Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Reno langsung berusaha mencari Inara kembali. Sayangnya, ia sadar dirinya tidak benar-benar tahu apa pun tentang wanita itu. Yang ia tahu hanya Inara seorang gadis yatim piatu yang selama ini selalu ada untuknya dan Zidan. Ia sudah mencoba menghubungi nomor Inara berkali-kali, tetapi nomor itu kini sudah tidak aktif.
Reno mengusap wajahnya kasar sambil berpikir keras. Sampai akhirnya ia teringat pada satu orang, Nila. Sahabat dekat Inara itu mungkin tahu di mana wanita tersebut berada.
Namun masalahnya, dulu Reno sama sekali tidak suka Nila terlalu sering dekat dengan Inara. Menurutnya, Nila terlalu banyak mempengaruhi Inara untuk melawan dan tidak selalu mengalah padanya. Karena itulah sekarang ia bahkan tidak memiliki nomor wanita itu, apalagi mengetahui tempat tinggal atau lingkungan pertemanannya.
Reno tertawa hambar mengingat semuanya.
"Apa benar aku selama ini egois?" gumamnya pelan. "Cuma mau dicintai tanpa pernah mikirin timbal baliknya." Tatapannya kosong menembus jalanan di depan rumah sakit.
Padahal dulu hubungannya dengan Inara baik-baik saja. Mereka bahkan terlihat seperti pasangan harmonis yang tinggal menunggu waktu menuju pernikahan. Namun semua berubah sejak perkataan Inara di rumah sakit waktu itu.
Alih-alih meminta penjelasan atau mencoba memahami maksud wanita itu, Reno justru memilih membuat kesimpulan sendiri. Ia terus menaruh curiga, lalu perlahan menjauh sambil membiarkan Zoya masuk kembali ke dalam kehidupannya. Dan yang paling parah, jauh di dalam hatinya Reno sadar… dirinya memang sengaja membiarkan semua itu terjadi.
Ia ingin Inara merasa cemburu. Ingin wanita itu takut kehilangan dirinya dan Zidan, supaya Inara terus bertahan dan merasa harus bersyukur karena masih dipilih olehnya. Padahal tanpa disadari, sikap egoisnya sendiri perlahan menghancurkan hubungan mereka sedikit demi sedikit.
Reno berpikir cukup lama hingga ia ingat anaknya yang sudah ia tinggal sejak tadi pagi, "Zidan, pasti inara memberitahu zidan tentangnya."
Akhirnya Reno buru-buru pulang ke rumah. Ia juga ingat Inara memiliki hobi menulis sesuatu di buku harian. Mungkin dari sana ia bisa mendapatkan informasi lebih tentang calon istrinya itu.
***
Di rumah Reno, sejak pagi Zoya sibuk mengurus Zidan yang benar-benar tidak bisa diam. Anak itu terus berlari ke sana kemari, memainkan semua barang yang dilihatnya, lalu merengek setiap kali dilarang.
Meski lelah, Zoya masih berusaha mempertahankan senyum dan kesabarannya. Ia ingin terlihat seperti ibu yang baik di mata Zidan. Lebih dari itu, ia berharap Reno tiba-tiba pulang lalu melihat sendiri bagaimana tulusnya dirinya mengurus anak mereka. Namun kenyataannya jauh dari bayangannya. Reno tak kunjung kembali.
Sementara rumah sudah berubah berantakan. Mainan berserakan di lantai, sofa dipenuhi bungkus camilan, bahkan minuman Zidan tadi sempat tumpah dan membuat lantai lengket.
Zoya mengembuskan napas kasar sambil mengacak rambutnya frustrasi. Rambut yang sejak pagi ditata rapi dan harum kini mulai lepek bercampur bau keringat. Ia benar-benar kewalahan menghadapi Zidan yang terlalu aktif dan sama sekali tidak mau diam.
“Zidan, jangan lari-lari!” tegurnya mulai kehilangan kesabaran.
Namun anak itu justru tertawa kecil lalu kembali berlari menuju ruang tengah sambil membawa mobil-mobilannya.
Zoya memejamkan mata sesaat, mencoba menahan emosi yang mulai naik ke kepala. Baru sehari mengurus Zidan penuh saja tubuh dan pikirannya sudah terasa lelah. Awalnya ia pikir zidan akan tenang sama seperti di rumah sakit, jadi ia bisa menjaga zidan sambil main ponsel. Namun, sekarang ia benar-benar merasa lelah.
"Bunda oya, ayo main," ajak Zidan setelah ditegur tadi.
"Bunda capek sayang. Kamu istrahat ya, kan Zidan habis sakit gak boleh capek-capek," ucapnya.
"Idan udah cehat bun. Main, main, main, ayo bunda temenin idan," Rengeknya.
Zoya mencoba tersenyum meski sudut bibirnya mulai terasa kaku. “Iya, tapi Bunda capek,” ucapnya lagi sambil menahan napas. “Zidan tidur siang dulu ya.”
Namun Zidan malah kembali menarik tangannya paksa. “Enggak mauuu… Idan mau main sama Bunda Oya.”
Anak itu terus merengek sambil meloncat-loncat di sofa tanpa bisa diam sedikit pun. Suaranya yang sejak tadi nyaring mulai membuat kepala Zoya berdenyut.
Awalnya ia masih mencoba sabar. Ia bahkan sempat mengambil mobil-mobilan lalu ikut bermain beberapa menit. Namun Zidan tetap saja tidak puas.
“Bunda, ambilin yang itu!”
“Bunda ayo ke sana!”
“Bunda jangan diem!”
Sedikit demi sedikit kesabaran Zoya mulai terkikis. Apalagi saat ia baru saja membereskan mainan di lantai, Zidan malah kembali menumpahkannya sambil tertawa kecil.
Brak!
Suara pecahan membuat Zoya langsung menoleh cepat. Gelas hias di atas meja kini sudah jatuh dan pecah berserakan di lantai. Zidan yang tadi berlari sambil membawa mobil-mobilannya langsung terdiam kaget. Sementara Zoya mematung beberapa detik sebelum emosinya benar-benar meledak.
“ZIDAN!”
Bentakan keras itu membuat anak kecil tersebut refleks mundur ketakutan.
“Astaga! Kamu itu bisa diem gak sih?!” suara Zoya mulai meninggi penuh emosi. “Dari tadi bikin berantakan terus!”
Bibir Zidan langsung bergetar. Bola matanya mulai memerah karena terkejut melihat Zoya membentaknya seperti itu. Hal yang tak pernah ia alami saat bersama dengan Inara.
“Bu… Bunda…”
“Bunda capek tahu gak!” lanjut Zoya tanpa sadar. “Kamu itu susah diatur banget!”
Tangisan Zidan akhirnya pecah. Anak itu langsung berdiri mematung sambil menangis ketakutan. Bahunya sampai bergetar kecil karena isakannya mulai tidak teratur.
“Aku mau Mama Ara…” rengeknya lirih di sela tangis. “Mau Mama Ara…”
Kalimat itu membuat wajah Zoya berubah seketika. Di tengah semua lelah dan emosinya, nama Inara justru kembali disebut.
“Mama Ara lagi!” cetusnya kesal. "Memangnya dia masih mau sama kamu?! Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu benci dia.”
Zidan makin menangis keras. “Aku mau Mama Ara… hiks… Mama Ara…”
Entah kenapa tangisan itu justru membuat kepala Zoya semakin panas. Selama ini ia selalu berusaha merebut perhatian Zidan, tetapi sekarang anak itu malah terus mencari Inara bahkan setelah wanita itu pergi. Tanpa sadar Zoya mencengkeram lengan kecil Zidan sedikit keras.
“Berhenti nangis!” bentaknya frustrasi. “Pusing tahu gak!”
Zidan langsung menangis makin keras karena ketakutan. Saat bersamaan suara pintu rumah tiba-tiba terdengar terbuka dari arah depan.