NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat yang Semakin Menjerat

Hari Rabu, pukul 15.00. Kantor Densus 88 lagi.

Inspektur Widi mendengarkan ceritaku dengan saksama.

"Dr. Hendra mendekatimu di depan umum?" tanyanya.

"Iya, Bu. Di kantin. Sekolah. Banyak yang melihat."

"Itu taktik. Dia ingin kamu merasa terintimidasi, tapi dia melakukannya di tempat umum sehingga dia punya alibi—'saya hanya berbicara baik-baik dengan seorang siswa'."

"Licik," gerutu Sasha.

"Semua pengusaha licik. Tapi Dr. Hendra... dia level dewa."

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Bu?" tanya Rasya.

"Untuk sekarang, jaga jarak. Jangan coba-coba melawannya secara langsung. Dia punya pengacara tim yang siap menggugat balik siapa pun yang menuduhnya."

"Jadi kami cuma bisa diem?" aku kecewa.

"Tidak. Kamu bisa mengumpulkan bukti. Tapi hati-hati. Sangat hati-hati."

Inspektur Widi membuka laptopnya. "Ada satu lagi yang harus kalian tahu."

"Apa, Bu?"

"Densus menemukan fakta bahwa Dr. Hendra... mengirim seseorang ke sekolah kalian. Bukan hanya sebagai donatur, tapi sebagai..."

"Sebagai apa?"

"Sebagai guru baru."

---

Kembali ke Sekolah — Keesokan Harinya

Pak Firmansyah mengumumkan di pengeras suara: "Kepada seluruh siswa, kami kedatangan guru baru. Beliau akan mengajar mata pelajaran Kewarganegaraan. Mohon sambut dengan baik."

Seorang pria muda masuk ke ruang guru. Wajahnya ramah, senyumnya manis, kacamatanya tebal. Dia melambai ke arah kami.

"Perkenalkan, nama saya Bapak Andi. Saya senang bisa mengajar di sini."

Aku menatapnya. Ada yang aneh.

"Nay, kamu liat?" bisik Sasha.

"Apa?"

"Tato di pergelangan tangannya."

Aku perhatikan. Di pergelangan tangan kanan Pak Andi, tersembunyi di balik lengan kemeja panjangnya, ada tato kecil—bentuk tengkorak.

Guruku di kehidupan sebelumnya juga punya tato itu. Dia anggota jaringan narkoba.

"Kita harus cek latar belakangnya," bisikku.

---

Jam Istirahat — Pak Andi Mendekati Kayla

Kayla sedang duduk di bangku taman ketika Pak Andi mendekat.

"Kayla Maharani?"

Kayla menoleh. Wajahnya pucat.

"Iya, Pak."

"Ayahmu menyapamu." Pak Andi tersenyum—senyum yang sama dengan senyum Dr. Hendra. "Dia bilang, kamu pulang ke rumah. Sekarang."

"Saya tidak mau, Pak."

"Ini bukan tawaran, Kayla." Suara Pak Andi berubah—menjadi lebih dingin. "Ini perintah."

Aku dan Rasya mendekat.

"Pak Andi," sapa Rasya.

Pak Andi menoleh. "Ada apa, Rasya?"

"Saya mau bertanya soal tugas."

"Tugas? Sekarang?"

"Iya, Pak. Mendesak."

Pak Andi menghela napas. "Baik. Kayla, kita lanjutkan nanti."

Dia pergi bersama Rasya ke ruang guru. Sementara aku menggandeng Kayla menjauh.

"Kay, kamu nggak apa-apa?"

"Aku... aku takut."

"Kenapa?"

"Pak Andi adalah tangan kanan Dr. Hendra. Di kehidupan sebelumnya, dia yang membunuh ayah kandung Nayla."

Aku membeku.

"Apa?"

"Ayah kandung Nayla—Komisaris Aditya—ditembak mati oleh Pak Andi. Atas perintah Dr. Hendra."

Dunia terasa berputar.

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"

"Aku baru tahu dari laporan Densus. Aku dapat akses semalam."

"Kay—"

"Aku serius, Nayla. Pak Andi tidak akan berhenti. Dia akan membunuh siapa pun yang menghalangi Dr. Hendra. Termasuk kita."

---

Pulang — Di Motor

"Ras, kita harus lapor polisi."

"Lapor apa? Kita belum punya bukti."

"Tapi Kayla—"

"Kata-kata Kayla tanpa bukti tidak cukup."

Aku frustrasi. "Jadi kita cuma bisa diem? Sambil Pak Andi berkeliaran di sekolah?"

Rasya menghela napas. "Kita bisa menyelidiki. Diam-diam."

"Caranya?"

"Aku sudah pasang alat perekam di ruang guru."

Aku membelalak. "Kamu—kapan?"

"Tadi pagi, sebelum jam pertama."

"Rasya, itu ilegal!"

"Semua yang kita lakukan ilegal, Nayla. Tapi kalau tidak, kita mati."

Aku diam.

Dia benar.

---

Malam Itu — Alat Perekam Menangkap Sesuatu

Rasya mengirim rekaman ke grup.

Rasya (20.30): "Dengar ini."

File audio dikirim.

Aku memutar rekamannya. Suara Pak Andi dan Pak Firmansyah (Kepala Sekolah) terdengar jelas.

Pak Andi: "Bagaimana perkembangannya?"

Pak Firmansyah: "Nayla masih bandel. Tapi saya akan tangani."

Pak Andi: "Jangan terlalu kasar. Kita tidak ingin menarik perhatian."

Pak Firmansyah: "Saya tahu."

Pak Andi: "Dr. Hendra ingin Nayla 'dikeluarkan' dari sekolah."

Pak Firmansyah: "Dikeluarkan? Atau..."

Pak Andi: "Terserah Anda. Yang penting dia tidak mengganggu lagi."

Pak Firmansyah: "Baik."

Rekaman berakhir.

Aku gemetar.

Kepala sekolah juga terlibat.

"Sial," bisikku.

Sasha (20.35): "GILA! KEPALA SEKOLAH IKUTAN?"

Kayla (20.35): "Pak Firmansyah sudah lama jadi anak buah Dr. Hendra. Dia yang mengatur dana beasiswa—beasiswa palsu untuk mencuci uang."

Nayla (20.36): "Kenapa kamu nggak bilang dari awal, Kay?"

Kayla (20.36): "Karena aku takut. Tapi sekarang, mereka sudah mulai bergerak. Aku tidak punya pilihan."

Rasya (20.37): "Besok kita bawa rekaman ini ke Densus."

Nayla (20.37): "Tapi kita harus hati-hati. Pak Firmansyah bisa sadar."

Rasya (20.38): "Aku sudah matikan alat perekam. Tidak ada jejak."

Sasha (20.38): "Rasya, kamu kayak mata-mata beneran."

Rasya (20.39): "Aku belajar."

Nayla (20.39): "Dari mana?"

Rasya (20.40): "Dari YouTube."

Aku tertawa—meskipun situasi tegang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!