NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Sederhana sekali. Ia bahkan tidak membawa banyak barang seperti orang bepergian jauh. Namun entah kenapa dadanya tetap terasa berat.

Tiur yang membantu menyiapkan keperluan Habibi sempat tersenyum kecil. “Mbak tegang banget.”

Amira tersadar lalu buru-buru menyangkal. “Enggak kok.”

Tiur malah tertawa pelan. “Kelihatan.”

Amira akhirnya hanya tersenyum tipis sambil melipat kain kecil milik Habibi. Jujur saja bukan perjalanan itu yang membuatnya gelisah. Melainkan kampung yang akan mereka datangi. Kampung Mlati. Tempat yang selama ini sengaja ia hindari. Tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan tentang masa kecilnya. Tentang kehilangan. Tentang trauma yang membuat dirinya berubah menjadi pribadi tertutup seperti sekarang.

Belum lagi ada perasaan aneh setiap kali bersama Usman akhir-akhir ini. Dan Amira tidak suka perasaan itu. Karena hidupnya sudah cukup rumit. Ia tidak ingin hatinya kembali kacau oleh hal-hal yang tidak perlu.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar masuk ke halaman ndalem. Tiur langsung menoleh keluar jendela. “Kayaknya Kyai Usman sudah siap.”

Jantung Amira kembali berdegup aneh. Ia cepat-cepat mengambil tas kecilnya lalu menggendong Habibi. Bayi itu langsung tenang dalam pelukannya seperti biasa. Dan entah kenapa kehangatan kecil dari tubuh Habibi membuat Amira sedikit lebih berani menghadapi hari ini.

Meski ia sendiri belum tahu bahwa perjalanan ke kampung Mlati kali ini akan membuka kembali banyak rahasia lama yang selama ini tersembunyi.

***

Mobil besar milik pesantren mulai meninggalkan halaman ndalem perlahan. Suasana di dalam mobil cukup tenang pagi itu.

Di kursi depan, sopir fokus menyetir sementara Usman duduk di sampingnya sambil sesekali memeriksa ponsel karena beberapa urusan pondok masih terus masuk. Sementara di kursi tengah, Umi Salma duduk berdampingan dengan Amira. Habibi berada dalam pelukan Amira, terbungkus rapi dan sesekali mengeluarkan suara kecil manja.

Di kursi paling belakang, Tiur dan seorang khadimat lain duduk sambil membawa berbagai perlengkapan bayi.

Perjalanan awalnya berlangsung biasa saja. Umi Salma beberapa kali mengajak Amira mengobrol ringan supaya perempuan itu tidak terlalu tegang. Namun Amira tetap lebih banyak diam. Tatapannya sesekali keluar jendela. Semakin jauh mobil berjalan semakin terasa familiar jalan-jalan yang mereka lewati. Dan itu membuat dadanya makin tidak nyaman.

Sementara di depan, Usman sesekali tanpa sadar memperhatikan bayangan Amira dari kaca spion tengah. Perempuan itu terlihat tenang. Tetapi jemarinya terus mengusap kain bedong Habibi berulang-ulang seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.

Usman tahu tanda itu. Amira sedang gelisah. Beberapa kali lelaki itu ingin bicara. Namun urung. Sampai akhirnya Habibi mulai rewel kecil. Amira langsung menimangnya pelan sambil bershalawat lirih. Dan seperti biasa bayi itu cepat tenang mendengar suara Amira.

Tiur yang melihat dari belakang sampai tersenyum kecil. “Habibi mah udah paling cinta Mbak Amira.”

Ucapan itu membuat Umi Salma ikut tersenyum hangat.

Sementara Amira hanya malu-malu kecil sambil mencium kepala bayi tersebut.

Namun tanpa sadar sudut bibir Usman di depan ikut terangkat tipis mendengar kalimat itu. Dan hal kecil itu tidak luput dari perhatian Umi Salma. Beliau memandang putranya beberapa detik. Lalu diam-diam tersenyum kecil sendiri.

Sementara Amira masih sibuk menenangkan Habibi tanpa tahu ada seseorang di depan yang sejak tadi diam-diam jauh lebih tenang setiap mendengar suara dirinya.

***

Mobil perlahan memasuki gerbang desa Mlati. Dan sejak itu tubuh Amira mulai menegang. Tangannya yang memeluk Habibi terasa dingin. Tatapannya terus bergerak ke luar jendela, memandangi jalan-jalan kecil yang terasa begitu familiar.

Warung tua di tikungan. Mushala kecil dekat pohon asem. Jembatan bambu yang kini sudah diperbaiki semen. Semua masih ada. Dan setiap sudutnya seperti menarik kembali kenangan yang selama ini susah payah ia kubur.

Umi Salma yang duduk di sampingnya mulai menyadari perubahan itu. “Mira?”

Amira tidak langsung menjawab. Napasnya mulai tidak teratur.

Sementara di depan, Usman juga perlahan memperhatikan Amira dari kaca spion.

Wajah perempuan itu mulai pucat. Lalu mobil berbelok melewati jalan kecil di pinggir hutan jati.

Tubuh Amira langsung membeku. Matanya membesar. Hutan itu. Tempat itu. Suara napasnya mendadak memburu.

Tangannya refleks memeluk Habibi lebih erat sampai bayi itu ikut bergerak gelisah.

“Mbak?” Tiur mulai panik dari belakang.

Namun Amira seperti tidak mendengar. Tatapannya lurus ke arah pepohonan jati di luar sana. Dan dalam sekejap kenangan yang selama ini terkunci rapat kembali menghantam kepalanya. Gelap. Tangisan. Suara lelaki. Rasa takut yang mencekik. “Jangan!” Tiba-tiba Amira berteriak histeris. “Jangan sentuh aku!”

Semua langsung kaget. Habibi langsung menangis keras. Mobil mendadak direm.

Tubuh Amira gemetar hebat sekarang. Ia ingin menutup telinganya sendiri sambil menangis panik, tetapi tangannya menggendong Habibi. “Jangan… jangan…!”

Umi Salma langsung memeluk bahunya mencoba menenangkan. “Mira! Mira, ini Umi…”

Tetapi Amira seperti tidak sadar. Matanya kosong penuh ketakutan. Napasnya sesak.

Dan tiba-tiba saja Usman langsung turun dari kursi depan begitu mobil berhenti. Lelaki itu membuka pintu tengah cepat. Begitu melihat kondisi Amira wajahnya langsung berubah tegang. “Mira!”

Namun Amira justru makin ketakutan ketika mendengar suara lelaki. Ia menjerit lagi sambil memeluk Habibi erat-erat. Sampai Usman langsung berhenti bergerak.

Saat itu juga lelaki itu sadar. Ini bukan sekadar takut biasa. Ini trauma. Trauma yang sangat dalam. Dan untuk pertama kalinya Usman benar-benar memahami bahwa ada luka besar dalam hidup Amira yang tidak pernah diceritakan siapa pun.

Habibi menangis semakin keras dalam pelukan Amira. Sementara tubuh perempuan itu gemetar hebat seperti kehilangan kendali. “Jangan… jangan dekat-dekat…!” Tangisnya pecah histeris. Ia bahkan sampai merapat ke sudut kursi mobil sambil memeluk Habibi erat seperti sedang melindungi bayi itu dari sesuatu.

Umi Salma mulai panik. Beliau belum pernah melihat Amira seperti ini. “Mira… sayang… ini Umi…” Beliau mencoba memegang tangan Amira perlahan.

Namun Amira justru makin menangis. Matanya menatap ke arah hutan jati di luar dengan ketakutan yang begitu nyata. Dan saat itu Usman mendadak menyadari sesuatu.

Tatapan perempuan itu bukan sekadar takut. Tetapi seperti sedang kembali melihat kejadian lama. Kilatan trauma.

Lelaki itu langsung menoleh tajam ke arah hutan jati di samping jalan. Rahangnya mengeras perlahan. “Ada apa di tempat ini?” Suasana langsung sunyi.

Tiur dan khadimat saling pandang bingung. Sementara Amira masih sesenggukan sambil menggeleng-geleng ketakutan.

Usman akhirnya masuk ke dalam mobil kembali, tetapi kali ini ia sengaja menjaga jarak. Nada suaranya diturunkan selembut mungkin. “Ais.”

Amira sedikit tersentak mendengar panggilan itu.

“Ais… lihat aku.” Perlahan. Sangat perlahan.

Amira mengangkat wajahnya yang penuh air mata.

Usman tidak bergerak mendekat. Tatapannya tenang. “Kamu aman.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!