"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata di Balik Kegelapan
Kesunyian rumah ini terasa begitu mencekam setelah kepergian Dimas. Aku masih terduduk di atas ranjang dengan laptop yang menyala, cahayanya memantul di bola mataku yang kini tak lagi menyimpan binar kehangatan. Di layar itu, titik merah GPS di mobil Dimas telah berhenti. Lokasinya tepat di Apartemen Cempaka.
Tanganku masih sedikit gemetar, bukan karena obat, melainkan karena gejolak emosi yang tertahan. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan saraf-sarafku. Sebagai seorang penulis, aku selalu diajarkan untuk melakukan riset mendalam sebelum menyusun plot. Dan malam ini, riset paling berbahaya dalam hidupku baru saja dimulai.
"Bi Ijah..." bisikku saat pintu kamarku terbuka sedikit.
Bi Ijah masuk dengan langkah mengendap-endap. Wajahnya pucat pasi, namun ia menyodorkan sebuah plastik kecil berisi pil putih yang ia ambil dari meja kerja Dimas tadi siang. "Ini, Nyonya. Ijah hampir saja ketahuan tadi saat Tuan kembali mengambil map yang tertinggal."
"Terima kasih, Bi. Bi Ijah adalah penyelamatku," ucapku tulus. Aku menerima plastik itu dan menyembunyikannya di balik laci rahasia meja nakas. "Sekarang, tolong Bi Ijah kunci pintu utama dan pastikan tidak ada lampu yang menyala di lantai bawah. Biarkan rumah ini terlihat seperti penghuninya sudah terlelap dalam pengaruh obat."
Setelah Bi Ijah keluar, aku kembali fokus pada laptop. Aku menghubungi teman lamaku, sosok yang dulu kukenal di komunitas penulis misteri, seorang ahli IT yang kini bekerja di firma keamanan siber.
[Larasati]: "Rian, aku butuh bantuanmu sekarang. Akses kamera dasbor mobil suamiku. Aku tahu kamu masih punya kuncinya."
Tak butuh waktu lama, sebuah balasan muncul.
[Rian]: "Laras? Ini sudah jam berapa? Tapi oke, demi hutang budiku padamu. Tunggu tiga menit."
Jantungku berdegup kencang. Tiga menit terasa seperti tiga tahun. Hingga akhirnya, sebuah jendela baru terbuka di layarku. Tampilan kamera dasbor (dashcam) mobil Dimas kini terlihat jelas. Mobil itu terparkir di basement apartemen yang remang-remang. Suara di dalam kabin mobil juga terdengar meski sedikit samar.
Aku memasang earphone. Awalnya hanya suara sunyi, lalu terdengar suara pintu mobil yang terbuka dan tertutup kembali.
"Mas, lama sekali sih! Aku sudah menunggumu dari tadi!" suara manja yang sangat kukenali itu memenuhi telingaku. Maya.
"Maaf, Sayang. Laras tadi sempat terbangun dan aku harus memastikan dia meminum 'vitaminnya' sampai habis. Dokter Hanif benar-benar ahli, dosisnya kali ini akan membuatnya tidak bisa merasakan kakinya sama sekali dalam tiga hari ke depan," suara Dimas terdengar begitu bangga, seolah ia baru saja memenangkan proyek besar.
Aku mencengkeram pinggiran laptop hingga kukuku memutih. Mendengar mereka membicarakan kelumpuhanku seperti membicarakan rencana liburan membuat dadaku sesak.
"Lalu bagaimana dengan surat-surat itu? Kamu sudah membawanya?" tanya Maya lagi. Suara langkah kaki mereka menjauh dari mobil, namun mikrofon sensitif di dalam kabin masih menangkap percakapan mereka saat mereka berdiri di samping pintu mobil.
"Sudah. Semua sertifikat tanah atas nama ayahnya dan beberapa obligasi perusahaan peninggalan ibunya sudah ada di tanganku. Besok, aku akan membawanya ke notaris. Begitu dia menandatanganinya dalam kondisi setengah sadar, kita akan punya segalanya, Maya. Kita tidak perlu lagi bermain petak umpet seperti ini."
"Aku tidak sabar melihat wajahnya saat tahu dia sudah kehilangan rumah ini dan suaminya di saat yang sama," Maya tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telingaku. "Dia pasti akan memohon-mohon padamu sambil menyeret kakinya yang lumpuh itu. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku senang."
"Sudahlah, jangan bahas wanita lumpuh itu lagi. Malam ini hanya milik kita. Ayo, aku sudah memesan tempat di unit teratas untuk kita merayakan kemenangan kecil ini," ucap Dimas.
Suara langkah kaki mereka menghilang, diikuti dengan keheningan panjang di basement tersebut.
Aku melepaskan earphone-ku. Tubuhku bergetar hebat. Rasa sakit karena dikhianati kini telah bermutasi menjadi amarah yang dingin dan terkendali. Mereka tidak hanya ingin hartaku, mereka ingin harga diriku. Mereka ingin melihatku hancur sehancur-hancurnya.
"Kalian meremehkanku karena aku hanya seorang istri yang menulis novel romantis di rumah," gumamku dengan suara rendah yang mengerikan. "Kalian lupa bahwa seorang penulis adalah penguasa dari setiap takdir karakternya."
Aku segera membuka folder rahasia di laptopku. Aku tidak menulis cerita cinta lagi. Aku mulai menyalin rekaman suara dan video dari dashcam tadi ke dalam penyimpanan awan (cloud) yang terenkripsi. Aku juga mengirimkan sampel foto pil putih yang diambil Bi Ijah kepada kenalanku yang lain di laboratorium farmasi untuk memastikan kandungannya.
Sandiwara ini harus terus berlanjut. Jika mereka ingin aku menjadi wanita yang setengah sadar dan lumpuh, maka aku akan menjadi pemain terbaik yang pernah ada. Aku akan membiarkan Dimas membawa dokumen-dokumen itu besok. Aku akan membiarkannya merasa di atas angin.
Namun, di setiap dokumen yang dia sodorkan, aku sudah menyiapkan rencana untuk menyelipkan jebakan hukum yang akan membuatnya menyesal pernah menyentuh satu lembar pun aset orang tuaku.
Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk di ponselku. Dari nomor misterius yang sama.
"Dia sedang merayakan kemenangannya dengan anggur merah di kamar 1201. Tapi kau punya sesuatu yang tidak mereka punya: waktu. Jangan terburu-buru, Larasati. Singa yang terluka adalah pemburu yang paling mematikan."
Aku menatap layar ponsel itu dengan kening berkerut. Siapa orang ini? Mengapa dia membantuku? Apakah dia salah satu korban Dimas juga, ataukah dia bagian dari masa lalu orang tuaku yang belum kuketahui?
"Siapa pun kau, terima kasih," bisikku pada kegelapan kamar.
Aku menutup laptopku saat mendengar suara mobil lain memasuki gerbang depan—mungkin tetangga, tapi aku harus waspada. Aku menyeret tubuhku kembali ke posisi tidur, menyembunyikan semua bukti di balik dinding rahasia yang memang pernah dibuat Ayahku di belakang lemari pakaian.
Malam itu, di bawah rembulan yang tertutup awan mendung, Larasati yang lemah lembut telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang sedang menata panggung untuk sebuah pertunjukan balas dendam yang paling megah.
Dimas pikir dia adalah sutradaranya. Namun dia akan segera sadar, bahwa dalam cerita ini, aku adalah penulis, sutradara, sekaligus hakim yang akan menjatuhkan vonis di bab terakhir.
"Tidurlah dengan nyenyak di pelukannya malam ini, Mas Dimas," ucapku sambil memejamkan mata, membiarkan kebencian menjadi nina bobo yang mengantarkanku pada mimpi tentang kehancuran mereka. "Karena saat fajar menyingsing besok, kau sedang melangkah menuju pintu nerakamu sendiri."