Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Gema Kosmis dan Retaknya Fondasi Orario
Keesokan paginya, Orario tidak diserang oleh monster raksasa. Tidak ada pilar cahaya yang menghancurkan Babel. Namun, kota ini runtuh dari dalam.
Naskah terbaru "The Xianzhou Alliance"—jilid yang memperkenalkan Aeon dan Path—menyebar jauh lebih cepat daripada wabah penyakit. Berkat jaringan bawah tanah Hermes, salinan-salinan itu tidak hanya jatuh ke tangan petualang korup, tetapi menembus hingga ke meja para pimpinan Familia, kedai-kedai kumuh, hingga ruang suci para Dewa.
Konsep bahwa seseorang bisa mendapatkan kekuatan kosmis bukan dari belas kasihan Dewa yang turun ke bumi, melainkan dari resonansi obsesi dan filosofi murni, adalah sebuah bidah tertinggi. Itu adalah racun manis bagi mereka yang putus asa, dan ancaman eksistensial bagi tatanan Orario.
Di markas besar Hestia Familia, sebuah gebrakan meja memecah keheningan pagi.
"Ini penghinaan! Penghinaan mutlak terhadap eksistensi kita!" Hestia menjerit, wajahnya merah padam. Ia meremas perkamen itu hingga kusut. "Dewa tanpa wujud yang memberikan kekuatan hanya karena manusia terobsesi pada sesuatu? Ini mengajarkan anak-anak fana untuk membelot dari sistem Falna!"
Di sudut ruangan, Bell Cranel duduk dalam diam. Matanya terpaku pada telapak tangannya sendiri. Pemuda berambut putih itu teringat pada Skill misteriusnya, Argonaut, dan pertumbuhannya yang tak masuk akal. Kekuatannya meledak karena satu hal: obsesinya yang murni untuk menyusul sang Putri Pedang.
Apakah keinginanku... adalah sebuah bentuk 'Path'? pikir Bell, dadanya bergemuruh oleh ketakutan sekaligus ketakjuban. Jika aku terus mengejar tanpa menoleh ke belakang, apakah aku sedang berjalan di Path of The Hunt?
Jauh di bawah permukaan tanah, di Lantai 58 Dungeon yang diselimuti kegelapan dan raungan monster, ekspedisi aliansi Loki Familia sedang beristirahat sejenak setelah memukul mundur gelombang mutan Evilus.
Finn Deimne duduk di atas tumpukan bangkai monster, membaca secarik perkamen yang dikirimkan oleh Asfi Al Andromeda atas perintah Hermes. Mata biru sang Braver bergerak cepat membaca setiap baris tentang Lan (The Hunt) dan Nanook (The Destruction).
"Kapten," tegur Riveria Ljos Alf, mengerutkan kening melihat Finn yang tersenyum dingin. "Apa yang kau baca?"
"Buku panduan perang kita yang baru," jawab Finn pelan. Ia berdiri, auranya berubah menjadi lebih tajam, menanggalkan kelembutannya. "Sekte Evilus memuja Abundance. Mereka bermutasi dan menolak mati. Pertahanan konvensional tidak akan berhasil. Mulai sekarang, kita mengadopsi filosofi Familia Lan. Tidak ada pertahanan. Kita akan menjadi badai panah cahaya. Kita buru mereka hingga sel terakhir mereka terbakar."
Beberapa meter dari sana, Aiz Wallenstein bersandar pada dinding gua es. Ia tidak membaca naskah itu, tapi ia mendengar penjelasan Finn. Di dalam dadanya, sihir hitam Avenger—kebencian absolutnya terhadap monster—beresonansi dengan hebat.
Nanook... The Destruction, bisik Aiz dalam hatinya. Deskripsi tentang rasa sakit yang diubah menjadi kekuatan tempur, dan berjalan di atas bara api untuk mengembalikan segalanya menjadi ketiadaan... itu sangat mirip dengan dorongan gelap di dalam jiwanya. Untuk sesaat, mata emas Aiz meredup, membayangkan dirinya melepaskan seluruh akal sehatnya demi kekuatan mutlak Destruction untuk membunuh monster naga bermata satu.
Genggaman Riveria di bahunya menarik Aiz kembali ke kenyataan. "Jangan biarkan pikiranmu ditelan oleh tulisan itu, Aiz. Itu jalan menuju kegilaan," peringat sang High Elf, meski nada suaranya sendiri menyiratkan kekhawatiran yang dalam.
Di permukaan, cahaya senja menyinari kedai Hostess of Fertility. Kedai itu belum buka, dan Ryuu Lion sedang mengelap gelas kayu dalam diam. Di atas meja kasir, tergeletak salinan bab terbaru yang diam-diam dibawa oleh Syr.
Mata Ryuu menatap tajam pada paragraf yang mendeskripsikan Familia Lan.
"Mereka memburu dan membumihanguskan setiap sisa dari Familia Yaoshi hingga tak bersisa... badai yang tidak mengenal kata mundur."
Tangan Ryuu mencengkeram gelas itu hingga retak. Ia teringat pada teman-temannya di Astrea Familia yang dibantai oleh Evilus. Ia teringat pada malam di mana ia membuang nama dan kehormatannya demi memburu para pembunuh itu satu per satu. Ia selalu mengira ia telah jatuh ke jalan yang salah, jalan penderitaan yang tak direstui oleh Dewi Keadilan Astrea.
Namun tulisan ini... tulisan ini memberitahunya bahwa pembalasan dendam mutlak adalah sebuah jalan suci di alam semesta yang lebih besar. Jalan Sang Pemburu.
"The Hunt..." gumam Ryuu, matanya memancarkan tekad sedingin es yang sudah lama terkubur. Jika Evilus benar-benar kembali di lantai bawah, maka sang Peri Badai (Gale Wind) mungkin harus turun tangan, bukan sebagai petualang, melainkan sebagai algojo Lan.
Di puncak Menara Babel, Freya berdiri di balkon pualamnya, menatap ke arah lautan manusia di Orario. Gelas anggurnya bergetar pelan. Mata peraknya yang mampu melihat warna jiwa para fana kini menangkap fenomena yang belum pernah ia saksikan selama ribuan tahun turun ke bumi.
Warna jiwa di Orario sedang bergolak.
Biasanya, jiwa-jiwa itu memancarkan warna sesuai dengan sifat bawaan mereka atau pengaruh Dewa yang memberikan Falna. Namun hari ini, Freya melihat jiwa-jiwa itu mulai menajam. Beberapa jiwa petualang yang putus asa mulai meredup ke arah abu-abu keputusasaan (Destruction), sementara jiwa para ksatria pelindung menebal menjadi kuning kristal (Preservation).
Mereka sedang mencoba menyelaraskan diri dengan Aeon fiktif. Keyakinan massa sedang mengubah realitas.
"Ini... sungguh menakutkan," Freya berbisik, napasnya sedikit terengah karena kombinasi antara ekstasi dan bahaya. "Dia tidak hanya menulis tragedi. Dia sedang mencoba mengganti agama di kotaku."
Di belakangnya, Ottar sang Raja berdiri kokoh seperti gunung baja. "Apakah Anda ingin saya membunuhnya sekarang, Freya-sama? Sebelum bidah ini mengakar?"
Freya terdiam cukup lama. Ia menatap ke arah Distrik Utara, tepat ke arah rumah sewaanku. Senyum tipis, mematikan, namun penuh cinta yang sakit terbentuk di bibirnya.
"Tidak, Ottar. Belum. Aku ingin melihat seberapa jauh manusia fana ini bisa mengguncang surga sebelum sayapnya terbakar. Tapi ingat... jika dia mulai menatap ke arah bintang-bintang (Aeon) itu dan melupakan aku, bawa dia ke hadapanku dengan rantai."
Jauh di bawah tanah, di ruang doa rahasia Guild, Ouranos duduk di atas singgasananya yang diselimuti api biru. Sang Dewa Pertama Orario itu menatap lurus ke keheningan.
Fels, sang penyihir abadi berjubah hitam, berlutut di hadapannya.
"Ouranos," suara Fels menggema dari balik topeng tengkoraknya. "Buku itu... Anonym telah menyentuh tabu kosmis. Para petualang di lantai bawah mulai meneriakkan nama Lan dan Qlipoth saat merapal sihir mereka. Ini bukan sekadar fiksi lagi. Ini adalah pergeseran fondasi Falna."
Ouranos menutup matanya. Suaranya yang berat dan purba bergemuruh di ruangan itu. "Seseorang telah membuka Kotak Pandora yang bahkan tidak dimiliki oleh para Dewa Orario. Biarkan Finn Deimne mengurus Evilus di bawah sana. Tugasmu, Fels, adalah mencari tahu siapa manusia di permukaan yang memegang pena ini. Temukan dia, sebelum para Dewa di surga (Tenkai) memutuskan untuk memusnahkan Orario demi menghentikan agama baru ini."
Di ruang bawah tanahku yang remang, aku bersin dengan keras. Hawa dingin tiba-tiba merayap di tengkukku.
Aku melihat ke luar jendela kecil di dekat langit-langit, menatap senja yang turun menyelimuti Orario. Kota ini terasa berbeda. Ada ketegangan yang pekat, dengungan doa-doa baru yang tidak ditujukan kepada Dewa-Dewi Yunani atau Nordik, melainkan kepada nama-nama yang kubawa dari ingatanku tentang sebuah game.
Aku memijat pelipisku yang berdenyut hebat.
Tujuanku hanyalah mengalihkan perhatian Evilus dan Finn agar aku tidak dibunuh. Namun, dengan kepanikan dan kejeniusan manipulatif Hermes, aku secara tidak sengaja telah mengajari penduduk Orario cara untuk "berdoa" kepada entitas yang jauh lebih absolut daripada Dewa di depan mata mereka.
Aku bukan lagi pencerita buronan. Aku baru saja menjadi nabi pertama dari agama yang bahkan tidak nyata.
Dan di kota di mana iman memberikan kekuatan fisik... kebohongan yang dipercaya oleh puluhan ribu orang dengan segenap jiwa mereka, perlahan-lahan... akan mulai mendistorsi hukum dunia dan berubah menjadi kenyataan.
Papan catur ini baru saja terbakar.