Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 20
HAL YANG BAIK DAN BURUK
Sementara di gudang tua. Emilio dan Lorenzo baru saja selesai bertemu klien baru dari China dan kini mereka duduk berdua sembari menikmati ombak pemandangan di depannya sambil duduk di pintu belakang gudang.
“Ada seseorang yang mengintai ku semalam... Saat aku sedang bersama Aria.” ujar Loren sembari menghisap rokoknya.
Mendengar itu Emilio terkejut. “Siapa? Apa wanita itu baik-baik saja?”
“Hm.” balas Loren yang masih menatap lurus. “Aku membunuh pria itu, tapi Fabio sudah memeriksa mesin ketik miliknya, itu semacam pesan singkat, tapi bukan untukku.” kata Lorenzo.
“Pesan singkat? Untuk siapa?”
Pria bermata perak seperti milik ibunya itu, menoleh menatap ayahnya yang masih menunggu jawaban.
“Untukmu.”
Jawaban itu membuat Emilio semakin berkernyit alis. “Apa isinya?”
Lorenzo memadamkan rokoknya hingga meninggalkan asap mengepul di udara.
“Don Vito mengucapkan salam untuk Emilio.” kata Lorenzo yang terdengar ringan namun cukup membuat Emilio langsung tercengang mendengar nama itu.
“Don Vito?” lirih Emilio yang kini benar-benar hampir berkeringat.
Tentu saja Lorenzo sadar akan sikap ayahnya mendengar nama pamannya. Ia menoleh, menatap langsung tanpa ragu. “Dia masih dipenjara, aku pikir hubungan kalian sudah berakhir sejak dia dipenjara.”
Emilio tak menjawabnya, dia hanya diam seolah dia mengingat Dejavu. Dan kini, mendengar nama Vito, ia teringat akan istri pertamanya, Leonor.
“Sebaiknya kau jaga istrimu. Dia datang bukan untuk damai, Lorenzo.” kata Emilio yang tiba-tiba bangkit dari kursinya sehingga Loren ikut berdiri dan berkerut alis.
pria tua itu menatapnya tegas. “Kita harus waspada, dan menghentikannya jika tidak ingin hal buruk terjadi pada de santos.”
“Hal buruk apa yang kau maksud? Dan itu bukanlah urusanku selagi dia tidak mengusik ku.” kata Lorenzo yang tahu kalau hubungan Vito dan ayahnya memburuk gegara insiden kematian Leonor dan penjara.
Emilio tak bisa menjawabnya hingga dia pergi begitu saja bersama anak buahnya yang lain. Sementara Lorenzo menatap kepergiannya dengan tajam sampai Fabio berjalan mendekat ke arahnya.
“Caritahu keberadaan Don Vito, ataupun anak buahnya. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.” pinta Lorenzo ada Fabio.
Sementara di mansion de Santos. Monica yang hampir mau keluar dan hendak masuk ke mobilnya, seorang penjaga justru menghampirinya sambil membawa kotak hitam kecil.
“Nyonya. Ada paket untuk anda.”
Monica menatap sekilas ke kotak aneh itu. “Siapa yang mengirimnya?”
“Hanya seorang tukang pos.” jawab pria itu yang akhirnya kotak tersebut diterima oleh Monica.
Ia sedikit heran dan penasaran, mengamatinya, lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Tepatnya di kursi belakang mobil.
“Siapa yang mengirimnya?” gumam Monica terheran-heran dan membuka kotak itu.
Namun begitu kotak terbuka, ia langsung sontak menjerit, kaget, takut dan marah. Hingga akhirnya keluar dari mobil dan membuat sopir serta beberapa penjaga di sana ikut menghampirinya.
“Paket konyol apa itu? Siapa yang mengirimnya? Sialan!” kesal Monica benar-benar marah sampai wajahnya memerah dan suaranya yang keras itu membuat pelayan di mansion kedua ikut keluar dan penasaran.
“Kami tidak tahu, nyonya.”
“Cari tahu dan habisi siapa saja yang mengirim benda konyol itu. Dasar bajingan!” kesal Monica yang menggebu-gebu dan tak jadi keluar karena ia benar-benar trauma.
Bagaimana tidak. Sebuah alat kelamin seorang pria yang dipotong hingga masih berlumuran darah telah dikirim oleh seseorang untuk Monica. Tentu saja wanita itu marah dan bingung akan si pengirim gila.
Teresa tergesa-gesa masuk menghampiri Aria yang kala itu tengah asik makan buah sambil menonton televisi.
“Nyonya Aria! Anda harus mendengar ini.” kata Teresa yang semakin membuat Aria penasaran.
“Apa?”
“Nyonya Monica marah besar setelah melihat barang kiriman dari orang tidak dikenal. Aku tidak tahu barang apa itu sampai membuatnya marah.” jelas pelayan muda tadi yang membuat Aria berkerut alis.
Hanya sebuah barang, tapi membuat Monica marah-marah. Sangat aneh.
“Dia memang bibi yang aneh.” kata Aria sehingga Teresa hanya tersenyum kecil.
.
.
.
Selang beberapa jam berlalu. Aria tak sabaran dan sangat penasaran untuk pergi ke tokonya. Kini dia sedang menunggu Lorenzo pulang, tapi entah kenapa pria itu lama sekali, tidak seperti kemarin malam.
Namun dia tak peduli dan tetap menunggunya di dekat pintu masuk. Namun saat melihat suaminya kembali bersama Fabio dna beberapa anak buahnya. Aria menatap lekat dan keluar saat tahu Lorenzo berjalan ke arah belakang mansion utama, alias basecamp.
“Lorenzo!” panggil Aria namun salah satu anak buah Loren menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke basecamp mengikuti Loren.
Namun Aria menatap tajam dan Fabio angkat bicara. “Biarkan saja.”
Saat itu juga Aria melangkah masuk melewati Fabio yang hanya menatap pasrah saat ia yakin bosnya akan mendapatkan emosi lagi.
Langkah Aria bergema, hingga dia melihat suaminya itu berdiri hendak masuk ke ruangan yang lebih dalam. “Tuan de Santis!” panggil Aria yang seketika menghentikan gerakan Loren dan langsung menoleh kebelakang sembari menatap tajam ke Aria.
“Siapa yang menyuruhmu masuk kemari?” tegasnya.
“Sejak tadi aku menunggumu. Aku hanya ingin menyampaikan kalau besok aku mau pergi ke toko roti ku.” kata Aria yang dengan sengaja memancing emosi suaminya itu.
“Kita bisa bicarakan ini nanti. Kau tidak perlu mengganggu ku.” tegas Lorenzo menatap tajam penuh ancaman dan peringatan.
“Ya. Tapi aku cemas setelah melihat betapa sibuknya suami ku hari ini.” sindir Aria yang benar-benar menahan ketakutannya agar tidak terlihat lemah. “Aku tidak bisa jamin besok pagi kau tetap ada di sini. Itu sebabnya aku menyampaikannya hari ini, malam ini dan detik ini, Tuan Loren.”
Mendengar itu Fabio hanya diam di belakang Aria. Sementara Lorenzo sendiri masih menatap lekat istrinya dan berjalan maju hingga jarak mereka sangat dekat dan membuat Loren harus sedikit menunduk agar bisa melihat wajah istrinya.
“Kau tidak akan pergi ke mana pun sampai anak ini lahir. Itu adalah jawabannya. Sekarang kau boleh pergi, karena aku sedang sibuk.”
Mendengar itu Aria sontak terkejut, tentu saja, itu seperti dikurung dalam sangkar.
Lorenzo yang hendak berbalik membelakanginya, seketika terhenti saat suara Aria yang kali ini ucapannya benar-benar mengejutkan bagi Loren.
“Jadi... Kau akan mengurungku? Itu sangat keterlaluan.”
Pria itu berkerut alis menghampirinya lagi, dan membuat Aria tak sesekali menelan ludahnya cukup kesusahan.
“Ya. Dan jaga ucapanmu, gunakan bahasa baik agar anakku tidak liar dengan mulut kotor.” kata Lorenzo seraya menunjuk ke arah perut Aria dan masih menatap tegas ke kedua mata wanita itu.
“Maksudmu ucapan seperti apa, Tuan Loren? Aku sering mendengar mu berkata— Bastardo! Maledizione! Shit! And fuck you...” pancing Aria yang semakin membuat kedua tangan Lorenzo terkepal kuat, dan mata silvernya semakin tajam.
“Berhenti mengatakan kata itu dan pergilah ke kamarmu.” pinta Lorenzo yang malah membuat Aria kesal hingga akhirnya ia berjalan mundur dan masih menatap lekat ke Loren.
“Bullshit! (omong kosong)!” ketus Aria sebelum akhirnya ia berbalik pergi melewati anak buah Lorenzo yang hanya diam menjadi penonton.
Sementara Lorenzo masih melihat kepergian istrinya tadi.
“Itu sebabnya aku tidak suka berurusan dengan wanita.” gerutu Loren.
Fabio tersenyum tipis. “Sayangnya dia sudah menjadi istri Anda, Tuan.”
“Ya. Sayang sekali.” balas Lorenzo pasrah hingga kembali membuka pintu dan masuk lebih dalam ke basecamp tersebut, meski ia masih dibuat kesal oleh tindakan Aria barusan.
.
.
.
“Itu sangat keterlaluan Emilio!” kesal Monica yang sejak tadi menunggu suaminya pulang, dan saat Emilio baru melenggang masuk ke ruangannya, Monica langsung menyambar bak petir.
“Apa yang keterlaluan? Bicaramu selalu omong kosong, Monica.” kesal pria tua itu sembari membuka jas hitamnya.
“Aku tidak omong kosong. Seseorang mengirim potongan penis yang baru dan masih berlumuran darah padaku, Emilio. Itu menjijikan.” jelas Monica yang merasa jijik dn enggan mengingat benda itu.
Mendengar keluhan seperti itu, tentu saja Emilio berkernyit alis.
“Kau tidak tahu siapa yang mengirimnya?”
“Aku tidak tahu, jika aku menemukannya, akan aku habisi orang sialan itu. Berani sekali dia.” kesal Monica yang menggosok kedua lengannya sendiri saking meras jijik dan merindingnya dia mengingat kejadian siang tadi.
Emilio terdiam, seolah dia hanya mengingat satu nama yang menjadi kewaspadaan baginya. Yaitu— Don Vito. Kakak dari istri pertamanya itu yang ternyata masih bisa beraktivitas meski di dalam sel tahanan.