NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33: AR-RUM AYAT 21

Satu minggu kemudian, iring-iringan mobil mewah memasuki gapura desa yang masih sama asrinya. Namun, pemandangan kali ini sungguh kontras. Di mobil paling depan, Papa menyetir sendiri dengan setelan koko premium, di sampingnya Mama yang tampak anggun dengan kerudung sutra. Di kursi belakang, Oma Thalita duduk dengan wajah berseri, mengenakan jilbab instan berwarna pastel yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda.

Nero mengendarai Ninja hijaunya di barisan paling belakang, mengawal rombongan teman-teman balapnya yang juga ikut "touring religi" ke desa.

Begitu sampai di depan masjid desa, seluruh warga sudah berkumpul. Pak Malik, Ikdam, dan Davi berdiri di barisan depan. Suasana pecah dengan pelukan haru. Ikdam hampir tidak percaya melihat Nero yang klimis dan berwibawa, sementara Davi langsung merangkul Nero layaknya saudara kandung yang baru pulang dari medan perang.

"Masya Allah, Muhammad Nero... kamu benar-benar 'pulang'," bisik Pak Malik sambil menyalami Papa dan Mama Nero.

Namun, di tengah keriuhan itu, jantung Nero mendadak seolah berhenti berdetak.

Dari pintu samping masjid, seorang perempuan melangkah keluar. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat muda dengan khimar panjang yang menutup dada. Wajahnya yang dulu sering muncul dalam mimpi-mimpi Nero di Yaman kini berdiri nyata hanya dalam jarak sepuluh meter.

Ainun.

Gelar Profesor dari Al-Azhar Kairo seolah tak mampu menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya saat matanya beradu dengan mata Nero. Nero mematung di samping motornya. Helm masih ia jinjing, napasnya tertahan.

Suasana yang tadinya bising mendadak terasa senyap di telinga Nero.

"Assalamu'alaikum... Mas Nero," suara Ainun tegas, tapi anggun, dan terdengar merdu di indra pendengaran Nero.

Nero berdehem, mencoba mencari suaranya yang mendadak hilang di tenggorokan. "Wa... Wa'alaikumussalam, Ainun. Ah, maksud saya... Profesor Ainun."

Seketika, kecanggungan yang luar biasa menyelimuti mereka berdua. Nero yang biasanya lancar berdebat dengan supir bus di Mekkah atau ceramah di depan preman Jakarta, tiba-tiba merasa seperti anak SD yang lupa hafalan surat pendek. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya menatap sepatu ketsnya, lalu menatap langit, lalu menatap motornya. Apa saja asal tidak langsung menatap mata Ainun yang begitu indah.

"Sudah lama sampai di Indonesia?" tanya Ainun, mencoba memecah keheningan yang kaku itu sambil meremas ujung hijabnya.

"Baru... baru sebulan. Eh, maksudnya tiga minggu. Di Jakarta dulu, urus teman-teman," jawab Nero terbata-bata. "Kamu... sehat?"

"Alhamdulillah, sehat. Saya dengar dari Ayah... Mas Nero sudah dari Yaman?"

"Iya. Belajar sedikit-sedikit," Nero tersenyum kaku. Ia ingin bilang kalau ia belajar di sana karena terinspirasi darinya, tapi lidahnya kelu. Ia takut dianggap masih "bucin" dan bukannya murni karena Tuhan.

Tolong, ya Allah, ambil nyawaku saja sekarang. Batin pria itu.

(Ciee udah jadi pria.)

Ikdam yang melihat momen itu dari kejauhan langsung menyenggol lengan Davi sambil berbisik keras, "Liat tuh, singa gurun kita langsung jadi kucing anggora di depan Ainun!"

Davi cuma tertawa kecil. "Biarkan saja, Dam. Itu namanya getaran iman yang bercampur getaran asmara."

Oma Thalita kemudian mendekat, merangkul bahu Ainun dengan sayang. "Ainun, lihat cucu Oma. Sudah pantas belum jadi imam di masjid ini?"

Pertanyaan Oma sukses membuat wajah Nero dan Ainun makin merah padam. Ainun hanya menunduk dalam, menyembunyikan senyumnya, sementara Nero pura-pura sibuk memeriksa tekanan ban motornya yang sebenarnya baik-baik saja.

Pukul 21.00 WIB.

Desa itu sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing kampung yang terdengar.

Nero duduk di atas batu besar di belakang masjid. Tempat favoritnya dulu saat ia masih bocah dan sering merenung kenapa hidupnya terasa hampa.

Kini, ia merenung lagi.

Tapi alasannya berbeda.

“Ternyata pelajaran tersulit setelah lulus dari Yaman…” gumamnya pada bintang-bintang yang bertebaran di langit. “Bukan menghafal kitab. Bukan menjadi imam. Bukan mengajak teman-teman hijrah.”

Ia tersenyum pahit.

“Tapi bagaimana bersikap tenang saat takdir yang selama ini aku lepaskan, aku relakan, aku pasrahkan kepada Allah… tiba-tiba berdiri tepat di hadapanku. Dengan gamis cokelat. Dengan khimar panjang. Dengan senyum yang bisa mengalahkan seribu ceramah.”

Di kejauhan, di jendela kamar tamu desa, Ainun juga terjaga.

Ia memandang bulan purnama yang bersinar terang.

Tangannya meraih Al-Qur'an kecil di samping bantal. Ia membukanya, mencari-cari ayat, lalu berhenti di QS. Ar-Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Ainun menutup Al-Qur'an.

Ia tersenyum.

“Ya Allah,” bisiknya pelan. “Kalau memang dia yang Engkau takdirkan untukku... pertemukanlah kami dengan cara yang Engkau ridhai. Bukan karena nafsu. Tapi karena cinta yang berkah.”

Di luar, Nero mendongak ke langit.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak berdoa untuk dimudahkan.

Ia berdoa untuk dijaga.dari kesalahan, dari ketergesa-gesaan, dari cinta yang buta.

“Karena aku ingin mencintainya dengan mata hati, bukan mata kepala, Ya Rabb.”

---

“Wanita baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik untuk wanita baik.” — QS. An-Nur: 26

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!