Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PENGORBANAN DI PERSIMPANGAN JALAN
Angin kencang bertiup di reruntuhan Pesantren Al-Azhar, menerbangkan debu-debu sisa pembakaran yang terasa perih saat mengenai mata. Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan hantaman telak yang baru saja diterima Zayn Al-Fatih melalui layar jam tangan pintarnya. Indikator detak jantung ibunya, Nyonya Sarah, berkedip merah dengan frekuensi yang sangat tidak beraturan.
Ibu... bagaimana mungkin? Dia berada di rumah sakit dengan pengamanan paling ketat di Singapura. Sultan... iblis itu benar-benar memiliki kaki tangan di mana-mana. Dia tahu titik lemahku. Dia tahu bahwa aku bisa menghancurkan pasukannya di sini, tapi aku tidak bisa melawan racun yang sudah menyusup ke dalam aliran darah ibuku sendiri.
Zayn berdiri mematung, ponselnya masih terasa panas di genggaman. Pesan singkat dari Sultan itu terasa seperti vonis mati. Pilihan yang diberikan Sultan bukan sekadar pilihan bisnis, melainkan pilihan yang melibatkan nyawa dua wanita paling berharga dalam hidupnya.
Batin Zayn bergejolak: Jika aku pergi ke Singapura sekarang, aku akan meninggalkan Aaliyah tanpa perisai. Sultan pasti sudah menyiapkan serangan fisik kedua untuk melenyapkan Aaliyah di tengah reruntuhan ini. Tapi jika aku tetap di sini... Ibu... napas wanita yang melahirkanku sedang dipertaruhkan. Ya Tuhan, mengapa Engkau memberiku kecerdasan untuk membangun imperium bisnis, namun membuatku tak berdaya di depan pilihan sesederhana ini?
Aaliyah menyadari perubahan drastis pada rahang Zayn yang mengeras. Ia melangkah mendekat, mencoba membaca ekspresi pria yang kini tampak seperti singa yang baru saja tertusuk duri beracun.
"Zayn? Ada apa? Pesan itu... dari siapa?" tanya Aaliyah, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.
Zayn menoleh, menatap Aaliyah dengan pandangan yang penuh dengan kehancuran. Ia ingin sekali berteriak, namun suaranya seolah tertahan di kerongkongan. Ia tidak ingin Aaliyah merasa bersalah, namun ia tahu Aaliyah adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya secara logis saat ini.
"Ibu... kondisinya kritis," ucap Zayn akhirnya, suaranya parau dan bergetar. "Sultan mengirimkan pesan. Dia meracuni sistem pendukung kehidupan ibuku melalui akses digital di rumah sakit Singapura. Aku hanya punya waktu dua puluh empat jam untuk menyelamatkannya."
Aaliyah terkesiap. Tangannya secara otomatis menutup mulut di balik niqabnya.
Ya Allah... Ibu Zayn! Wanita yang sudah seperti ibu kedua bagi hamba saat di Singapura. Mengapa mereka begitu kejam menyasar orang tua yang tak berdaya? Sultan... dia benar-benar tidak memiliki setetes pun nurani. Dia menggunakan nyawa orang tua sebagai alat tawar-menawar dalam dendamnya.
Aaliyah menatap monitor di jam tangan Zayn yang masih berkedip merah. Sebagai seorang Hacker dengan nama sandi H_Zero, otaknya segera bekerja memetakan kemungkinan yang terjadi.
Batin Aaliyah bergerak cepat: Racun digital... artinya Sultan tidak meracuni secara fisik, melainkan meretas sistem pemberian dosis obat otomatis di rumah sakit tersebut. Dia memanipulasi takaran obat sehingga jantung Ibu Sarah bereaksi negatif. Zayn tidak harus pergi ke Singapura secara fisik untuk menghentikannya! Kita bisa melakukannya dari sini, asalkan kita punya koneksi internet satelit yang kuat dan akses ke server rumah sakit tersebut.
"Zayn, dengarkan saya," Aaliyah memegang lengan Zayn, mencoba menarik perhatian pria itu dari kepanikannya. "Sultan ingin Anda pergi. Dia ingin Anda meninggalkan saya sendirian di sini agar dia bisa menyelesaikan pekerjaannya. Jangan terjebak dalam permainannya."
Zayn menatap Aaliyah dengan tatapan tidak percaya. "Tapi ibuku sedang sekarat, Aaliyah! Bagaimana aku bisa diam saja di sini sementara dia berjuang untuk setiap embusan napasnya?"
"Kita tidak akan diam! Kita akan melawan dari sini!" Aaliyah menarik laptop tipisnya dari tas ransel yang selalu ia bawa. "Zayn, aktifkan satelit Star-Link di mobil SUV Anda sekarang juga. Saya butuh bandwidth raksasa untuk menembus enkripsi rumah sakit Singapura. Kita akan menyelamatkan Ibu Sarah tanpa harus beranjak dari tanah Al-Azhar ini."
Zayn tertegun. Ia baru teringat kemampuan luar biasa wanita di hadapannya ini. Selama ini, ia sering melupakan bahwa Aaliyah bukan sekadar wanita yang butuh dilindungi, melainkan seorang jenius yang memiliki kekuatan di ujung jemarinya.
Zayn membatin: Bodohnya aku... aku terlalu sibuk ingin menjadi pahlawan fisik, hingga lupa bahwa perangnya saat ini terjadi di ruang siber. Aaliyah... kau benar-benar permataku. Di saat aku kehilangan arah, kau adalah kompas yang menunjukkan jalan. Jika kau bisa menyelamatkan ibuku dari sini, aku bersumpah akan menyerahkan seluruh hidupku untuk menjadi hamba cintamu.
Zayn segera memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan perlengkapan. Dalam hitungan menit, bagian belakang mobil SUV mewah itu berubah menjadi pusat komando digital kecil. Antena satelit di atap mobil mulai berputar, mencari sinyal terbaik di tengah pedesaan yang sunyi itu.
Aaliyah duduk di dalam mobil, jemarinya mulai menari dengan kecepatan yang luar biasa di atas keyboard. Layar laptopnya kini dipenuhi oleh barisan kode enkripsi militer yang sangat rumit.
"Zayn, saya butuh kode akses internal rumah sakit yang pernah Anda gunakan untuk membayar biaya perawatan Ibu Sarah. Cepat!" perintah Aaliyah, suaranya kini berubah menjadi komandan perang yang dingin.
Zayn segera menyebutkan deretan angka rahasia. Aaliyah memasukkannya, dan seketika layar monitor menampilkan skema sistem pendukung kehidupan Nyonya Sarah di Singapura secara real-time.
"Lihat ini, Zayn," Aaliyah menunjuk ke arah grafik berwarna biru yang tiba-tiba melonjak naik. "Sultan menanam script yang memerintahkan pompa insulin dan pengencer darah bekerja sepuluh kali lipat lebih cepat. Inilah yang membuat jantung Ibu Sarah tertekan. Iblis itu benar-benar ingin membunuhnya secara perlahan."
Zayn mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Bisa kau hentikan, Aaliyah?"
"Saya sedang mencoba melakukan over-ride. Tapi Sultan memasang Logic Bomb. Jika saya salah menghapus satu baris kode, sistemnya akan mati total dan... Ibu Sarah tidak akan bertahan," Aaliyah berkeringat dingin di balik cadarnya.
Batin Aaliyah: Ya Allah... tuntunlah tanganku. Ini bukan sekadar meretas bank atau server korporat. Ini adalah nyawa manusia. Nyawa orang yang kucintai. Jika hamba gagal, hamba tidak akan pernah sanggup menatap wajah Zayn lagi. Berikanlah kejernihan pada otak hamba, ya Rabb... jangan biarkan ketakutan ini mengaburkan logika hamba.
Suasana di dalam mobil itu sangat tegang. Zayn berdiri di belakang Aaliyah, napasnya tertahan. Ia melihat bagaimana garis-garis kode itu saling beradu di layar, seolah sedang menyaksikan pertempuran pedang di dunia digital.
Di luar mobil, para pengawal Zayn terus bersiaga dengan senjata lengkap. Mereka menyadari bahwa Sultan pasti tidak akan membiarkan mereka bekerja dengan tenang. Tiba-tiba, suara deru motor dalam jumlah banyak terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian reruntuhan pesantren.
"Tuan Muda! Ada segerombolan pengendara motor bersenjata mendekat! Jumlahnya sekitar lima puluh orang!" teriak Ben, kepala pengawal Zayn.
Zayn menoleh ke arah jendela mobil. Cahaya lampu motor mulai terlihat seperti mata-mata setan yang merayap di kegelapan.
"Aaliyah, teruslah bekerja! Jangan menoleh sedikit pun!" bentak Zayn. Ia mengambil sebuah senjata laras panjang dari bawah jok mobil. "Aku akan menahan mereka di luar. Apapun yang terjadi, jangan hentikan proses over-ride itu!"
Zayn membatin: Inilah puncaknya. Sultan mengirimkan pasukan fisiknya tepat saat Aaliyah sedang berperang di dunia digital. Dia ingin mengganggu konsentrasi Aaliyah. Tapi dia lupa... aku adalah dinding yang tidak akan pernah bisa dia tembus. Aku akan memberikan darahku demi waktu yang dibutuhkan Aaliyah.
Zayn keluar dari mobil, berdiri tegak di depan pintu mobil yang tertutup rapat. Ia memberikan isyarat pada timnya untuk membentuk barikade melingkar melindungi mobil SUV tersebut.
"Tahan posisi! Jangan biarkan satu peluru pun mengenai mobil ini!" perintah Zayn.
Pertempuran pecah. Suara letusan senjata dan teriakan massa bayaran Sultan memenuhi udara Al-Azhar. Namun, di dalam mobil yang kedap suara, Aaliyah tetap terpaku pada layarnya. Ia memejamkan mata sejenak, melantunkan ayat kursi dalam hatinya, lalu kembali mengetik.
Click.
"Berhasil!" bisik Aaliyah. Layar laptopnya menunjukkan status: System Restored. Dosing Normal.
Grafik detak jantung di jam tangan Zayn yang berada di luar, tiba-tiba berubah menjadi hijau stabil. Namun, di saat yang bersamaan, sebuah peluru meluncur deras menembus kaca depan mobil SUV tersebut, hanya berjarak beberapa senti dari kepala Aaliyah.
Aaliyah tersentak, namun ia tidak berteriak. Ia melihat ke arah depan, di mana Zayn sedang berduel satu lawan satu dengan seorang pria bertopeng yang berhasil menembus barikade.
Zayn! Ya Allah, selamatkan dia! Dia mempertaruhkan nyawanya demi memberikan waktu untukku menyelamatkan ibunya. Sekarang, giliran hamba yang harus menyelamatkannya!
Aaliyah tidak tinggal diam. Ia segera meretas sistem GPS dan klakson pada semua mobil pengawal Zayn yang terparkir di sana. Secara bersamaan, ia membunyikan alarm dan menyalakan lampu high-beam secara berkedip-kedip untuk membutakan penglihatan para penyerang.
Kekacauan terjadi di pihak lawan. Mereka yang tidak siap dengan serangan cahaya dan suara frekuensi tinggi itu menjadi limbung. Zayn menggunakan kesempatan itu untuk melumpuhkan lawannya.
Setelah beberapa menit yang sangat menegangkan, para penyerang itu akhirnya melarikan diri karena bala bantuan polisi yang dipanggil Zayn secara rahasia mulai terdengar sirenenya di kejauhan.
Zayn segera berlari menuju mobil, membuka pintu dengan napas tersenggal-enggal. Wajahnya dipenuhi debu dan sedikit bercak darah di pelipisnya.
"Ibu... bagaimana?" tanya Zayn pertama kali.
Aaliyah menunjukkan layar jam tangan Zayn. "Stabil, Zayn. Ibu Sarah sudah aman. Pihak rumah sakit di Singapura juga sudah menerima laporan dariku untuk mengganti seluruh protokol keamanan mereka."
Zayn terduduk di lantai mobil, ia membuang senjatanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa.
Aaliyah berpindah duduk ke samping Zayn. Dengan ragu, ia meletakkan tangannya di atas bahu Zayn, mencoba memberikan ketenangan.
"Terima kasih, Aaliyah... Terima kasih," gumam Zayn di balik tangannya.
"Ini bukan saya, Zayn. Ini adalah rencana Allah yang mempertemukan keahlian hamba dengan fasilitas yang Anda miliki. Kita adalah satu tim sekarang," jawab Aaliyah lembut.
Batin Aaliyah: Lihatlah pria ini... singa yang begitu garang di depan musuhnya, kini hancur karena rasa cintanya pada ibunya. Zayn... hamba mulai menyadari bahwa di balik kemarahanmu, tersimpan hati yang sangat tulus. Hamba bangga bisa berdiri di sampingmu malam ini.
Zayn mengangkat wajahnya, menatap Aaliyah dengan tatapan yang sangat dalam. Di tengah reruntuhan Al-Azhar yang baru saja menjadi saksi pertempuran hidup dan mati, Zayn menyadari sesuatu.
"Aaliyah... setelah semua ini selesai, setelah pesantren ini berdiri kembali..." Zayn menjeda kalimatnya, ia meraih tangan Aaliyah dan mencium punggung tangan wanita itu dengan sangat hormat. "...aku ingin kau benar-benar menjadi permaisuriku. Bukan karena kontrak, bukan karena sandiwara, tapi karena aku tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpamu."
Aaliyah terpaku. Debaran jantungnya kini lebih kencang daripada saat ia meretas server tadi. Di bawah langit Al-Azhar yang perlahan mulai menampakkan bintang, sebuah janji baru telah terukir.
Namun, di sela-sela momen romantis itu, ponsel Sultan yang terjatuh dari salah satu penyerang yang tertangkap, bergetar di tanah. Aaliyah mengambilnya dan melihat sebuah notifikasi yang mengerikan.
"Kalian pikir Ibu Sarah adalah target utamanya? Lihatlah ke arah menara air pesantren sekarang. - S"
Zayn dan Aaliyah seketika menoleh ke arah menara air tua di ujung pesantren. Di sana, terdapat sebuah lampu merah yang berkedip cepat.
"Bom waktu!" teriak Zayn.
Dan bom itu hanya menyisakan waktu sepuluh detik.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji