NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:324
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Di dalam kamarnya, Luca sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Hari ini ia memiliki jadwal promosi besar untuk peluncuran produk terbaru dari brand skincare yang telah mengontraknya. Di atas meja, ponsel pintar miliknya sudah bergetar dan berdering untuk kesekian kali. Namun, Luca sama sekali tidak memiliki niatan untuk menyentuh, apalagi menjawabnya.

​Layar itu terus menampilkan nama Brant. Bahkan, rentetan pesan singkat yang masuk sejak kemarin sore sengaja diabaikan oleh Luca. Rasa kecewa dari malam pertunangan Rose masih membekas terlalu dalam di dadanya.

​"Ca, gue masuk ya," terdengar suara Lea dari balik pintu yang sedetik kemudian langsung terbuka. Adik perempuannya itu melangkah masuk dengan wajah ditekuk. "Ca, Mama bilang, angkat itu telepon dari Brant."

​Luca yang sedang menyisir rambut di depan cermin langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap Lea dengan raut heran sekaligus bingung. Bagaimana bisa Mama tahu kalau Kak Brant sedang meneleponku? batin Luca.

​"Kapan Mama bilang?" tanya Luca.

​"Barusan. Si Brant sengaja menelepon Mama di butik cuma buat minta tolong Mama bilangin ke lu," sahut Lea jengkel. "Lu berdua kalau pacaran jangan merepotkan orang rumah, dong! Gue lagi asyik mimpi indah di hari libur malah dibangunin cuma buat urusan begini."

​Setelah Lea keluar sambil menggerutu, Luca mengambil ponselnya. Benar saja, di antara puluhan panggilan tak terjawab dari Brant, ada satu panggilan dari ibunya yang sempat ia abaikan tadi. Selesai bersiap, Luca langsung berangkat ke lokasi kerja dengan taksi daring. Hatinya sudah telanjur beku; ia masih belum memiliki niatan sama sekali untuk berbicara dengan Brant.

​Di studio tempat acara berlangsung, profesionalitas Luca kembali diuji. Begitu kamera menyala, ia langsung bertransformasi menjadi sosok yang santai, ceria, dan penuh energi saat mempromosikan produk baru terbaru tersebut.

​Di balik layar, Citra bersama sang team leader memperhatikan performa Luca dengan senyum puas.

​"Luca benar-benar memberikan dampak yang luar biasa untuk produk ini. Angka penjualan kita membeludak drastis, bahkan gudang pusat sampai kehabisan stok," bisik Citra bangga.

​"Iya, aku juga sedang memantau kolom komentar di akun resmi produk. Banyak sekali daftar antrean orderan yang menunggu dari berbagai kota di seluruh Indonesia," sahut sang team leader. "Itu semua karena pembawaan Luca yang tampan, manis, dan selalu ceria."

​"Kudengar pihak direksi akan memperpanjang kontrak eksklusifnya lebih lama, dan nilai bayarannya sangat tinggi," tambah rekan tim yang lain.

​"Dia sangat pantas mendapatkannya. Luca itu seperti berlian baru di perusahaan ini," puji Citra tulus.

​Begitu sutradara meneriakkan kata "Cut!" tanda promosi sesi pertama selesai, Luca langsung menoleh ke arah tim manajemen dan melempar senyum manisnya. Saat Luca berjalan mendekat, Citra segera menyerahkan ponsel yang tadi dititipkan kepadanya.

​"Terima kasih, Kak," ujar Luca. Namun, senyum cerahnya seketika surut saat matanya kembali menangkap nama Brant yang memenuhi log panggilannya.

​"Ponselmu dari tadi bergetar terus, Ca. Sepertinya ada telepon yang sangat penting," ucap Citra memperhatikan perubahan raut wajah Luca.

​Luca cepat-cepat menguasai diri dan tersenyum tipis. "Ah, iya, Kak. Ini cuma dari temanku."

​"Jadwalmu hari ini sudah selesai, kamu bisa pulang lebih awal dan istirahat," ujar Citra ramah.

​Luca menggeleng pelan dengan wajah memelas yang menggemaskan, namun binar semangatnya tetap terpancar. "Iya, Kak, tapi aku harus langsung pergi membantu Mama. Hari ini ada jadwal pemotretan katalog lagi untuk koleksi pakaian terbaru di butik."

​Citra tersenyum kagum, matanya memancarkan rasa bangga yang besar. "Begitu, ya? Kamu benar-benar anak yang baik dan berbakti, Ca. Kakak yakin kamu pasti akan sukses besar ke depannya."

​Setelah berpamitan dengan semua kru dan tim di studio, Luca melangkah keluar gedung. Tubuhnya mungkin lelah, namun ia harus tetap kuat. Hari ini, setelah selesai bekerja untuk orang lain, perjalanannya masih berlanjut—bekerja demi membantu ibunya.

Di belahan benua yang lain, London terasa mencekam bagi Brant. Penampilannya tampak sangat kusut; gurat kelelahan tercetak jelas di wajahnya. Brant tidak bisa tidur dengan baik selama dua hari terakhir. Ia sengaja terjaga hanya untuk terus mencoba menghubungi Luca di setiap waktu senggang, mengabaikan perbedaan zona waktu yang membentang di antara mereka.

​Beban pikirannya kian melelahkan karena jadwal kerja yang super padat. Brant harus menghadiri serangkaian pertemuan dengan investor dan rapat direksi yang panjang. Di tengah tekanan itu, sebuah celah muncul. Akhir-akhir ini, Tuan Lodrik terlihat sangat sibuk di luar kantor dan sering absen dari berbagai agenda penting. Brant memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kemampuan bisnisnya yang cemerlang di hadapan dewan direksi dan para investor utama di London. Performanya yang tak cela berhasil membawa kemajuan signifikan bagi perusahaan, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai calon penerus yang disegani.

​Namun, di balik kesuksesan korporatnya, batin Brant hancur. Ia sangat merindukan Luca. Rasa bersalah karena telah membentak kekasihnya malam itu terus menghantui. Brant bahkan sampai harus menghubungi Nyonya Lana—ibu Luca—untuk meminta bantuan agar Luca mau berbicara dengannya, namun hasilnya tetap nihil. Ditambah lagi, rahasia busuk tentang permainan saham ayahnya yang mulai terkuak membuat kepalanya kian pening.

​Saat Brant sedang melamun, ponsel di genggamannya bergetar. Berharap itu dari Luca, ia bergegas melihat layar. Namun, kecewa kembali menyergap saat nama Leo yang tertera di sana.

​"Ada apa?" tanya Brant, suaranya terdengar serak.

​"Aku sudah menemukan data tentang Junior Willey," sahut Leo di seberang telepon tanpa basa-basi.

​"Bawa ke ruanganku sekarang juga," perintah Brant dingin.

​"Apa kau mau sekalian kubawakan makan siang? Kepala koki kantin eksekutif perusahaan sedang izin sakit," jelas Leo.

​"Baiklah." Brant langsung memutuskan sambungan sepihak. Sebelum meletakkan ponselnya, ia mencoba sekali lagi menekan nomor Luca. Hasilnya sama. Mengembuskan napas panjang, Brant hanya bisa menerima kenyataan bahwa Luca benar-benar menutup akses komunikasi untuknya.

​Tidak lama kemudian, pintu ruangan Brant diketuk. Leo melangkah masuk membawa kantong berisi menu makan siang dan cup es kopi hitam.

​"Aku membelikan ini agar kau tidak mengantuk dan bisa lebih rileks," ujar Leo seraya meletakkan es kopi dan sebuah kotak makan di atas meja kerja Brant.

​"Terima kasih. Duduklah, kita makan bersama," balas Brant sambil membuka kotak makan tersebut.

​Kedua alis Brant bertaut heran saat melihat isinya. Leo membawakannya nasi hangat lengkap dengan rendang daging yang masih mengepulkan aroma rempah yang kuat. "Kau mendapatkan menu ini di mana?" tanya Brant setelah suapan pertama mampir di lidahnya.

​Leo terkekeh pelan. "Rendang sudah masuk dalam jajaran makanan internasional, Brant. Tidak sulit menemukannya di restoran Asia mewah di pusat kota London. Kau menyukainya?"

​"Hmm, ini enak." Brant mengangguk, menikmati rasa familier tanah air yang sedikit mengobati kerinduan hatinya.

​Setelah makan siang selesai, Leo dengan sigap membersihkan meja kerja, lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat yang tersegel rapat.

​"Aku mendapatkan ini dari informan yang memiliki akses ke basis data pribadi yang sengaja disembunyikan," ucap Leo serius.

​Brant langsung merobek amplop tersebut. Namun, begitu membaca lembar pertama dokumen di dalamnya, ia menatap Leo dengan kening berkerut dalam, dipenuhi rasa bingung yang kentara. "Ini... data seorang anak berusia empat tahun?"

​"Ya, data itu sangat akurat. Dokumen ini sinkron dengan arsip digital yang dikirim oleh sistem legalitas anak perusahaan kita di Indonesia. Karena perusahaan kita di London dan Jakarta masih berada di bawah satu kepemilikan dan manajemen terpusat, seluruh data pemegang saham terekam jelas di kedua belah pihak," jelas Leo panjang lebar.

​Berbagai prasangka buruk kini berputar di benak Brant. Anak kecil berusia empat tahun memegang saham tertinggi kedua di perusahaannya? Ini jelas sebuah taktik manipulasi" Alamat anak ini bukan di London, melainkan di Jakarta," gumam Brant, matanya menatap tajam ke baris lokasi di dokumen tersebut. Ia menutup berkas itu dengan tegas. "Leo, selesaikan semua pekerjaan kita yang sempat tertunda di sini. Atur jadwal, minggu depan—empat hari lagi—kita berangkat ke Indonesia."

​Leo mengangguk patuh dengan gestur sopan. "Baik, Brant. Aku permisi kembali ke ruanganku."

​Sepeninggal Leo, Brant berdiri di dekat jendela kaca besarnya. Rasa penasaran terhadap sosok anak misterius bernama Junior Willey itu terus mengusik warasnya. Namun, sebuah senyuman tipis perlahan terbit di sudut bibir Brant. Selain untuk menguliti konspirasi sang ayah, ia sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba karena akhirnya ia bisa pulang untuk menemui dan memeluk kembali kekasih hatinya, Luca.

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan sesi foto katalog, keheningan menyelimuti kabin. Nyonya Lana melirik putra sulungnya yang sejak tadi hanya diam menatap keluar jendela. Sebagai ibu, beliau tahu hubungan Luca dan Brant sedang tidak baik-baik saja, terlebih setelah Brant meneleponnya tadi pagi demi mencari Luca.

​"Kamu lagi ada masalah apa, hmm? Coba cerita sama Mama," ucap Nyonya Lana lembut.

​Luca menghela napas panjang, menjawab tanpa menoleh, "Kak Brant sekarang susah banget dihubungi, Ma."

​Nyonya Lana tersenyum maklum. "Tapi tadi Brant berkali-kali meneleponmu, kan? Kamu sendiri yang menolak bicara dengannya." Satu tangan Nyonya Lana yang bebas dari kemudi bergerak membelai rambut Luca dengan kasih sayang seorang ibu. "Ca... kalau kamu masih bisa bertahan, bertahanlah. Tapi kalau kamu merasa sudah tidak mampu lagi, lepaskan."

​Luca langsung menoleh cepat, menatap ibunya dengan raut wajah terkejut dan mata yang berkaca-kaca. "Mama menyuruh aku putus dari Kak Brant?"

​"Ehh, siapa yang menyuruhmu putus?" kekeh Nyonya Lana pelan. "Mama kan bilang 'kalau tak mampu'. Kalau kamu memilih bertahan, artinya kamu harus belajar untuk lebih banyak mengerti. Kamu tidak tahu kendala apa yang dihadapi Brant di London, dan Brant juga tidak tahu apa yang kamu jalani di sini. Jarak kalian jauh, kalian hanya bisa bertukar kabar lewat telepon. Nah, kalau telepon dari Brant saja kamu tolak, bagaimana kalian bisa berkomunikasi dan tahu kesulitan masing-masing?"

​Dada Luca seketika terasa sesak. Ia ingin sekali mengadu tentang ucapan menyakitkan Brant malam itu. Namun, logika dan perkataan mamanya ada benarnya. Pasti Kak Brant punya kesulitan besar di sana yang tidak aku ketahui, batin Luca bersalah.

​Nyonya Lana menghela napas panjang, tatapannya melembut menatap lurus ke jalanan di depan. "Ca, hubungan itu fondasinya adalah percaya dan mengerti. Kalau dua hal itu goyah karena jarak, semuanya bisa runtuh. Mama jadi ingat waktu zaman pacaran sama almarhum papamu dulu."

​Luca menoleh, mendengarkan dengan saksama. Jarum jam seolah berputar lambat, membawa atmosfer hangat di dalam mobil.

​"Dulu, hubungan Mama dan Papa sempat tidak direstui oleh orang tua Papa. Rasanya berat sekali, bahkan Mama berkali-kali hampir menyerah karena merasa tidak pantas," kenang Nyonya Lana dengan senyum tipis yang sarat nostalgia. "Tapi papamu itu luar biasa. Dia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Papa terus meyakinkan Mama, berjuang keras membuktikan bahwa hubungan kami layak dipertahankan. Kami saling mengerti posisi masing-masing dan saling percaya, hingga akhirnya kami bisa menikah dan maut yang memisahkan kami."

​Mendengar cerita itu, ingatan Luca mendadak terlempar pada sosok Tuan Lodrik. Kalimat dingin dari ayah Brant waktu itu kembali membayangi pikirannya, menciptakan denyut perih yang nyata. Hubungan mereka pun menghadapi tembok besar yang sama.

​Nyonya Lana seolah bisa membaca isi pikiran putranya. Beliau menggenggam jemari Luca yang terasa dingin. "Ca, dengan siapa pun kamu berjodoh nanti, entah itu Brant atau orang lain, Mama tidak peduli latar belakangnya. Harapan Mama cuma satu; Mama hanya ingin seseorang yang tulus menyayangi, menghargai, dan bisa menjaga kamu dengan baik."

​"Aku... egois ya, Ma?" tanya Luca lirih, air matanya nyaris menetes.

​"Tidak juga, Ca. Itu adalah mekanisme pertahanan diri. Manusiawi jika kita memilih diam dan memberi jeda dalam berkomunikasi untuk melindungi hati kita agar tidak semakin sakit setelah dikecewakan," jelas Nyonya Lana dengan bijak. "Tapi, jangan terlalu lama melakukan silent treatment-nya. Kasihan Brant menunggu di sana. Kamu juga pasti merindukan Kak Brant-mu, kan?" goda sang ibu kemudian.

​"Ih, Mama! Rindu sih pasti, cuma aku masih kesal saja," gerutu Luca sambil mengerucutkan bibirnya. Meski begitu, hatinya jauh lebih tenang dan lega setelah mendengar nasihat sang ibu.

​Begitu sampai di rumah, Luca langsung mengunci diri di kamar. Rasa penasaran mengalahkan gengsinya. Ia membuka aplikasi pesan dan membaca rentetan obrolan dari Brant yang sengaja ia abaikan sejak subuh. Isinya penuh dengan kata maaf, penjelasan mengenai kondisinya yang kacau karena memikirkan Luca, hingga pengakuan jujur tentang rasa rindu Brant yang tersiksa akibat keterbatasan waktu komunikasi mereka akhir-akhir ini.

​Luca tersenyum tipis, dadanya menghangat. Ia merasa dirinya memang sedikit egois karena sempat meragukan ketulusan kekasihnya. Luca memutuskan hanya membaca pesan-pesan itu tanpa membalasnya sekarang; yang terpenting ia sudah tahu isi hati Brant. Saking lelahnya fisik dan batin hari itu, Luca langsung tertidur lelap di ranjangnya yang temaram bahkan sebelum sempat membersihkan diri.

​Sementara di sebuah kafe estetik, Clay sedang menikmati waktu berdua dengan seorang gadis yang tengah didekatinya. Namun, momen manis itu terusik oleh rentetan pesan spam dan panggilan telepon yang berdering tanpa henti.

​"Apaan sih, Nyet?! Kan gue udah bilang iya, iya!" omel Clay terpaksa beranjak dari kursi, meninggalkan teman kencannya demi menerima telepon di area luar kafe.

​"Lu harus jelasin baik-baik supaya Luca mengerti, Clay. Lu tahu sendiri kan, anak itu kalau merajuk menggemaskan, tapi keras kepalanya minta ampun," suara Brant terdengar frustrasi di seberang telepon.

​"Iya, nanti pasti gue bantu jelasin ke dia," sahut Clay, menahan sabar.

​"Ngomongnya yang lembut, ya. Jangan sampai dia nangis," pesan Brant lagi, penuh kecemasan.

​Clay mendengus geli sekaligus jengkel. "Aneh lu. Masa iya gue mau marah-marah nggak jelas sama pacar orang? Udah ya, gue lagi ngedate ini, lu ganggu banget tahu nggak, Kampret!" Clay melirik ke dalam kaca kafe, melihat teman wanitanya yang mulai tampak tidak nyaman karena ditinggal sendiri.

​"Oke, makasih ya. Bye," ucap Brant sebelum menutup sambungan.

​Clay mengantongi ponselnya seraya menggelengkan kepala. Ia membatin jengkel, dirinya sendiri baru saja mau memulai pendekatan dengan gebetan baru, tapi sudah harus dibayang-bayangi oleh urusan drama asmara orang lain yang sedang dilanda konflik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!