

Arkan menarik napas panjang, menyiapkan kebohongan yang paling masuk akal agar bosnya tidak terjebak dalam drama pagi hari. "Mohon maaf, Nona. Tuan muda tidak ke kantor hari ini. Nyonya Besar ibu beliau melarangnya bekerja hari ini dan memintanya berada di rumah utama untuk urusan keluarga yang mendesak."

Wajah cantik Rachel berubah masam. Ia mendengus kesal. "Pantas saja telepon dan pesanku tidak dibalas sama sekali. Keluarga Quizel memang selalu protektif secara berlebihan," keluh Rachel. Tanpa basa-basi atau sekadar menitip pesan yang manis, ia berbalik dan pergi menuju mobil sport-nya dengan langkah angkuh.

Arkan berdiri di sana, menatap kepergian Rachel dengan bingung. Ia bergumam dalam hati, 'Aneh sekali. Bukankah Tuan Muda sangat mencintai mantan kekasihnya ini? Mengapa sekarang dia justru menghindar seperti melihat hantu? Apakah pesona Nyonya Elara yang 'baru' sudah mulai bekerja?'

Arkan kembali ke mobil dan memberikan anggukan kecil pada Leonard. "Wanita itu sudah pergi, Tuan."

Leonard hanya mengangguk singkat, wajahnya tetap kaku. Begitu mobil memasuki area parkir privat, ia berjalan masuk dengan terburu-buru, memastikan tidak ada kemungkinan Rachel berputar balik dan melihatnya.

Sementara itu, di Mansion Quizel, suasana jauh lebih intens meski dalam cara yang berbeda. Elara baru saja menyelesaikan sesi olahraganya yang brutal. Tubuhnya bersimbah peluh, napasnya memburu, namun matanya bersinar terang menatap panel transparan yang hanya bisa dilihatnya.

"Bagus... dalam seminggu aku berhasil turun sepuluh kilo," gumam Elara sambil menyeka keringat di dahinya.

Ia kemudian membuka menu Storage LV (Ruang Penyimpanan). Matanya terbelalak melihat statistik yang tertera di sana. "Dalam seminggu aku naik level lima kali. Setiap kenaikan level, kapasitas ruang ini meningkat seratus kali lipat. Jika ini terus berlanjut, kapasitasnya akan menjadi gila!"

Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin dan futuristik menggema di dalam kepalanya.

[Pemberitahuan Sistem: Jika Tuan Rumah mencapai Level 100, Ruang Penyimpanan akan berevolusi menjadi 'Infinite Space'. Ruang tersebut akan memiliki ekosistem mandiri di mana Tuan Rumah bahkan bisa memasukkan makhluk hidup ke dalamnya.]

Elara tersentak. "Apa? Berarti aku bisa berkebun di dalam? Menanam sayuran organik agar tidak perlu belanja saat kiamat nanti?"

[Benar, Tuan Rumah. Selama mencapai Level 100, Anda bisa memelihara hewan atau menanam apa pun di dalamnya.]

"Lalu... manusia? Bisakah aku menyembunyikan orang di sana jika keadaan darurat?" tanya Elara penuh rasa ingin tahu.

[Manusia selain Anda hanya bisa bertahan selama satu jam di dalam ruang penyimpanan karena perbedaan tekanan oksigen dan energi dimensi. Lebih dari itu, mereka akan pingsan atau mengalami kerusakan sel.]

Elara manggut-manggut. "Satu jam sudah cukup untuk menyelamatkan diri dari kepungan zombie atau penjahat. Baiklah, kiamat masih beberapa bulan lagi. Sambil menurunkan berat badan, aku harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk menyetok kebutuhan logistik."

Ting!

[Tuan Rumah dapat memperoleh dana tambahan dengan menyelesaikan 'Misi Sampingan'.]

"Misi sampingan? Menarik. Apa misinya?"

Ting!

Sebuah jendela misi berwarna merah muda (yang sangat dibenci Elara karena terlihat terlalu manis) muncul di depan matanya.

[Misi Tambahan: Bangun Hubungan Emosional dengan Leonard Quizel. Progres Saat Ini: 20%.]

"Apa?! Hanya dua puluh persen? Kecil sekali! Padahal aku sudah berusaha tidak terlalu menyebalkan belakangan ini!" seru Elara tidak terima.

[Catatan: Setiap kenaikan progres sebesar 10%, Anda akan mendapatkan imbalan tunai sebesar Rp100.000.000 (Seratus Juta Rupiah) yang akan otomatis ditransfer ke rekening pribadi Anda.]

Mata Elara langsung berubah menjadi simbol mata uang. Seratus juta untuk setiap sepuluh persen? Itu modal yang sangat besar untuk membeli beras, gandum, dan obat-obatan! Namun, kegembiraannya terpotong oleh baris kalimat berikutnya.

[Pemberitahuan Tambahan: Karakter 'Rachel' (Mantan Kekasih Leonard) telah kembali. Saat ini Rachel tengah menyusun rencana untuk merebut kembali posisi di samping Leonard. Mohon Tuan Rumah bergerak lebih agresif untuk mengamankan posisi sebagai istri sah agar takdir anda tidak menyimpang ke arah kehancuran.]

"APA!!" Elara berteriak sangat kencang hingga suaranya memantul di dinding kamar yang luas itu.

"Nyonya? Apa Anda terjatuh?" suara Mira terdengar cemas dari balik pintu kamar.

Elara tersentak, ia segera merapikan diri dan berteriak balik, "Enggak! Aku tidak apa-apa Mira! Hanya... hanya kaget tadi lagi nonton film horor, hantunya muncul tiba-tiba!"

"O-oh, baiklah Nyonya. Kalau Anda perlu sesuatu, saya ada di bawah," sahut Mira yang terdengar sedikit bingung namun tidak berani bertanya lebih lanjut.

Elara menghela nafas panjang, ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur king-size. "Sistem, kamu serius? Tugas ini mustahil! Menurut ingatan pemilik tubuh asli ini, Rachel adalah 'Mantan Terindah' Leonard. Dia cantik, langsing, modis, dan punya sejarah panjang dengan Leo. Sedangkan aku? Aku hanya wanita gemuk yang dinikahkan paksa karena hutang budi!"

[Tuan Rumah, mohon jangan putus asa. Sistem akan membantu memberikan notifikasi progres setiap kali ada perubahan perasaan dari target. Ingat, imbalan uang menanti Anda.]

"ITU TIDAK MEMBANTU SAMA SEKALI!" geram Elara frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan. "Rachel kembali... itu artinya takdir ku menjadi istri presedir bakal terancam. Jika aku membiarkan Leo kembali padanya, posisiku di mansion ini terancam, dan aku tidak akan punya tempat berlindung saat kiamat tiba."

Elara memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya berputar cepat. Ia harus mencari cara untuk menarik perhatian Leonard tanpa terlihat menyedihkan. Dengan kondisi tubuhnya yang masih dalam proses transformasi, ia tidak bisa mengandalkan kecantikan fisik semata. Ia harus menggunakan strategi otak, psikologi, dan mungkin... sedikit misteri.

"Leo suka keteraturan, dan dia benci wanita yang mengejarnya terang-terangan. Rachel pasti akan mengejarnya habis-habisan. Kalau begitu..." sebuah seringai tipis muncul di bibir Elara. "Aku akan melakukan kebalikannya. Aku akan menjadi teka-teki yang tidak bisa dia pecahkan."

Elara bangkit dari tempat tidur, menatap dirinya di cermin besar. Lemak di tubuhnya memang masih ada, tapi wajahnya mulai menirus, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan mata yang indah.

"Mari kita lihat, siapa yang akan menang. Si Mantan Terindah, atau Istri yang Tidak Terduga ini."

Bersambung 🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

1
Mingyu gf😘
sekarang leonard bner bner bucin ya🤭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
Ela semangat yok bisa berubah yok. ntar kalo udh proporsional bakal byk cowok ngantri pgn jd bucinmu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Mega Siregar
penasaran, jika jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain, tubuh yara mana ya??
Xlyzy: musnah kah entitas Yara di musnahkan hanya jiwa nya yang di selamatkan sama sistem
total 1 replies
PrettyDuck
setelah ini kalian akan jadi power couple yang melawan akhir zaman /Angry/
PrettyDuck
emang dasar gak pernah puas
PrettyDuck
apa gak makin klepek2 leo ☺️
Three Flowers
baguslah kalo kamu menyadari bahwa apa yang diomongin Elara selalu benar
Three Flowers
padahal Rachel sendiri yang berulah
Three Flowers
serius sudah dikecup? padahal belum maksimal nurunin BB nya🤣
Three Flowers
bonusnya sungguh menggiurkan
Three Flowers
senjata makan tuan ini namanya, Rachel😅
Miu.Nuha
wkwkwk demi kembali menjadi prajurit 🤭 semangat Yara !!!
Miu.Nuha
ini ternyata game toh 😪 ,, syukurlah yara bisa dpt tubuh baru jadi gk mati beneran, hehe...
Filan
elara tinggi berapa sih beratnya cuma 40 doang.
Filan
kalau dulu zombie sekarang mutan.
Rangiku Gin
semangat thorr, sehat selalu yaa 💪🏻😎
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
Rangiku Gin
terlalu cheat langsung ke 15 wkwkw 😂🤭
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
kayak gini benar-benar dokter 🥹🥹
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
jangan percaya, itu omongan buaya saja 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!