Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesadaran Didalam Kehampaan
Episode 30
Dunia di sekelilingku seolah olah menghilang sepenuhnya saat aku memasuki mode tidur dalam yang disarankan oleh sistem. Aku tidak lagi merasakan dinginnya dinding gua tulang atau guncangan hebat akibat dentuman petir ungu di luar sana. Kesadaranku kini melayang di dalam sebuah ruang hampa yang berwarna hitam pekat namun dipenuhi oleh titik titik cahaya kemerahan yang berdenyut secara ritmis. Ruang ini adalah representasi dari alam bawah sadar aku tempat di mana jiwaku dan energi esensi yang telah ku serap selama ini sedang berupaya untuk menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.
Dug... dug... dug...
Gema detak jantung esensi ku terdengar jauh lebih keras di sini seolah olah suara itu berasal dari seluruh penjuru kegelapan ini. Aku melihat ke arah bawah ke arah wujud spiritual ku yang sekarang masih menyerupai bentuk fisikku di luar sana. Kulit abu abuku yang memiliki kilauan metalik terlihat bercahaya redup memancarkan energi panas yang stabil. Aku menyadari bahwa di dalam mode ini aku bisa melihat proses pembangunan tubuhku dengan jauh lebih detail daripada saat aku sedang terjaga.
[ SISTEM: MEMULAI PROSES OPTIMASI JARINGAN TUBUH DALAM MODE TIDUR ]
[ SISTEM: MEMINDAI KERUSAKAN MIKRO PADA LAPISAN EPIDERMIS METALIK ]
[ SISTEM: TERDETEKSI 12 RIBU TITIK RETAKAN HALUS AKIBAT TEKANAN ANGIN BADAI ]
[ SISTEM: MEMULAI PENYALURAN ESENSI CADANGAN UNTUK PROSES PENGELASAN BIOLOGIS ]
Aku melihat bagaimana ribuan benang merah halus mulai keluar dari pusat dadaku kemudian merambat menuju ke arah punggung dan bahuku. Benang benang ini adalah aliran energi esensi yang bekerja seperti mesin penjahit otomatis. Setiap kali benang itu menyentuh retakan pada kulit metalik ku aku merasakan sensasi hangat yang sangat menenangkan. Ini bukan lagi rasa sakit yang membakar seperti saat aku pertama kali berevolusi di Lembah Abu namun ini adalah proses penyempurnaan yang sangat halus dan terukur.
Luar biasa. Sistem ini seolah olah sedang membentuk ulang diriku dari tingkat sel terkecil. Sebagai seorang pendaki aku sering mengalami cedera otot atau luka lecet di tangan yang butuh waktu berminggu minggu untuk sembuh. Namun di sini luka luka itu bisa diperbaiki hanya dalam hitungan jam selama aku memiliki cukup energi esensi.
Aku membiarkan jiwaku rileks mengikuti aliran energi tersebut. Di tengah kegelapan batin ini ingatan masa laluku kembali muncul ke permukaan secara perlahan lahan. Aku melihat bayangan diriku saat masih berusia sepuluh tahun sedang mencoba memanjat sebuah pohon mangga tua di halaman belakang panti asuhan. Aku ingat saat itu aku ingin mengambil layang layang salah satu adik panti yang tersangkut di dahan tertinggi.
"Goma turunlah! Pohon itu sudah rapuh! Biarkan saja layang layangnya!" teriak Ibu Widya dari bawah dengan nada suara yang penuh kekhawatiran.
Namun aku yang saat itu sudah memiliki sifat keras kepala hanya membalasnya dengan senyuman lebar. Aku terus merangkak naik menggunakan jari jemariku yang kecil untuk mencari pegangan pada kulit pohon yang kasar. Aku tidak takut jatuh karena yang ada di pikiranku saat itu hanyalah keinginan untuk melihat adik panti itu berhenti menangis. Saat aku berhasil menjangkau layang layang itu dan melihat senyum bahagia dari bawah sana aku menyadari satu hal: Kebahagiaan terbesarku adalah saat aku mampu menaklukkan ketinggian demi orang lain.
Kenangan itu mendadak berubah menjadi kabur kemudian digantikan oleh bayangan tebing es Kanchenjunga yang mematikan. Aku melihat detik detik terakhir saat tali pengamanku putus. Aku melihat wajahku sendiri yang membeku karena dingin serta mata yang penuh dengan rasa bersalah karena gagal pulang ke rumah.
Krak...
Suara retakan dalam mimpi itu terasa sangat nyata hingga membuat kesadaran batin ku tersentak. Aku menyadari bahwa rasa bersalah itu masih tersimpan rapi di dasar jiwaku. Ia menjadi lubang hitam yang terus menerus menyedot energiku jika aku tidak mampu mengatasinya.
[ SISTEM: PERINGATAN: STABILITAS JIWA TERGANGGU OLEH RESONANSI EMOSI NEGATIF ]
[ SISTEM: MENDETEKSI PENINGKATAN TEKANAN PADA JANTUNG ESENSI ]
[ SISTEM: SARAN: LAKUKAN PENORMALAN EMOSI UNTUK MENJAGA PROSES REGENERASI ]
Tenang Goma. Masa lalu adalah sejarah yang tidak bisa kau ubah. Namun masa depan adalah tebing baru yang sedang kau daki sekarang. Jangan biarkan hantu masa lalu menarik kakimu jatuh kembali ke dasar jurang.
Aku menarik napas dalam dalam di dalam ruang hampa jiwaku. Aku mencoba memvisualisasikan wajah Ibu Widya bukan saat aku jatuh namun saat ia sedang tersenyum menyambut ku pulang dari sekolah dulu. Aku menggunakan kehangatan dari kenangan itu untuk menenangkan jantung esensi ku yang tadi sempat bergejolak liar. Perlahan lahan titik titik cahaya kemerahan di sekelilingku kembali berdenyut secara stabil. Benar saja proses perbaikan kulit di punggungku berjalan jauh lebih cepat saat jiwaku berada dalam kondisi yang tenang.
Di luar sana di dunia nyata Gehenna badai esensi sepertinya mulai mencapai titik puncaknya. Aku bisa merasakan getaran energi yang sangat dahsyat mencoba menembus dinding gua pelindungku. Namun berkat sistem perisai jiwa yang aktif sebagian besar radiasi energi tersebut justru diserap oleh kulit metalik ku untuk dijadikan bahan bakar tambahan bagi proses deskripsi peta dimensi.
[ SISTEM: MEMANFAATKAN ENERGI BADAI EKSTERNAL UNTUK PERCEPATAN DESKRIPSI ]
[ SISTEM: STATUS DESKRIPSI PETA DIMENSI TERRA: 35 %... 40 %... ]
[ SISTEM: PENYALURAN DATA KOORDINAT SEKTOR SELATAN SEDANG BERJALAN ]
Bagus. Badai ini ternyata bisa memberikan keuntungan bagiku. Jika aku tetap terjaga mungkin aku akan terlalu sibuk menahan rasa sakit namun dalam kondisi tidur seperti ini sistem bisa bekerja lebih bebas mengelola energi yang masuk.
Aku menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam kondisi meditasi dalam ini. Aku mulai mempelajari aliran aliran energi di dalam tubuhku sendiri. Aku melihat bagaimana pembuluh darah hitamku membawa nutrisi esensi menuju ke ujung jari jari kakiku yang kini sudah memiliki struktur otot yang sangat elastis. Aku melihat bagaimana logam Black Iron menyatu secara molekuler dengan struktur kalsium di tulang tulangku menciptakan sebuah kerangka yang hampir mustahil untuk dipatahkan oleh kekuatan fisik biasa.
Setelah apa yang terasa seperti beberapa hari di dalam pikiran namun mungkin hanya beberapa jam di dunia luar aku merasakan adanya perubahan tekanan di sekitarku. Suara raungan angin badai di luar gua mulai mereda secara bertahap. Suara petir ungu yang tadinya terdengar setiap detik kini hanya muncul sesekali sebagai gema yang jauh di ujung langit.
"Goma... bangun... badainya sudah lewat... hawa di luar sudah mulai menghangat kembali," suara Kharis terdengar memanggil namaku dari balik tirai kesadaranku.
Aku membuka mata kuning keemasan ku secara perlahan lahan. Pandanganku yang tadinya gelap kini mulai dipenuhi oleh gambaran nyata dari dinding gua tulang tempatku bersembunyi. Aku merasakan tubuhku sangat ringan namun sekaligus sangat bertenaga seolah olah aku baru saja mendapatkan penggantian seluruh jaringan otot di tubuhku.
Aku berdiri perlahan lahan kemudian melakukan peregangan. Suara krak krak krak yang sangat keras terdengar dari seluruh persendian tubuhku namun kali ini tidak ada rasa sakit sedikit pun. Yang kurasakan adalah fleksibilitas yang luar biasa. Aku mencoba menyentuh kulit punggungku menggunakan tangan kanan ku. Permukaannya sekarang terasa sangat halus dan padat tidak ada lagi bekas retakan atau luka lecet akibat pelarian dari istana tadi.
[ SISTEM: MODE TIDUR DALAM SELESAI ]
[ SISTEM: INTEGRITAS TUBUH: 100 % ]
[ SISTEM: CADANGAN ENERGI ESENSI: 95 % (PENINGKATAN DRASTIS) ]
[ SISTEM: ANDA TELAH MENCAPAI TAHAP STABILISASI WILAYAH TENGAH ]
"Bagaimana perasaanmu Goma. Kau tidur sangat lelap hingga aku sempat mengira kau telah berubah menjadi patung tulang permanen," ucap Kharis yang kini keluar dari sela sela jubahku sambil meregangkan tubuh asapnya yang mungil.
"Aku merasa sangat segar Kharis. Aku merasa seolah olah aku bisa mendaki seluruh tebing di Gehenna ini tanpa perlu beristirahat lagi."
Aku berjalan menuju mulut gua kemudian melihat ke arah luar. Pemandangan Hutan Rusuk setelah badai esensi terlihat sangat berbeda. Banyak pohon tulang yang tumbang serta tanah pasir abu abu di depan sana kini dilapisi oleh lapisan kristal ungu tipis hasil dari pengendapan energi badai. Udara terasa sangat jernih meskipun bau belerang masih tetap ada.
Aku menatap ke arah tangan kiri dan kananku. Sekarang aku sudah memiliki tubuh yang sempurna secara fisik dari luar. Dari kepala yang berambut hitam wajah yang manusiawi kulit abu abu metalik yang tangguh hingga ujung jari kaki yang kuat. Aku bukan lagi Goma si kerangka kasta rendah. Aku adalah seorang pejuang yang siap untuk menaklukkan setiap rintangan yang ada di depan mataku.
Ibu Widya penantianmu tidak akan sia sia. Dengan tubuh baru ini aku akan menembus batas antara dunia bawah dan dunia atas. Peta di dalam kepalaku sudah mulai menunjukkan jalan yang benar.
Aku mengepalkan kedua tanganku menciptakan tekanan udara yang berdesing di antara jari jariku. Pendakian pulang ku baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih menantang. Aku siap untuk mencari pintu gerbang itu serta aku siap untuk menghancurkan siapa pun yang berani mencoba mengunci pintu tersebut dariku.
"Ayo Kharis. Kita punya banyak jalan yang harus ditempuh hari ini sebelum Lord Valos mengirimkan pasukan pengejar yang lebih besar."
Aku melompat keluar dari gua mendarat di atas tanah kristal dengan gerakan yang sangat anggun dan senyap. Goma sang pendaki kini telah bangun sepenuhnya dan neraka ini akan segera merasakan langkah kakinya yang penuh dengan tekad pembalasan.