NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang kampung

Sebuah mobil hitam perlahan masuk ke jalan desa yang sempit. Roda-roda perlahan berdecit halus saat melewati tanah yang tidak rata. Debu tipis beterbangan di belakangnya, mengikuti laju kendaraan itu yang semakin melambat.

Untuk kedua kalinya, mobil hitam itu berjalan di atas tanah yang berdebu. Di kana kiri, hamparan sawah hijau terbentang luas. Angin siang berhembus pelan, membuat padi bergoyang seperti ombak kecil yang tenang. Beberapa warga desa yang sedang beraktivitas menoleh sekilas, penasaran dengan mobil asing yang jarang terlihat di tempat itu.

Di dalam mobil, suasana terasa sunyi. Rasti duduk di kursi belakang, tangannya bertumpu pelan di perutnya. Sesekali ia menatap keluar jendela. Pandangannya jauh. Seolah setiap sudut jalan yang ia lewati menyimpan kenangan lama.

Xena duduk di kursi kemudi, tidak banyak bicara. Namun sejak tadi, matanya beberapa kali mencuri pandang ke arah Rasti.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.

Rasti mengangguk kecil. Mira yang ada di sampingnya lalu menggenggam tangan menantunya itu.

"Kita akan sampai sebentar lagi," ucap Mira pelan.

Budi yang duduk di sebelah Xena langsung menoleh ke belakang.

"Ma, tidak ada yang tertinggal kan? Semua kebutuhan kita selama di sana sudah dibawa?" tanya Budi pelan.

Mira mengangguk pelan, tangannya masih menggenggam tangan Rasti dengan hangat, "Sudah, Pa. Semua sudah Mama siapkan. Obat-obatan Rasti, pakaian, sampai makanan ringan juga ada.

Budi menghela nafas kecil, lalu kembali menatap ke depan. Namun sesekali matanya tetap melirik ke kaca spion, memperhatikan Rasti yang tampak diam. Xena tidak ikut berbicara lagi. Tangannya fokus pada kemudi, tapi pikirannya jelas tidak sepenuhnya di jalan. Ia memperlambat laju mobil saat jalan semakin sempit dan berbatu.

" Rasti," panggil Mira pelan.

Rasti menoleh pelan.

"Kalau capek atau tidak nyaman, bilang ya. Kita bisa berhenti sebentar" lanjut Mira.

Rasti menggeleng pelan, "Tidak, Ma. Rasti tidak apa-apa."

Xena mengencangkan tangannya sedikit di setir, "Kita hampir sampai."

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Rasti kembali menatap ke luar jendela dengan lebih fokus. Dan benar yang dikatakan Xena, di kejauhan mulai terlihat deretan rumah sederhana. Beberapa anak kecil berlari di pinggir jalan. Seorang ibu-ibu menyapu halaman, lalu berhenti saat melihat mobil mewah itu lewat.

Jantung Rasti mulai berdetak lebih cepat "Itu belokan ke rumah ibu.

Xena langsung memperlambat mobil, walau sebenarnya ia juga masih mengingat belokan itu.

Mobil berbelok ke jalan yang lebih kecil. Pohon mangga tua mulai terlihat dari kejauhan. Dan saat mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah sederhana dengan halaman yang luas. Semua orang di dalam mobil terdiam.

Rasti tidak langsung turun. Matanya terpaku sadar menggenggam ujung bajunya sendiri. Nafasnya mulai teratur. Mira langsung mengusap punggungnya pelan.

"Pelan-pelan, Nak..."

Xena mematikan mesin mobil. Ia turun lebih dulu, lalu berjalan memutar ke pintu belakang.

KLIK

Pintu terbuka, Xena berdiri di sana, menatap Rasti dengan lembut.

"Ayo," ucapnya pelan sambil mengulurkan tangan.

Rasti menatap tangan itu, lalu ia menyambutnya..

Rasti menatap tangan itu. Rasti turun dengan hati-hati. Kakinya menyentuh tanah halaman yang begitu familiar. Tubuhnya sedikit gemetar. Matanya tidak lepas dari pintu rumah.

Dan tepat saat itu...

Pintu rumah terbuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya muncul di sana. Langkahnya terhenti di ambang pintu. Wajahnya berubah seketika.

"Rasti...?" suaranya bergetar.

Air maya Rasti langsung jatuh, "Ibu..."

Rasti langsung berlari kecil, hingga membuat Xena khawatir.

"Rasti, pelan-pelan," pekiknya, suaranya keras namun bukan marah.

Begitu juga dengan Mira. Mira refleks ikut melangkah cepat, hampir menyusul dati belakang.

"Pelan, Nak! Ingat kondisi kamu," serunya cemas.

Namun Rasti sudah tidak bisa menahan dirinya. Rasa rindu terhadap ibunya membuat nafasnya memburu. Tangannya terulur, matanya basah.

"Ibu..."

Siti langsung turin dari bang pintu. Ia mendekat lalu meraih Rasti dalam pelukan erat.

"Rasti...anak Ibu..." suaranya pecah.

Tangis mereka bercampur. Hangat. Penuh rindu yang terlalu lama ditahan. Di belakang, Xena berdiri diam. Tangannya yang tadi sempat ingin menahan Rasti kini jatuh perlahan di samping tubuhnya. Ia hanya bisa menatap. Matanya ikut memerah.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat bagian dari hidup Rasti yang selama ini jauh darinya. Mira menghela nafas lega, lalu menatap Budi sekilas.

"Setidaknya...dia sampai," gumamnya pelan.

Budi ikut mengangguk kecil. Sementara itu, pelukan ibu dan anak itu perlahan mereda. Ibunya menarik wajah Rasti, menatapnya lekat-lekat.

"Wajahmu pucat... kau sakit?"

Rasti menggeleng pelan, lalu menurunkan tangan ibunya jatuh tepat di perutnya. Saat itu juga Situ terdiam. Matanya membesar.

"Rasti..." suaranya bergetar lagi, kali ini berbeda.

Rasti menggigit bibirnya pelan, lalu mengangguk.

"Iya, Bu..."

Air mata Siti kembali jatuh, tapi kali ini disertai senyum yang begitu dalam.

"Ya Tuhan...Rasti..."

Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya. Tangannya gemetar menyentuh perut itu dengan sangat hati-hati, seolah takut melukai sesuatu yang berharga.

"Cucu Ibu...?" bisiknya hampir tak terdengar.

Rasti mengangguk lagi, air matanya belu. berhenti, " Iya, Bu..."

Siti langsung memeluknya lagi. Lebih hati-hati. Lebih dalam, "Terima kasih... kau pulang membawa kebahagian sebesar ini."

Xena menunduk pelan mendengar itu. Kalimat sederhana tapi menusuk tepat ke dalam dadanya. Untuk sesaat, ia merasa belum pantas berdiri di sana.

Perlahan Siti melepas pelukannya, lalu menatap ke arah Mira, Budi dan Xena.

"Budi... terima kasih. Sudah menjaga putriku." ucap Siti lirih.

Budi tersenyum tipis, "Itu sudah kewajiban ku, Siti. Aku sudah memenuhi janjiku pada mendiang suamimu. Dan aku beruntung mendapatkan Rasti untuk menjadi menantuku."

Siti tersenyum haru. Matanya masih basah, namun kini tatapannya penuh rasa syukur. Ia lalu mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Xena. Pemuda itu langsung menegakkan tubuhnya.

"Xena..." panggil Siti pelan.

"Iya, Bu..."

Siti menatapnya cukup lama. Ada yang berubah dari Xena kali ini. Ia lebih lembut dan mendengar. tidak seperti saat pernikahan mereka dulu. Lebih kaku. Arogan dan terkesan cuek.

"Terima kasih, Nak. Kau sudah membawa Rasti pulang ke rumah Ibu," katanya pelan.

"Xena tidak melakukan apa-apa, Bu... Xena hanya...,"

"Sudahlah. Bolehkah kami masuk, Siti. Kaki ku sudah pegal," potong Mira cepat, seolah ingin mempercepat pembicaraan ini agar tidak membuat Siti kecewa setelah mendengar pengakuan Xena yang mengejutkan.

Semua jadi tertawa renyah mendengar celotehan Mira. Budi yang sejak tadi memperhatikannya langsung mengangguk kecil.

"Kau tepat sekali, Mira."

"Aku tau. Aku hanya tidak ingin Siti menjadi sedih. Putramu memang keterlaluan," balas Mira pelan, suaranya pelan sekali hingga yang lain tidak bisa mendengar mereka.

Budi menarik nafas pelan, "Aku harap Rasti tidak membuat ibunya kecewa terhadap Xena."

"Semoga saja."

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!