NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta di Atas Bara

Matahari baru aja tenggelam, diganti sama lampu-lampu kota yang mulai nyala satu-satu. Di depan cermin kamar belakang, gue lagi sibuk berantem sama dasi kupu-kupu pemberian Nadia semalam. Ternyata, nangkis serangan pembunuh bayaran jauh lebih gampang daripada masang kain kecil ini biar posisinya simetris.

Gue udah rapi. Tuksedo hitam itu pas banget di badan gue, seolah-olah penjahitnya emang udah tau ukuran bahu dan pinggang gue tanpa perlu ngukur langsung. Gue sisir rambut gue ke belakang pake sedikit pomade, ngasih kesan tegas tapi tetep santai. Nggak ada lagi kesan supir kucel yang biasa tidur di jok belakang pas nunggu majikan belanja.

"Arka! Buruan! Udah jam berapa ini?!"

Suara Bu Lastri melengking dari ruang tengah. Gue narik napas panjang, make jam tangan Patek Philippe gue—kali ini gue tutupin dikit pake lengan jas biar nggak terlalu mencolok dari awal—terus gue keluar dari kamar.

Pas gue nyampe di ruang tamu, langkah gue langsung berhenti.

Nadia berdiri di sana. Dia pake gaun panjang warna emerald green yang bahunya terbuka sedikit. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarin jatuh di sisi wajahnya. Dia kelihatan... luar biasa. Bukan cuma cantik, tapi punya aura berkelas yang bikin siapa pun bakal ngerasa nggak pantes berdiri di deket dia.

"Lama banget sih kamu Ka! Tuh liat, Nadia udah nungguin dari tadi!" Bu Lastri ngomel sambil sibuk benerin perhiasannya yang saking banyaknya malah bikin dia kelihatan kayak toko emas berjalan. "Tapi... ya ampun, Arka itu beneran kamu?"

Ibu mertua gue itu sampe nurunin kacamatanya. Dia merhatiin gue dari ujung kaki sampe ujung kepala. "Jasnya... kelihatan mahal ya. Untung Nadia pinter milihnya. Jangan sampe kamu bikin malu keluarga Atmaja ya, inget itu!"

Gue cuma manggut. "Iya, Bu."

Nadia natap gue tanpa kedip selama beberapa detik. Gue bisa liat ada kilatan kagum di matanya, tapi dia cepet-cepet buang muka pas sadar gue balik merhatiin dia. "Ayo jalan. Kakek paling benci kalau ada yang telat datang ke pestanya."

Kami masuk ke mobil. Kali ini, Nadia nggak duduk di belakang. Dia duduk di kursi penumpang samping gue. Bu Lastri di belakang, terus-terusan ngoceh soal siapa aja kolega kaya yang bakal dateng nanti.

Suasana di depan kerasa sunyi, tapi tipis-tipis ada aroma parfum Nadia yang memenuhi kabin mobil. Aroma melati yang lembut, bikin pikiran gue yang tadinya fokus ke rencana Baron, mendadak jadi agak buyar.

"Kamu gugup?" Nadia nanya tiba-tiba pas gue lagi fokus nyetir.

Gue ketawa kecil, mata tetep ke jalan. "Gugup kenapa Nad? Takut sendoknya salah pas makan atau takut dihina keluarga kamu?"

"Dua-duanya," jawab Nadia jujur. Suaranya rendah, hampir ketutup suara AC mobil. "Keluarga besarku itu... mereka kejam kalau soal kata-kata. Terutama Siska dan ayahnya, Paman Bram. Mereka pasti bakal nyerang kamu habis-habisan biar aku kelihatan gagal."

Gue mindahin gigi mobil dengan santai. "Tenang aja. Selama setahun ini, saya udah denger semua jenis hinaan. Kuping saya udah kebal. Yang penting kamu fokus aja sama apa yang mau kamu sampein ke Kakek nanti."

"Masalahnya, Arka... Kakek punya rencana lain malam ini. Aku baru dapet kabar kalau dia beneran mau ngumumin perjodohanku sama Reno di depan semua orang. Dia bakal anggap pernikahan kita itu cuma kesepakatan sementara yang udah berakhir."

Gue diem sebentar. Berita dari Baron ternyata bener. Kakek Wijaya beneran mau main kotor demi nyelamatin asetnya yang mulai goyang.

"Kalau dia ngomong gitu, kamu bakal gimana?" tanya gue balik.

Nadia nengok ke arah gue, tatapannya tajam sekaligus rapuh. "Aku nggak tau. Tapi aku nggak mau sama Reno. Dia itu ular."

Gue genggam setir lebih kuat. "Kalau gitu, jangan takut. Selama saya ada di samping kamu malam ini, nggak ada satu orang pun yang bisa maksa kamu tanda tangan apa pun, atau setuju sama omongan siapa pun. Termasuk Kakek kamu."

Nadia mau ngomong sesuatu, tapi suaranya ketutup sama teriakan Bu Lastri dari belakang. "Woy, Arka! Itu hotelnya udah kelihatan! Pelan-pelan nyetirnya, jangan sampe mobilnya lecet!"

Gue liat ke depan. Hotel bintang lima paling megah di pusat kota udah berdiri gagah dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan. Karpet merah udah digelar dari pintu masuk sampe ke lobi utama. Di sana, puluhan wartawan bisnis dan kolega kelas atas sudah mulai berdatangan.

Ini dia medannya.

Gue parkirin mobil tepat di depan pintu masuk. Petugas valet langsung lari nyamperin, tapi gue kasih kode buat dia nunggu sebentar. Gue turun duluan, muterin mobil, terus bukain pintu buat Nadia.

Gue ulurin tangan gue ke dia. "Siap, Ratu?"

Nadia sempet ragu sebentar, tapi akhirnya dia naruh tangannya di atas telapak tangan gue. Genggamannya kenceng banget, tanda kalau dia beneran lagi cemas.

"Jangan lepasin tanganku ya, Ka," bisiknya hampir nggak kedengeran.

"Nggak akan," jawab gue mantap.

Bu Lastri turun dengan gaya yang sangat amat lebay, nyapa sana-sini seolah dia yang punya acara. Tapi perhatian orang-orang justru tertuju ke gue dan Nadia. Suara jepretan kamera mulai kedengeran.

Kami mulai jalan masuk melewati karpet merah itu. Gue bisa ngerasain tatapan mata orang-orang di sekitar. Ada yang bingung, ada yang meremehkan, tapi ada juga yang mulai bisik-bisik: "Siapa cowok yang bareng Nadia itu? Kok auranya beda banget?"

Pas kami nyampe di pintu ballroom, gue liat sesosok pria tua berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh Paman Bram dan Siska. Itu Kakek Wijaya. Dia natap kami dengan pandangan dingin yang seolah-olah mau menelanjangi semua kebohongan gue.

Di sampingnya, Reno udah berdiri pake jas putih, senyumnya bener-bener minta ditonjok.

Gue bisikin Nadia tepat di kupingnya. "Tegakin punggung kamu, Nad. Biar mereka tau kalau singa nggak akan tunduk sama hyena."

Nadia keliatan narik napas dalem banget, dia negakin badannya, dan kami pun masuk ke pusat keramaian.

Begitu kaki gue dan Nadia menginjak lantai ballroom, hawa dingin dari AC hotel mendadak berasa kayak es yang nusuk tulang. Bukan karena suhunya, tapi karena tatapan ratusan pasang mata yang langsung tertuju ke arah kami. Suara denting gelas kristal dan obrolan kelas atas mendadak pelan, diganti sama bisik-bisik yang tajam.

Gue tetep jalan santai, tapi tangan Nadia di lengan gue makin kenceng nyengkeramnya. Dia gemeteran.

"Oh, liat siapa yang datang!" Suara melengking Siska langsung menyambar. Dia jalan nyamperin kami bareng Paman Bram. Siska pake gaun putih emas yang sangat mencolok, tapi mukanya penuh hinaan. "Nadia, gue kira lo bakal dateng sama pengusaha sukses. Ternyata masih betah bawa pajangan ini ke acara Kakek?"

Paman Bram ketawa ngeremehin, sambil benerin dasinya. "Siska, jangan gitu. Mungkin Nadia sayang sama seragam supirnya, makanya dipakein jas mahal biar nggak kelihatan terlalu gembel."

Gue cuma senyum lempeng. "Selamat malam, Pak Bram. Siska. Jasnya bagus ya? Tapi sayang, bau mulutnya nggak ketutup sama parfum mahal."

Muka Siska langsung merah padam. Pas dia baru mau bales ucapan gue Kakek Wijaya jalan mendekat. Suasana langsung hening total. Kakek Wijaya itu pendek, tapi auranya kayak batu karang, keras dan nggak punya ampun.

"Nadia," suara Kakek berat. "Bawa dia ke pojok sana. Aku nggak mau tamu-tamu pentingku terganggu karena ada elemen asing di tengah ruangan."

Nadia mau protes. "Tapi Kek, Arka itu suami aku—"

"Tadi aku bilang apa?" Kakek motong omongan Nadia pake nada dingin yang nggak bisa dibantah. "Bawa. Dia. Ke. Pojok."

Nadia natap gue dengan mata yang minta maaf banget.

Prok prok prok

Gue tepuk tangannya pelan, terus gue jalan menjauh, memisahkan diri ke area pojok yang agak gelap di deket bar. Nadia terpaksa ditarik sama Bu Lastri buat nyapa kolega-kolega besar di tengah ruangan.

Gue sendirian. Ini saatnya gue ngecek keadaan.

Gue raba jam tangan gue, niatnya mau kasih kode ke Baron buat standby di lobi. Tapi pas gue cek layar kecil di jam tangan gue...

KOSONG.

Nggak ada sinyal. Jammed.

Gue ngerutin dahi. Gue coba buka HP rahasia gue di saku jas. Sama sekali nggak ada layanan. Di hotel bintang lima kayak gini, mustahil sinyal hilang total kecuali ada alat jammer tingkat militer yang dipasang di ruangan ini.

Gila, ada yang main lebih rapi dari gue, pikir gue.

Gue coba kirim pesan singkat ke Baron: Baron, masuk sekarang. Situasi nggak beres.

Statusnya: Failed.

Gue mulai ngerasa ada yang nggak beres. Baron itu nggak pernah telat, apalagi nggak ada kabar. Kalau dia hilang kontak, artinya ada dua kemungkinan: dia disergap, atau ada kekuatan yang jauh lebih gede dari sekadar keluarga Atmaja yang lagi main di balik layar malam ini.

Pas gue lagi fokus sama HP, tiba-tiba empat orang pria berbadan tegap pake baju safari item ngepung gue di pojokan itu. Mereka nggak pake seragam hotel.

"Tuan Arka," salah satu dari mereka ngomong dengan nada rendah. "Ikut kami ke belakang sekarang. Jangan bikin keributan kalau nggak mau Nyonya Nadia malu di depan semua orang."

Gue liat ke arah tengah ruangan. Reno lagi berdiri di samping Nadia, dia megang gelas sampanye sambil senyum kemenangan ke arah gue. Dia tahu sinyal gue mati. Dia tahu gue lagi dipojokin.

"Siapa yang nyuruh?" tanya gue tenang, meski di dalem hati gue mulai mikirin cara buat lolos tanpa ngerusak pesta.

"Nggak perlu tau. Jalan sekarang." Salah satu dari mereka mulai megang lengan gue, tangan satunya lagi megang sesuatu di balik jasnya, kemungkinan pistol atau alat kejut listrik.

Gue liat ke arah panggung utama. Kakek Wijaya udah megang mikrofon. Dia udah siap buat ngumumin sesuatu yang bakal ngerusak hidup Nadia selamanya. Sementara itu, bantuan gue, si Baron, masih hilang ditelan bumi. Sertifikat kepemilikan gedung, bukti-bukti kecurangan Reno, semuanya ada di tangan Baron.

Tanpa Baron, gue cuma supir yang nggak punya bukti apa-apa buat ngelawan kata-kata Kakek Wijaya.

"Arka!" Nadia nengok ke arah gue dari kejauhan. Dia liat gue dikepung. Matanya penuh ketakutan.

Gue baru aja mau gerak buat ngehajar empat orang ini, pas tiba-tiba pintu ballroom ditutup rapat dan dikunci dari dalem oleh orang-orang Reno.

"Maaf, Tuan Muda Arka," bisik pria di depan gue. "Malam ini, Naga nggak akan bisa terbang."

Gue kejepit. Tanpa sinyal, tanpa Baron, dan di tengah ratusan musuh. Gue narik napas panjang, ngerasain energi di tangan gue mulai panas. Kalau emang gue harus ngebongkar identitas gue dengan cara berdarah-darah di sini, gue bakal lakuin.

"Oke," gue bisik balik ke pria itu. "Tadinya gue mau main halus. Tapi karena kalian udah nutup pintunya... artinya nggak akan ada saksi mata yang bisa lari kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!