Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 4: "Perangkap Manis di Meja Makan"
Shania berdiri di depan cermin besar di kamar mereka, mematut dirinya dengan abaya hitam yang tadi ia benci. Namun, kali ini ia sengaja memoleskan lip tint merah ceri yang tipis namun segar di bibirnya, dan menyemprotkan parfum vanilla musk favoritnya di titik-titik nadi. Jika ia harus memakai cadar nanti, setidaknya aroma tubuhnya harus bisa meruntuhkan konsentrasi pria kaku itu.
"Sudah siap?" suara bariton Zain terdengar dari ambang pintu.
Shania berbalik, memberikan senyum paling manis—yang tentu saja palsu—kepada suaminya.
"Sudah, Mas Zain sayang. Ayo, aku udah laper banget nih."
Zain sempat tertegun sejenak mendengar panggilan "sayang" yang keluar dari bibir Shania. Matanya menyipit, menatap Shania dengan selidik. Ia tahu ini adalah bagian dari "permainan" satu bulan yang mereka sepakati.
"Pakai cadarmu. Kita akan melewati koridor asrama putra untuk sampai ke kediaman utama," ujar Zain sembari menyodorkan kain hitam itu.
Shania menurut tanpa membantah.
'Sabar, Shania. Anggap saja ini kostum drama,' batinnya.
Saat berjalan menuju rumah utama (ndalem), Shania sengaja berjalan sangat dekat di samping Zain. Sesekali lengan mereka bersentuhan. Ia bisa merasakan otot lengan Zain menegang setiap kali kulit mereka yang terhalang kain itu bergesekan.
"Mas, nanti di depan Umi sama Abah, kita harus kelihatan mesra ya? Biar mereka nggak curiga kalau kita sebenernya musuh bebuyutan," bisik Shania pelan, jemarinya sengaja menyentuh pergelangan tangan Zain yang sedang memegang tas kitab.
Zain menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk ndalem. Ia menoleh ke arah Shania, matanya yang tajam menatap langsung ke netra cokelat Shania yang berkilat nakal di balik cadar.
"Jangan bermain api, Shania. Kamu mungkin ahli dalam menggoda pria di duniamu yang dulu, tapi di sini, kamu sedang berhadapan dengan pria yang terbiasa menjaga pandangan. Jika kamu terlalu dekat, jangan salahkan saya jika saya lupa pada janji 'tidak menyentuh' itu," ucap Zain dengan nada rendah yang sangat mengintimidasi sekaligus maskulin.
Shania menelan ludah. Gertakan Zain barusan terdengar lebih seperti tantangan daripada peringatan.
Di ruang makan, Umi Zainab dan Kiai Abdullah sudah menunggu. Meja jati panjang itu penuh dengan hidangan desa yang menggugah selera: ayam kampung goreng lengkuas, sayur lodeh, sambal terasi, dan lalapan segar.
"Ayo duduk, Nak Shania, Zain. Mari kita nikmati rezeki Allah siang ini," ajak Kiai Abdullah ramah.
Shania duduk di sebelah Zain. Saat hendak mengambil nasi, Shania sengaja "kesulitan" menjangkau piring ayam yang agak jauh.
"Aduh, jauh banget," keluh Shania dengan suara yang sengaja dibuat manja.
Sebelum ia sempat bergerak, Zain sudah lebih dulu mengambilkan sepotong paha ayam dan meletakkannya di piring Shania.
"Makan yang banyak. Belajar kitab kuning butuh banyak energi," ujar Zain datar.
"Makasih ya, Mas. Mas baik banget deh," balas Shania.
Di bawah meja, kaki Shania yang mengenakan kaus kaki tipis sengaja menyentuh kaki Zain.
Zain hampir saja menjatuhkan sendoknya. Ia berdehem keras, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya di depan orang tuanya. Umi Zainab tersenyum melihat interaksi mereka, mengira itu adalah tanda kemesraan pengantin baru.
"Zain, besok ada undangan walimah dari Kiai Mansur di Jombang. Umi harap kamu bisa membawa Shania. Ini kesempatan bagus untuk memperkenalkannya pada keluarga besar pesantren lain," kata Umi Zainab.
"Tentu, Umi. Insya Allah kami akan berangkat," jawab Zain.
"Tapi Umi..." Shania memotong pelan. "Shania, belum punya baju yang... pantas untuk acara seperti itu. Semua baju Shania kan... yah, Umi tahu sendiri."
Umi Zainab tertawa kecil.
"Jangan khawatir, Nak. Sore ini Zain akan membawamu ke butik busana muslimah milik kerabat kita di kota. Belilah apa pun yang kamu suka, asalkan menutup aurat dengan sempurna."
Mata Shania berbinar. Keluar pesantren! Ini kesempatanku lagi!
Selesai makan, Shania menawarkan diri untuk membantu Umi mencuci piring—sebuah taktik untuk mengambil hati sang mertua sekaligus membuat Zain terkesan. Namun, saat ia sedang di dapur, Zain masuk untuk mengambil air minum.
"Aktingmu cukup bagus," bisik Zain di telinga Shania saat melewati gadis itu.
Shania memutar bola matanya.
"Siapa yang akting? Aku emang rajin tahu!"
"Benarkah? Lalu kenapa kakimu tadi di bawah meja tidak bisa diam seperti cacing kepanasan?" sindir Zain sembari meneguk airnya.
Shania mendengus, lalu berbalik menghadap Zain dengan tangan basah penuh busa sabun.
"Itu namanya flirting, Pak Ustadz. Gimana? Udah mulai kerasa deg-degan belum?"
Zain meletakkan gelasnya, lalu melangkah maju hingga Shania terpojok ke bak cuci piring. Ia menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Shania.
"Satu hal yang perlu kamu tahu tentang pria seperti saya, Shania," bisik Zain, suaranya bergetar dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Shania berdiri.
"Kami tidak mudah goyah oleh godaan fisik. Kami mencari ketenangan jiwa. Dan selama jiwamu masih penuh dengan tipu daya, hati saya akan tetap terkunci rapat."
Zain mengusap ujung hidung Shania yang terkena sedikit busa sabun dengan ibu jarinya, lalu pergi begitu saja.
Shania mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena menang, tapi karena merasa baru saja kalah telak dalam permainannya sendiri.
Sialan! Dia benar-benar sulit ditembus!
Sore harinya, sesuai janji, Zain membawa Shania ke kota. Perjalanan itu ditempuh dengan mobil selama satu jam. Selama di jalan, Shania mencoba segala cara untuk memancing emosi Zain. Ia menyalakan radio dengan lagu pop yang keras, namun Zain hanya diam dan tetap fokus menyetir.
Sampai di butik, Shania sengaja memilih gaun-gaun yang paling mahal dan mencolok. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah gamis berwarna emerald green yang sangat elegan dengan payet minimalis. Saat ia mencobanya di ruang ganti dan keluar untuk menunjukkannya pada Zain, pria itu terdiam cukup lama.
"Gimana? Jelek ya?" tanya Shania, mendadak merasa tidak percaya diri.
Zain berdiri dari kursi tunggu. Ia berjalan mendekati Shania, merapikan kerudung pasmina yang tersampir longgar di bahu Shania.
"Warna itu... cocok dengan matamu," ujar Zain tulus.
Suaranya tidak lagi dingin, melainkan ada sedikit nada kekaguman yang jujur.
"Beli yang ini saja. Ini jauh lebih anggun daripada gaun-gaun gemerlap tadi."
Shania terpaku. Pujian jujur dari Zain ternyata seribu kali lebih mematikan daripada gombalan pria-pria di klub malam. Wajahnya memanas.
Saat hendak membayar di kasir, Shania melihat sebuah toko handphone di seberang butik. Otaknya kembali berputar.
"Mas, aku mau ke toko seberang bentar ya? Mau beli casing baru," pamit Shania.
"Saya, temani," sahut Zain pendek.
"Ih, cuma sebentar! Mas tunggu sini aja, kan lagi bayar!"
Tanpa menunggu jawaban, Shania berlari keluar. Namun, tujuannya bukan toko handphone. Ia melihat sebuah taksi yang sedang berhenti menurunkan penumpang di pojokan jalan.
Inilah saatnya! Maaf ya Mas Ustadz, aku belum siap jadi penghuni pesantren!
Shania berlari menuju taksi itu. Ia sudah memegang pintu taksi, hendak melompat masuk, ketika sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dan menariknya mundur.
"Mau pergi ke mana lagi, Istriku?"
Zain berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang kini benar-benar dingin dan tajam. Di tangannya, ia memegang kantong belanjaan butik tadi.
"Aku... aku cuma mau..."
"Kamu, baru saja melanggar perjanjian kita, Shania," potong Zain. "Baru hari pertama, dan kamu sudah mencoba kabur dua kali."
Zain menarik tangan Shania menuju mobil dengan langkah lebar. Kali ini, ia tidak lagi lembut. Sampai di dalam mobil, Zain mengunci semua pintu secara otomatis. Ia menatap Shania dengan sorot mata yang membuat Shania merasa kecil.
"Karena kamu tidak bisa memegang janji, maka hukuman pertama dimulai malam ini," ujar Zain dingin.
"Hukuman apa?! Kamu bilang nggak akan pakai kekerasan!" teriak Shania panik.
Zain menyalakan mesin mobil.
"Kekerasan itu murahan, Shania. Hukumanmu adalah: mulai malam ini, kamu akan tidur di kamar yang sama, di kasur yang sama dengan saya. Tidak ada lagi sofa. Dan kamu harus membacakan hafalan satu juz Al-Qur'an di depan saya setiap malam sampai kamu tertidur."
Shania melongo.
"Apa?! Tidur satu kasur? Sama kamu?! Dan baca Qur'an satu juz? Aku bahkan belum lancar baca alif ba ta!"
Zain meliriknya sekilas dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.
"Itulah intinya. Saya akan mengajarimu dari nol, di atas ranjang yang sama. Biar kamu tahu, bahwa setiap kali kamu mencoba lari, kamu justru akan saya tarik semakin dekat ke arah, saya."
Shania menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dengan lemas. Ia berniat membuat Zain jatuh cinta dan bertekuk lutut, tapi entah mengapa, justru dialah yang sekarang merasa terjerat semakin dalam dalam belenggu mahar pria itu.
Bersambung ....
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething