Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sore itu, suasana pesantren terasa sangat teduh. Angin bertiup sepoi-sepoi menggoyahkan dedaunan pohon mangga di depan Ndalem. Zuhair sedang pergi ke luar kota sejak siang tadi untuk mengurus urusan bisnisnya, meninggalkan Celina sendirian di rumah.
Melihat Ndalem sepi, Raka berinisiatif nyamperin Celina. Mereka akhirnya duduk lesehan di teras depan Ndalem—tentu saja dengan jarak yang aman dan posisi pintu yang terbuka lebar agar tidak menimbulkan fitnah di kalangan santri.
Celina duduk sambil meluk lututnya, tatapannya kosong menatap halaman pesantren. Wajahnya yang biasa ceplas-ceplos hari ini kelihatan mendung beneran. Raka yang sadar sohibnya lagi gak mood langsung menyodorkan kaleng minuman dingin ke dekat pipi Celina.
"Nih, air dingin. Biar otak lo yang panas agak ademan dikit," kata Raka sambil ikut duduk selonjoran. "Lo kenapa sih, Cel? Muka lo kusut bener kek keset daster. Masalah umroh ama Mesir kemarin sukses besar kan?"
Celina menghela napas panjang. Dia membuka kaleng minuman itu tapi gak langsung diminum. Sambil menatap aspal halaman, Celina akhirnya menumpahkan beban pikiran yang berkecamuk di otaknya sejak mendengar kabar kehamilan Athira tadi siang.
"Zuhair... dia pengen banget punya anak dari gue, Rak. Bahkan pas di hotel mewah di Madinah kemarin, dia ampe megang perut gue sambil berdoa biar balik dari umroh langsung ada isinya," bisik Celina, suaranya mendadak parau. "Tapi buktinya apa? Gue barusan tespek lagi diem-diem... hasilnya tetap negatif. Gue belum hamil-hamil juga."
Raka terdiam, mendengarkan dengan serius tanpa memotong.
Celina meremas kaleng minumannya, matanya mulai berkaca-kaca menahan sesak. "Apa... apa jangan-jangan gue yang bermasalah ya, Rak? Lo inget gak sih, waktu kita dulu? Kita sempet khilaf beberapa kali, lo berkali-kali keluar di dalem semingguan, bahkan gue gak pakai KB sama sekali setelah itu... tapi eh, nyatanya gue gak hamil juga waktu itu."
Celina mengusap sudut matanya yang mulai basah, frustrasi. "Sekarang si Athira baru nikah dua bulan udah hamil, guenya belom. Padahal tiap malam gue udah dihajar abis-abisan ama Zuhair ampe pinggang gue mau copot. Sekarang sama Zuhair juga begini... pening gue, anjing! Gue takut banget kalau ternyata rahim gue yang mandul atau bermasalah gara-gara dosa masa lalu gue."
Mendengar curhatan jujur nan frontal dari sahabat kecilnya, Raka langsung menghela napas panjang. Dia mengerti betul ketakutan yang dialami Celina, apalagi masa lalu mereka dulu memang se-bebas itu sebelum akhirnya mereka berdua memilih jalur tobat di pesantren ini.
Raka menepuk lantai teras di dekat kaki Celina, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Cel, dengerin gue," ucap Raka dengan nada bicara yang mendadak dewasa, hilangnya sifat petakilannya seperti biasa. "Gue paham lo stres liat Athira langsung hamil. Tapi stop nyalahin diri lo sendiri, apalagi bawa-bawa omongan soal mandul—rahim itu tempatnya Tuhan. Lo gak boleh ngomong gitu."
Raka menatap Celina lekat-lekat. "Soal kita yang dulu... ya emang kita bajingan waktu itu. Tapi bukan berarti apa yang terjadi sekarang itu hukuman. Siapa tahu waktu dulu Allah masih sayang sama kita, makanya lo gak hamil biar masalahnya gak makin melebar dan kita gak makin hancur. Coba kalau lo hamil pas kita masih jadi anak liar, sialan, kefarat? Bisa stres makin gila kita berdua."
Raka mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan. "Sekarang kondisi lo udah beda. Lo udah nikah sah sama Gus Zuhair, laki-laki beneran yang bertanggung jawab. Lo baru balik dari Mesir beberapa hari, Cel! Masa langsung minta instan? Badan lo juga butuh adaptasi setelah capek perjalanan jauh."
"Tapi tetep aja gue kepikiran, Rak..." lirih Celina sambil menunduk.
"Kuncinya jangan stres. Kalau lo stres, hormon lo makin berantakan, makin susah nempel itu baby di dalem," sahut Raka mengingatkan. "Lagian, daripada lo nebak-nebak gak jelas ampe pening sendiri, mending nanti pas Gus Zuhair balik, lo ngomong baik-baik sama dia. Ajak dia cek ke dokter kandungan ke rumah sakit di kota. Periksa dua-duanya secara medis, biar lo gak ovethinking sendirian kayak gini. Gus Zuhair itu orangnya bijaksana, dia pasti bakal dengerin lo."
Celina terdiam mendengar nasihat Raka. Meskipun omongan Raka kadang blak-blakan, tapi harus diakui kalau masukan dari sahabat kecilnya itu sedikit mengurangi rasa sesak dan ketakutan yang menghantui pikirannya sore ini.
Setelah hening sebentar Raka mulai mendengar kalimat yang keluar dari mulut Celina, Raka langsung melotot. Dia yang tadinya duduk selonjoran santai langsung menegakkan badannya, menatap Celina dengan tatapan tidak percaya sekaligus kesal.
"Cel! Otak lo beneran penyok ya?!" Raka setengah membentak, suaranya tertahan karena sadar mereka masih di area pesantren. "Ngomong apa sih lo, anjing? Suruh cari cewek lain? Minta cerai? Lo pikir pernikahan lo sama Gus Zuhair itu mainan monopoli?!"
Celina langsung menunduk dalam, air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga, menetes membasahi celana panjangnya. "Gue gak tahu, Rak... Gue cuma takut. Gue udah mulai sayang banget sama dia. Tapi gue ngerasa bersalah tiap kali liat tatapan penuh harap dia ke perut gue. Kalau emang gue gak bisa ngasih dia keturunan, buat apa dia bertahan sama cewek penyakitan atau bermasalah kayak gue? Dia itu anak Kyai, dia butuh penerus Ndalem!"
Raka menghela napas kasar, lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi. Sifat meledak-ledak Celina kalau lagi panik memang dari dulu tidak pernah berubah.
"Cel, dengerin gue baik-baik," kata Raka, menatap sahabatnya itu dengan serius dan tajam. "Gus Zuhair itu nikahin lo karena dia cinta sama lo seutuhnya, bukan cuma jadiin lo mesin pencetak anak. Lo pikir dia cowok bajingan yang bakal ninggalin istrinya cuma gara-gara urusan belum hamil? Kagak, Cel!"
Raka menggelengkan kepalanya. "Kalau lo ngomong kayak gitu ke Gus Zuhair, lo bukan cuma nyakitin diri lo sendiri, tapi lo juga bakal nginjak-nginjak harga diri dia sebagai suami. Dia udah bimbing lo jauh-jauh dari Jakarta, bawa lo umroh, masa segampang itu lo mau nyerah dan nyuruh dia nyari cewek lain? Lu gila."
Celina masih terisak, meremas ujung kaosnya dengan erat.
"Udah, stop mikir yang aneh-aneh sampai bawa kata cerai segala," lanjut Raka dengan nada yang perlahan melembut. "Nanti malam pas Gus Zuhair balik dari luar kota, lo dandan yang cantik. Sambut dia baik-baik. Terus pas momen kalian lagi santai di kamar, lo omongin semua ketakutan lo ini ke dia. Jujur soal lo yang kepikiran karena Athira udah hamil duluan. Tapi inget, jangan pernah sebut soal cewek lain atau cerai kalau lo gak mau liat dia marah besar."
Celina menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mencerna kata-kata Raka. Di tengah rasa frustrasinya, dia tahu Raka benar. Mengambil keputusan sepihak seperti itu justru hanya akan menghancurkan kebahagiaan yang baru saja ia rasakan bersama Zuhair.