Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hutan belantara di jantung Kalimantan Utara bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Ia adalah raksasa yang hidup, menelan cahaya dan memuntahkan ketakutan. Pepohonan purba menjulang begitu tinggi hingga ranting-rantingnya saling bertaut membentuk atap yang tak tembus pandang, melingkupi dengan kegelapan di mana matahari seolah telah menyerah dan tak lagi berani menyinarinya.
Udara di sana terasa berat dan pekat, seolah menekan paru-paru siapa pun yang berani bernapas. Baunya pengap, campuran susu basi yang pekat, jamur yang tumbuh di antara bangkai daun, dan aroma getah busuk yang samar namun mengganggu, seperti bau mayat yang telah lama terkubur. Di sini, suara alam bukanlah musik penenang, melainkan sandiwara. Desiran angin terdengar seperti rintihan tertahan, kicauan burung terdengar ganjil dan tidak berirama, sementara suara serangga berdengung konstan bagai bisikan penggoda yang tak pernah lelah. Namun di balik semua itu, ada keheningan yang lain. Keheningan yang mendengarkan. Keheningan yang menunggu dengan sabar.
Sulaiman, pria berusia 50 tahun, adalah ketua kelompok penebang. Tubuhnya kekar bagai tembok menara aula, kulitnya gelap terbakar hawa perjuangan, dan wajahnya penuh coretan-coretan garis keras yang menceritakan puluhan tahun bergelut dengan alam liar. Baginya, hutan hanyalah lahan kebun kayu, tempat menebang dan membawa pulang hasil. Tidak ada hantu, hanya kayu dan gergaji.
"Sudah siap semuanya?" suaranya tegas dan parau, bergema di antara batang pohon yang rapat. Matanya yang memerah menatap ketiga anak buahnya satu per satu.
Herman, Deri Rimba, dan Randi Odol mengangguk kaku. Mereka adalah tim yang sudah lama bekerja bersama. Herman sedikit pendiam namun teliti, Deri selalu mencoba tertawa namun pekerja keras, serta Randi, si bungsu yang penuh tenaga tapi matanya masih memancarkan keremajaan, belum tahu betapa kejamnya alam.
"Siap, Bos. Bensin penuh, oli sudah diisi. Mesin siap menderu," jawab Herman, tangannya menepuk bodi gergaji mesin oranye itu. Namun suaranya sedikit bergetar, seolah takut suaranya terlalu keras akan membangunkan sesuatu.
"Bagus," sahut Sulaiman. Ia menunjuk ke arah kegelapan yang lebih pekat, di mana pepohonan tampak semakin menyeramkan, seperti sosok-sosok raksasa yang membungkuk. "Hari ini kita masuk lebih jauh. Ada pohon besar di sana. Batangnya keras, kayunya hitam pekat. Harganya mahal." Ia berhenti sejenak, suaranya merendah menjadi bisikan yang dingin. "Ingat... area ini belum banyak kaki manusia menginjaknya. Ikuti langkahku. Jangan menyimpang, jangan berpisah. Kalau hilang di sini, kalian tak akan ditemukan. Hidup atau mati."
Mereka mulai melangkah. Suara sepatu bot mereka yang menginjak dedaunan kering terdengar seperti remukan tulang-tulang kecil di tengah kebisuan. Semakin dalam masuk, dunia di sekitar mereka semakin memucat. Cahaya matahari yang berusaha menembus dedaunan hanya mampu menghasilkan cahaya remang-remang kelabu, seperti berada di dunia yang kelam saat senja yang tak berujung, padahal jam menunjukkan tengah hari bolong.
"Bang... suasananya aneh banget ya," bisik Randi pelan kepada Deri di sebelahnya. Tangannya gemetar menyentuh lengan temannya. "Gue ngerasa... ada yang ngeliatin kita. Dari tadi."
Deri mencoba tertawa, tapi tawanya terdengar palsu dan pecah di udara. "Ah, lo jangan berpikiran macam-macam, Rand. Hutan emang gitu, banyak bayangan. Angin aja kali."
Namun, Deri bohong. Ia juga merasakannya. Ada hawa dingin yang merayap perlahan dari ujung kaki naik ke tengkuk. Perasaan diperhatikan. Bukan oleh hewan, tapi oleh sesuatu yang sadar, sesuatu yang jahat, yang mengintip dari celah-celah semak yang gelap, menatap punggung mereka dengan mata yang tak terlihat.
Tiba-tiba, Sulaiman yang berjalan di depan menghentakkan kakinya dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Isyarat berhenti. Total.
"Ada apa, Bos?" tanya Herman setengah berbisik, jantungnya mulai berdegup kencang.
Sulaiman tidak menjawab. Ia berdiri kaku seperti patung liberty dengan sebelah tangannya tetap ke atas. Hidungnya mengembang, mencium sesuatu yang terbawa angin, ditawarkan oleh yang sesuatu yang dingin dan tersembunyi.
Bukan bau tanah. Bukan bau daun.
Itu bau besi yang berkarat... bau logam yang basah. Dan di bawahnya, ada aroma lain. Aroma yang manis, amis, dan sangat menyengat.
Bau darah. Bau darah yang sangat segar.
"Kalian cium itu?" suara Sulaiman mengkejut, seperti sedang membentak.
Tiga orang lainnya terdiam. Mereka menghirup udara dalam-dalam. Dan ya, baunya semakin jelas. Amis, menyengat, membuat perut terasa mual.
"Mungkin bangkai babi hutan yang baru saja dimangsa, Bos," coba Herman menebak, berusaha mencari alasan meski suaranya tak meyakinkan.
"Mungkin," gumam Sulaiman. Tapi naluri tua yang membawanya bertahan hidup selama ini berteriak keras. Ada yang salah. Sangat salah. "Ayo jalan. Cepat. Tapi hati-hati."
Mereka berjalan lagi, kali ini dengan langkah lebih cepat dan tegang. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah tanah lapang yang anehnya bersih dari semak belukar. Di tengahnya, berdiri sebuah pohon raksasa yang batangnya hitam legam, kulit kayunya kasar seperti kulit manusia yang mengerut dan penuh luka. Itulah target mereka.
"Ini dia," kata Sulaiman, matanya menyala. "Mulai kerja."
Mereka segera bersiap. Suara mesin ditarik, bergema keras memekakkan telinga, melukai keheningan hutan. Wrrr... wrrr... wrrrrrr...!! Suara rantai gergaji yang berputar cepat terdengar ganas, seolah-olah mesin itu sendiri yang lapar.
Sulaiman memegang erat gagang gergaji barunya. Entah kenapa, mesin ini terasa berbeda. Lebih berat dari biasanya, dan rantainya tampak begitu tajam, memantulkan cahaya gelap yang mengerikan. Saat tangannya menyentuh bodi besi itu, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, seolah memegang es yang tak pernah mencair, atau kulit mayat yang kedinginan.
"Ayo!" teriak Sulaiman, mencoba mengusir rasa takut itu dengan keberanian pura-para.
Mesin itu menyentuh kulit kayu. Krrrt!
Dan saat itulah, pintu gaib terbuka lebar.
Mereka tidak tahu bahwa mereka bukanlah pemburu di tempat ini.
Mereka adalah mangsanya.
Dan suara gergaji mesin itu... bukanlah suara pekerjaan. Itu adalah suara panggilan. Panggilan bagi sesuatu yang telah tidur berabad-abad, sesuatu yang haus akan daging dan darah, dan kini telah terbangun karena gangguan mereka.
Teror yang sesungguhnya baru saja dimulai.